iri Hati


Wednesday, 25 Apr 2018


Iri hati selalu diidentikkan dengan kaum wanita yang memang terlahir lebih dominan sisi perasaan dibandingkan dengan pria yang umumnya lebih dominan sisi logikanya.

Dalam budaya nenek moyang saya, jika laki – laki suka iri hati atau bersikap seperti perempuan, selalu diejek dengan “ “Caboheng” atau laki-laki tidak gentleman, seperti perempuan terus ditambahi dengan :”pentesan dia tidak sukses, susah berhubungan dengannya” dan sebagainya.

Begitulah stigma iri hati yang selalu diidentikkan dengan sikap wanita. Sikap kita menentukan rejeki kita, begitu sering mamaku pesan pada kami. Jika sikapmu baik, orang akan menyukaimu dan akan memberimu banyak kasih sayang, bisa dalam bentuk perhatian ataupun dalam bentuk rejeki. Jika sikap baikmu tidak diterima orang lain, biarkan saja, itu artinya orang itu tidak terbiasa dengan sikap baik (tulus, ikhlas),  dan coba kamu perhatikan hidupnya, biasanya orang yang kurang sukses yang suka menolak ketulusan, begitu sering mamaku ajari ke kami.

Ya sikap kita menentukan rejeki kita dan menentukan kebahagiaan hidup kita, begitulah chip mentalitas yang tertanam dalam kehidupanku sehingga aku tidak pernah membalas apapun sikap tidak baik  orang lain padaku meskipun terkadang sering menyakitkan, karena chip mindset yang ditanamkan hanya mengerti bahwa ketulusan akan berbuah baik dalam menjalani kehidupan ini. Hal ini sudah terbukti dalam kehidupanku sehari-hari.

 Sebagai wanita tentu saja aku terkadang punya rasa iri hati tapi karena kami sudah terdidik untuk tidak bersikap negatif jika berkomunikasi, berelasi, berhubungan dengan orang lain baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbisnis, maka sikap iri hati itu tidak pernah tumbuh sebagai wujud bersaing negatif dalam bentuk kata-kata menilai secara negatif orang lain misalnya : “ ah..dia bisa begitu karena faktor dia anak orang kaya….oh dia bisa begitu karena dia penjilat….ooo dia bisa begitu karena dia istri orang kaya….oooo dia bisa begitu karena dia curang, menikahi wanita / anak orang kaya, Ooo dia bisa dapat pria yang baik seperti itu karena memang ia begitu baik dan tulus pantas suaminya mau” dan judgement-judgement lainnya yang sering kita lontarkan tanpa kita tahu yang sebenarnya terjadi”.

Tidak demikian saya dan keluarga, kami selalu melihat usaha mereka dan menjadikannya motivasi untuk bisa diterapkan di dalam keluarga kita :” wah dia hebat ya, gimana caranya dia bisa mencapai keadaannya sekarang.” Dengan menimbulkan kekaguman, kami justru menjadi banyak belajar mentalitas positif , yang mendorong kami berusaha lebih baik setiap saatnya, setiap harinya sampai ke titik hidup sekarang dan sampai saat nanti nafas berhenti. 

Iri hati, sikap menilai secara negatif terhadap orang lain tidak akan pernah membawa kita pada tahap kehidupan yang lebih baik. Percayalah….Jika tidak percaya, renungkanlah, lihatlah kehidupan orang yang suka iri hati, apakah mereka sukses?. Jika ya, apakah sukses mereka itu datang dari dirinya sendiri atau ada faktor lain yang membantunya ?  Misalnya anaknya yang tulus, suaminya yang tulus, karyawannya yang tulus dan lainnya). Pasti ada faktor pelengkap, Itu jika iri hati dikaitkan dengan bisnis.

Saya punya seorang teman yang suka iri hati atas apa yang orang lain miliki. Di kalangan kami, dia sudah terkenal dengan sikap iri hatinya. Sebut saja namanya Mei. Nah yang menarik, Mei jauh lebih sukses daripada kami semua. Lho kog bisa ? Terbukti bisa karena Mei yang terkenal dengan sikap iri hati, memiliki suami yang tulus, jadi sering suaminya membantu re-nego di belakangnya sehingga banyak proyek – proyek deal meski setelahnya orang yang berkomunikasi dengan Mei akan menghadapi komunikasi yang tidak enak dengan Mei dan akan curhat pada suaminya, suaminya lah yang membantu di belakangnya ( wanita yang sukses karena punya suami yang memberi  dukungan padanya) .

Orang suka iri hati seperti mei, selalu kepo (ingin tahu), nanya-nanyain kehidupan orang lain, bisnis orang lain dan menggali tentang apapun orang yang di-iri-kannya. Kemudian mengambil alih proyek orang itu dengan cara yang tidak baik.

Aku kenal Mei dengan baik, apakah aku meniru kesuksesan Mei ? Tidak, Kami diajarkan untuk menjalani proses suka duka kehidupan dan berbisnis ini dengan cara keluarga kami. Apakah Mei bahagia ? bisa iya bisa tidak,  Mei bahagia dengan caranya karena iri hati justru membuatnya bahagia. Lho kog bisa ? Bisa, Bedanya adalah tanpa suaminya atau factor pem-balance-nya Mei Hua belum tentu sukses (Sukses itu juga anugerah dari ALLAH, hak ALLAH untuk memberikannya pada siapapun yang IA kehendaki). 

Nah, jika kita tidak punya faktor penyeimbang, kita berjuang mengandalkan diri kita sendiri, bisa dipastikan, kita tidak akan sukses jika memiliki sikap iri hati secara negatif.

Contoh lain, kenalanku, sebut saja namanya Arini. Arini mempunyai sikap yang mirip dengan Mei dalam kehidupan sehari-harinya. Suaminya dikenal Tulus, Bisnis mereka pada awal perkawinan meningkat karena faktor suaminya yang bersuku jawa itu.

Tapi dengan berjalannya waktu, bisnis mereka bangkrut dan dikejar – kejar debt kolektor. Mengapa ? Karena suaminya mengikuti sikap Arini sehingga lama kelamaan orang merasa dimanfaatkan mereka berdua. Mereka berdua kehilangan kepercayaan dari orang lain yang awalnya percaya pada suaminya yang tulus.

Arini yang suka iri hati atas kesuksesan orang lain, membelanjakan uang yang dipercayakan agar terlihat seperti orang yang di-iri-kannya. Ia membeli ruko, mobil mewah dll agar terlihat sudah sukses  sehingga akhirnya uang yang ada, dipakai untuk DP pembelian barang-barang dan ruko, dimana mereka harus membayar angsuran + bunga yang akhirnya menggulung financial mereka. Hidup Arini dan suaminya jatuh lebih dalam lagi yaitu mencari korban – korban baru yang percaya pada mereka, kemudian dikecewakan. Hidup mereka sekarang sulit.

Contoh lain, sebut saja namanya Ria. Setiap ada bersama Ria, begitu duduk, ia akan cerita : “Kak, si A kemarin ke Jepang lho ke Jepang dengan uang pemberian temannya, dia itu banyak gaya, bla ..bla..bla.” esoknya lagi : “orang itu kaya ya kak tapi merebut suami orang..bla bla bla.” ,  esoknya lagi :” kak, orang itu penjilat lho kak, dia digratiskan perawatan ke salon karena pandai ambil hati orang, padahal suaminya cuma kasih dia uang Rp 1,5juta/  bulan, mana cukup ya kak.”, esoknya lagi :” kak, dia itu bisa hidup seperti itu karena dia selingkuh di luar kota.”, dan masih banyak lagi Judge yang dilakukan Ria pada orang lain.

Bagaimana kehidupan Ria sehari – hari ? Ria hidup dari teman yang satu ke teman lainnya. Dia punya bisnis keluarga dan dia digaji dari usaha keluarga itu. Diapun hidup tidak cukup sehingga harus hidup dari satu teman ke teman lain di hampir semua kebutuhan hidupnya.

Orang yang suka iri hati lebih banyak melihat kekurangan oranglain tanpa melihat ke dalam dirinya. Dari ketiga contoh diatas yang saya lihat sendiri dan bergaul dengan mereka, saya belajar bahwa lebih enak sukses karena faktor diri sendiri.

Contoh ke empat , saya biasa berpartner dengan staff sales yang sering saling iri satu dengan lain karena pencapaian teman sales lainnya. Biasanya jika staff sales melaporkan rekam jejak pencapaian penjualan temannya yang padanya dia iri, ia punya kecendrungan menghasut saya untuk membenci orang itu dengan membicarakan kecurangannya, ketidak jujurannya dan sebagainya.  Jika saya percaya, maka saya terjebak pada opininya yang membuat saya tidak jualan (karena dia tidak jualan).

Sales demikian biasa bertahan dengan melakukan permainan kotor seperti mem-prospek temannya dan mereka tega. Sales demikian harus di-aware karena bisa menjadi penghalang kesuksesan perusahaan jika tidak cerdas menghadapinya.

Benar saja, ketika mereka pindah ke merk lain, hanya dalam hitungan bulan, mereka di reject team sales di tempat lain yang tentu saja sudah senior. Pada umumnya berdasarkan pengalaman saya memimpin dan menjalankan bisnis team sales yang mengandalkan iri hati dan bukan kinerja, akhirnya harus mengaku kalah pada kehidupan ini (tidak menjadi orang sukses). Mereka bisa  sukses dengan sikap iri hati ini , jika mereka memiliki nilai  plusnya yaitu perilaku tidak jujur yang tersembunyi.

Jika kita memilih untuk bersikap negatif, jangan lupa menambah sikap negatif lain sebagai penyeimbangnya karena faktor penyeimbang ini DIBUTUHKAN UNTUK MENYENANGKAN ORANG LAIN (yang notabene adalah sumber rejeki).

TUHAN sangat baik ya, karena TUHAN memberikan sinar matahari,  hujan  dan berkah lainnya kepada orang benar dan orang jahat, demikian juga dalam hal rejeki. Orang jahat hidup dengan cara jahatnya dan orang benar pasti tidak sanggup hidup dengan sikap negatif meski keduanya bisa membahagiakan kedua cara pilihan itu.

Pembedanya adalah : Berelasi dengan orang positif akan bertahan lama , lebih lega dan lebih sejati. Berelasi dengan orang negatif cenderung pada kebutuhan dan menimbulkan aware. Baik dan buruk adalah keseimbangan, kita lah yang memilih bagaimana bersikap. Dalam menjalani kehidupan, abaikan sikap orang lain, tumbuhkan sikap benar kerja benar, sikap benar dan cara berpikir benar niscaya jika kita sudah melakukan itu Tuhan selalu membukakan jalan yang tidak kita duga, saya mengalaminya sendiri Urbanesse. Semua itu bisa dimulai dari diri sendiri.

Iri hati punya kecendrungan untuk membenci orang lain yang lebih baik dari kita, padahal sikap membenci itu negatif bukan ? sikap negatif akan menimbulkan aura negatif yang membuat penampilan kita secara keseluruhan akan negatif. Ngobrol dengan orang beraura negatif tidak akan membawa pada keberuntungan, saya percaya itu karena pernah mengalaminya, seperti cerita saya diatas.

Iri hati akan membuat kita tidak belajar apa-apa untuk mencapai apa yang dicapai orang yang padanya kita iri, karena kita jatuh atau berhenti karena terlalu banyak menilai negatif pencapaiannya, seharusnya kita belajar bagaimana cara ia mencapai sukses, bukan malah membicarakan hal negatif yang belum tentu benar adanya atau malah menjatuhkan dia di mata orang lain.

 Dalam sebuah struktur perusahaan, kita membutuhkan semua karakter yang mendukung peningkatan usaha kita, maka ada istilah  PUT THE RIGHT MAN IN THE RIGHT PLACE. Sikap negatif mereka mengajarkan kita bagaimana berhadapan dengannya dan orang – orang yang bersikap sama dengan mereka.

Bisa bayangkan jika sebuah perusahaan, isinya semua orang benar sedangkan tuntutan di lapangan, kita bertemu dengan orang yang kecendrungan mencari penghasilan dari uang tidak benar, bisakah kita closing ?

Itu sebabnya mengapa orang yang suka iri hati masih tetap dipekerjakan di sebuah perusahaan. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, terkadang karena sikap iri hatinya, ia menjadi sumber informasi atasan atas kinerja orang lain. Nah lho… Makanya untuk menjadi orang yang terus sukses berkesinambungan, tidak perlu alergi terhadap orang yang punya sikap negatif tapi belajar menghadapi mereka.

Jadi, apakah iri itu identik dengan perempuan ? bisa iya bisa tidak tapi kebanyakan saya mendapati karyawan saya yang perempuan yang memiliki sifat ini terhadap rekannya yang lain. Saya sebagai atasannya hanya bisa mendukung mereka agar dari rasa iri tersebut membuat mereka termotivasi ke arah postif untuk saling maju.

Jadi bagaimana Urbanesse, mau terus memilih memiliki sifat iri hati yang akan memberimu aura negatif atau menguranginya dan menjadikan rasa iri tersebut tidak menjadi dengki, jadikan sebagai motivasi dalam meraih impianmu namun tidak dengan menjatuhkan orang lain apalagi sesama perempuan?.

 



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.