Ini hidupku, ini pilihanku. Saya tidak menyesal...!


Saturday, 22 Apr 2017


Salah satu sahabat saya resmi mundur total dari dunia perkantoran demi memenuhi resolusinya menjadi fulltime mother setelah melahirkan anak pertamanya. Sahabat saya yang lain, konsisten mengejar passion-nya di bidang wirausaha yang sudah digelutinya sejak di bangku kuliah, terus mengembangkan sayap guna melebarkan jaringan bisnisnya, yang juga merupakan salah satu resolusi di tahun 2017. Sahabat saya yang lain, meski ia sudah menginjak usia matang untuk membangun keluarga (dan sudah didesak oleh keluarganya untuk menikah), tetap pantang mundur dalam menyelesaikan kuliah S2nya. Resolusinya satu, bisa selesai S2 dan menjadi dosen sebelum akhirnya menikah. Meski didera stigma soal perempuan dengan titel pendidikan yang tinggi, sahabat saya ini konsisten dan yakin dengan apa yang menjadi pilihannya tersebut. Serta sekelumit cerita lain yang kalau saya tuliskan disini ngga akan selesai dalam satu-dua halaman saja :).

Ketiga sabahat saya ini adalah sebagian dari perempuan-perempuan tangguh yang berani mengambil keputusan yang tidak mudah tentunya dalam hidup mereka. Saya sangat respect terhadap keberanian mereka dalam memilih dan sedikit banyak terinpirasi dengan apa yang mereka lakukan. They know what they are searching for and look forward of it. 

Ada satu momen dalam dua puluh sembilan tahun merasakan hidup, saya berada dipersimpangan dan harus mengambil sebuah keputusan yang juga tidak mudah juga. 

Ceritanya, setahun yang lalu, saya memutuskan untuk mencoba pekerjaan lain, yang memiliki waktu tidak lebih padat dibandingkan pekerjaan saya saat itu. Ah kalau boleh jujur, alasan selain itu karena saya ingin segera menikah. Apa kaitannya antara mencoba pekerjaan yang waktunya tidak lebih padat dengan menikah?

Jadi, Saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi joint venture dengan posisi yang cukup baik. Di usia yang terbilang masih muda, 29 tahun, saya diberi kesempatan menjadi seorang product manager yang membawahi dua orang tim. Penghasilan saya sangat baik dengan peluang karier ya ng baik pula. Namun, konsekuensi dari ini semua adalah tanggung jawab yang diberikan membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan untuk bersosialisasi. 


Teman-teman seusia saya kebanyakan sudah menikah dan mempunyai anak. Sedangkan saya pada waktu itu hanya fokus pada pekerjaan dan push my self so hard to prove that I'm capable for the job. Kepala saya isinya pekerjaan terus, sangat ngga balance. Di sisi lain, orangtua saya sudah menginginkan anak sulungnya ini untuk menikah. Kalau boleh cerita juga, lingkungan sekitar juga sudah menunjukan sinyal-sinyal keingintahuan soal saya yang belum menikah diusia yang sudah cukup matang ini.

Saya pernah beberapa kali gagal dalam menjalin hubungan salah satunya karena pekerjaan saya. Sebagian lelaki mundur ketika tahu saya memiliki posisi yang bagus di kantor. Dari pengalaman tersebut, saya mempelajari bahwa lelaki punya ego tersendiri untuk terlihat lebih hebat dari perempuan. Ada yang bilang, mereka takut dengan perempuan yang kariernya lebih bagus, perempuan yang lebih pintar, yang lebih tinggi titel sekolahnya, dsb. At some point, saya merasa kehilangan percaya diri ketika berurusan dengan perasaan dan merasa bahwa seharusnya perempuan tidak lebih superior dari lelaki. 

Belajar dari kegagalan demi kegagalan dalam menjalin hubungan, saya berpikir untuk berubah. Perubahan pertama yang ingin saya lakukan adalah mempunyai pekerjaan yang support saya dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan kantor dan personal. Akhirnya, saya coba untuk mencari pekerjaan yang lebih santai dan tidak terlalu superior untuk seorang perempuan, pekerjaan yang biasa-biasa saja, sebuah cara berpikir yang salah menurut atasan saya beberapa waktu kemudian. Hal ini saya lakukan agar bisa memiliki hubungan yang lebih berkualitas dan tidak membuat takut orang yang mendekati saya karena status pekerjaan saat itu. Yap, saya kebawa arus dengan stigma "lelaki takut dengan perempuan yang memiliki pekerjaan yang lebih baik, titel yang lebih tinggi, dsb dsb yang bersifat duniawi", itulah kenapa saya ingin mundur dari pekerjaan yang telah membangun saya sebagai orang yang buta soal bisnis dan asuransi menjadi orang yang lebih berpengetahuan.

Akhirnya saya mencoba ikut seleksi penerimaan pegawai baru di sebuah lembaga negara dan Alhamdulilah lulus sampai tahap akhir. Pada saat itu saya harus mengambil keputusan antara meneruskan pekerjaan yang sudah dibangun selama hampir lima tahun terakhir atau memulai lagi dari nol, sesuatu yang saya masih no clue akan seperti apa. Pada saat itu bukan keputusan mudah melepaskan pekerjaan lama dan tidak mudah menerima pekerjaan baru, terlebih pekerjaan ini menggunakan ikatan dinas & denda jika mengundurkan diri selama ikatan dinas. Saya pun ada peluang terlempar dari pulau Jawa dan entah akan "tersangkut" di kota mana. Saya bertanya kepada keluarga dan mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan pada saya. Saya juga bertanya kepada teman-teman saya dan sebagian dari mereka mendukung keputusan untuk pindah ke organisasi yang baru, tempat dengan zona nyaman yang menjamin karyawannya sampai pensiun nanti.

Akhirnya saya bulatkan hati untuk resign meski ragu itu masih saja menyisa sampai hari di mana saya menyerahkan surat pengunduran diri. Waktu itu bos saya bertanya kenapa saya ingin mengundurkan diri dan saya sampaikan bahwa saya merasa perlu suatu pekerjaan yang waktunya lebih seimbang dan saya ingin segera menikah. Pada saat itu, atasan saya menyampaikan banyak hal dan sampai pada kesimpulan bahwa keputusan saya ini bukan sebuah keputusan dewasa. Atasan saya menyampaikan bahwa saya akan menikah ketika waktunya sudah menikah dan selama penantian itu, saya perlu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk sesuatu yang produktif. Pola pikir saya dibilang terbalik, dan dia men-challenge saya berkali-kali apakah dengan pergi ke pekerjaan baru yang lebih santai bisa menjamin saya segera menikah? Sebuah pertanyaan yang cuma bisa dijawab oleh keyakinan hati.

Akhirnya bagaimana, Din? Sebuah keputusan saya ambil dan banyak pihak yang menyangkan dengan keputusan tersebut. Keputusan ini bukan cuma satu dua hari saja dipikirkan, tapi dalam waktu yang cukup panjang. Hanya sedikit orang yang bisa mengerti keputusan yang saya ambil dan menguatkan. Kalau dipikir-pikir mau resigne aja ribet banget ya? Iya, karena efek dari keputusan saya ini ngga cuma pada diri saya, tapi juga keluarga saya yang selalu menembak saya dengan pertanyaan “kapan nikah, jangan terlalu bangetlah kerja pikirkan masa depanmu” . Kalimatnya menusuk mungkin sampai saya ingin memutuskan resigne karena khawatir tidak ada pria yang mau dengan wanita pekerja seperti saya. Heeheee...namun saya mikir lagi apa berkarir itu bukan masa depan ?apakah masa depan diukur dari sudah menikah atau belum? Jawabannya kalau buat saya

  1. “Tidak” ini hidup saya, bahagia saya sebelum atau setelah menikah adalah urusan pribadi saya. Tidak seharusnya saya tertusuk dengan ucapan orang lain “belum menikah karena terlalu sibuk bekerja?” menurut saya ini nggak ada korelasinya. Ada juga dengan saya bekerja meningkatkan kualitas diri saya harapannya mendapatkan pria yang kualitasnya tidak jauh-jauh dari saya.
  2. Pernikahan buat saya adalah sesuatu yang sakral, inginnya sekali seumur hidup. Makanya saya tidak mau gagal lagi dan lagi seperti kisah cinta saya sebelumnya karena “lebih baik menangis sebelum menikah, daripada setelah menikah malah sering menangis”
  3. Kicauan orangtua maupun sekeliling saya yang selalu menembak saya untuk segera menikah saya tepis dengan kalimat “Jika sudah waktunya menikah, maka terjadilah. Saya jalani detik dalam hidup saya untuk meningkatkan kualitas diri saya. Tidak perlu diburu-buru karena segala sesuatu yang datang diburu-buru maka biasanya berakhir dengan cepat”.
  4. Berkarir saat ini adalah masa depan saya, karena dari sinilah jalannya nanti saya akan menemukan teman hidup (entah dengan siapa) yang pasti pria itu adalah orang yang saya butuhkan dari Tuhan dan bukan saja saya dan orangtua inginkan. Jadi bukah pernikahan yang menentukan masa depan seseorang tetapi apa yang saya lakukan detik ini untuk diri saya sendiri. Mau bahagia yaa saya menentukan pilihannya, mau sedih saya juga yang memilihnya.

Well , sampai dengan hari ini, saya masih berjalan di rel yang telah saya pilih sebelumnya untuk tetap bekerja dan saya urungkan niat saya resign dengan alasan “mau menikah”.  Hampir setahun sudah saya memilih pilihan saya untuk tetap stay di kantor tersebut dan ternyata perjalanannya tidak semenakutkan seperti bayangan saya sebelumnya malah semua berjalan lebih ringan dari sebelumnya karena tidak ada lagi desakan dari sekeliling dengan tembakan pertanyaan “kapan nikah” Pernahkah saya menyesal? Tidak!. Kalau saja pada waktu itu saya memutuskan untuk tidak bergerak akankah cerita saya hari ini akan berbeda? Mungkin saja ketika saya salah memilih pada waktu itu, detik ini saya tidak mungkin bisa menulis cerita saya ini ke Urban Women, mungkin saja saya lagi menangisi diri saya yang terburu-buru menikah “mungkin saja kan” heeheee.

Pengalaman waktu itu memberi saya banyak pelajaran salah satunya tentang bersikap dewasa dalam mengambil sebuah keputusan. Maksudnya dewasa, Din? Iya, maksudnya agar tidak tergesa dalam mengambil keputusan karena emosi sesaat apalagi karena ketakutan akan stigma yang muncul di lingkungan atas diri kita. Dan yang paling penting dari semuanya adalah keep moving and don't look back with regret. Ini hidupku, ini pilihanku. Saya tidak menyesal. :)

 



Dini Anggiani

No Comments Yet.