Ibuku Mengendalikanku


Monday, 13 Aug 2018


Siapa yang tidak sayang dengan orangtua ? siapapun jika ditanya pasti akan menjawab meski di dalam hati “Ya, kita pasti sangat menyayangi kedua orangtua kita bagaimanapun sikap mereka ke kita”. Akupun demikian, aku sangat menyayangi mama dan papa, dulu waktu SMP hingga lulus SMA aku dekat sekali dengan Mama, Papa juga namun saat itu aku lebih dekatnya ke mama, karena memang dirumah itu hanya aku dan mama perempuannya,ketiga orang saudara kandungku laki-laki dan aku anak pertama di keluarga. Jadilah aku dan Mama selalu klop di segala situasi. Kemana-mana sama mama nyalon, masak bareng, nge-mall, curhat apapun aku terbuka pada mama bahkan dulu aku sampai berpikir aku kayanya nggak akan bisa hidup kalau mama sampai nggak ada di dunia ini.

Setelah lulus SMA mama dan papa membebaskan juga aku memilih jurusan yang sesuai dengan minatku. Aku merasa bahagia saat itu punya orangtua yang mengerti anak perempuannya. Aku lulus kuliah saat itu dengan nilai yang sangat memuaskan.  Pikirku semua ini berkat doa dan dukungan Mama. Singkat cerita akupun memasuki dunia kerja, aku memilih memulai karir sebagai Content Design Digital di salah satu kantor majalah remaja online di Bandung. Aku senang dengan pekerjaanku, Gajinya memang belum besar karena di sesuaikan dengan pengalamanku yang saat itu masih pemula. Aku nggak masalah, karena aku pikir selain nambah pengalaman, aku passion dengan pekerjaannya, aku mampu dan banyak ilmu yang bisa kuserap di tempat tersebut, Karena memang ini pekerjaan impian sejak aku kuliah dulu. Teman-temanku saja kesulitan mendapatkan pekerjaan ini dan aku diberi kemudahan jalan oleh Tuhan, Aku merasa diberkati.

Namun, Aku baru tahu bahwa mama tidak bahagia mendengar aku bekerja menjadi content designe digital, alasannya karena menurut mama profesi tersebut tidak menghasilkan uang yang cukup menjanjikan (pikiran Mama-ku jika anak bekerja itu adalah untuk menghasilkan uang bukan lagi bicara passion atau hal lain) mama malah ingin sekali aku bisa bekerja menjadi pegawai negeri sipil (PNS)  lalu menikah dengan laki-laki pilihan Mama. Alasan Mama memintaku menikah muda, karena mama ingin memiliki cucu dariku anak perempuan satu-satunya, kedua orang adikku yang laki-laki sudah menikah dengan wanita yang dipilihkan Mama (di jodohkan). Aku pernah bilang ke Mama, aku mau melanjutkan S2, Mama malah mengatakan “untuk apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi nanti ujungnya juga mengurus anak dan suami di rumah. S1 aja cukup nggak usah macam-macam nanti malah susah ketemu jodohnya” terang Mama. Saat itu aku sedikit down seakan masa depanku di kendalikan Mama.

Sambil tetap bekerja akupun terus meyakinkan dan membuktikan pada Mama kalau profesi ini adalah karir impian aku. Aku katakan pada Mama bahwa pekerjaan sebagai Designer Content Digital juga memiliki peluang karir cukup besar, sambil aku jelaskan tentang aktivitas sehari-hariku di kantor, tidak lupa aku juga tunjukan hasil karyaku berupa designe-designe yang aku sudah buat ke Mama. Aku katakan pada mama, bahwa bekerjadi manapun dan apapun profesi yang dipilih peluang untuk mendapatkan uang selalu ada. Yang terpenting kita yang menjalaninya mau bekerja dengan baik, sesuai dengan kemampuan/bakat diri dan ikhlas. Begitupun berkaitan dengan urusan mencari pasangan hidup. Mama yang selalu keukeuh ingin aku berpasangan dengan pria pilihannya dan menikah di usia muda, aku pun coba jelaskan ke Mama kalau saat ini aku ingin fokus dulu untuk berkarir, karena mumpung usiaku juga masih muda saat itu.

Pelan-pelan aku sampaikan hal tersebut ke Mama di waktu yang berbeda-beda. Musti Sabar dan yakin kalau Mama juga bisa mengerti mau anaknya ketika anaknya juga mau sabar tidak emosional memahaminya. Aku pernah baca quotes seperti ini “Boleh saja kita tidak se-pendapat /se-pemahaman dengan orang tua kita begitupun sebaliknya, Tapi sampaikanlah dengan kata-kata yang baik” aku pikir itu quotes sangat bagus untuk Parenting Relationship antara anak ke orangtua dan orangtua ke anaknya. Karena quotes tersebut akupun mempraktekkannya untuk berkomunikasi pada Mama.

Macam-macam aku dapatkan reaksi Mama setiap kali aku memberi penjelasan, dari mulai reaksi mama yang cuekin pandangan aku sampai mama sempat marah dan menangis karena aku dianggap sebagai pembangkang, bagi mama  sifatku berbeda dengan adik-adikku, yang penurut. Tapi aku nggak patah semangat dan tidak terpancing untuk emosi juga ke Mama. Saat itu pikirku bagaimanapun Mama hanyalah orangtua yang berbeda dengan jalan berpikirku saja dan menurut mama pilihannya adalah yang terbaik untukku, tapi jika dipahami aku yakin dia akan sejalan denganku nantinya. Sebagai anak aku punya kewajiban juga untuk menjelaskan yang sekiranya Mamaku nggak paham seputar mindset-ku tentang karir  dan memilih pasangan hidup. Saat itu aku yakin Mama hanya butuh penjelasan yang masuk akal, jika ia sudah paham ia akan tahu bahwa aku sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab dengan resiko atas pilihan yang kuambil.

Hingga pada suatu hari keluargaku diberi ujian, rumah tangga adik-ku yang pertama harus mengalami perceraian, Istri adikku ternyata selama ini melakukan perselingkuhan. Pada tahun 2011 lalu merekapun resmi bercerai dan hak asuh anak jatuh ketangan Adikku. kemudia Adikku yang kedua rumah tangganya juga hampir mengalami perceraian tapi syukurnya belum sampai terjadi karena Ayah memintaku untuk menjadi mediator mereka berdua. Kalau permasalahan yang dialami adikku yang kedua adalah karena menurut Istri dan adikku, Mama terlalu mencampuri urusan rumah tangga mereka berdua. Mungkin karena Mama trauma dan terpukul dengan perceraian yang harus dialami adikku yang pertama, jadi dengan keluarga adikku yang nomor dua mama jadi over protective dan banyak mengatur.  Selama ini mereka sudah memiliki rumah sendiri, tetapi Mama meminta Adikku untuk tinggal dirumah Mama bersamanya.

Dan hari itu aku memberi mereka pilihan, agar pindah dan menempati rumah mereka. Dengan pindahnya adikku dan istrinya bukan berarti mereka melupakan Mama dan Papa, mereka tetap harus sering-sering menjenguk Mama dan Papa dirumah namun alangkah lebih baik jika mereka yang sudah berumah tangga apalagi adikku sudah memiliki rumah sendiri untuk hidup terpisah dari orangtua. Ini dilakukan agar mereka bisa lebih mandiri, adikku sebagai suaminya juga bisa bertanggung jawab penuh terhadap masalah rumah tangganya.

Akhirnya adikku dan istrinya menyetujui saranku untuk pindah rumah dan sampai sekarang rumah tangga mereka tidak lagi mengalami guncangan seperti saat mereka masih tinggal bersama Mama. Back again ke ceritaku, aku percaya selalu ada anugerah dari setiap kejadian pahit atau manis dalam kehidupan. Perceraian adikku yang pertama dan guncangan rumah tangga yang sempat dialami adikku yang kedua membuat Mama, Papa dan Aku saling introspeksi diri.

Aku & Orangtuaku Belajar Banyak Hal                         

Saling Memaafkan

Setelah kejadian berturut-turut yang tidak menyenangkan tersebut, Aku dan Mama saling meminta maaf. Aku sebagai anak mungkin buat mama kelewat membangkang atau tidak mau menuruti maunya Mama untuk menikah di usia muda dengan pria pilihannya serta tidak mau berusaha untuk berkarir sesuai dengan maunya Mama yaitu sebagai seorang PNS tetapi aku malah lebih memilih tetap menjalani karir sebagai Digital Content Designer sambil melanjutkan kuliah S2. Mama mengatakan padaku bahwa  kini dirinya paham, bahwa aku menjalani dan mengambil keputusan ini bukan berarti aku membangkang tetapi ini bentuk aktualisasi seorang anak yang ingin memantaskan diri menjadi bentuk paling baik menurut versiku.

Membuang Sikap Egois dan Saling Menyalahkan

 “Maafin Mama ya Kak, buat apa juga mama harus susah-susah mememikirkan dan terlibat kehidupan anak-anak Mama, kalau ujungnya mereka tidak bahagia dan nggak nyaman dengan pilihan Mama.  Terimakasih kamu sudah membantu adikmu dengan memberi saran yang cukup baik untuk rumah tangga mereka. Seharusnya Mama tidak egois hanya mau anak-anak Mama mengikuti mau mama tetapi Mama tidak peka dan tidak memahami kalian, kalian sudah pada dewasa dan pasti tahu resiko baik buruk atas pilihan hidup yang kalian ambil harusnya Mama dan Papa hanya mengarahkan saja tetapi bukan menekan kalian untuk harus mengikuti keinginan kami” terang Mama padaku.

Aku dan Orangtuaku juga belajar tentang bagaimana untuk tidak memaksakan kehendak, Saling Mengingatkan dan Memahami Jika Salah Satunya Keliru & Menerima Dengan Besar Hati segala Masukan/Pendapat orangtua ke anak maupun anak ke orangtua. Karena Orangtua dan Anak juga Manusia keduanya bisa salah/keliru dalam mengambil keputusan.

Aku pun sebagai anak introspeksi diri, meminta maaf juga pada Mama mungkin ada caraku saat menolak untuk dijodohkan yang melukai hati mama, tapi sejujurnya aku tidak ada niat melukai hati Mama, aku sangat menyayangi kedua orangtuaku, aku hanya ingin Mama mendukung karir dan pilihan hidupku bagaimanapun situasi dan resikonya. Sejak hari itu Mama pun kini memberiku kebebasan untuk memilih pasangan hidup dan karir yang kutentukan sendiri NAMUN Mama tetap mengarahkan tentang baik dan buruk keputusan yang akan aku ambil dan tidak lagi memaksakan kehendaknya. Akupun demikian tetap melibatkan Mama ketika dalam perjalanannya aku mengalami kegagalan, Mereka selalu mendukungku.

Aku pun Sekarang Menjadi Orang tua Untuk Anak-Anak-ku

Pada tahun 20 14 lalu tepat di usiaku yang ke-32 aku pun menikah dengan pria pilihanku sendiri dan kini aku juga sudah menjabat sebagai Manager Marketing Communication, masih di tempatku pertama  bekerja sampai sekarang.  Aku pun kini juga sudah memiliki 1 anak perempuan, dari pengalaman parenting relationshipku dengan  Mama dan Papa, aku mengambil hal-hal parenting positif yang akan aku terapkan ke anak-anakku kelak dan memperbaiki cara parenting yang negatif yang lebih demokratis, tidak mengontrol berlebihan dan yang utama adalah tidak memaksakan kehendak pada anak-ku. Memberi mereka ruang kebebasan yang demokratis dalam memilih pilihan hidupnya. Aku sebagai orangtua hanya memfasilitasi, mengakomodir, mendukung dan mengarahkan pandangan dan keinginan mereka.

Baik buruk beserta alasannya aku jelaskan di awal ketika mereka memiliki pendapat atau pilihannya. Kelak semua keputusan aku serahkan pada anak-anakku yang terpenting mereka tahu resiko dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Bukan hanya saat mereka masih remaja tetapi kelak mereka sudah dewasa seusiaku nanti mereka aku bebaskan untuk memilih pasangan hidupnyasendiri (tidak perlu aku jodohkan heehee). Tugasku adalah memberitahu dan mengingatkan sesuai dengan pengalamanku sendiri, Jadi mereka tahu kalau apa yang aku katakan adalah baik buruk, untung ruginya adalah untuk diri mereka sendiri. 

Karena bagiku anak memiliki hak untuk memilih pilihan hidupnya. Jika pun pilihannya tidak baik, keliru atau tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, sebagai orangtua yang Mama dan Papa ajarkan padaku dan terus aku ingat adalah “Teruslah bersama dan dukung serta rangkul-lah anak-anakmu bukan hanya dimasa tertinggi/masa jaya mereka, TETAPI kamu harus tetap ada di masa terendah/situasi terburuk mereka dan berbesar hati untuk memaafkan karena keluarga adalah tempat yang akan selalu menerima kita meski kita ada di titik terendah”. Intinya semua akan berjalan dengan baik ketika kita tidak putus sabar untuk terus berkomunikasi dengan orangtua kita, karena orangtua pun sama seperti kita mereka hanya perlu kasabaran dari kita untuk memahaminya.

 

 

 



Clara Marisa

No Comments Yet.