I Love My Self, Karena Diriku Berhak Bahagia


Friday, 02 Nov 2018


Terlahir dari keluarga sederhana dan sebagai anak satu-satunya dalam keluarga, membuat saya seringkali menjadi anak yang perfeksionis. Disaat anak lain dituntut ini itu oleh orang tuanya, saya terbalik, saya yang menuntut diri saya sendiri demi orang tua. Selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang tua dan tanpa saya sadari, seiring waktu semua itu membuat saya lelah. Saya mengambil jurusan tekhnik untuk membanggakan orang tua. Saya menikah demi membahagiakan orang tua.  Intinya, saya tidak bahagia saat itu, saya tidak tahu apa yang saya inginkan, karena saya selalu memikirkan bagaimana cara mebahagiakan orang lain dalam hal ini orangtua saya sendiri hingga saya melupakan apa yang menjadi prioritas kebahagiaan untuk diri saya. Dulu saya tidak mengenal diri sendiri, tidak tahu apa yang baik buat saya karena di kepala saya yang terbaik adalah membahagiakan orangtua (boro-boro mikirin diri-sendiri).

Sempat Tidak tahu Arti Bahagia Sesungguhnya

 Saya dulu itu kurang paham memaknai membahagiakan orangtua, memang ada baiknya memikirkan orang lain (orangtua), namun seharusnya itu saya lakukan dnega batasan, bahkan dulu itu saya tidak tahu  batasan diri saya sendiri. Saya juga kurang berani mengatakan “tidak” baik pada orangtua, teman dan pasangan saya, saya itu dulu manut aja apa kata mereka, tanpa memikirkan efeknya buat diri saya sendiri, saya tidak berani menyampaikan pendapat saya dan mengatakan apa yang saya inginkan. Karena merasa kalau saya katakan saya takut dibilang ingin menentang orangtua. Seperti dulu saya ingin ambil kuliah jurusan yang saya inginkan, namun saya nggak berani bersuara karena saya sudah berasumsi negatif pada diri sendiri “kalau gw ngomong nanti gw dibilang ngelawan orangtua, nanti gw dosa” dan asumsi negatif lainnya. Saat itu, Saya selalu memikirkan dan mengikuti apa kata orang.

Singkat cerita saya pun menikah pada usia 25 tahun, Kejadian demi kejadian tidak mengenakan saya alami, hingga saya mengalami kondisi saat saya sempat mengalami insiden keguguran, saya harus merasakan kehilangan bayi yang sudah saya idam-idamkan. Tepat di usia saya kepala 3 sayapun memiilih menyudahi pernikahan tersebut karena perbedaan antara saya dan pasangan yang semakin besar hingga sudah tidak lagi menemukan titik temu dan saya ingin mengatakan stop untuk luka dan kekecewaan yang saya alami saat itu, karena saya pikir jika diteruskan ini sangat buruk untuk diri dan kesehatan mental saya.

Proses Move On

Setelah berpisah dari pasangan, saya mulai mencari apa sebenarnya yang saya inginkan. Semua kegilaan yang terjadi, semua harus dipikirkan sendiri, berjuang sendiri, menangis ? Saya bahkan tidak ada waktu untuk menangislagi saat itu. Iya, saya terlalu keras terhadap diri saya sendiri. 4 tahun setelah perpisahan dengan pasangan, saya mulai merasakan titik kelelahan yang teramat sangat. Dititik itu saya berfikir, saya tidak bahagia. Dan kemudian Apa yang harus saya lakukan terhadap masalah ini. Saya tipe orang yang tidak suka mengeluh, mengeluh itu harus ada solusi, kalau tidak ada solusi berarti harus menunggu, namun tetap dicari solusinya. Saya menggali, saya membaca kembali buku-buku filsafat, saya mencari makna keTuhanan.

Saya mengikuti therapy konseling hingga saya tahu bahwa satu-satunya jalan dan terapi terbaik adalah kembali dekat dengan sang Pemilik jiwa dan raga saya yaitu Tuhan. Sambil konseling saya juga mengikuti kajian-kajian ketuhanan sebagai cara saya memberi asupan gizi rohani untuk diri saya. Bagaimana dengan raga saya ? saya bebaskan diri saya makan, makanan yang menjadi favorite saya sebagai bentuk memberi kebahagiaan batin untuk diri saya, jalan-jalan bersama teman-teman dekat yang sebelumnya bahkan jarang sekali saya lakukan, mengikuti kegiatan olahraga senam, lari karena di dalam tubuh yang sehat akan membentuk pikiran positif. Perlahan, bertahap saat itu saya lakukan dengan hati yang lapang.

Pada akhirnya diri saya sendiri lah penyembuh terbaiknya, saat itu saya mikir sehebat-hebatnya dokter dia hanya punya waktu setengah jam untuk berdialog dengan saya. Tapi diri saya sendiri ada selama 24 jam sehari dan saya lah yang musti melakukan penerimaan diri dan mencintai dengan utuh apa adanya diri saya ini.  Saat itu proses tersebut sangat tidak mudah. Karena disaat yang bersamaan, saya harus membangun bisnis dari nol, saya harus menanggung orang tua sendiri, saya harus kuat untuk diri saya sendiri. Saya harus menghadapi omongan-omongan orang mengenai perpisahan saya “kok pisah, harusnya begini, begitu dan sebagainya” entahlah kadang saya berpikir mengapa orang lain yang notabene bahkan teman sendiri sampai bisa melontarkan kalimat yang tidak mengenakan padahal mereka tahu kondisinya. Tapi saat itu saya sudah tidak mau berpikir lagi yang negatif, rasa sakit ada tapi pastinya saya peluk bukan saya paksa lepas, karena semakin dipaksa saya lupakan dan hilangkan malah semakin jelas penolakan saya terhadap diri sendiri. Saya menerima segala kekurangan saya.

Saya Move On

Kini sudah tahun 20018, usia saya sudah masuk kepala 4, Seiring waktu dan pengalaman yang bagaikan roller coaster, disakiti, ditipu, dikhianati, jatuh bangun, akhirnya...lampu itu menyala. I want to be happy, i love my self, Kini saya bekerja di bidang yang sesuai dengan passion saya, sayapun kini juga memiliki banyak kegiatan di tiap harinya, yang mana dulu saya sempat tidak memiliki waktu sedikitpun untuk bergaul.  Saya tidak menyesali semua yang terjadi dalam hidup saya, saya bangga dengan perjalanan hidup saya, Saya bangga dengan diri saya dulu dan sekarang karena ternyata saya kuat, dan sampai detik ini Tuhan masih mengizinkan saya untuk terus hidup untuk memperbaiki diri, karena belajar itu seumur hidup bukan .

Semua itu yang membuat saya menjadi diri saya saat ini. Namun itu semua saya katakan bukan untuk membanggakan diri, ‘ini gw’, bukan, karena salah satu prinsip saya, semua yang terjadi dalam hidup saya adalah seijin Tuhan, baik buruk atas seijin-NYA pasti ada nilai dibalik peristiwa, pasti ada pelajaran dalam setiap kejadian. Tak henti-hentinya saya bersyukur pada Tuhan atas semua kebaikan dan pelajaran yang terjadi dalam hidup saya. Karena saya menjadi diri saya yang sekarang jauh lebih kuat dan tenang saya rasakan. Kini fokus saya bukan lagi ke pasangan hidup melainkan ke karir dan keluarga. Jika Tuhan mengizinkan saya untuk dipertemukan kembali dengan jodoh saya, saya bersyukur. Jikapun belum saya anggap memang belum waktunya dan saya diminta Tuhan untuk terus fokus membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu agar bisa terus dekat juga denga-NYA.

Saya kehilangan bayi saya, rumah tangga saya gagal, saya seorang janda dan mental saya hampir jatuh hingga ada niatan ingin mengakiri hidup saat itu, but it’s ok, i’m only human, saat itu saya menerima diri saya dengan legawa, memaafkan diri saya atas semua kesalahan dan kegagalan, saya terjatuh berkali-kali, dan bangkit dengan menjadi diri saya yang sudah jauh lebih saya cintai dari sebelumnya. Buat cara mencintai diri yang paling baik adalah dengan penerimaan diri dan mengakui segala kekurangan dan kepahitan masa lalu yang pernah saya alami, termasuk inner child karena terlalu menjadi sosok penurut tanpa tahu batasan. Setelah semua itu saya rasakan, Saya pun kini sudah Move On! dan itu membuat saya menjadi diri saya saat ini. 

Mana buktinya saya sudah mencintai diri saya ? Saya tidak mau buru-buru menikah lagi, karena saya menginginkannya demikian, karena saya cinta diri saya, diri saya memiliki hak untuk tidak disakiti berulang. Untuk apa saya paksakan menikah dengan pria yang berselingkuh dan tidur dengan wanita lain. Untuk apa saya menikah dengan pria yang hanya menginginkan harta orang tua saya. Untuk apa saya menikah dengan pria yang menjadikan saya boneka dalam hidupnya. Saya memilih menunda dulu menikah lagi untuk memantaskan diri saya, mendekatkan diri pada Tuhan dan lebih meresapi tujuan Tuhan memberi saya hidup sampai detik ini. Jika memang datang jodohnya saya sangat bersyukur, jikapun belum tidak mau saya paksakan. Bukan berarti saya tidak mau menikah lagi, berkeluarga, tentu saja saya mau, namun saya meyakini, belum waktunya menurut Tuhan dan itu saya jalani dengan iman, kepasrahan dan keikhlasan sambil terus memantaskan diri. Orangtua saya pun kini sudah jauh lebih demokratis, mereka sudah tidak lagi memaksakan kehendak mereka pada diri saya, karena menurut mereka kebahagiaan saya kini adalah yang utama saat ini, kami sudah saling memaafkan dan kini saya sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya.

 Dari pengalaman lalu itu saya belajar :

  1. Mencintai Tuhan adalah yang utama untuk saya saat ini, karena dari sini akhirnya saya mampu mengenal diri sendiri secara utuh (kebutuhan, keinginan dan tujuan hidup saya) saya kenali setelah saya mendekatkan diri saya pada-NYA.
  1. Saya kini lebih mengenali diri, bicara dengan diri sendiri, apa yang saya inginkan saya katakan jujur pada diri saya “Iya katakan ya, tidak katakan tidak”. Terlepas dari semua to do list dan tanggung jawab kita, jalani semua dengan penuh cinta...kepada diri sendiri, believe me, itu akan membuat semua lebih ringan, karena kita punya keyakinan bahwa kita tidak sendiri, ini saya sudah melakukannya dan dampaknya sangat saya rasakan sampai sekarang ini di usia saya yang akan masuk kepala 4, cara ini juga saya tularkan pada sahabat-sahabat terdekat saya dan merekapun merasakannya.
  1. Kini saya lebih memprioritaskan untuk kebahagiaan diri saya, sampai pada suatu hari saya sempat ingin di jodohkan untuk menikah lagi. Tetapi saya katakan Tidak. Dan saya melakukannya tanpa ada rasa bersalah dan menyesal, karena saya sudah tahu apa yang terbaik buat diri saya saat ini, yaitu sendiri dulu untuk memantaskan diri menyambut laki-laki yang juga mau bertumbuh bersama saya dengan menerima segala kekurangan di diri kita masing-masing. Saya tidak ingin jatuh dalam lubang yang sama dua kali, cukup seklai dan saya belajar dari pengalaman tersebut.
  1. Menjadikan pengalaman yang lalu bukan sebagai musibah, tetapi sebagai pembelajaran diri saya sendiri untuk lebih mengenal apa yang menjadi kebutuhan dan tujuan hidup saya yang harus saya terima bahwa luka dan kecewa itu pernah ada.

“Give your self a break because there’s time when you need a time out, use it for your own good” . Mencintai diri sendiri berarti juga bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita. cintai diri sendiri adalah yang utama, diri kita mempunyai hak untuk tidak di sakiti dan bisa pergi ketika kita dikhianati karena diri kita berharga dan itu kebahagiaan saya yang sekarang.

 

 

 

 



Anonymous

No Comments Yet.