Hidup Tanpa Sosmed ? Siapa Takut


Wednesday, 09 May 2018


Dewasa ini, sosial media bisa menjadi wadah apa saja. Berbagi pengetahuan, berita, tips, media jual-beli sampai ajang pamer. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman pribadi mengenai keputusan yang saya ambil kurang lebih satu bulan yang lalu, yakni menutup Instagram dan Facebook. Bagi sebagian orang yang sudah kecanduan sosial media, hal ini adalah keputusan yang berat. Alibi sebagian orang adalah: facebook ini salah satu yang menghubungkan saya dengan kawan lama, saudara jauh dan lain sebagainya. Atau “Instagram ini salah satu media tempat saya bisa mengabadikan kenangan dan membagikannya”. Tidak ada yang salah dengan dua hal tersebut. Hanya saja, saya merasakan dampak media sosial ini sangat besar terhadap kualitas hidup dan kebahagiaan saya.

Perubahan yang tampak nyata: bangun tidur stalking instagram, saat makan, disela-sela aktivitas, megobrol dengan orang lain sampai menjelang tidur kembali. Kegiatan ini berulang seolah-olah wajar saja dilakukan. Melihat feed Instagram dari akun-akun yang saya follow (mayoritas kawan sekolah, kerja, atau kawan komunitas) lebih sering memunculkan rasa iri dan kurang percaya diri karena saya sibuk membanding-bandingkan hidup saya dengan mereka, sehingga menimbulkan perilaku yang tidak disadari oleh saya sendiri. Jiwa ingin bersaing dan pamer, Mem-post foto agar terlihat keren, mengupload vidio agar tidak kalah hits dari akun sebelah (bisa rekan, sahabat, atau keluarga), atau mengunggah momen-momen tertentu dengan tujuan menarik simpati dan perhatian orang lain atau yang lebih parah yakni ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Hingga muncul istilah instagramable untuk lokasi-lokasi dan obyek foto tertentu.

Lantas bagaimana dengan Facebook? Menurut saya sama saja. Belakangan ini facebook justru membuat saya tak habis pikir. Bagaimana bisa muncul akun dengan nama-nama dan konten ‘kurang sopan’? muncul juga postingan-postingan tanpa sumber yang jelas sehingga diakses orang lain mentah-mentah. Bahkan berita-berita hoax bisa mendadak viral. Belum lagi budaya ‘pamer’ yang mirip-mirip dengan Instagram. Sempat terlintas dibenak saya “Jika saya berhenti main sosial media, akankah hidup saya membosankan? Akankah saya jadi kudet (kurang update)?” hal ini sudah terjawab kok. Kualitas hidup dan kadar bahagia saya lebih baik dari sebelumnya. Saya jauh dari berita hoax, tidak lagi sibuk ingin pamer, dan yang paling baik adalah saya menemukan waktu untuk membaca buku atau mengobrol dengan orang lain secara intens tanpa diselingi scroll Instagram. Waktu yang dulu saya gunakan untuk main sosial media, kini bisa saya gunakan untuk kegiatan lain. Saya tidak lagi apatis dengan keadaan sekitar. Untuk apa kita tahu berita terupdate di ujung samudera jika bencana di sekitar saja kita abaikan?

Berhenti main sosial media bukan hanya menghentikan sifat ‘pamer’, namun juga mempertajam rasa simpati dan empati. Mayoritas orang-orang saat ini, hanya berbagi simpati dan empati melalui jari-jari mereka (status dan komentar). Persepsi orang-orang akan berbeda mengenai bijak dalam penggunaan sosial media. Saya memilih stop dan tutup akun, bukan berati orang lain harus melakukan hal yang sama. Ukuran kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda, Ladies. Tidak perlu mengikuti standart orang lain untuk membuatmu terlihat keren. Saya juga tidak sepenuhnya berhenti main sosmed kok. Saya masih aktif di Twitter. Satu-satunya medsos yang saya percaya tidak merubah kualitas hidup dan kebahagiaan saya. Mari bijak dalam bersosial media! Tidak ada salahnya membagikan momen berharga kok, namun teliti kembali niat sharenya ya. Berikan postingan-postingan yang mampu membangun energi positif untuk orang lain. Karena hal-hal baik itu harus dibagi. Bukan begitu, Ladies? Mari tunjukan Ladies, bahwa ada banyak hal positif yang bisa kita bagi di sosial media. Saya sudah melakukannya dan malah lebih membuat hidup bahagia, tidurpun jadi lebih berkualitas. 



Nesiana Yuko Argina

No Comments Yet.