Hari Raya Buatku Bukan Lagi Ajang Hura-Hura


Sunday, 16 Dec 2018


Bagaimana merayakan Hari Raya Yang benar sih ?

Mmmm hari raya….. ini hari hari yang biasanya membuat saya sedih. Karena biasanya teman-teman saya akan merayakan dengan keluarga, makan-makan, penuh kebahagiaan ya, dan saya ini tipe orang yang keluarganya tidak pernah merayakan hari raya. Jadi? Pastinya saya iri dan ya udah deh ya, daripada makin pilu melihat kegiatan rumah orang lain. Heheh ya ngga?

Lalu saya coba satu satu nih. Satu tahun saya buat makan-makan meriah dirumah saya. Makanan non stop, semua boleh datang, rumah sudah didekor, mainan dan tontotan juga nggak kurang banyak. Ya OK juga, paling engga tidak merasa sepi karena rumah penuh dan saya sibuk.

Tahun yang lain lagi saya ke Bali dong, pesta sana sini pasti . Kaki sampai capek hahahaha, hits juga malamnya meriah, seru. Tapi  besok besoknya ya begitu. Bisa biasa saja. Party is over. Malah jadi agak layu yaa….mungkin juga efek kebanyakn minum.

Apalagi ya?

Oh ya saya juga cobain holiday hits ke Switzerland. Seru sih yak karena melihat Negara baru, dengan musim yang berbeda, dan juga memang tempat-tempat yang dilewati keren keren. Wah saya ingat trip ini keren banget. Cuma memang teman yang berpergian dengan saya sedikit horror ( saya baru tahu sifat aslinya di perjalanan). Jadi akhirnya saya kabur memisahkan diri dari dia dan pulang cepat.

Semua  asik asik saja dan seru juga ya. Tapi kadang saya mikir begitu sudah selesai semua. Kok rasanya begitu begitu saja ya.  Dan diulang-ulang juga saya sudah tahu rasanya seperti apa. Seperti liburan-liburan lainlah intinya.

Tahun ini sebenarnya tahun yang sedikit berbeda dan saya jujur kaget. Saya kebetulan diajak sama teman saya untuk membagi sembako. Tapi nggak tanggung tanggung ya ke desa daerah Bandung yang namanya Arjasari. Wkwkwkwkwk. Tapi sayakan selalu senang pengalaman baru jadi yah cuss saya berangkat 

Seperti perjalanan ke Bandung biasa pasti ada macet, ada makan snack beruntun dimobil, dan pastinya nyanyi nyanyi tidak jelas di mobil biar ngga bosen hahahaha…..Sampai di bandung ternyata kita langsung beli sembako dan sembakonya diplastikin satu-satu. Capek juga loh utk 60 keluarga. 

Semua barang ambil sendiri, dihitung sendiri, dipak sendiri, dan dimasukin mobil sendiri. Huff capek juga. Belum lagi besok pagi-pagi harus sudah siap grak jam 7. Sesampai di Arjasari saya baru tahu ternyata orangorang ini kurang mampu sekali. Pendapatan 20.000 sehari saja belum tentu didapat. Saya sudah mulai diem aja karena saya orangnya cengeng, mudah nangis.

Lalu kita adakan kebaktian Natal sederhana sebelum membagikan sembako. Pas kebaktian ada nyanyian dan kesaksian dr mereka. Saya sudah sampai shock dan banyak diem saja karena kaget dan terharu dengan apa yang keluar dr mulut mereka.

Saya pikir ya mereka akan mengeluarkan kata-kata keluhan karena mereka miskin dan punya banyak kebutuhan. Ternyata mereka malah bilang, mereka selalu dalam keadaan bahagia dengan uang yang kadang cukup kadang tidak karena kebahagiaan sejati tidak datang dari uang. Saya diem dan belajar, ternyata mereka boleh miskin tapi pola pikir mereka jauh lebih bagus dari pola pikir saya!.

Belum lagi saya lihat mereka mengeluarkan alat musik yang berbeda-beda untuk menyanyikan lagu natal. Saya pikir alat-alat itu sumbangan. Ada gitar dan kecapi. Ternyata mereka bilang mereka kalau ada uang lebih mereka sisihkan untuk beli alat musik, supaya kalau mereka bernyanyi untuk  Tuhan mereka bisa bernyanyi dengan baik karena iringannya sempurna.  Uang lebih? Memang seberapa lebih ya uang lebih mereka? Berarti mereka benar2 niat itu membeli alat musik tersebut. Malu juga sih saya sebetulnya. Saya punya uang saja ngga pernah berpikir begitu. Malah berpikir ya saya mau nyanyi dengan niat saja sudah bagus.

Malu, tersentuh, terharu ya. Diem-diem aja karena takut nangis hahahaha. Walaupun nangis juga tapi sedikit. Tadinya saya berpikir kitakan orang kota yang membagikan sembako ke orang tidak mampu,, ternyata saya adalah orang kota yang diajari orang desa. Kita tidak pernah tahu ya kadang kemana hidup membawa kita. 

Pulang dari situ kejadian kejadian di Arjasari masih teringat. Dan kalau ingat nangis lagi (emang cengeng) dan yang mungkin paling baik adalah saya mendapat pesan yang membuat saya ingin menjadi lebih baik. Sebenarnya bukan pesan tapi tamparan halus ya tentang saya itu ngapain aja sih selama hari raya Natal? LOLL. 

Natal itukan hari kelahiran Tuhan Jesus, juru selamat,  untuk umat Kristen dimana kita itu diselamatkan dari kebinasaan. Lalu  apa iya yang saya lakukan selama ini berhubungan dengan perayaan tersebut?  Sebetulnya engga juga ya, paling bagian saya ke gereja saja. Tapi saya belajar dr masyarakat Arjasari itu bahwa di hari Natal selayaknya saya memberikan yang terbaik untuk merayakan kedatangan juru selamat. Hari itu bukan untuk kesenangan pribadi yang seru dan asik tapi lebih untuk menunjukkan rasa terima kasih saya kepada Tuhan saya yang sudah capek-capek dan bersusa-susah menyelamatkan saya. Dan rakyat Arjasari ini hatinya lebih bersih dari saya.

Terima kasih sudah ditegur dan terima kasih saya dikasih sembako rohani walaupun saya memberikan sembako fisik. Terkadang kita memang tidak tahu dalam perjalanan hidup ini siapa yang memberkati siapa. Saya belajar untuk tidak sombong dan saya berterima kasih di hari sebelum Natal ini saya ditegur. Memang semestinya di hari Natal ini saya tidak seharusnya berhura-hura mencari kepuasan sendiri yang ternyata juga ngga benar-benar memuaskan saya. Belajar menjadi rendah hati dan bersyukur itu yang saya dapatkan diperayaan Natal tahun ini.

Berbeda tapi mungkin sebenarnya perayaan Natal ya seperti ini. Waktu berterimakasih yang tulus dan waktu merendahkan hati, mencari apa yang bisa diperbaiki lagi dari sifat, pola pikir, dan karakter saya. Terimakasih Tuhan atas berkatnya di perayaan Natal kali ini, saya jadi lebih dalam lagi memaknai perayaan hari besar ini.

 

 

 

 

 



Priscilla

No Comments Yet.