Hari Raya Adalah Waktu-ku Untuk Merefleksi Diri


Friday, 21 Dec 2018


Hi Urbanesse! Wah, tema bulan ini menohok sekali ya, hehehe... 

Topik ini mengingatkan saya kembali akan masa kecil saat tinggal bersama orang tua di tanah kelahiran saya, Kota Malang. 

Saya dan kakak dibesarkan oleh keluarga biasa saja, bukan seseorang yang menganut keyakinan Agama yang fanatik. Nama saya Nathalie, yang dilahirkan di keluarga yang cukup menunjukkan bahwa kami keluarga yang toleran. Saking tolerannya, saya sendiri ketika masih kecil tidak memaknai hari raya keagamaan sebagai momen yang spesial.  Lho kok bisa ?

Saya rasakan demikian karena esensi untuk melakukan ibadah saat bulan Puasa, misalnya, adalah untuk mengejar bentuk apresiasi berupa pujian atau materi yang di iming - imingi akan didapat saat hari raya tiba(ya angpau, ya pahala, ya pujian dari orang dan lain-lain). Dan sedihnya, hal ini saya rasakan hingga menginjak usia dewasa. Fokus saya saat itu hanyalah baju baru dan salam tempel/angpau. 

Baru beberapa tahun lalu saat negara ini sibuk dengan politik & agama yang disangkut pautkan, dalam hati saya lalu merasa ada yang kurang mengena sepertinya ya ?. Berawal dari titik balik inilah, saya mulai mempelajari kembali esensi hari raya keyakinan saya yang sejatinya.

Ini yang saya lakukan untuk memaknai kembali hari raya kegamaan sebagai hal yang filosofis & esensial dalam hidup saya :

  1. Hari Raya sebagai puncak waktu untuk menyepi, berkontemplasi dengan diri sendiri, membenarkan persepsi tentang makna Tuhan dan positioning agama dalam kehidupan sehari - hari. Tiap tahun itu pola pikir yang saya tanamkan pada diri saya dan hasilnya saya dapatkan, letupan di hati menjadi ajang refleksi diri misalnya dalam bentuk ibadah, perilaku diri dalam bersyukur dan sikap sabar saya dalam kaitannya dnegan hubungan antar manusia harus lebih ditingkatkan lagi dari sebelumnya.

Tiap tahunnya selalu ada perubahan secara personal yang saya rasakan, Personal berarti tidak perlu saya sebutkan di depan umum atau hingga harus saya publikasikan bahwa saya beribadah, bahwa saya Nathalie merayakan hari raya dan sebagainya. Yang pasti setiap hari raya saya kini dan nanti selalu memiliki titik pijakan baru yang harus saya tingkatkan lagi dari sebelumnya. Kini pemaknaan hari raya bukan hanya iming-iming reward atau pahala baru ibadah tetapi lebih dari itu makna hari raya buat seorang Nathalie sebagai waktu yang tepat bercermin sejauhmana saya bermanfaat sebagai manusia secara personal dan untuk orang lain dan sellau harus ditingkatkan lagi hingga Tuhan meminta kita kembali pulang .

Saya setuju dengan perumpamaan yang mengatakan bahwa esensi hari raya itu ada di hati dengan segala letupan kekhusyukan/kesyahduan dan sukacitanya yang perwujudannya lewat perayaan yang sederhana dan tidak belebihan. Pemikiran saya pun demikian. Berpikir ulang dari sudut pandang jiwa memang selalu membuahkan pikiran yang menenangkan dan jauh dari masalah materi. 

  1. Inner circle. Ini yang juga penting. Saya mulai mengeliminasi teman dan sahabat menjadi hanya beberapa yang sesuai dengan visi/pandangan hidup. Dengan begini, kita akan selalu diingatkan untuk lebih mengutamakan ketenangan hati daripada materi. 

Saya percaya dengan ungkapan lama begini “Hidup kita adalah gambaran kualitas keimanan kita” Saya pikir beginilah realitanya, bagaimana kita memaknai hari raya keagamaan sangat erat kaitannya dengan refleksi diri. Jika kita memaknai suatu keyakinan sudah positif dan secara jiwa sudah menyatudengan batin kita, maka segala yang baik mungkin saja terjadi dan bisa dilihat dari kehidupan kesehariannya. Well, itu tadi pengalaman saya dulu dan kini dalam memaknai hari raya, Bagimana dengan kamu Urbanesse sama nggak dalam memaknainya ?

 



Nathalie Indri

No Comments Yet.