Hari Besar Keagamaan Bukan Untuk Hura-Hura


Wednesday, 05 Jul 2017


Ngomong soal “Social Culture and Faith”, aku jadi teringat akan pengalamanku bersama teman seiman dua tahun yang lalu dan mungkin ini juga pernah dialami dengan Urbanesse yang beragama lain tentang menemukan esensi dari perayaan keagamaan mau itu Lebaran, Nyepi, Natal maupun hari besar keagamaan lainnya, pasti semua di antara kita kerap mencari esensi ditengah tradisi yang sudah berkembang di masyarakat.

 

Aku akan sedikit menceritakan bagaimana tradisi saya jelang perayaan hari besar keagamaan yang saya imani. Buat umat Kristiani, bulan Desember identik dengan moment perayaan hari besar keagamaan. Ketika aku masih SD, aku suka sekali melihat kartu ucapan hari besar keagamaanku jaman dulu dimana ada gambar simbolik keyakinanku di kartu-kart tersebut. Aku suka liatnya. Papa dan mama berbeda keyakinan denganku. Kita tidak pernah ke tempat ibadah untuk merayakan hari besar keagamaan bersama-sama,  boro-boro ada hiasan simbolik dari aliran kepercayaanku, ngga pernah punya. Tapi, saking terinspirasinya dengan gambar-gambar di kartu itu, setiap tahun pada saat malam moment hari besar keagamaan, aku dan ketiga saudara perempuanku memerankan tokoh simbolik dari aliran keyakinanku, Sederhana saja, tetapi sangat mendalam.

 

Waktu berlalu sampai aku menjadi wanita karir di Jakarta. Perayaan hari raya keagamaan tidak identik lagi dengan simbol-simbol tersebut, melainkan jalan-jalan liburan keluar negeri (karena libur bersama jadi sekalian bisa cuti panjang). Kalaupun tidak liburan, banyak undangan acara-acara makan-makan cantik. Bisa di hotel berbintang atau di cafe yang didekorasi tematik. Dresscode juga beda-beda sesuai acara. Jadi selain menyiapkan budget makan, beli baju, dan buat tukeran kado. Hal itu sudah lumrah di masyarakat. Dan tidak lupa, eksis di sosial media dengan mengupload foto-foto keren berikut hashtag. Newsfeed pun sangat festive, penuh dengan acara-acara eksis.

 

Sampai suatu ketika, saya menjadi guru Sekolah Minggu. Rekan-rekan saya adalah para professional bukan dari background keluarga gemerlap. Pada saat menjelang hari besar keagamaan, ada rekan kami yang baru keluar dari perusahaan tempat dia bekerja dan merintis startup. Lalu, ada pula yang sedang bingung karena perusahaan tempat dia bekerja sedang mengalami krisis. Rekan kami yang lain juga sedang menabung untuk pernikahannya. Tetapi, kami tetap ingin merayakan hari besar keagamaan bersama. Lalu, tercetuslah ide untuk makan di kantin bawah rumah ibadat yang terkenal enak dan sangat murah. Bermodalkan 10ribu perak saja bisa makan kenyang. 

 

Makan di kantin untuk moment hari besar keagamaan…?? Nggak salah? Itu pikiran aku pada saat itu. Hari biasa aja aku nggak pernah makan disana, apalagi merayakan acara tertentu. Lalu, tempatnya nggak instagramable banget. Bandingin ama acara-acara heboh di newsfeed, hadehh….Tapi, pada saat itu, entah apakah Tuhan sudah mengetuk hatiku ato apa yang ngomong ke pikiran aku. Bahwa merayakan hari besar keagamaaan dalam kesederhanaan itu lebih baik, Lagian, 10.000 buat aku nggak banyak, tapi belum tentu buat orang lain. Orang ada juga yang tiap hari masih bingung bisa makan apa, masa aku nggak bersyukur dengan keadaanku? Lagian, seru juga kali ya idenya beda, siapa tau kebersamaannya lebih ngena.

 

Ternyata benar, aku memetik pelajaran yang sangat berharga. Pada saat itu, aku juga volunteer menjadi coordinator majalah anak-anak rumah ibadat. Ketika memeriksa final artwork untuk majalah edisi hari besar keagamaan, aku melewatkan satu kata yang fatal akibatnya karena menyangkut nama tokoh pemimpin agama. Majalah sudah terlanjur dicetak. Di luar dugaan, reaksi editor in chief adalah memahami bahwa saat itu, kondisiku lagi sakit, sibuk dengan deadline dan pindahan. Printer pun berinisiatif untuk mencetak stiker untuk menutup bagian yang salah. Di kantin, sebelum kita makan-makan, guru-guru rekan Sekolah Minggu aku membantu menempel stiker-stiker itu sebelum. Kita hanya melakukan sebagian kecil. Di lantai atas masih banyak orang lain yang membantu mengerjakan, termasuk editor on chief itu sendiri. Detik itu, aku belajar tentang semangat hari besar keagamaanku yang sesungguhnya, yaitu menerima satu sama lain, kerjasama tim, dan kerendah hatian.

 

Sejak saat itu, aku tidak lagi pasang standar harus ini harus itu untuk merayakan moment spesial hari raya. Aku selalu ingat pengalaman masa kecilku dan makan di kantin itu. Kadang, sesuatu yang sederhana tetapi ‘genuine’ maknanya jauh lebih mendalam daripada sesuatu yang terlihat keren dari luar tapi motifnya dangkal. Namanya faith, spiritual, berasal dari spirit alias jiwa. Sesuatu yang kelihatan indah tapi tidak berjiwa akan terasa hampa/mati. 

 

 

 

 

sumber gambar: Created by Freepik



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.