Happiness Is Like a Remote Control


Friday, 19 Jan 2018


 

Happiness is like a remote control, everytime we need it, we are sitting on top of it!

Tahun 2016 ketika sama bertemu dengan suami, saya sama sekali tidak memiliki bayangan akan seperti apa kelanjutan hubungan kami, dimana saat itu saya di posisi yang tidak bisa dikatakan muda lagi, tapi kami melangkah maju untuk mulai saling dekat dan pacaran. Pun ketika suami saya mengajak untuk menikah di pertengahan tahun 2016 dan saya mengiyakan kemudian  kita menikah akhir tahun 2016.

Kita berdua sempat mengalami Long Distance Marriage dimana suami saya bertugas di Ho Chi Minh sementara saya tetap tinggal dan bekerja di Jakarta. Kita tidak menunggu lama, bulan Januari 2017 saya dinyatakan hamil, bahagia, bingung, dan semua perasaan campur aduk. Bahagia karena memang saya dan suami saya tidak ingin menunda kehadiran sang buah hati, dan bingung karena sepertinya kami belum cukup lama pacaran.. ha.. ha..ha

Bulan bulan awal kehamilan bukan hal yang mudah buat saya, tetapi saya bertekad untuk tidak membuat repot siapapun dengan kehamilan saya plus karena suami tidak ada di dekat saya. Untungnya suasana pekerjaan di kantor cukup mendukung untuk ibu hamil sehingga kadang saya diberi kelonggaran jika mual dan lemas ketika bekerja. Saya sudah bekerja selama hampir 10 tahun di perusahaan yang sama. Saya begitu menikmati segala dinamika pekerjaan karena memang saya sangat menyukai pekerjaan yang saya jalani pada saat itu dan saya memiliki tim yang cukup solid dan teman teman di kantor yang cukup suportif dengan kehamilan yang saya jalani. Keluarga saya pun sangat membantu saya terutama adik-adik saya yang selalu siap mengantar kemanapun atau sekedar menyiapkan makanan untuk saya.

Seiring dengan bertambah besarnya kehamilan saya, saya juga mempersiapkan kepindahan untuk mengikuti suami ke Ho Chi Minh. Ini adalah fase dimana saya harus membulatkan tekad saya untuk mengikuti suami dan mengurus segala macam kepindahan ke Ho Chi Minh. Saya meminta ijin kepada atasan dan SDM untuk bisa mengambil cuti tidak ditanggung karena sepulangnya dari Ho Chi Minh saya masih berniat untuk melanjutkan pekerjaan kembali. Apakah hal ini semua berjalan lancar? Tentu tidak J, saya bolak balik membulatkan tekad saya bahwa ini adalah keputusan yang paling baik yang bisa saya ambil saat ini plus bujuk rayu yang luar biasa memikat dari teman-teman dan keluarga untuk menahan saya agar tidak pindah.

Juli 2017, adalah waktu yang tepat yang saya perhitungkan untuk pindah ke Ho Chi Minh, dimana saya masih bisa naik pesawat , waktu itu kehamilan saya sudah mencapai 32 minggu, dan saya mulai tinggal di Ho Chi Minh awal Agustus 2017.

It’s a new normal , yah kehidupan normal yang baru dimana saya tidak perlu bangun subuh dan bersiap berangkat ke kantor, kehidupan yang baru dimana saya hanya beberes rumah, yoga, memasak , sambil menunggu kedatangan suami sore hari.

Saya bahagia saat itu? Tidak! Saya bosan. Saya kangen dengan sarapan bubur atau nasi uduk di pagi hari, saya kangen ngopi waktu istirahat siang, saya kangen suasana meeting dan tekanan yang diterima pada saat harus mengerjakan deadline, saya kangen olahraga di gym atau lari di hari minggu pagi. Saya kaget karena baru tau kalau orang disini tidak banyak yang lancar bahasa inggris sehingga kadang saya harus pakai bahasa tubuh untuk menjelaskan atau bertanya sesuatu. (selanjutnya saya sudah belajar beberapa kata dalam bahasa Vietnam atau kadang menggunakan alat penerjemah yang ada di Handphone). Terus bagaimana dong? Apakah pulang saja nih ke Jakarta? Baru 3 minggu di Ho Chi Minh J. Memang saat itu cukup berat tapi saya mulai memperbanyak olahraga terutama yoga sehingga membuat pikiran saya tenang, saya juga membaca banyak buku sehingga tidak terasa hari sudah sore.

Selama masa kehamilan banyak orang yang menanyakan kepada saya kenapa ingin melahirkan jauh dari keluarga? Ya saya tahu keputusan ini sepertinya agak nekad dan tidak seperti orang kebanyakan tapi karena dukungan suami yang sangat suportif, saya yakin saja.

Keyakinan saya ternyata menghadapi tantangan saya dimana saya hanya berniat kontrol biasa saja ke rumah sakit, berujung dengan rawat inap karena setelah dilakukan pemeriksaan USG ternyata indeks air ketuban saya mengalami penurunan, dan berbahaya untuk bayi yang saya kandung. Lagi-lagi saya berpikir apakah jalan yang saya tempuh untuk melahirkan jauh keluarga benar tidak ya? Tetapi saya tidak boleh dan memang tidak bisa mundur lagi saya harus melahirkan di Ho Chi Minh.  Pada saat dirawat saya lihat muka suami saya , dan mukanya sangat tenang dan tidak panik sedikitpun sehingga saya kembali mencoba tenang kembali. Setelah satu minggu dirawat dan tidak ada kemajuan peningkatan indeks  air ketuban akhirnya dokter memutuskan untuk dilakukan operasai Caesar dan lahirnya putri kami tercinta.

Putri kami pulang ke rumah, dan hanya ada kami berdua sajaJ, perasaan semakin campur aduk karena ada anak bayi yang selalu menangis tanpa kami tau sebabnya dan bisa menangis kapan saja, tetapi saya dan suami bisa melalui hal tersebut, kita tidak pernah membahasa betapa capeknya kita pada saat itu tetapi excited dengan pengalaman baru yang kami hadapi.

Hari berganti hari, putri kami semakin besar dan kami mulai memahami keinginannya, tapi ternyata bukan hal yang mudah untuk mengurus bayi yang baru lahir, dimana saya masih merasakan sakit akibat operasi, kurang tidur dan perubahan fisik yang sangat signifikan yang membuat saya kadang merasa tidak pede. Tetapi ketika melihat senyuman putri saya semua rasa cape dan sakit hilang dan saya rasa semua ibu-ibu yang habis melahirkan pasti mengalami hal-hal seperti itu.

Disaat saya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran putri saya, dimana dia sudah mulai memiliki jam tidur, main, dan minum susu yang teratur saya mulai merasakan bosan dan kangen dengan segala aktivitas yang pernah saya alami di Jakarta. Dan saya mulai berpikir apalagi yang bisa saya lakukan ya? Ternyata yang saya perlu lakukan hanya menikmati hari-hari berkembangnya putri saya, menikmati  masa masa dia menangis, tertawa , minum susu, dan waktu bermainnya. Saya hanya perlu menikmati masa pacaran lagi dengan suami dimana suami saya bisa cepat tiba di rumah kami tanpa macet berjam-jam di jalan atau ngobrol mengenai semua hal saat putri kami sudah tidur di malam hari.Saya hanya perlu menikmati jalan pagi dan sore bersama suami dan putri kami, piknik atau sekedar jalan sebentar ke mal, atau hanya makan di restoran yang paling dekat dengan rumah.

Ternyata yang perlu saya lakukan hanya itu , menikmati waktu bersama mereka, mencoba resep masakan baru, piknik di taman, dan mengulang hal yang sama lagi dan lagi tanpa perlu mengkuatirkan berapa banyak kesempatan dan materi yang sudah hilang ketika saya bekerja ,kesempatan berkumpul bersama keluarga atau sekedar ngopi dengan teman teman, kesempatan untuk berolahraga di gym atau lari di hari minggu pagi; dan ternyata hal tersebut tidak dapat menggantikan apapun ketika saya sudah memutuskan saya akan bahagia dengan apa yang saya miliki sekarang.

Saya mulai menerima bentuk tubuh saya yang tidak lagi sama, dan semoga saya ada kesempatan untuk kembali ke tubuh sebelum hamil ha…ha…, saya mulai mencari gereja lokal dimana saya bisa bertemu dan bersosialisasi dengan orang-orang dari negara lain. Oh ya saya mulai ikut arisan ha..ha..ha.. tapi saya tidak tau apakah ini akan berhasil atau tidak, doakan saya berhasil gaul dengan madam – madam arisan yah ha..ha,..ha..

Jadi dari perjalanan pengalaman ini pelajaran yang bisa saya ambil adalah kebahagian itu datang dari diri kita sendiri,  bukan hanya datang saja tapi kita yang menghadirkan kebahagiaan itu seperti layaknya kita sedang menonton tv, kita yang menentukan acara apa yang akan kita tonton begitu juga dengan kebahagiaan , kita yang menentukan kebahagiaan apa yang akan kita dapat.

Mungkin dulu kebahagian versi sebelum menikah dan punya anak adalah bisa punya waktu jalan dengan teman-teman, ke mal, ngopi, liburan kapan pun mau , dan pulang tidak perlu melihat waktu. Tetapi setelah menikah dan punya si kecil ternyata mendengarkan radio Jakarta melalui streaming sambil mandi sudah membuat saya bahagia luar biasa.

Jadi anda mau mengatur remote kebahagian itu tidak? Kalau saya sudah tidak sabar memencet remote kebahagiaan saya di masa yang akan datang. Selamat menciptakan bahagiamu sendiri Urbanesse!

 

 



Natalina hutapea

A Mother, Risk management analyst in Capital Market, Food and Coffee Lover

No Comments Yet.