Giyanti, Coffee Shop Artistik ditengah Oase Jalan Surabaya


Thursday, 22 Feb 2018


Mungkin saya salah satu perempuan yang tidak seperti kebanyakan. Saya memilih untuk menyejajarkan kata klasik atau kuno dengan modernisasi. Pastinya saling berkebalikan, berbeda 180 derajat. Tapi bagi saya, hal hal klasik akan memberikan kenangan tersendiri seperti rumah dengan desain rancangan klasik yang banyak kita jumpai di kota Bandung, lukisan dengan tema klasik, pahatan dan kerajinan sampai perangko. Ya, saya masih menyimpan koleksi filateli yang saya kumpulkan sejak sekolah dasar.

Bagi warga Jakarta yang menyukai barang barang klasik, kuno ataupun “old fashioned” pasti sudah sangat familiar dengan Jalan Surabaya yang sudah menjadi ikon barang antik sejak tahun 1975 di pusat Jakarta. Beberapa kali saya mengunjungi Jalan Surabaya dengan mendiang Papa. Kami berdua sangat menyukai lukisan dan ukiran kayu. Ada kenangan tersendiri ketika melewati jalan tersebut. Kunjungan saya yang berikutnya bukan untuk melihat lukisan, tapi untuk coffee hopping.

Coffee hopping kali ini sengaja saya lakukan bukan di akhir pekan, melainkan saat day off satu hari dari aktivitas kantor. Jumat pertengahan October 2015 adalah kali pertama saya mengunjungi Giyanti Coffee. Saya mendapatkan referensi dari salah satu teman dekat untuk mencoba piccolo yang sangat special.

Lokasi Giyanti Coffee memang tidak terlihat diluar, jadi bagi anda pecinta kopi yang ingin menyesap kopi dengan special roastery harus sabar menjelajah kebagian dalam lokasi. Tepat disamping restoran spesialisasi menu Vietnam Madame Ching, ada jalan masuk menuju Giyanti Coffee. Pada saat itu, interior masih sederhana dengan dominasi kayu. Saya pun memesan piccolo dengan canele. Ya, saya sangat penasaran untuk mencicipi pastry mungil coklat khas Perancis ini. Rasanya sangat pas, piccolo dengan rasa ambang antara pahit dipadukan dengan caramel canele. Seakan bertemu jodoh impian dengan karakter persis Christian Bale.

Saya pikir dengan ber-coffee hopping dihari kerja, setidaknya saya bisa menikmati kopi dengan suasana lenggang. Namun satu satunya spot yang tersisa adalah corner bar dekat pintu masuk. Oke, so let’s enjoy this.

Trip coffee hopping saya yang kedua sekitar pertengahan tahun 2017, ketika sudah merasa jenuh dengan menu makan siang seputaran kantor. Seketika teringat rasa rindu akan secangkir piccolo. Tidak berapa lama saya tiba. Wow, sudah banyak perubahan untuk interior Giyanti. Sekarang menjadi sangat artistik. Tidak hanya didominasi warna kayu, namun kesan hip modern dengan sentuhan warna cerah seperti biru dan kuning juga menyebar diarea dasar dan lantai dua. Saya suka dan jatuh cinta !!.

Tidak lupa memesan caramel coffee latte level medium (ada level low, medium and strong) dan sepotong carrot cake yang porsinya sangat mengenyangkan. Untuk level medium, tastenya memang lebih kencang dibandingkan coffee shop yang lain. Jadi sangat pas untuk pecinta kopi sejati. Saya memilih untuk duduk dikursi bar dibagian luar coffee shop. Suasananya nyaman, artistik dengan kopi yang otentik. Satu hal yag tidak pernah saya lewatkan sesudah menghabiskan satu gelas kopi di Giyanti adalah menyusuri kios kios pedagang antik di sepanjang Jalan Surabaya.

Definitely I’ll be back for another coffee shopping trip at Giyanti Coffee. Kalo kamu gimana, Urbaners ….?

 



Risa

No Comments Yet.