GENDUK: Novel Yang Membuat Agar Kita Selalu Bersyukur


Monday, 17 Jul 2017


Hi Urbanesse! Sudah lama tidak membaca sebuah novel karya anak negeri? Saya merekomendasikan Anda membaca 'Genduk', novel ini termasuk dalam 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2016, salah satu penghargaan literasi prestisius di Indonesia. Must read! 

 

Fiksi ini diceritakan dengan gaya memoar. Mengangkat kisah seorang gadis berumur 11 tahun yang tinggal bersama Yung, Sang Ibu di desa paling puncak Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah. Pertanyaan terbesar tentang keberadaan ayahnya menjadi konflik batin yang dialami Genduk, karena Yung tidak banyak bercerita tentang sang suami selain kepedihan mendalam setelah merasa dikecewakan karena harus membesarkan putri mereka seorang diri. 


Kesulitan Yung &  petani tembakau lain untuk menjual hasil panen dengan harga yang pantas terus menerus menjadi lingkaran setan yang mengambil porsi cukup besar dalam  isi novel ini. Rentenir membeli hasil panen dengan harga murah, menyebabkan selama bertahun - tahun Yung tidak pernah lepas dari jerat hutang. Kaduk, seorang pria yang memiliki koneksi dengan para juragan tembakau memanfaatkan kesempatan untuk mengelabui Genduk, tak kuasa memandang kemolekan tubuhnya untuk ditukar dengan iming - iming harga jual panen Yung yang lebih tinggi. 


Genduk Kalut. Keinginannya untuk memperbaiki kondisi perekonomian Yung membuatnya melakukan sesuatu di luar dugaan. Ia yakin bila Pak'e ada, Ia dan Yung tidak akan mengalami semua penderitaan ini. Perjalanannya bersama karakter tokoh lain yang dibangun dalam novel seperti Kaji Bawon, Bah Djan atau Lik Ngadun turut menuntun Genduk melakukan pencarian jati diri. Di masa yang sama, gambaran ketakutan & ancaman kepada warga yang dicurigai ikut terlibat dalam PKI mendapat porsi besar, turut memberikan atmosfer konflik yang kompleks pada sekelumit cerita fiksi yang diawali dengan kalimat sederhana, "Panggil aku Genduk. Aku lahir satu tahun sebelum Gestapu meletus.".

 

Hal utama yang saya pelajari dari novel ini tentu saja adalah kesederhanaannya. Saya merasa, novel ini hadir menjadi sebuah oase di tengah gurun riuh dunia digital. Melalui nuansa fiksi yang indah, mengajak kita untuk sejenak beristirahat dari kesibukan duniawi & melihat ke dalam diri. Sudahkah Anda bersyukur? Atau sudah terjawabkah pertanyaan - pertanyaan besar dalam diri Anda selama ini? Seperti Genduk yang mempertanyakan keberadaan dan alasan mengapa ayahnya pergi meninggalkan dirinya sejak ia dilahirkan. 

 

 

 

 

sumber gambar: bukukita.com



Nathalie Indri

No Comments Yet.