Fokusku Kini Bukan Lagi Pada Uang, Melainkan Pada Passion


Monday, 30 Jul 2018


Saya terlahir untuk berkarya, terlepas apakah itu dibayar atau tidak. Usaha yang saya keluarkan untuk volunteer tidak dibayar, dengan kerjaan profesional dibayar, sama bobotnya. Hanya bedanya, pekerjaan profesional saya menopang biaya hidup saya, jadi saya harus menjaga keseimbangan dan mengatur energi dan prioritas dengan baik antara keduanya, selain menjalankan kewajiban dan menikmati rumah tangga saya. 

Karena fondasi diri saya yang cinta berkarya, karir di mata saya memiliki hubungan erat dengan memaknai tujuan hidup (sense of purpose). Saya berpikir karir bukanlah pekerjaan. Karir ibaratnya milestones yang terbentuk dari pekerjaan-pekerjaan yang kita pilih. Dalam memilih pekerjaan, selain pertimbangan logis seperti gaji, saya juga menetapkan standar pribadi dalam karir, misalnya kalau saya mengambil pekerjaan tertentu, itu akan membawa karir saya kemana? Kalau saya kabur dalam melihatnya, tidak saya ambil walaupun gaji atu komisi yang ditawarkan oke. Contoh, ketika saya bergelut di bidang desain grafis, teman saya yang merupakan property developer menawarkan saya untuk menjadi salah satu agen penjual karena dia merasa saya memiliki bakat sales, saya dengan tegas mengatakan itu bukan minat saya. Tetapi saya memutuskan tidak setelah saya berusaha mengenal bisnisnya dan mempertimbangkan secara matang, bukan menolak mentah-mentah. Ada memang tipe orang yang bisa menjalankan multi tasking dengan baik, misal freelancer desain grafis dan juga sales property. Saya tahu dengan jelas saya bukan tipe seperti itu, melainkan tipe all out di satu bidang.

Kasus di atas merupakan contoh dimana saya menolak untuk menerima pekerjaan dengan kemunginan pemasukan uang lebih tinggi, karena saya merasa tidak berminat walaupun orang lain percaya kepada saya. Keadaan saya sekarang terbalik, dimana saya membanting setir sebagai preschool teacher walaupun gaji desainer grafis di Australia lebih tinggi dan jelas saya lebih memiliki pengalaman desain lebih banyak dibandingkan mengajar. Terkadang, saya tergelitik untuk mencari pekerjaan paruh waktu sebagai desainer grafis di luar pekerjaan sebagai guru. Tetapi, saya mantapkan fokus karir saya adalah di bidang anak-anak dan pendidikan kreatif. Kalau visi karir saya jelas seperti itu, maka segala usaha yang saya arahkan menuju ke titik yang sama, bukan hanya filling the gap by doing paid jobs.

Jadi, waktu luang kerap saya isi untuk ikut webinar mengenai edukasi anak, melihat social media dan membaca buku yang berkaitan dengan children's creative arts, dan juga invest waktu dengan mengadakan regular catch-up dengan sesama early childhood teachers. Saya juga berinisiasi menjadi PIC events di tempat saya bekerja dengan tujuan lebih mengenal rekan kerja. Tak kenal, maka tak sayang, benar kan? Inisiatif untuk membuat komunitas likeminded ini benar-benar membantu saya untuk berpikir seobjektif mungkin, menggali inspirasi dan share our struggles in constructive ways from multiple perspectives. Saya hanya manusia biasa yang punya blind spots, jadi sangat penting untuk stay humble dan melihat dari kacamata orang lain. Saya juga berusaha semaksimal mungkin untuk tidak entertain gosip dalam lingkungan kerja yang tujuannya hanya untuk nyampah dan tidak membangun, karena itu bisa demotivate my working spirit dan bisa bikin saya punya victim mentality. 

Lingkungan kerja saya saat ini bukan dibilang nyaman. Turnover pekerja sangat tinggi, karena tidak tahan dengan pressure. Kalau ditanya kapan mau berhenti, perasaan saya mengatakan setiap pagi. Tetapi, saya mantapkan diri saya paling tidak minimal setahun saya harus bekerja disini, karena saya merasa prioritising skills dan leadership skills saya benar-benar terasah. Yang bisa kita kontrol hanya response diri sendiri, bukan orang lain. Jadi, kalau saya burnout, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan berkomunikasi dengan Pencipta, sharing dengan suami dan membaca buku yang saya sukai. Saya juga berusaha untuk slow down during the day dan menentukan weekly goals secara rutin dan achievable. Lagi-lagi saya juga belajar untuk say no pada hal-hal yang kelihatan bagus tapi tidak sesuai dengan tujuan karir saya saat ini, misalkan tawaran mengajar paruh waktu di universitas yang gajinya jauh lebih tinggi tetapi jadwalnya bentrok dengan pekerjaan fulltime saya, juga tawaran-tawaran pekerjaan lain dari beberapa agency. Saya mantapkan diri saya untuk stay di tempat ini, belajar dan berkarya sebanyak mungkin sehingga ketika purpose saya tercapai disini, saya bisa melangkah ke tahapan karir selanjutnya dengan meninggalkan jasa baik.

Urbanesse, menjalankan passion tidak selamanya full of rainbows and butterflies. Saya mengalami bahwa dalam meraih kesuksesan berkarir, sesuatu yang dimulai dari passion harus dijalankan dengan patience. Pintar-pintar saja untuk mengelola energi dengan baik dan memanage prioritas dengan jeli. Semangat!

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.