Di Mana Bumi Dipijak, Di Sana Langit Dijunjung


Thursday, 15 Jun 2017


Di mana bumi dipijak, di sana langit di junjung. Begitulah pepatah yang harus kami hidupi, yang tidak boleh tidak. Ini ajaran yang HARUS dijalankan agar bisa diterima dalam kehidupan yang terkadang kurang ramah terhadap minoritas.

 

Saya terlahir secara kodrat harus menjadi orang minoritas di negeri sendiri. Saya dibesarkan di mana salah satu suku di Sumatra menjadi mayoritas dan agama mereka pun menjadi agama mayoritas. Saya tinggal hanya sekitar 50-100 meter jaraknya dari tempat ibadahnya. Setiap hari saya mendengar hal baik yang menjadikan saya bertumbuh dengan nilai  - nilai baik yang saya terima setiap hari.

 

Di lingkungan tempat saya tinggal, kami sering bertengkar ala anak – anak karena sering diejek keminoritasan kami. Sering sekali berantem anak – anak yang meminta mereka berhenti mengejek keminoritasan kami, dengan menjelaskan bahwa kami ini sama dengan mereka, bangsa yang sama hanya berbeda ras secara kodrati,  tapi yang namanya anak – anak, selalu diulang jika temannya sedih atau marah.

 

Namun kisah di atas kelak menjadi kisah bahagia, karena setelah kami semua sama-sama dewasa, kisah masa kecil ini menjadikan kami akrab dan kompak.

 

Saya bersekolah di sekolah yang isi siswanya adalah mereka kaum mayoritas, di sekolah ini perbedaan sama sekali tidak terasa. Teman kami dari berbagai suku dan berbeda agama, tapi tidak pernah terasa bahwa kami berbeda.

 

Hal yang berbeda yang saya alami antara di rumah dan di sekolah. Ini juga memperkaya cara berkehidupan yang pada saat saya dewasa dan bekerja, semua hal yang dialami ini, menjadi berkah bagi saya.

 

Seperti yang diceritakan di atas, sebagai kaum minoritas secara kodrat, kami sering dinasihati nenek dan mama kami bagaimana harus bersikap (papa saya meninggal diusia kami masih kecil, mama kami buka toko untuk menghidupi kami berempat kakak beradik yang masih unyu-unyu istilah sekarang). Kami dinasihati untuk menghindari konflik karena jika terjadi pertengkaran kami pasti selalu ada di posisi lemah, kami harus bekerja keras agar jika terjadi hal buruk terhadap minoritas kami, kami masih bisa bertahan hidup. Hal itu diturunkan nenek dan mama karena mereka punya pengalaman buruk diusir dari sebuah kota lahir dan hidup di penampungan, sampai merantau ke Medan dan sebagainya.

 

Cara hidup seperti itu, menjadikan kami berjuang lebih keras, kerja lebih menjaga reputasi, hidup belajar dari falsafah – falsafah turun temurun dari nenek moyang, yang sebenarnya lebih banyak ajaran yang diturunkan nenek moyang kami, kami tidak punya banyak pilihan karena perbedaan kodrati ini.

 

Waktu berjalan sampai keadaan berubah dan akhirnya tidak pernah lagi kami alami ejeken-ejekan menyakitkan sebagai anak – anak minoritas karena kami semua telah bertumbuh dewasa dan akhirnya kompak di lingkungan yang sama, bahkan kekompakan ini, mendatangkan kesempatan bisnis, mereka  sering datang menawarkan peluang dan kami sama-sama untung.

 

Kisah di atas jangan dimaknai sebagai luka dari perbedaan yang dimuncul-munculkan, tapi harus dimaknai bahwa TUHAN punya rencana indah atas apapun yang TUHAN ciptakan. TUHAN menciptakan kami pada saat perbedaan ras menjadi ejekan, bekerja pada pemerintah kesempatannya amat sangat kecil, bekerja di swasta gaji tidak mencukupi dan akhirnya karena tanpa adanya pilihan lain, kami memilih berbisnis secara jujur karena rasa takut dipersulit jika terjadi hal – hal yang menurut mereka salah. Ketakutan ini juga yang membentuk kami bekerja jujur secara professional, based on SOP, apa yang kami janjikan kami penuhi, agar tidak timbul masalah dan menjadikan customer (pemilik uang) puas dan mereka membeli balik, demikian waktu demi waktu berlalu sampai sekarang.

 

Keadaan masa kecil yang kami alami menjadikan kami begitu mudah tumbuh dan berkembang di kota-kota lain. Hanya dengan pepatah: ”di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung” menjadikan kami menghargai perbedaan, menyesuaikan diri di mana kami berada, tidak berani berarogansi, tidak berani tampil beda, tidak berani tampil norak yang bisa menimbulkan rasa tidak suka orang lain pada kami atau yang bisa menimbulkan iri hati dan sebagainya.

 

Pepatah di mana bumi dipijak disana langit dijunjung tidak harus dengan mengganti kepercayaan dan tidak  harus mengganti SARA yang tidak mungkin bisa diganti karena kodrat, melainkan hidup secara harmoni mengikuti alur mayoritas tanpa harus menonjolkan apa yang saya percayai dan mentalitas yang berbeda. Iman adalah urusan setiap manusia di ruang pribadinya, sedangkan RAS adalah rencana indah TUHAN bagi kita di dunia ini.

 

Teman-teman kecil kami yang dulu suka mengejek perbedaan kami pun, sekarang suka merasa lucu sendiri bahwa hal itu pernah mereka lakukan. Ya mereka ditanamkan bahwa perbedaan itu berbeda, tapi setelah mereka dewasa dan berteman dengan kami semua, ternyata yang membedakan manusia itu bukan ras dan agamanya melainkan pilihan sikapnya.

 

Mereka bilang: “kalau bicara agama, apakah jika saya memilih agama yang pasti benar ini saya akan masuk surga jika saya tidak melakukan perbuatan baik penuh amal sebagai bagian ibadah? Kami hanya akan masuk surga jika hidup kami benar menurut kitab suci kami, ajaran agama kami dan TUHAN sang pemilik surga. Terus apakah kami akan kaya sebagai orang yang secara kodrat lahir dari kaum mayoritas? ternyata kami  kerja keras untuk menjadikan diri kami yang sekarang ini dan bisa berbisnis dengan kalian yang berbeda ras dan kepercayaan kami. Jadi lucu ya kita waktu kecil” hahahahahah..

 

Sampai saat ini, kami lebih merasa seperti suku mayoritas, kami mengenal Bahasa dan budaya mereka lebih daripada mengenal Bahasa dan budaya ras kodrati.

Pada umumnya orang minoritas akan hidup secara pasti dengan pepatah itu, di mana pun mereka berada. Di daerahku ini, di Padang, bahkan suku minoritas sudah tidak bisa berbahasa aslinya, bahkan tidak mengerti Bahasa nenek moyangnya. Demikian juga minoritas yang berada di pulau Jawa dan lainnya.

 

Pada akhirnya kami semua mengerti bahwa bukan keyakinan yang kita anut yang berbedalah yang membuat orang sukses, bukan juga ras yang menentukan orang sukses tapi semua kembali kepada mentalitas.

 

Suku mayoritas di sini jika mereka merantau juga mereka harus menghargai suku di mana mereka tinggal. Mereka juga mengalami yang sama saat mereka merantau. Bahkan suku daerah kami ketika tinggal dan berbisnis di jawa, mereka bisa begitu fasih berbahasa jawa, saat mereka berbahasa daerah, barulah kami berbahasa daerah dan biasanya mendapatkan harga dan perlakuan khusus karena merasa dari daerah yang sama. Sama sekali tidak terasa bahwa kami berbeda.

 

Sukses seserang tidak ditentukan oleh ras dan pilihan kepercayaannya melainkan perjuangannya dalam kehidupan sehari – harinya.

 

 

sumber gambar:http://syaza.travel/tour/st_location/indonesia/padang/



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.