Come as You Are: the surprising new science that will transform your sex life


Tuesday, 02 Apr 2019


Hi Ladies! Review buku kali ini ditujukan bagi kamu yang sudah menikah. Saya membaca buku ini karena direkomendasikan oleh seorang teman saya yang berprofesi sebagai sexologist. Ketika saya membaca judulnya, terdengar bombastis dan jujur awalnya saya agak skeptis. Ilmu pengetahuan baru yang bisa mentransformasi kehidupan seks? Terdengar seperti judul majalah Cosmopolitan pada umumnya.

“Come as you are” juga bagi saya terdengar seperti slogan klise “be yourself”. Namun, saya tertarik ketika membaca latar belakang akademis yang komprehensif dari si penulis, Emily Nagoski. Ia adalah direktur Pendidikan Kesehatan dan dosen yang mengajar seksualitas perempuan di Smith College, Amerika. Dari Indiana University, dia meraih PhD dalam perilaku kesehatan dengan konsentrasi doktoral dalam seksualitas manusia dan master dalam konseling, dengan magang klinis di Kinsey Institute Sexual Health Clinic. Dia juga meraih sarjana psikologi, dengan minor ilmu kognitif dan filsafat dari University of Delaware. Saat berada di Indiana University, Emily bekerja sebagai pendidik dan pemandu di Kinsey Institute for Research in Sex, Gender, and Reproduction. Dia juga mengajar kelas pendidikan seksualitas manusia, hubungan dan komunikasi dan manajemen stres di universitas.

Dengan latar belakang akademis yang mendalam dari si penulis, apakah buku ini menjadi membosankan dan terkesan sangat ilmiah? Ternyata tidak. Edukatif tapi tidak menggurui. Ilmiah tetapi menyentuh. Lugas, jujur dan empowering. Saya menikmati sekali cara penulisan buku ini yang memadukan alur cerita nyata kegiatan sexsual yang dilakukan beberapa orang,  dari beberapa pasangan dengan nama samaran dan penjelasan ilmiah di baliknya, juga persepsi budaya masyarakat yang keliru mengenai seks yang bisa saja membuat kita merasa aneh dan rendah diri. Serasa membaca cerita bersambung karena kisah mereka dijabarkan secara teratur dari bab pertama yang sangat basic dan menjelaskan anatomi tubuh manusia sampai bab terakhir yang membahas tentang orgasme dan meta-emotions (how we feel about feelings).

Beberapa point pembelajaran yang saya secara pribadi merasa sangat bermanfaat :

  • Kenali setiap bagian alat kelamin kita dengan baik dan cintailah apa adanya. Bentuk alat kelamin setiap orang unik, tidak ada yang sama, dan normal, kecuali kalau kita mengalami rasa sakit maka harus berkonsultasi dengan medis. Di luar itu, walaupun berbeda bentuk, semua alat kelamin adalah normal, sehat, indah dan sempurna.
  • Sebagai wanita, kita hanya dapat meningkatkan kualitas seks jika kita mengerti akan pentingnya konteks pribadi yang mendorong kita untuk berhubungan seks — dan sebagian besar konteks itu tidak ada hubungannya dengan aktivitas seks itu sendiri. Kita bisa meningkatkan kualitas dan kenikmatan seksual tanpa secara langsung mengubah apa pun tentang kehidupan seks kita, melainkan konteks untuk berhubungan seks. Bagi kebanyakan orang, konteks terbaik adalah kondisi mental yang rendah stres + kemesraan yang mendalam + erotisme yang eksplisit.
  • Orgasme bukan tujuan dari seks, tapi merupakan bonus yang terjadi ketika kita benar-benar menikmati seks. Orgasme terjadi di otak kita, bukan pada alat kelamin. Untuk mendapatkan orgasme yang lebih dahsyat, matikan lebih banyak hal yang membuat kita turn off, dan nyalakan hal yang membuat kita turn on secara bertahap.

Adapun bagian dari buku ini yang kurang sejalan dengan prinsip pribadi saya, seperti menganggap seks di luar nikah adalah hal yang lazim. Namun, secara keseluruhan, saya sangat terinspirasi akan prinsip dasar si penulis yang mengedepankan penerimaan diri yang seutuhnya dari segi fisik maupun mental, menggali kebutuhan dan konteks seks pribadi secara spesifik tanpa menghiraukan budaya populer dan apa kata orang mengenai persepsi seks. Apalagi, buku

ini juga dilengkapi dengan beberapa lembar kerja yang sangat berguna untuk dipraktekkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan seks pribadi kita. Mau hidup seks yang lebih berkualitas? Yuk, sama-sama belajar to come as who you are!

 

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai Early Childhood Teacher, ilustrator & Author. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah.

No Comments Yet.