Cintaku Ini Tulus, Maka Sebagai Wanita Aku Harus Cerdik


Friday, 06 Oct 2017


Menjadi wanita tulus namun cerdik.  Dari zaman kuliah beberapa sahabat dekat saya pernah mengatakan “Dil, jadi orang jangan jujur dan tulus-tulus banget zaman sekarang mah, bisa-bisa diinjek lho dan malah dimanfaatin orang. Kaya kamu tuh” . Saat itu saya nggak mengerti maksud sahabat saya mengatakan seperti itu ke saya, namun setelah kejadian yang tidak mengenakkan saya alami di tahun 2005 saya jadi tahu ternyata menjadi cewek tulus aja nggak cukup di dalam suatu hubungan percintaan.

 

Saya ingin berbagi cerita pengalaman saya 12 tahun yang lalu. Saat itu saya masih kuliah, mungkin karena jarang banyak kenal jenis pria atau karena juga tidak punya teman cowok atau memang saya kurang cerdik, jadi saya beberapa kali kerap mengalami yang namanya jatuh bangun dan kecewa dalam menjalin hubungan. Memang tiap kali awal pacaran saya sudah dibutakan dengan yang namanya label “cinta dan sayang”, misalnya “Aku sudah terlanjur nyaman sama dia, Aku cinta sama dia, Aku sayang sama dia, Aku akan memberikan cinta yang tulus buat dia karena dia akan jadi kepala rumah tangga nantinya, jadi aku harus belajar dari sekarang untuk menghormati dia dan menuruti apa kata dia serta tidak ingin membuatnya kecewa. Karena aku pun nggak mau dikecewakan” intinya saat itu tiap pacaran saya hanya berpikir untuk selalu memberikan yang terbaik supaya hubungannya langgeng dan serius.  Mindset remaja saya saat itu mengatakan bahwa “Give the best So, You’ll get the best”. Quotes itu nggak salah, itu bener banget tapi sayanya yang nggak cerdik untuk menerapkan quotes tersebut di dalam hubungan percintaan saya dengan pasangan saya kala itu.

 

Setiap pacaran saya selalu berpikir apa yang saya tanam itulah yang akan saya tuai jadi selama pacaran ya saya nggak berpikir negatif tentang diri pasangan saya, melakukan segala sesuatunya sepenuh hati apa yang dia mau dan menjaga hatinya agar tidak kecewa”  Jujur ya ketika menulis ini saya sambil mikir “kok bisa ya saya sampai segitunya, baru pacaran aja sudah seperti orang bakalan pasti dinikahi heeheee...” pantas aja nggak jadi-jadi. Karena mungkin sayanya terlalu naif dan nggak cerdik menganggap “Diri saya yang tulus ini pasti akan dibalas tulus juga oleh pacar saya”, ternyaaata itu hanya slogan ladies buat saya.  

 

Lima banding sepuluh yang endingnya bakal baik dan sukses ke pelaminan sisanya jika nggak cerdik bakal mengalami seperti yang saya alami. Karena kenyataanya ya seperti pengalaman saya pacaran sudah tahun-tahunan akhirnya pacar saya itu menikahnya bukan sama saya tapi malah sama orang lain, bahkan parahnya lagi saya juga pernah menjalani hubungan tetapi ujungnya nggak dinikahi, lalu ternyata baru ketahuan bahwa pria tersebut sudah beristri dan memiliki anak di kampungnya.

 

Padahal tiap pacaran saya selalu memberikan ketulusan versi saya dalam artian saya nggak berpikir macam-macam hubungan ini akan seperti apa, yaa..jalaninnya tulus-tulus aja, lurus-lurus aja. Pada saat itu yang penting saya menuruti maunya dia dan menjaga hatinya supaya tidak kecewa. Ketika dia sakit saya yang antar dia berobat dan mengcover semua biaya pengobatannya (karena kebetulan memang saat itu saya sudah bekerja sambil kuliah, membantu biaya kuliahnya, tiap makan bareng selalu saya menawarkan diri untuk membayar karena saya pikir dia belum bekerja jadi lumrah kalau saya sebagai pasangannya membantu padahal sebenarnya itu tidak mendidik si pria jadi orang yang bertanggung jawab lho..

 

Hampir semua yang menjadi pacar saya tahu cara menaklukan hati saya. Dengan intense  mengirimkan pesan pada saat itu belum ada WA atau BBM tapi pakai SMS mereka mengingatkan saya kapan waktunya makan, menidurkan saya via SMS, telepon-teleponan sampai pagi (maklum pulsa mereka saya juga  yang beli heeehee...pokoknya saat itu yang pacaran dengan saya akan mendapatkan label “cinta yang tulus” dari saya. Saya kerap memberikan semuanya (waktu, pikiran, tenaga dan tidak sedikit materi yang saya kasih ke pasangan saya) atas nama “cinta dan sayang” saya memberikannya. kalau dilihat lagi sekarang cowok-cowok yang pernah jadi pasangan saya kala itu sebenarnya nggak salah, pernah dengar kan istilah “kejahatan bahkan hal-hal yang menyakitkan terjadi bukan karena ada niat tetapi juga adanya kesempatan” dalam pengalaman ini, sayalah yang nggak cerdik dan keliru dalam memaknai ketulusan itu, jadi siapa yang salah ? heeheee...

 

Suatu pengalaman yang pahit banget saya alami pada saat itu, Namun dari sini juga saya banyak belajar bahwa sebagai perempuan ketika jatuh cinta atau suka sama cowok, saya usahakan untuk :

  1. Mengubah mindset “Kalau sudah pacaran, tandanya boleh memberi apapun kepada pasangan kita". Kalau pun ingin membantunya, membantulah dengan cerdik tanyakan ke diri sendiri apakah jika kita bantu dalam bentuk uang mereka (pria) akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab nantinya, apakah dengan kita membantunya dengan memberinya materi berlebihan akan membuatnya menjadi pribadi yang rajin nantinya? Label atas nama cinta mungkin bisa disingkirkan dulu, toh jodoh takkan lari ke mana kan? daripada kecewa sudah habis-habisan seperti saya, lebih baik menundanya dulu bukan?.
  2. Kita mungkin bisa membantunya dihal lain, misalnya dengan memberi masukan pekerjaan yang cocok buat dia, mendukungnya untuk mau melanjutkan kuliah lagi atau mendukungnya untuk berbisnis kecil-kecilan tapi tidak dengan materi melainkan dalam bentuk dukungan moril sebagai pasangan bahwa kita setia disampingnya bagaimanapun keadaan dia.
  3. Bahkan memberi yang belum waktunya kita beri, yaitu melakukan hubungan seksual sebelum menikah. It’s Big NO Ladies.  Pada saat itu pernah hampir kejadian pada saya juga, tapi bersyukur saya bisa mencegahnya. Akibatnya saya pun diputusin sama pacar dan ditinggal nikah padahal 2 tahun pacarannya Heehee... Setelah dipikir-pikir mungkin ini alasan Tuhan nggak menjadikan dia Jodoh saya, Yaaa...mungkin karena Tuhan sudah melihat juga bahwa orang ini tidak tulus mencintai saya.
  4. Usahakan untuk tidak menuruti apapun permintaannya, dengan embel-embel “tanda cinta”. Misalnya waktu pacaran dulu cowok saya nggak suka saya berpenampilan feminim (pakai rok, sepatu balet, rambut poni) dia meminta saya untuk mengubah penampilan jadi lebih Saya turutin meski sebenarnya saya nggak suka, tapi karena takut dia berpaling ke wanita lain jadilah saya bukan menjadi diri saya sendiri. Asal pacar saya cinta Why not? saat itu.
  5. Usahakan untuk tidak mudah hanyut pada kelembutan dan kalimat manis yang kerap di keluarkan pria yang sedang coba mendekati kita, intinya jangan cepat terbawa perasaan sesaat karena apa yang kita dengar dari mulut pria tersebut belum tentu sama dengan ekspektasi kita, daripada kecewa lebih baik mencegahnya di awal.

Karena kebanyakan wanita, seperti saya bisa dengan cepat melemah jika pasangannya mengatakan hal-hal manis yang kerap membuat kita seolah-olah nyaman. Apalagi Berdasarkan  pengalaman pribadi saya, cowok kalau salah atau sudah membuat kita kecewa akan membuat kita luluh dan melemah yang akhirnya lagi-lagi kita maafin dia meski dia salah dan itu berulang. Karena kelemahan orang-orang yang tulus adalah mereka terlalu memiliki perasaan lembut dan nggak tega sama orang yang disayang.

Bahkan ketika pacar saya waktu itu ketahuan ternyata sudah memiliki istri dan anak, dia pun masih sempat-sempatnya mengirimkan saya bunga ke rumah bertuliskan “ I Love You Forever, kamu yang terbaik” lucunya saya masih memaafkan dia saat itu yang jelas sudah  membohongi saya karena ngaku single padahal punya anak istri.

6. Usahakan untuk tidak malas mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang jati diri pasangan kita di luar dia menjadi pacar kita dan jangan takut kehilangan ketika proses mencari tahu ini kita lakukan. Karena meski hasil yang kita dapatkan menyakitkan, tapi setidaknya lebih baik tahu daripada kejadian yang seperti saya alami terjadi. Pacaran dengan cowok yang ternyata sudah menikah. Kita sebagai perempuan boleh lho menguji pasangan, karena dari situ kita akan tahu gambaran besar tentang siapa pasangan kita tersebut sebenarnya. Yaaa...lagi-lagi memang butuh keahlian tersendiri untuk melakukan tes ke pasangan kita. Jangan diki-dikit kasihan, dikit-dikit nggak tega masa sama cowok sendiri curigaan, Hey..daripada kecewa kemudian lebih baik di uji dulu.

 

Hal yang terpenting adalah jangan pakai bawa perasaan dan musti punya sikap tega dan bodo amat.  Jangan sampai kejadian seperti yang saya alami, dulu tiap pacaran nggak sama sekali ngetes pacar saya sudah percaya saja akhirnya berakhir kecewa. Karena dulu otak saya dimindset kalau sama cowok sendiri nggak boleh berpikiran negatif dan musti tulus jangan berpikir macam-macam. Tapi setelah saya dikecewakan, Mmm...saya pikir wajib banget buat ngetes pasangan agar kita tahu dia itu orangnya gimana.

 

Selalu melibatkan Tuhan dalam setiap hal yang kita yakini baik, jalani. Meski hasilnya kita harus menerima kenyataan yang pahit namun pasti ada rencana tersendiri yang Tuhan mau untuk kita dibalik kepahitan itu. Sekarang saya menganggap kejadian yang pernah saya alami beberapa tahun lalu itu adalah sesuatu yang berharga yang kini membawa saya pada keberhasilan dalam menjalani hubungan. Kini saya sudah menikah dan 4 point pembelajaran hidup yang saya dapatkan dari kisah kelam masa lalu yang saya sharing ini sudah saya jalani pada pacar saya yang kini jadi suami saya.

 

Tepat pada bulan Januari 2014 lalu saya menikah dan kini sudah dikaruniai 2 buah hati. Pernikahan ini memang bukan ending tapi merupakan awal dari ujian-ujian hidup lainnya, tapi dengan komitmen saya dan suami bahwa tujuan kami menikah semata-mata karena beribadah kepada Tuhan (sesuai dengan keyakinan kami) maka kami yakin segala langkah yang kami lakukan atas izin/restu dari Tuhan maka hasilnya pasti baik. Semoga..!

 

sumber gambar: Created by Freepik



Libra

No Comments Yet.