Cinta Yang Ironis Tapi Berbuah Manis


Wednesday, 26 Jul 2017


Ngomong soal self-forgiveness, aku mau cerita tentang cerita cintaku yang ironis tetapi berbuah manis, dan pelajaran yang aku petik dari prosesnya.

 

Dua tahun yang lalu, aku liburan ke Sydney. Wah, aku suka banget segala sesuatu tentang kota itu, dan tergelitik untuk pindah kesana. Teman-teman aku pada bilang aku gila. Koq bisa hanya dengan 10 hari mau pindah permanen ke negara lain. Tapi, intuisiku mengatakan demikian. Kebetulan, pada saat liburan itu, aku berkenalan dengan satu orang cowok dari temanku. Dia tinggal di Sydney, sebut saja A. Orangnya baik, sopan dan apa adanya. Pinter juga. Beda sama cowo-cowo yang aku kenal selama ini. Ini baik, tapi kalo ngomong gak ngebosenin. Setelah aku pulang ke Indonesia, A tetap rutin kontak aku.

 

One day, entah bercanda atau serius dia menyarankan aku untuk pindah ke Sydney. Aku pikir, wah kok sama ya dengan pikiranku. Lalu aku seriusin deh plan itu. A mendukung aku. Selama setahun itu, aku sibuk mengurus kepindahanku, mulai dari apply buat kuliah S2 dan visa pelajar, beresin kerjaan client-client desain grafis ku, pindahin semua barang ke rumah orangtua di kampung halaman, cari orang yang mau sewa apartemenku, mencari pengganti untuk mengetuai tim volunteer majalah di rumah ibadah, farewell dengan teman dekat. Sibuk banget, tapi aku senang karena sedang mengejar impian ke negara lain. A rutin follow up tentang plan S2 ku, dan mengenalkan aku pada relasi dia yang bisa membantuku pindah ke Sydney. Dia juga yang mendukung aku disaat visa pelajarku hampir di pending karena harus follow up kesehatan lebih lanjut. Aku merasa walaupun dia jauh, tapi dia care.

 

Tak terasa, tibalah hari keberangkatanku ke Sydney. A menawarkan untuk menjemputku dan orangtua ku. Aku senang, karena dia perhatian dan mau ketemu orangtuaku. Orangtua ku pun merespon dengan baik. Pada saat orangtuaku kembali ke Indonesia, A membawaku jalan-jalan dengan teman-temannya. Aku berkenalan dengan satu perempuan, sebut saja B, dan satu pria, sebut saja C. Jujur, aku ada prejudice sendiri tentang C melihat background dia yang bercerai.

 

Aku mengamati ada kedekatan khusus antara A dan B. Lebih dari teman, tetapi bukan pacar. Lalu, aku berpikir, apa intensi A ke aku berteman doank kali ya? Alias aku yang geer sendiri. Tapi, kalau dirunut dari kejadian awal, rasanya sih janggal ya kalo orang pendiam dan tidak sociable seperti dia bertingkah proaktif seperti itu kepada aku, cewek yang bahkan bukan temannya. Whatever it is, aku tetap berusaha merespon pertemanan mereka dengan positif. Toh, juga aku sibuk kuliah. Hingga suatu saat, aku merasa interaksi di pertemanan ini semakin membuatku tidak nyaman. Misalkan, B mengajak aku, A dan C ke suatu event, tapi dengan catatan B hanya mau hadir kalau aku hadir. Kejadian lain, pada saat A akan berulang tahun, yang mengundangku ke acara ulang tahunnya bukan dia, melainkan si B. Aku jadi mikir, hellooo koq kayak balik ke drama picisan jaman ABG ya? Aku nggak mau ada drama di kemudian hari yang malah bikin gak fokus studi. Aku memutuskan mundur teratur dari A dan pertemanan itu.

 

Rasanya saat itu ya sediiiih. Mana baru beberapa bulan pindah ke negara baru, bahasa juga belum fasih, belum punya banyak teman, lingkungan spiritual juga belum punya. Bandingkan sama kehidupanku di Jakarta yang fun, happy dan dikelilingi teman-teman dekat. Jadi mikir, dodol juga ya koq pindah ke sini. Rasanya sepi dan sendirian. Belum lagi orangtua nanyain kabarku dengan si A. Walaupun berat hati, ya aku jelaskan kejadian yang sesungguhnya.

 

But, life goes on. Untungnya, aku dasarnya emang career oriented. Aku cinta bidang sekolahku dan kotanya. Aku memaafkan diriku yang ‘bodoh’ dan keliru menilai cowok. Jadi, ketika A masih mengontek aku, aku merespon dengan sopan dan secukupnya. Aku memutuskan untuk mengesampingkan masalah cinta, belajar berbesar hati, dan fokus pada studi dan kerjaan sampingan. Aku ikut beberapa club yang berguna, seperti Toastmasters untuk melatih public speaking skills yang aku butuhkan untuk presentasi kuliah, dan beberapa komunitas keagamaan….yang malah menuntun aku kembali bertemu dengan C di suatu acara keagamaan.

 

Oh No….aku pikir, duh sial amat ya udah melakukan segala cara untuk move on dari pertemanan itu, tapi tetap ketemu orang dari lingkup yang sama! Tapi, aku berusaha objective menjadi temannya. Eh, gak taunya aku dan C ini cocok berat, malah buntut-buntutnya jadi pacaran, dan sekarang malah menjadi calon suami aku hahahahaha…..Cinta memang kadang ironis, kadang manis.

 

Karena aku memaafkan diri aku pada saat gagal menilai cowok, aku jadi santai, Nggak ngoyo harus cari yang baru, gak rebound. Jadinya, aku bisa benar-benar lihat C sebagai orang yang aku cintai, bukan pelampiasan atau mengusir kesepian. Coba kalau seandainya aku terus keukeuh dengan sikapku yang cuek, curiga dan masa bodo dengan si C, pasti aku nggak akan pernah tahu kalau ternyata si C itulah yang akan jadi calon suamiku dan pasti aku bakal menyesal banget jika tahu hal tersebut belakangan. Untungnya Tuhan baik dan aku bisa lebih awal memaafkan diriku ketika gagal ternyata menilai si C.  Well, Karena bisa memaafkan diri sendiri, aku juga jadi lebih toleran dengan kesalahan C di masa lalu. Aku bisa belajar untuk tidak memojokkan masa lalu dia yang gagal dalam pernikahan, dan belajar untuk lebih legowo nerima anaknya.

 

Karena pacaran sama C, kadang ya balik deh ke hang out circle of friends yang lama. Ada aja kejadian lucu, ketika dinner, kakinya A ngga sengaja kena kakiku. B langsung bilang ke A ,”Kamu ngapain? Dia sekarang uda punya cowok tau.” Karena akunya udah move on, ya liatnya funny, gak annoying kayak dulu.

 

Dari pengalaman ini aku benar-benar belajar don’t judge the book by its cover. Tidak semua cowok yang terlihat sopan dan alim itu serius dalam mendekati kamu. Juga sebaliknya, tidak semua pria yang bercerai itu brengsek dan cuma mau main-main sama kamu. Harus take time dalam tahap pengenalan dan pertemanan, dan maafkan diri sendiri aja kalo salah. Namanya juga belajar. :)

 

 

 

 

sumber gambar: Created by Nensuria - Freepik.com



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.