Cerdik Dalam Menyikapi Ketidaktulusan


Friday, 13 Oct 2017


Pada saat saya akan membuat artikel ini. Saya harus melihat sebentar menuju lorong waktu.  Saat di mana sebuah ketulusan yang sudah saya berikan tapi dibayar oleh rasa sakit hati.  Tulus, mungkin maknanya sama dengan ikhlas, yaitu memberikan sesuatu tanpa mengharapkan balasan apapun dan tulus sangat berkaitan dengan perasaan seseorang.

 

Saya sedikit bercerita tentang kisah saya bersama seseorang yang sangat saya cintai. Pertama kali kami bertemu di Yogyakarta, saya merasa bahwa dia adalah jodoh saya. Saya mengakui bahwa saya tertarik pada pandangan pertama, singkat waktu, saya mulai sering bertemu dan dia menyatakan perasaannya. Akhirnya kami pacaran.

 

Namun, selama 6 bulan kami pacaran, saya merasa dia seperti biasa saja dengan saya, kalau saya lihat teman-teman yang punya pasangan mereka sering main bersama, makan di luar, jalan-jalan. Namun selama saya pacaran dengannya belum pernah sedikitpun mengunjungi tempat wisata. 

 

Namun, bagi saya menjalin hubungan tidak harus bepergian dan menghabiskan uang jajan, tetapi dengan mengobrol di tempat kost, menonton film atau jalan-jalan sore sudah cukup. Saya termasuk yang mungkin lebih banyak memberikan kejutan padanya, sampai suatu hari saya main ke kotanya untuk bertemu dengannya tapi dia malah pergi dengan wanita lain. Dia bilang hanya teman. Status di media sosial lama-lama menjadi bahan kecurigaan saya dan apa yang saya curiga memang benar, entah selingkuh atau dia menjalin hubungan tanpa status.

 

Jika dilihat dari wajahnya, memang teman-teman perempuannya jauh lebih cantik, menarik dan lebih modis dari pada saya. Hingga pada akhirnya agustus 2009 dia memutuskan saya lewat sms. What?? Rasanya sakit, campur aduk. Antara kesal, sedih dan merasa dibohongi dan dipermainkan. Seperti cinta sebelah tangan. Semua ketulusan saya sepertinya tidak ada artinya bagi dia. Saya tulus tapi saya kurang cerdik saat itu. Ternyata dalam menjalin suatu hubungan tulus saja itu masih kurang, seharusnya saya bisa lebih cerdik. Tapi apalah arti menyesal kalau semua sudah terjadi bukan?Yang harus saya lakukan saat itu adalah cerdik dalam menghadapi ketidaktulusan dan kekecewaan dari mantan pacar saya tersebut.

 

Untungnya saya memiliki sahabat dan teman-teman kost yang sangat selalu menghibur saya di kala saya down karena putus cinta. Inilah yang membuat saya tegar, kuat dan terhibur. Namun, bagaimanapun rasa sakit hati saya tidak lantas membuat saya memohon untuk balikan lagi. Seperti mantan pacar sebelumnya yang selalu meminta pacaran lagi. Bagi saya, dia yang rugi sudah menyakiti hati saya. Iya. Bagi kalian yang merasa sudah dikecewakan hatinya oleh laki-laki, mungkin bisa mengikuti cara yang saya lakukan :

 

  1. Berfikir positif bahwa saya lebih baik dari dia dan dia yang sudah rugi tidak mendapatkan wanita sebaik saya
  2. Move on. Segera beralih dan tidak menangisi nasib. Mencari aktivitas yng lebih bermanfaat, produktif dan berkumpul dengan teman-teman yang membuatmu bangkit dari keterpurukan 
  3. Meyakini bahwa Tuhan tidak pernah salah dengan jodoh saya setiap ketulusan yang sudah saya berikan pasti akan berdampak baik pula pada diri saya. Ini yang selalu saya tanaman dalam diri saya. Tuhan tidak pernah tidur. Dia yang melihat ketulusan hati, maka semua akan berbuah manis.
  4. Perbaiki diri dan lejitkan potensi sama dengan move on. Segera beraksi dengan memperbaiki diri, entah dari cara berpikir menjadi lebih baik dan berhati-hatilah. Tunjukkan pada dunia bahwa saya adalah wanita hebat.
  1. Tetap cool, Jangan pernah memperlihatkan rasa sakit hati padanya, iya. Ini yang saya lakukan. Setelah saya putus, saya selalu menunjukkan bahwa saya baik-baik saja. Tidak menunjukkan rasa sakit hati dan tetap komunikasi jika memang dia menyapa.

 

Setelah saya melakukan semuanya, saya merasa lebih ringan melakukan aktivitas, tidak ada kebencian di hati saya. Yang menarik adalah ini justru membuat dia penasaran dengan saya. Di saat mantan-mantan yang lain meminta balik, saya tidak sama sekali. 

 

Entah angin apa dia mencoba mendekati saya kembali, menyapa di media sosial dan mengajak bertemu. Sejujurnya saya masih memendam rasa sayang dan cinta, namun saya tidak berharap lebih lagi padanya, saya juga tidak menunjukkan perasaan saya ke dia. Saya bersikap sejajar, Saya menunjukkan padanya bahwa dialah yang akan membutuhkan saya.

 

Hingga pada akhirnya kami terus berteman baik, Yaa..karena setelah dipikir-pikir sangat membuat waktu jika saya hidup dalam kebencian padanya, lagipula saat itu sepertinya memang lebih nyaman untuk bersahabat dibanding pacaran. Singkat cerita mantan pacar saya itu, mungkin memang sudah mentok sama saya seiring berjalannya waktu saya perhatikan dia sudah tidak lagi menjadi pria yang dekat perempuan sana sini seperti dulu saat masih pacaran. Saya perhatikan hidupnya pun kini lebih teratur dan bertanggung jawab.

 

Dia yang tadinya tidak pernah ada keinginan untuk kredit rumah, saat itu dia beranikan diri untuk ambil rumah dan mengumpulkan uang DP nya. Perubahan lain yang saya lihat dia lebih menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap waktu, biasanya saya yang selalu menunggu ketika ingin bepergian, tapi kini dia bisa datang lebih awal alasannya karena tidak ingin melihat saya menunggu terlalu lama. So..sweet sih..tapi gimana ya..heehee saat itu saya sudah nggak mau cuma pacaran, saya sudah mau serius dalam menjalin hubungan.

 

Tepat di tanggal 11 mei 2015 dia membuktikannya, mantan pacar saya itu meminang saya. Dialah suami saya yang saat ini menemani saya bersama buah hati.  Suatu ketika di malam menjelang tidur. Saya bertanya padanya, apa yang membuatmu kembali pada saya? Dia menjawab “hatimu” 

 

Iya.. Dia merasa bahwa bukan wajah yang cantik yang membuat dia memilih saya menjadi istrinya. Di antara teman-teman perempuannya, saya yang paling biasa dan standar, tapi dia yakin bahwa saya memiliki hati yang baik,  dan mampu menjadi istri yang baik. Dia bilang wanita di luar sana yang pernah bersama saya hanya bisa menjadi teman wanita saya tapi tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak saya. Saya pun beranggapan bahwa ketulusan tidak akan pernah sia-sia, tetaplah tulus Tuhan tidak pernah tidur. Namun selalu bersikap hati-hati itu yang dinamakan kecerdikan.

 

 

Sumber gambar: Created by Teksomolika - Freepik.com



iis istianah firmasari

No Comments Yet.