Bukan Desperate Housewives


Saturday, 22 Apr 2017


Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu – ibu cerdas akan menghasilkan generasi cerdas – Dian Sastrowardoyo

Hai urbanesse, artikel saya kali ini dibuka oleh kutipan cerdas dari salah satu Indonesian sweetheart, Dian Sastrowardoyo, yang juga care terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Jadi wajar kalau aktris cantik ini mendapatkan peran utama sebagai Raden Ajeng Kartini (by the way filmnya akan tayang April ini #bukanpromo). Tapi, bukan tentang Dian yang akan saya bahas. Fokus utama dalam artikel ini adalah wanita, pendidikan dan karir.

Selalu ada streteotipe bahwa pendidikan yang tinggi harus berakhir dengan karir danpandangan umum tentang karir ini sendiri seperti kerja kantoran. Ini salah? Tidak juga. Hanya saja kita perlu meluruskan pengertian tentang karir. Menurut coach favorit saya, Rene Suhardono, karir adalah tumbuh kembang professional seseorang, bersifat personal dan melibatkan passion. Lalu kalau kita bekerja apakah itu karir? Bukan, itu adalah job atau pekerjaan. Memang biasanya pekerjaan adalah bagian dari jalan karir. Jadi buat kamu yang ingin berkarir di bidang yang saat ini jadi pekerjaanmu, go ahead lady. Namun, bagi yang memilih menjadi ibu rumah tangga? Oke, let’s talk about this.

Jalan hidup adalah pilihan. Memilih jadi ibu rumah tangga setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, memang dianggap melawan arus. Walaupun sebenarnya itu bukan hal asing lagi. Banyak contoh ibu rumah tangga yang sukses. Tapi sukses yang saya maksud bukan karena dia memiliki bisnis atau side job yang lain, bukan. Sukses yang saya maksud adalah wanita yang dapat mengatur dan mengelola rumah tangganya dengan baik, setia mendampingi suaminya, menjadikan suaminya hebat dalam pencapaian karir, merawat anak – anaknya sehingga berpendidikan dan memiliki etika yang baik, dan dia mampu menjaga ini sampai tua dalam pernikahan yang langgeng. Ini adalah konsep baru yang saya pelajari. Karena saya pun tumbuh besar dengan dogma bahwa wanita sukses adalah wanita yang berpengaruh dalam pekerjaan yang dia pilih. Persepsi sederhana yang sering terlewatkan tapi mengandung kebenaran. Ternyata menjadi ibu rumah tangga pun bisa disebut sebagai karir.

Seharusnya pandangan terhadap status ibu rumah tangga harus diubah. Jangan diremehkan tapi dihargai. Karena itu adalah pengakuan terhadap kodrat wanita. Bahkan seorang RA Kartini pun tidak pernah menyarankan wanita melawan kodratnya, yang Beliau inginkan adalah hak akses perempuan dalam pendidikan sama dengan laki – laki. Kenapa pendidikan itu penting? Karena anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal.  You teach a man, you teach a man. If you teach a woman, you build a generation. Wanita berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi laki – laki tapi untuk membangun generasi.  Bukankah sekolah pertama bagi anak adalah ibunya.

Seorang ibu akan tetap menjadi ibu walaupun dia bekerja. Ingatlah keluarga itu lebih penting daripada karir apapun. Ketika sudah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, maka professional lah. Karena pada dasarnya tidak gampang menjadi ibu rumah tangga yang berkualitas. Banyak ilmu yang harus dipelajari. Bukan hanya urusan domestik seperti dapur, menjaga kebersihan rumah, cuci dan setrika. Tapi juga ilmu manajemen, keuangan, kesehatan, pendidikan, sosial, psikologi, agama, sains dan lain – lain. Semuanya terintegrasi.  See? Sebenarnya tidak sia – sia gelar Sarjana yang sudah diambil ketika kita mampu manfaatkan.

Memang terkadang pilihan menjadi ibu rumah tangga, bukan pilihan diri sendiri. Tapi bisa jadi atas permintaan suami. Tidak apa – apa, selama suami mampu berkomitmen dalam memenuhi kualitas hidup yang layak bagi keluarga. It’s okay ladies. Biarkan para nyinyir-ers berkomentar. You can’t please everyone.

Pernahkah urbanesse mendengar tentang istilah “Kyoiku-Mama” atau Ibu Pendidikan. Istilah ini dari Jepang, Negara yang terkenal dengan disiplin dan etos kerja yang tinggi. Kyoiku – Mama sendiri muncul dari gerakan Ryousai Kenbo dimana perempuan Jepang mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengurus keluarga. Ryousai artinya istri yang baik dan kenbo artinya ibu yang bijaksana. Dan ini merupakan cita – cita tertinggi para ibu di Jepang sebagai perempuan. Tidak sembarangan, untuk mendapatkan predikat Kyoiku – Mama, perempuan di Jepang harus belajar dii sekolah khusus yakni Otsuma Women University. Jadi rata – rata mereka lulusan S1, bahkan tidak jarang sampai S2. Bukankah ini keren? Negara Jepang saja sangat menghargai peran perempuan untuk menjadi Ibu rumah tangga yang terdidik. Lalu mengapa di Negara kita masih dipandang sebelah mata? Entahlah, sekali lagi ini tentang persepsi sosial yang harus diubah.

Septi Peni Wulandani

Di Indonesia sebenarnya memiliki banyak “Kyoiku – Mama”, salah satu contohnya adalah Ibu Septi Peni Wulandani, yang kerap disapa ibu Septi. Ibu Septi sendiri dikenal publik sebagai penemu metode berhitung jaritmatika. Metode jaritmatika merupakan inovasi dalam pembelajaran matematika dalam berhitung dengan menggunakan jari. Metode ini, pada awalnya digunakan Ibu Septi untuk mengajari buah hatinya berhitung. Namun, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, sehingga metode ini berkembang luas dan popular di masyarakat.

Kembali lagi ke sang innovator, Ibu Septi. Sebelum menikah, beliau juga seorang wanita yang bekerja dan berprofesi sebagai PNS. Sampai suatu ketika calon suami beliau (yang sekarang sudah jadi suami) menyampaikan suatu permintaan bahwa si suami ingin agar anak – anak mereka dididik langsung oleh ibunya, bukan orang lain, bahkan orang tua sekalipun. Dan akhirnya Ibu Septi menyanggupinya. Meskipun ada keberatan dari pihak keluarga, dengan tekad yang bulat Ibu Septi tetap menuruti permintaan suami untuk menjadi ibu rumah tangga.

Setelah pernikahan, Ibu Septi sempat mengalami adaptasi dari wanita kantoran menjadi wanita rumahan. “membayangkan saja dulu sepertinya nggak mungkin harus Bahkan di tahun pertama pernikahan keinginan bekerja itu masih menyala. Sampai beliau melahirkan anak pertama. Mulai dari situ beliau menikmati peran sebagai ibu rumah tangga. Beliau menegaskan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan golongan second class yang identik dengan daster dan bau bawang. Bahkan beliau mengatur jadwal kegiatan di rumah dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Sebelum menemukan metode jaritmatika, Ibu Septi juga belajar menyusun kurikulum sendiri untuk memberikan edukasi yang pas untuk anak – anaknya. Dan terbukti, ke tiga anak – anak ibu Septi semuanya berprestasi sejak usia belia. Menurut saya ini pencapaian yang luar biasa untuk seorang yang sudah menetapkan pilihan dari yang semula pekerja kantoran kini berstatus “ibu rumah tangga”.

So urbanesse, jangan pernah merasa minder kalau sudah mengambil pilihan sebagai ibu rumah tangga dan jangan juga merasa galau jika kita memilih menjadi wanita yang bekerja, karena mau berkarir atau menjadi Ibu Rumah Tangga tetap keduanya memiliki nilai positif masing-masing. Dalam kisah ini Ibu Septi memilih menjadi Ibu Rumah Tangga, semoga mengispirasi kita yang mungkin memiliki kegalauan tersendiri ketika harus dihadapkan pada pilihan menjadi Istri dan Ibu namun tetap bekerja atau memilih menjadi Ibu Rumah Tangga Fulltime. Seperti cerita ibu Septi bahwa menjadi ibu rumah tangga juga bisa berkarya. Ibu Septi mengatakan bahwa “ketika kita memilih satu pilihan yakinkan dikepala kita kalau itu adalah pilihan terbaik, Bukan urusan kita untuk meyakinkan orang lain bahwa pilihan kita benar”. You do not owe the world an explanation. Karena prioritas utama ketika kita memilih menjadi Ibu Rumah Tangga adalah give the best effort for your family. Salam hangat buat keluarga ????

  

 

Sumber:

 


Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.