Bersyukur Cara Terbaik, Menerima Kekurangan Dalam Diri


Wednesday, 21 Nov 2018


Ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai fulltime Preschool teacher dan beralih menjadi casual teacher, saya tidak menyangka keputusan itu akan sempat membuat saya merasa minder.

Adapun kelebihan dan kekurangan menjadi casual teacher di organisasi tempat saya bekerja sekarang yang paling menonjol adalah gaji per jam yang lebih tinggi dibandingkan guru fulltime. Kerjanya juga lebih fleksibel karena kita bebas memilih hari dan jam kerja tanpa harus terikat harus bekerja 9-5 setiap hari. Saya pun tidak pernah lagi membawa paperwork ke rumah karena kurikulum perencanaan dan dokumentasi tulisan mengenai anak adalah bagian dari tanggung jawab guru fulltime. Jadinya, saya lebih memiliki waktu untuk mengembangkan passion saya yang lain yaitu menggambar, juga lebih mudah mengatur kehidupan personal dan rumah tangga.

Selain itu, mereka juga memberikan notifikasi tawaran jam kerja yang manusiawi, biasanya sistem mereka akan memberitahukan beberapa hari sebelumnya atau paling lambat satu hari sebelumnya, yang bisa kita iyakan atau tidak. Kita juga bisa memilih beberapa tempat penitipan anak sesuai lokasi yang kita mau tanpa harus terikat dengan satu tempat saja. Karena mereka kebetulan membutuhkan regular casuals di area dekat tempat tinggal saya, maka saya cukup mempunyai pilihan setiap minggunya.

Namun, berbagai kelebihan menjadi guru casual juga disertai dengan beberapa kekurangan. Walaupun gaji per jam lebih tinggi, guru casual tidak menerima company benefits seperti jatah cuti sakit dan annual leaves. Selain itu, guru casual juga tidak mendapat support dari company dalam proses memaintain akreditasi guru yang diwajibkan oleh pemerintah. Dengan kata lain, harus lebih mandiri dan proaktif dalam mencari dan mengikuti pengembangan karyawan profesional, yang biayanya ditanggung sendiri. Menjadi guru casual berarti juga tidak ada jenjang untuk menapaki karir ke atas sebagai manager, yang hanya terbuka untuk karyawan fulltime.

Dari guru taman kanak-kanak fulltime juga sebagai room leader beralih menjadi casual? hmm...jujur saya masih dalam proses menyesuaikan diri.Tanggung Jawabnya berkurang tetapi juga kepuasan secara pribadi pun berkurang. Campur-campur rasanya, Ada suatu waktu dimana saya sebagai casual diberikan work shift yang panjang karena guru-guru fulltime berdandan untuk mempersiapkan diri bersama-sama menghadiri acara tahunan organisasi itu. Di lain hari, ketika saya menjadi salah satu narasumber di diskusi panel alumni universitas. Yang lain pada posisinya fulltime teacher, ada pula alumni sebelum saya yang sudah naik menjadi acting director. Lalu, dosen saya pun berkata dia berharap saya segera menemukam fulltime teaching position yang cocok. Ditambah, saya juga bertemu dengan seorang teman yang mengambil posisi sebagai tutor di universitas, yang dulunya saya tolak karena saya memutuskan untuk menjadi room leader di tempat penitipan anak terdahulu.

Karena kinerjanya yang bagus, dia perlahan-lahan mendapat tambahan jam sebagai tutor, bahkan sekarang dia memiliki kesempatan untuk menjadi dosen lepas, yang gajinya berkali-kali lipat lebih tinggi daripada bekerja di tempat penitipan anak. Jujur, pada masa-masa ini, saya merasa semua memiliki posisi yang lebih baik dari saya. Saya marah pada diri sendiri dan merasa gagal.

Ketika saya terpuruk dalam rasa minder, saya berusaha bangkit dengan mencari inspirasi karir. Tapi, saya juga tidak menemukan yang sesuai dengan pikiran saya. Kebanyakan seniman yang terkenal ya fulltime seniman. Sedangkan guru yang sukses ya yang fulltime, naik perlahan-lahan menjadi assistant director, director, lalu area manager. Sedangkan saya suka kedua bidang ini, saya ingin menjembatani kedua minat saya ini.

Saya Mendapat Pencerahan Dari Sebuah Quotes

Saya sempat merasa bersalah kepada diri sendiri, karena saya merasa tidak bisa membuat pilihan dan tidak fokus. Tetapi, saya mendapat pencerahan ketika saya teringat quote yang pernah saya baca, “You are called to do something that has never been done before.” Saya pikir, kalau tidak menemukan sosok inspirasi yang 100% sesuai, ya nggak apa-apa. Kita diciptakan dengan keunikan masing-masing. Walaupun sama-sama guru, atau sama-sama seniman, tetap kita memiliki jalan sendiri yang hanya kita yang bisa lakukan. Saya pikir-pikir lagi, teman saya yang bekerja di universitas itu memang benar-benar menyukai hidup di lingkungan akademis. Saya pikir lagi kalau saya disuruh terus mengajar teori dan menilai essay murid, mungkin saya juga buntut-buntutnya complain karena tidak enjoy. Lalu, saya pikir emang apa salahnya mau tetap mengajar sambil menggambar? Ya nggak apa-apa asal konsisten, karena semua guru dan seniman yang menginspirasi saya berkarya konsisten berpuluh-puluh tahun lamanya. Dan kita nggak tahu kapan pintu kesempatan akan terbuka.

Saya juga belajar kalau keberhargaan diri saya bukan dari pekerjaan tetapi karena menerima bahwa saya adalah saya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yg ada. Bahkan pada saat nggak produktif pun, harga saya sebagai manusia tetap sama, Meski sebagai guru casual namun ini memang yang saya butuhkan saat ini, dan ini pilihan saya, saya pikir ini tidak akan mengurangi kualitas dalam diri saya. Ibarat uang kertas seratus ribu walaupun diinjak-injak tidak berubah nilai menjadi sepuluh ribu. Saya juga sharing dengan seorang teman, yang pada akhirnya memberikan insight dari kehidupan pribadinya. Awalnya dia berprofesi sebagai seorang CFO sebuah perusahaan di Afrika Selatan. Karena suaminya mendapat tawaran kerja di Australia, sekarang dia migrate ke Sydney bersama suami dan kedua anaknya, dan menjadi ibu rumah tangga. Tidak mudah, dia berkata. Dan dia melanjutkan siapa tahu Yang Di Atas (TUHAN) sedang mempersiapkan saya lahir dan batin untuk memiliki anak.

Jadi, saya belajar untuk setia pada hal-hal kecil dulu (sementara saya memang sedang menjalani diri bekerja sebagai guru casual sekaligus tetap berkarya dengan menggambar yang memang menjadi bakat saya, kemudian cara saya mengatasi segala hal yang saya rasa kurang adalah dengan selalu bersyukur bahwa saya sampai hari ini masih dipercaya oleh Tuhan mengemban pekerjaa dan aktivitas saat ini, menikmati dan memelihara “kebun” sendiri, juga tak lupa untuk menikmati keindahan “kebun” orang lain karena semua kebun memiliki keunikan masing-masing yang tidak perlu ditiru dan dibanding-bandingkan. Jadi diri sendiri aja, termasuk dalam menentukan arah karir. Semoga saya dan Urbanesse yang membaca sharing saya ini bisa menjalani karir secara konsisten dan berbuah manis ya!.



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.