Bersih-Bersih Hati Menjauhkan Dari Rasa Iri


Saturday, 21 Apr 2018


Suatu hari, saya dan beberapa teman dekat selama kuliah kongkow-kongkow cantik di daerah Cikini Raya. Banyak hal yang kami bahas, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, sampai dengan urusan asmara yang begini-begini saja dari dulu, belum kemana-mana #ehem curhat colongan. Kumpul bareng macam ini merupakan pelarian paling murah yang bisa dilakukan ketika penat datang menghadang. Haha hihi bareng teman-teman terbaik mampu mengendorkan kekakuan syaraf akibat didera berbagai macam realita hidup yang kadang ngga sederhana.

Saat kita lagi asyik bercanda, salah seorang teman nyeletuk ringan begini, " Enak yah jadi si Fulan A, punya suami ganteng, anak lucu, pekerjaan bagus, sering jalan-jalan pula!", yang langsung di amini oleh teman-teman yang lain. "Iya, gue lihat di media sosial isinya klo ngga lagi jalan-jalan, ya staycation di hotel mana gitu. Enak banget ya hidupnya", dan segambreng pengakuan serupa yang membuat saya speechless sendiri. 

Well, kumpul bareng perempuan emang susah banget buat ngga nyerempet ke yang namanya ghibah (ngomongin orang), harus kenceng banget beton untuk melindungi hati dari hal-hal macam gini.

Sejujurnya, Saya sendiri sepakat sih dengan pernyataan teman-temen tentang fulan A yang hidupnya terlihat sempurna di mata kami yang notabene masih single atau baru memulai rumah tangga, belum settled secara pekerjaan dan financial dimana untuk pergi jalan-jalan sekali setahun saja butuh nabung ber bulan-bulan. Melihat teman saya ini sering berseliweran di media sosial dengan segala keriaan bersama keluarganya tersebut, kadang (mungkin sering tapi ngga sadar) membuat hati nyess sedikit dalam konteks yang negatif, seperti membandingkan betapa enaknya hidup dia dan betapa merananya hidup seperti kita.

Ada iri hati yang muncul ke permukaan yang tidak di sadari mengurangi kebahagiaan hati dan membuat kita ingin ikut menampilkan keriaan serupa di media sosial for the sake of biar keliatan ngga susah-susah banget! Well meski saya ngga segitunya, tapi beberapa teman ada lho yang nekad minjem sana sini demi menuntaskan hasrat untuk bisa eksis di media sosial. Akibatnya hutang dimana-mana, bahaya banget kan!

Pertanyaannya adalah, wajarkah memiliki rasa iri macam ini atas kehidupan yang dimiliki orang lain?

Masing-masing dari kita pastinya sudah sangat tahu jawaban dari pertanyaan tersebut, namun bendungan di dalam hati (khususnya hati saya) belum cukup kuat menahan derasnya arus penyakit hati yang hadir tanpa diduga-duga. Lantas kalau sudah begini bagaimana menyikapinya?

Fix, rasa iri merupakan penyakit hati yang bisa menimbulkan penyakit hati lainnya seperti dengki, fitnah. Bak bola salju yang bergulir, semakin besar gulungannya, makin besar juga efek terjangnya (semacam lagi main bola). Oleh karenanya, mengobati hati dari penyakit iri merupakan seuatu keharusan. Bagaimana caranya?

Saya sempat menonton kajian dari seorang pemimpin agama tentang bagaimana mencharged hati yang baterainya sudah melemah. Beliau menganalogikan hati seperti handphone yang sewaktu-waktu bisa drop baterainya, perlu diisi ulang agar bisa "hidup". Dalam kajian tersebut, beliau menyampaikan bahwa dasar dari segala macam penyakit hati itu, yang dianalogikannya lagi semacam sel kanker yang harus dibasmi, adalah ketiadaan keyakinan kepada Sang Pemilik Hati, yaitu Tuhan. Rasa iri dan segambreng penyakit hati lainnya tidak akan muncul kalau keyakinan kepada Sang Pemilik Hati selalu terjaga, tidak meluntur. Sebagai makhluk yang penuh khilaf dan lupa, mengembalikan segala urusan kepada Sang Pencipta, mendekatkan diri kepadaNya, merupakan solusi terbaik untuk menentralisir hati dari segala penyakit hati yang hadir tanpa diundang bak jalangkung #eh.

Setelah menonton ceramah tersebut hati saya terketuk, Nyeeesss...beberapa kali rasa iri pernah mampir ternyata di dalam diri saya. Syukurah Tuhan menyadarkan saya dengan cermah pemimpin agam tadi. Dari situ saya pun menerapkan apa yang dikatakan penceramah tersebut. Bagaimana saya bisa tahu saya sedang merasa iri pada orang lain ? salah satu contoh kecil rasa iri yang pernah saya rasakan adalah ketika ada seorang teman menikah dengan seorang pria yang usianya jauh lebih tua dari teman saya tersebut. Awalnya irinya hanya pada level sekedar pingin, Ada perasaan ingin bisa menikah juga seperti teman saya itu tapi sayangnya pacar saja belum ada *jiaaah...curhat lagi. Heeehhee... Rasa iripun muncul ke level 3 ketika saya tahu usia pasangannya lebih tua dan saya langsung menyampaikan pada rekan saya yang lain, yang ada di forum kondangan tersebut “suami si anu tua ya, kok mau ya, kok gini ya kok gitu ya” dan banyak lagi yang saat itu saya nggak sadar kalau apa yang saya ucapkan adalah bentuk pelampiasan rasa iri hati yang sempat mampir ke diri saya.

Kajian petinggi agama itu membuat saya jadi mikir lagi kalau sedang ada rasa-rasa iri meski cuma sedikit, harus buru-buru saya kikis supaya tidak membesar dan mengakar rasa iri tersebut di dalam diri saya, caranya dengan menerapkan kajian ceramah salah satu petinggi agama yang pernah saya tonton tersebut. Selain itu jika rasa iri itu muncul saya bergegas mengubah jalan berpikir saya yang dulunya sempat punya rasa iri yang di lampiaskan dengan kenyinyiran saya berpikir lagi bahwa setiap orang sudah memiliki jalan ceritanya masing-masing bagaimana mereka mendapatkan rezeki, jodoh dan  capaian-capaian lainnya begitupun saya.

Lalu mulai saat itu saya coba berhenti membandingkan hidup saya dengan hidup orang lain yang sudah jauh diatas saya, dengan merefleksikan diri sesuai dengan kemampuan dan keberkahan yang saya sudah saya capai, saya jadi lebih bersyukur dan itu makin memperkuat diri saya bahwa sangat merugi jika saya harus iri dengan orang lain, karena hidup saya pun sudah asyik.   Hindari bergosip itu yang sedang saya hindari hingga saat ini. Hasilnya? Benar lho kehidupan saya malah menjurus ke arah positif. Rsa iri terkikis dengan rasa syukur malah yang begitu besar. Dengan saya terus bekerja dan berusaha saya yakin sayapun bisa memiliki kehidupan lebih baik. Dengan tidak memiliki rasa iri, dengki dan dan menghindari gosip sejujurnya saya malah dipertemukan dengan orang-orang yang hidupnya malah lebih positif, yang negatif malah menjauh dengan sendirinya. Itulah capaian yang menuru saya patut saya sharing di tulisan ini setelah saya coba menerapkan isi kajian yang sempat saya tonton waktu itu.

Menghindari main sosmed untuk membuang rasa iri hati ? itu gak saya lakukan, melainkan lebih ke “mendetox” hati dan pikiran tiap waktu agar tidak memiliki dengki dan iri ketika melihat orang mengepost sesuatu di sosmednya. Detoxnya bisa dengan “beribadah” dan tidak mengambil pusing atau membawa perasaan (baper) ketika baca atau melihat postingan orang lain, saya bersihkan hati dengan berpikir positif saja ke orang tersebut. Karena awal mula penyakit hati di mulai dari situ “terlalu mengambil pusing apapun yang orang lain posting dan membuat kesimpulan sendiri tanpa konfirmasi terhadap postingan orang lain”

Kalau sudah muncul kegundahan melihat hidup orang lain a.k.a Iri hati, segeralah beribadah dan berdoa, agar senantiasa diberikan kekuatan dan keyakinan atas apa yang kita jalani. Saya jadi ingat seorang teman, dia bilang kalau melihat orang yang lebih dari dirinya dalam segala hal, maka dia akan menundukan pandangan lalu berdoa dalam hati agar dijaga hatinya dari rasa iri dan diberikan selalu rasa cukup atas aa yang dimiliki. Hal serupa pun ia lakukan ketika melihat seseorang yang hidupnya jauh tidak beruntung dibandingkan oleh dirinya, dia akan menundukan pandangan lalu berdoa agar senantiasa bersyukur atas segala karunia yang dimilikinya dan menjaga hatinya dari rasa kufur nikmat. Adem banget yah? Banget! Sayangnya dia sudah nikah sama perempuan lain #lah

Cuma itu aja, Din caranya supaya ga punya rasa iri sama orang lain?
Menurut saya hal tersebut merupakan dasar dari segala hal, namun kita pun perlu menjaga diri agar tidak tergelincir masuk ke dalam pusaran arus yang membuat penyakit hati atau iri itu muncul. Ada sebab, ada akibat! Dalam kasus saya ini, sebab munculnya rasa iri adalah seringnya melihat kehidupan orang lain di media sosial.

Saya salah satu orang yang percaya bahwa media sosial banyak memberikan manfaat, namun juga percaya bahwa media sosial memiliki dampak negatif terhadap hidup kita. Contohnya ga perlu saya ulang lagi kan? Oleh karenanya detoks diri dari media sosial is a must. Banyak penelitian menyebutkan seseorang memiliki kadar bahagia yang lebih baik ketika dia memutuskan untuk mendetoks dirinya dari media sosial. Nah, kalau rasa-rasanya kita sudah terlalu banyak melihat kehidupan orang di media sosial, dan muncul rasa-rasa yang membuat kita merasa tidak bahagia atas apa yang kita lihat tadi, itulah waktunya untuk kita puasa dari media sosial manapun, dan menikmati real world bersama orang-orang yang dicintai. Lalu setelah itu, ceritakan apa yang dirasa. Apakah sama dengan yang dikatakan dalam penelitian?

Ada satu secret receipe yang biasanya saya lakukan ketika hati ini lagi julid atau iri sama orang. Apa itu, Din? Jalan kaki di daerah pinggiran, sambil melihat sekeliling. Biasanya setelah jalan kaki, rasa julid atau iri itu perlahan menyurut dan muncul rasa syukur atas hidup yang dimiliki saat ini. Banyak hal yang ditemui sepanjang jalan ketika saya berjalan kaki, anak jalanan, pedagang yang masih berjuang di jam-jam kritis dimana orang lain sudah beristirahat, berpapasan dengan pemulung, dan beragam karakter manusia lainnya yang berjuang dengan kehidupannya masing-masing. Biasanya, setelah itu perasaan hati menjadi lebih baik dan syukur kembali terjait.

Last but not the least, manusia itu tempatnya salah dan lupa, oleh karenanya perlu selalu diingatkan. Tulisan ini semoga bisa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri dan bisa sedikit menjadi pengingat teman-teman semua yang kebetulan mampir ke sini :)

Be kind, for everyone is fighting a hard battle. Kita cuma ga tahu aja bagaimana perjuangan mereka untuk bisa berada di posisi saat ini, so that's why don't be jealous :)



Dini Anggiani

No Comments Yet.