Berkarir, Yes or No ?


Friday, 13 Jul 2018


Superwoman by Alicia Keys

Everywhere I'm turning
Nothing seems complete
I stand up and I'm searching
For the better part of me
I hang my head from sorrow
State of humanity
I wear it on my shoulders
Gotta find the strength in me

I am a Superwoman
Yes I am
Yes she is
Even when I'm a mess
I still put on a vest
With an S on my chest
Oh yes
I'm a Superwoman

Penggalan diatas adalah salah satu lagu favorit saya. Belasan tahun lalu, saya tidak pernah berpikir akan berada dalam posisi karir saat ini. Memegang nakhoda penuh atas keuangan perusahaan yang berskala nasional sekaligus multinasional, memiliki tim solid beranggotakan 25 orang. Satu yang saya selalu pegang setiap harinya : keyakinan bahwa saya bisa. Tanpa keyakinan dan kerja cerdas, serta berani mengambil peluang yang saya percaya tidak akan datang dua kali serta dukungan dari keluarga, saya tidak bisa mengemban karir yang saya jalani.

Banyak yang mempertanyakan, apa sih tujuan saya bekerja. Dan banyak pula yang mengaitkan dengan kekhawatiran bahwa berkerja tidak baik bagi perempuan seusia saya karena saya masih belum memiliki anak. Percaya atau tidak, pekerjaan yang saya jalani ini berbanding lurus dengan usaha dan kerja keras yang telah saya lakukan, jadi jika kita melaksanakan apa yang menjadi pekerjaan kita dengan penuh semangat dan tanpa keluh kesah. Percaya deh, kita akan memperoleh hal yang sebanding dengannya. Bukankah segala sesuatu dalam jalan kebaikan yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan selalu akan berbuah baik. Kompensasi yang diterima tentu akan mengikuti pekerjaan yang kita jalani

Kedua, saya ingin menunjukkan dedikasi dan karir untuk almarhum Papa dan keluarga tercinta. Jika papa mungkin belum bisa menginjakkan kaki di luar negeri dalam urusan pekerjaan, saya berjanji saya bisa. Dan Papa memang menginginkan putrinya memiliki standar yang lebih baik dari dirinya.

Jika menengok kembali ke belakang ketika awal saya bekerja dulu, perjalananya juga sama seperti yang pastinya pernah Urbanesse alami juga. Perjalan dimulai dari bawah mulai dari menjadi staff Accounting yang masih fresh graduate saat itu. Saya pernah berganti-ganti pekerjaan hanya untuk mencari kerja yang cocok dengan saya, saya pernah merasa bosan dengan rutinitas pekerjaan yang saya lakukan tapi bingung untuk resign ada rasa khawatir sulit mencari pekerjaan kembali, pernah juga bekerja yang tidak sesuai dengan kemampuan saya tetapi demi mencari pengalaman pekerjaan yang nggak cocok pun saya cocok-cocokin dan setiap berangkat bekerja terasa beban ada rasa khawatir ‘aduh saya bisa nggak ya menyelesaikannya, aduh saya nggak paham, aduh sudah hari Senin lagi’ tapi itu tetap saya jalani walau dulu itu saya bekerja demi mendapat pengalaman, pembelajaran sebanyak-banyaknya dan pastinya untuk mencapat uang tambahan juga untuk melengkapi kebutuhan pribadi saya. Hingga akhirnya tanpa saya sadari saya sudah memiliki banyak pengalaman, skill dan cara berpikir yang makin dewasa di usia  20 tahunan. Saya pun sudah tahu dengan jelas apa passion saya dan tujuan saya bekerja.

Makna Bekerja Buat Saya Saat ini

Beberapa tawaran pekerjaan pun menghampiri saya, seiring waktu makna bekerja versi saya yang dulu adalah hanya untuk mencari uang tambahan, pengalaman dan pembentukan mental supaya berani menghadapi orang-orang baru pun berubah saya bekerja untuk mencapai mimpi saya yaitu mendapatkan pekerjaan yang memang saya passionate disitu dan bisa berdedikasi dengan terus mengasah dan mengembangkan skill serta kemampuan yang saya miliki & memiliki standar lebih baik dari Ayah  dalam bekerja seperti keinginan beliau yang sudah saya tulis di paragraf sebelumnya.

Kini, hingga detik ini saya menulis pengalaman saya, Saya merasa sudah berada di jalan karir yang tepat dan memang saya idamkan walau sebagai profesional saya tidak boleh berpuas diri, saya terus mengasah dan mengembangkan kemampuan diri saya dengan mengikuti beragam program pelatihan yang berkaitan dengan bidang kerja saya agar lebih mumpuni. Di Profesi ini sebagian mimpi saya sudah terpenuhi, tapi sayangnya Ayah tidak bisa menikmatinya bersama saya karena ia sudah berada disisi Tuhan. Namun, saya yakin Ayah pasti bangga melihat usaha dan perjuangan saya hingga ada di titik saat ini, semoga Ayah tenang disana.

Apakah setelah berada di posisi ini pernah ada rasa bosan juga yang hinggap ketika bekerja meski pekerjaan tersebut sesuai passion saya ? Tentu pernah dong. Nah..disinilah fungsi cuti dalam bekerja. Saya mengambil cuti untuk refresh keadaan dan mencoba untuk work life balance. Jika ditanya kalau sekarang ini pernah ada rasa beban atau tidak mungkin ke lebih rasa tanggung jawab yang sellau diberikan dalam menjalani pekerjaan yang dihadapi. Namun karena saya mencintai apa yang saya kerjakan, saya tidak menganggap itu sebagai beban.

Dulu pun kemampuan saya pernah di sepelekan oleh Senior, bahkan sampai saya ada di posisi sekarang ada juga beberapa Senior yang masih memberikan kesan underestimate. Karena mungkin melihat usia saya yang masih relatif muda pada jabatan tersebut.

Namun apa saya jadi minder dan down ? Tentu tidak Urbanesse, saya malah makin semangat bekerja lebih baik lagi untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka pikirkan negatif tentang performa kerja saya tidaklah tepat.

Kali ini, saya juga meminta pendapat dari beberapa rekan kerja dan sahabat saya mengenai arti bekerja bagi mereka :

Maria : Saya bekerja untuk keluarga, aktualisasi diri, berkreasi dan juga membantu orang dalam proses menemukan potensi dirinya. Selain itu bekerja juga merupakan ibadah karena kita tidak berdiam diri dan mengabaikan talenta yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Yesha : Bekerja bagi saya adalah untuk mencari uang. Karena saya tinggal sendiri dan tidak suka bergantung pada orang lain.

Sandra : Makna bekerja bagi saya adalah untuk aktualisasi diri, mencapai versi yang terbaik dari diri kita sehingga pasti kita akan melakukan yang terbaik. And at this moment, believe or not. Bentuk materi dan reward akan mengikuti.

Tidak ada yang salah dengan wanita bekerja, selama tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu. Urusan rumah tangga dan family time harus selalu terpenuhi.

Yang harus dipahami bagi Urbanesse adalah bahwa proses ini tidak berlangsung instant, tidak serta merta ketika lulus universitas maka akan langsung mendapatkan karir tinggi dan gaji besar. Nope! Semua butuh proses dan saya pun melewati prosesnya yang panjang juga. Segala sesuatu pasti dimulai dari titik nol, kemudian naik bertingkat. Maka dibutuhkan juga fase kesabaran dalam melakukannya. Seringkali saat ini terjadi fenomena dimana wanita terlihat ingin sekali mencapai kesuksesan dalam hal materi dengan cara instant sehingga menghalalkan segala cara. Yang menurut saya tentunya akan menjatuhkan citra wanita itu sendiri.

Wanita itu harus menjadi sosok yang "mahal" dan "bernilai". Dengan karir dan pekerjaan yang kita miliki, maka "nilai" kita akan bertambah, terlebih lagi dimasa saat ini dimana untuk urusan karir sudah mengalami proses ekualisasi antara pria dan wanita. Banyak juga terjadi dimana lelaki lebih memilih untuk mencari pasangan hidup dengan wanita yang sudah berkarir dan tidak jarang mereka melakukan seleksi untuk memilih satu wanita dengan karir yang cukup baik. Jika karirmu belum OK, kembangkan diri agar kita sebagai perempuan memiliki karakter yang baik, pola pikir yang dewasa dan matang serta sikap

Jadi apakah keputusan ladies dalam berkarir setelah membaca pengalaman yang saya tulis. Tetap say Yes or Berubah menjadi No?  Kamu yang memutuskan Urbanesse.

 

 

 

 



Risa

No Comments Yet.