Berkali-Kali Patah Hati, Akhirnya Saya Move On!


Thursday, 18 Apr 2019


Memutuskan suatu hubungan dengan masa lalu terutama pasangan memang tidak gampang seperti membalikkan telapak tangan. Saya mengalaminya dulu.

Dulu saya pernah menjalin hubungan dengan beberapa pria. Bisa dikatakan gonta ganti pacar. Ya tentunya dengan karakter yang berbeda-beda. Kesan yang saya dan para pria waktu itu sangat berbeda-beda tentunya. Saya tipikal gampang nyaman dengan seorang pria yang berhasil meluluhkan hati saya. Saya gampang jatuh hati, tetapi susah move on. Tetapi bukan berarti saya main asal terima seorang pria yang akan saya jadikan pasangan, saya tetap memilih mana pria yang benar-benar menurut saya nyaman saat itu.

Waktu kuliah, saya dihadapi dengan yang namanya putus cinta. Pacar saya waktu itu dengan gampangnya memutuskan hubungan. Saat itu, jujur saya tidak paham rasanya putus cinta itu seperti apa? yang saya tahu, pacar saya waktu itu memutuskan hubungan kami, Ya berarti besok sudah tidak bersama-sama lagi. Saya dan dia putus nyambung. Dia yang yang menyatakan cinta duluan, dia juga yang memutuskan. Begitu terus sampai saya lulus kuliah. Ya selama kuliah itu, saya selalu menerima dia kembali. Saat itu saya mudah sekali di ajak balikan, di rayu sedikit sudah baikan lagi.

Masuk dunia kerja, umur sudah bertambah dan pacar saya dari masa kuliah akhirnya benar-benar menyudahi hubungan kami. Dia sih bilangnya karena saya terlalu baik alasan yang mudah waktu itu mungkin buat dia untuk mengatakan padahal sebenarnya dia sudah memiliki wanita lain heheee... Saat diputuskan oleh dia kali ini, jujur saya mulai merasa kebingungan. Mimpi yang saya dan dia pernah impikan tiba-tiba hancur seketika. Saya saat itu menerima keputusan dia, karena saya hanya berpikir kebahagiaan dia tanpa memikirkan kebahagiaan saya sendiri.

Dan saat itu saya mulai merasa kacau. Saya selalu menangis, selalu merasa sesak jika mengingat kenangan-kenangan dengan dia, dan entah mau melakukan apa?mungkin kalau sekarang dibilangnya sedang galau. Ya saya waktu itu sedang tahap-tahapnya galau..hehe. Saya mulai merasa bertanya yang tidak penting "apakah ada pengganti dia untuk saya, mungkinkah saya dapat cowok lagi yang bisa senyaman dengan dia ?"

beberapa bulan kemudian, saya mulai mencoba membuka hati kembali untuk pria lain. Karena saya mengira, saya pasti mendapatkan pria lebih baik dari sebelumnya. Dan disinilah saya memulai melakukan gonta ganti pacar. Setiap saya pacaran, saya selalu serius menjalaninya. Tetapi entah mengapa dengan pacar-pacar saya tersebut, Mereka yang mengajak saya pacaran, mereka juga yang memutuskan dengan alasan yang tidak masuk akal.

Bertambah umur, dan sering ngalamin galau di masa lalu saya merasa jadi hafal dengan diri sendiri.  Saya pikir apabila suatu saat diputuskan oleh pria lagi, saya sudah tahu cara untuk move on. Ternyata bertambah umur, saya malah makin terpukul. Selalu menyalahi diri sendiri setiap putus hubungan, bukan menyalahi pria tersebut. Ya setiap saya putus cinta, saya seperti tidak terkontrol. Emosi saya bertambah, dengan kata lain saya selalu sensitif dalam kondisi apapun. Gampang nangis, marah tidak jelas, berpikir yang tidak-tidak. Jika kalau kata orang lain, saya itu lebay. Melebih-lebihkan suatu keadaan yang sebenarnya bisa saya kontrol. Tetapi saat itu, saya tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri.

Titik inilah saya akhirnya memilih Move On

Suatu saat, saya dikenalkan oleh orang tua saya ke seorang ibu berumur sekitar 50. Ibu ini hanya manusia biasa, tetapi dia memberikan nasehat sangat mengena dihati. Dia bisa nebak saya tidak bisa mengendalikan emosi jika putus cinta. Dan dari situ saya berfikir untuk menyembuhkan diri saya sendiri. Saya menyadari ada apa dengan diri saya? setiap saya putus cinta, saya selalu histeris. Ketakutan ditinggalkan oleh pria tersebut, selalu berpikir tidak akan ada pria yang menerima saya selain dia. Lalu Ibu tersebut hanya mengingatkan saya untuk lebih dekat dnegan yang maha membolak balikan hati, pikiran dan keadaan. Perbanyak ibadah dan doa di malam hari, karena menurut Ibu tersebut kesembuhan dari luka jiwa yang paling baik adalah dibantu dengan doa. Berdasarkan pengalaman Ibu tersebut yang dulu juga pernah muda, ia pun pernah mengalami  kecewa seperti saya.

Jadi setiap kali galau, rasa sepi sedih, pikiran negatif dan curiga terhadap hidup saya setelah berusaha saya kembalikan lagi pada Tuhan karena DIA lah pemilik skenario terbesar untuk hidup saya. Sejujurnya ini benar lho ketika rasa lelah bekerja, mencari pasangan hidup dan menjalani kehidupan ketika itu juga saya kembalikan lagi dengan doa, maka rasa beban berat, galau, sepi, sedih, kecewa terasa ringan dan saya merasa lebih tenang menghadapinya. Secara otomatis dari doa malam dan ibadah yang saya lakukan mampu mengubah mindset yang tadinya masih mengingat kekecewaan di masa lalu, masih sering mengenang dengan sedih mantan-mantan pacar yang sudah memutuskan hubungan dengan saya dan ketakutan-ketakutan lainnya seakn luntur, saya merasa up, di kuatkan secara batin. Saya sadar mungkin ini yang dimaksudkan keajaiban doa dan Ibadah di malam hari ketika saya sudah memasrahkan hidup saya pada Tuhan maka segalanya di kuatkan dan di mudahkan.

Kini saya sudah healing dan sudah move on juga tentunya dari masa lalu jauh sekali dengan tidak sama dengan yang saya rasa dan pikirkan seperti 2 tahun yang lalu. Akhirnya saya tahu kuncinya move on yang dibenahi dulu ada mindset dan batin kita secara spritual. Entah dengan meditasi, perenungan doa atau sekedar berdialog dnegan diri sendiri tentang apa siih kebutuhan gw, menurut saya itu cukup ampuh kok untuk proses penyembuhan diri dari kecewa di masa lalu dan akhirnya bisa move on.

Berkali-kali gagal lagi dulu berkali-kali juga saya menjalani healing dengan doa dan lebih mencintai diri sendiri yang mebwa saya tidak lagi terus terpaku pada masa lalu. Karena ketika saya memilih stay di depan pintu masa lalu, ketika itu pula orang-orang baru nggak akan pernah bisa masuk karena saya masih terus berkabung di masa lalu, so...saya memilih untuk bergerak dan beranjak dari pintu tersebut. Kini saya sedang menjalani hubungan baru dengan seorang pria, kami berencana menikah di tahun ini, saya masih terus berdoa bahwa pria kali ini adalah memang sesuai dnegan saya butuhkan BUKAN hanya yang saya inginkan. Amin!.

Banyak pengalaman yang saya ambil dari kisah-kisah saya sewaktu itu. Dengan berkali-kali kecewa, saya bisa belajar memahami karakter yang berbeda dari pria-pria tersebut. Saya akui, putus cinta bukan berarti putus segala-galanya. Sedih akan putus cinta wajar, trauma akan bertemu pria kembali wajar. Tetapi saya harus melawan agar tidak larut dalam kesedihan dan rasa trauma tersebut. Banyak kegiatan yang harus saya lakukan daripada memikirkan perkari menemukan pasangan hidup.

Pengalaman yang saya ambil dengan kejadian saya :

  1. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Berpikir positif bahwa dengan putus cinta berarti kita dijauhkan oleh pria yang belum tentu baik dimasa depan. Arti kata selalu bersyukur kita dijauhkan dari pria tersebut.
  2. Saya sudah Memaafkan masa lalu, menerima ini sebagai bagian dari perjalanan kisah saya untuk terus belajar dari pengalaman sendiri.

 3. Melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk orang lain terutama untuk diri sendiri. Lama single saya banyak memiliki aktivitas diluar rumah travelling bareng keluarga, sahabat saya, ikutan acara komunitas, lebih banyak waktu buat diri sendiri ke salon, ngemall sebagai bagian dari cara saya mengapresiasi diri sendir dari sini saya jadi lebih mengenal diri saya dan tahu apa sebenarnya kebutuhan saya.. Jika kita melakukan banyak kegiatan, kita pikiran kita nggak akan fokus ke masa lalu dan lebih menikmati hidup.

4. Selalu meyakinkan diri sendiri bahwa ditinggalkan oleh pria, bukan berarti menjadi sendirian. Masih ada keluarga dan orang-orang sekitar yang selalu siap menemani kita. 

Move on itu mudah jika kita bisa tegas pada diri sendiri mau memilih move on, move on itu jadi sulit jika kita sendiri yang membuatnya jadi sulit. Kitalah pemegang kendali diri kita. Jadi Urbanesse pilihannya ada di tangan kamu.



Mia

No Comments Yet.