Berhenti mengejarku, Kembalilah Pada Keluargamu


Thursday, 21 Mar 2019


Saya ingin berkisah tentang pengalaman saya yang tidak sengaja memiliki hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Saat itu saya pacaran dengan seorang pria sebut saja namanya Rudi.  Saat itu saya tahunya dia single, sampai pada suatu hari masuk tahun pertama hubungan kami sempat goyah karena Rudi ketahuan berselingkuh dengan perempuan sebut saja namanya Rea. Namun pada kenyataanya saya mengetahui dari Rea pacar Rudi kalau ternyata, Rea menganggap saya-lah selingkuhan Rudi, karena jauh sebelum saya dan rudi bertemu, mereka sudah terlebih dahulu pacaran.

Saat itu saya sangat kecewa, sedih dan marah pada Rudi karena ia berbohong. Saya pikir saat kami memutuskan pacaran dia adalah sosok pria single yang memang tidak sedang menjalani hubungan dengan siapapun. Rudi pun mengakui padaku kalau dia memang menjalani dua hubungan, namun ia pastikan dan menjanjikan aku kalau dia akan memutuskan hubungan dengan Rea dan memilihku. Bahkan guna mengambil hatiku, ia pun bilang kalau ia juga akan menikahiku, ia katan bahwa hanya aku lah yang pantas menjadi istri dan ibu untuk anak-anaknya.

Naif dan bodohnya aku, hingga aku percaya mentah-mentah semua ucapannya kala itu. Bahagia aku rasakan karena pada akhirnya ia mengatakan bahwa sudah tidak lagi berhubungan dengan Rea. Seharusnya aku tidak percaya begitu saja ucapannya dan mencari tahu kebenarannya dulu. Tetapi aku malah memilih untuk tidak mau tahu bahkan mau pura-pura saja deh untuk nggak tahu demi hubungan ini bisa terus berjalan hingga ke pelaminan, karena aku percaya janjinya dia akan ditepati. Tahun demi tahun berjalan masuk tahun ke 5 hubunganku dengan  Rudi, setiap kali aku ajak ngobrol tentang pernikahan, kapan akan kerumah bertemu orangtuaku ia selalu mengalihkannya. Saat itu aku sadari sebenarnya kalau dia menghindari perbincangan tentang pernikahan (tentang bagaimana hubungan ini, mau dibawa kemana) tetapi sayangnya aku malah memilih untuk mengikuti permainannya dan ia semakin menjadi-jadi karena tahu kelemahanku. Iya aku mudah di rayu dan dijanjikan, saat itu aku mikirnya ‘semoga suatu saat dia akan terketuk dan menikahiku, semoga pada akhirnya sikapnya berubah untuk tidak mempermainkan hati perempuan karena aku merasa aku mencintanya namun dia sepertinya tidak’ dan aku pura-pura  tidak tahu karena mengharapkan datangnya keajaiban seperti cerita yang sering aku tonton.

Sampai masuk tahun ke 6 hubungan ini masih tidak jelas, hingga akhirnya Rudi mengatakan bahwa orangtuanya berencana menjodohkan dirinya dengan perempuan lain pilihan mereka. Aku yang saat itu butuh kepastian sontak sangat marah dan kecewa dengan sikap rudi, aku menangis. Aku menyanyangkan mengapa Rudi tidak memperjuangkan aku, padahal selama ini aku selalu bersamanya, aku merasa perjuanganku cukup banyak untuknya, aku selalu meminta secepatnya dipertemukan dengan orangtua kami masing-masing. Kenyataan pahit inilah yang aku terima, Rudi katanya tidak bisa menolak pilihan orangtuanya dan saat itu aku hanya bisa diam sambil menahan kecewa di hati saja, namun tidak aku lontarkan ke Rudi karena entahlah rasaku lebih besar ketibang logika saat itu.

Sebelum menikah ia mengatakan bahwa pernikahan ini tidak akan berlangsung lamakarena tidak ada cinta, dia bilang ia hanya cinta padaku, dia memastikan bahwa ia akan berpisah dengan istrinya segera dan kembali padaku. Ucapan darinya tersebut tidak aku indahkan namun aku simpan di hatiku, berharap ia benar-benar akan berpisah nantinya. Cukup jahat pikiranku saat itu, aku galau, aku hancur dan merasa terpuruk maka pikiran jahat itu sempat terlintas di otakku. Pernikahanpun berlangsung beberapa bulan kemudian. Aku makin merasa terpuruk saat mengetahui bahwa ternyata orang yang menikah dengan Rudi adalah Rea, perempuan yang katanya sudah ia putusin. Berarti selama ini Rudi masih menjalin hubungan dengan Rea juga dneganku. Saat itu aku sulit mempercayainya., kenapa laki-laki bisa menutupi dnegan rapat menjalin hubungan dengan 2 perempuan dalam satu waktu? Dulu aku belum menemukan jawabannya.

Sampai pada masa dimana Rudi sudah menikah pun ia masih saja dengan entengnya menghubungiku, padahal saat itu aku sudah move on darinya dan sedang menjalani hubungan baru dengan seseorang. Aku memang tidak mengganti nomor hanphone karena aku pikir untuk apa juga, aku merasa sudah tidak ada hubungan lagi dengan Rudi dia juga kan sudah menikah, sudah bukan ranahku lagi untuk mengisi hari-harinya.  Meski aku kecewa, tetapi bagaimanapun ketika seseorang sudah menikah itu artinya aku sudah tidak berhak lagi ikut campur urusannya, terlepas mau bagaimanapun rumah tangga dia nantinya, aku sudah tidak bisa menerimanya lagi. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga. Setiap kali ia menghubungiku, setiap kali itu juga aku selalu memintanya untuk berhenti mencari dan menelponku, kembalilah pada keluargamu, sayangilan Istrimu karena disanalah rumah dan surgamu ketika kamu sudah menjadi suami yang baik, ucapku pada Rudi setiap kali ia menelpon.

Meski Sudah Menikah Ia masih Menghubungiku

Sempat kami bertemu, dengan alasan ia ingin mengembalikan buku yang sempat dipinjamnya padaku, walau sebenarnya aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya. Rudi curhat bahwa ia tidak bahagia dengan Rea, karena Rea sakit-sakitan hingga belum bisa memberikannya keturunan, dia bilang pernikahan ini hanya sandiwara saja kelak dia akan kembali padaku katanya. Padahal aku sudah bilang kalau aku sedang menjalin hubungan dengan pria yang baru, yang lebih baik tetapi rudi memintaku untuk berpisah darinya. Untuk terakhir kalinya aku tegaskan kembali pada Rudi bahwa ia kini sudah menikah, dan memintanya untuk tidak lagi menghubungiku. Rudi masih sama ia masih saja merayuku, ternyata memang itulah Rudi, mulutnya manis padaku jika aku masih menjadi sosok perempuan lemah, needy dan terlalu kecintaan dengannya seperti saat pacaran dulu, aku bisa saja hanyut lagi dan terbawa permainannya. Tetapi kali ini aku pastikan aku sudah tidak lagi memiliki perasaan padanya, aku tidak mau di cap sebagai pelakor ataupun orang ketiga  di rumah tangga orang lain, Hal itu tidak aku lakukan karena aku menghargai diriku sendiri.

Aku pikir masih muda, jalanku masih panjang, aku berhak bahagia dan memiliki hubungan dengan pria single yang punya track record jujur, bisa dipercaya, mampu membimbingku dan membawaku pada jalan kebaikan. Rudi ? ia menurutku sudah minus segalanya, sudah menikah pula heehee... Saat itu aku yakin akan datang pria yang bisa mencintaiku dengan tulus dan memiliki hati yang baik, sambil terus berusaha dan berdoa aku jalani hari-hariku. Sejak pertemuan  pertama dan terakhir kalinya setelah ia menikah itu, aku yang menjauhinya, ketika ia menghubungiku aku sudah tidak lagi terlalu menanggapinya, bahkan ia menelpon dengan nomor yang berbeda responku tetap baik padanya namun sudah tidak lagi terlalu meladeninya. Buatku hubungan seperti ini nggak akan baik, maka aku yang musti tegas memilih menjauhinya demi kebaikan diriku sendiri.

Singkat cerita, Aku telah menemukannya Januari tahun lalu aku pun menikah dan baru saja di anugerahi bayi laki-laki tahun ini. Rudi sudah tidak pernah lagi menghubungiku ketika tahu aku telah menikah. Kini kami sudah memiliki keluarga masing-masing. Aku sangat mencintai pasanganku yang sekarangdan menjaga hatinya pun sebaliknya.  Semoga pernikahan ini membawa kami menjadi pribadi yang baik setiap harinya dan bisa membuat kami selalu bersyukur memiliki keluaga kecil yang mau terus belajar dan saling mendukung.. Aku dan pasanganku sama-sama memiliki masa lalu dan kami bisa menerimanya karena masa lalu yang kelam, mempertemukan kami pada akhirnya. Bagi saya dan pasangan hidup hanya sekali, tidak ada yang abadi di dunia, jadi untuk apa di sia-siakan dengan menghabiskan energi bermain api  dengan orang ketiga, karena tidak akan membawa kebaikan untuk diri sendiri, nikmatnya sesaat dan iasanya akan berakhir dengan kekecewaan dan ketidaktenangan.  Suamiku pernah bilang ‘daripada waktu habis untuk curhat dan merayu perempuan lain, lebih baik menghabiskan waktu dengan keluarga sendiri’. Aku dan suamiku percaya hukum tabur tuai, jika kita memulai segala sesuatu dengan kebaikandan kesetiaan maka kebaikan dan orang-orang yang setia akan datang selalu dalam hidup tanpa kita duga-duga.

Point pembelajaran yang aku dapatkan dari pengalamanku ini :

  1. Kecewa dan sedih itu manusiawi ketika hubungan yang kita bangun kandas namun jangan sampai berlarut-larut, aku lekas bangkit dari keterpurukan ketika tahu bahwa Rudi memilih menikah dengan orang lain. Karena masih banyak pria baik diluar sana, Sangat rugi rasanya jika aku memilih terpaku di masa lalu meratapi kegagalan karena tidak jadi menikah dengan Rudi lantas juga jadi dendam dengan istrinya yang tidak tahu menah, karena pastinya aku tidak akan bertemu dengan pasangan yang sekarang jika aku masih mengharapkan rudi yang sudah menjadi suami orang untuk kembali.
  2. Bagaimanapun pernikahan dengan restu Tuhan dan orangtualah yang bisa menghadirkan ketenangan di hati tanpa harus merasa bersalah ada yang kecewa dan dikecewakan. Meski kita tidak tahu sepanjang apa jodoh kita dengannya nanti namun dengan kita memilih secara matang dengan siapa kita menikah, itu akan menetukan kebahagiaan batin yang akan kita rasakan nantinya. Aku sudah tahu misalnya jika aku lanjutkan hubunganku dengan Rudi yang sudah menikah waktu itu walaupun ia berpisah dengan istrinya, itu pasti tidak akan menghadirkan ketenangan dalam hidupku, aku akan dikejar rasa bersalah serta cap buruk sebagai perusak rumah tangga orang dan hukum tabur tuai pun pasti akan aku alami, JIKA aku tetap meladeni Rudi.

Kisahku ini aku tutup dengan quotes. “Mengukir sejarah hidup kita agar orang mengingat kita dengan hal-hal baik yang kita lakukan bukankah itu lebih baik daripada harus menjalani hubungan yang salah di awal lalu seumur hidup bahkan hingga kita mati orang lain akan mengingat kita sebagai perusak rumah tangga orang lain dan aku memilih agar diingat orang bukan sebagai perusak’. Itulah kisahku

 



Mia

No Comments Yet.