Berdamai Dengan Diri Saya Sendiri


Monday, 31 Jul 2017


Kalimat ini saya pakai terus menerus kepada diri saya dan orang lain yang tampak sulit menerima dirinya, “Berdamai dengan diri sendiri”. Bagi saya itu lebih dari sekedar kata maaf, berdamai artinya juga mau menerima.

 

Sampai detik ini, ucapan “Ampuni saya, Tuhan..”, “Maafkan saya, Tuhan..” Masih sering terucap di bibir maupun dalam hati saya. Bahkan saya jenuh mengucapkan kalimat itu berulang kali  dan tahu bahwa kesempatan hidup pun masih ada dan yang berarti saya diampuni.

 

Apa masalahnya? Karena ada satu hal kebiasaan yang sulit saya buang dan tahu itu suatu kesalahan. Atau hanya sekedar mengingat dulu saya pernah melakukan hal bodoh dan bisa jadi hal itu menyakiti orang lain.

 

Kurang mengakui diri sendiri ini bawaan dari kecil yang membuat saya minder, saya tidak percaya diri, dan sulit maju. Bisa jadi ada pola asuh yang salah, seperti perlakuan atau hal-hal yang diucapkan orangtua atau pengasuh, tapi cukuplah saya tidak akan membahas bagaimana cara mereka mengasuh saya. Karena yang lebih penting adalah saya sendiri dan apa yang harus saya hadapi saat ini maupun nanti.

 

Ya, kuncinya harus melihat diri ini memiliki tanggung jawab sendiri, punya tanggung jawab hidup saat ini maupun apa yang akan dihadapi kelak. Seperti itu juga yang pernah disarankan konselor saya.

 

Kesulitan saya menerima diri, ternyata membuat saya menciptakan karakter-karakter imajinasi dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saya memberi nama, dan setiap saat saya mengajaknya berbicara seperti teman khayalan atau bertukar peran. Konselor saya menemukan bahwa saya suka sekali menjadikan mereka objek kesalahan jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakan.

 

Contohnya, saya dijutekin oleh gebetan yang bilang saya kekanakan. Maka, saya akan mengajak ribut karakter imajinasi kekanakan. Lain waktu saya tampak terlalu centil dan disindir oleh teman-teman perempuan, maka saya akan marah dengan karakter yang genit dan agresif.

 

Ada sekira enam karakter yang saya ciptakan, bayangkan betapa ributnya pikiran saya ketika ada lagi kejadian tidak mengenakan. Bahkan dulu waktu masa sekolah, saya tidak segan melukai diri sendiri.

 

Saya begitu mengingatnya, yakni kalimat dari konselor tersebut, “Karakter-karakter itu adalah kamu; kamu yang periang, kamu yang suka bergaya, kamu yang suka berdoa dan dekat dengan Tuhan, kamu yang idealis, kamu yang suka marah-marah dan cengeng, kamu yang senang dengan pekerjaanmu, dan kamu yang suka juga menjadi penengah. Maka, berdamailah dengan mereka. Ingat bahwa kamu memiliki keyakinan hati dan kamu dicintai.”

 

Berdamai dengan diri sendiri cukup membutuhkan waktu untuk berproses. Tanpa sadar sekarang saya bisa menerima kesemua karakter itu menjadi satu kesatuan diri saya. Apa yang mendorongnya adalah membuka  pintu hati saya, bahwa saya berharga dan patut dicintai.

 

Ini Yang Saya Lakukan Untuk  Menghadapi Kegalauan Tersebut

Kini Kesulitan dan malah malu menerima pujian dari orang lain, bisa saya sikapi dengan rasa syukur. Jika pun ada kesalahan, saya cukup meminta maaf kepada orang bersangkutan sekaligus menerima diri yang memiliki kekurangan. Saya lakukan tanpa harus memarahi diri sendiri, tetapi menjadi memotivasi diri.

 

Begitu pun jika orang lain berbuat salah kepada saya, saya harus bijak dan legowo untuk menerima dan mengampuni kesalahannya. Namun soal untuk melanjutkan hubungan dengannya perlu pertimbangan; Apakah ini berdampak untuk saya atau tidak? Tampak egois? Tentu, tidak bisa memandang dari satu sudut pandang ketika saya memutuskan hal ini bukan. Setidaknya saya menegaskan bahwa saya layak untuk merasa setara atau sama dengan orang lain.

 

“Kamu patut bersukacita, karena kamu memiliki hak sukacita. Nikmatilah.”

“Kamu patut merasa bahagia, karena kamu dicintai.”

“Ini aku, apa adanya aku, dengan kelebihan dan kekuranganku. Dan aku pun hidup dan dicintai.”

“Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak hanya kelebihanku, kekurangan diri bahkan bisa dipakai Tuhan untuk saya bisa belajar dan mengajar orang lain (siapa tahu).”

 

Kalimat-kalimat serupa itulah yang kini aku tanamkan  mengimbangi perasaan bersalah yang suka berlebihan. Merasa dicintai oleh keluarga, teman, kekasih dan menyadari bahwa setiap pagi saya masih bisa bangun tidur, seyogyanya semakin mengarahkan saya untuk tetap berdamai dengan diri sendiri. Karena ada kesempatan untuk memperbaiki diri untuk memberikan hal yang terbaik lagi dan memaafkan diri saya sendiri atas sikap-sikap yang saya miliki, semua yang ada di diri saya ini berkat dari Tuhan bukan malapetaka, jadi dengan memaafkan diri sendiri dan menerima keadaan diri aku apa adanyalah kini mampu menjadikanku pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada lagi tuh yang namanya mengajak ribut tiap karakter yang ada diriku, tidak adalagi yang harus membuat aku marah atas apa yang ada didalam diri ini, karena ini merupakan berkat dari Tuhan

 

Semoga pengalaman ini, dapat membantu orang-orang di sekitar saya untuk berdamai, memaafkan diri sendiri, menerima, dan mencintai dirinya seperti sebuah kesempatan dari Yang Kuasa.

 

sumber gambar: Created by Freepik @jcomp



Anna Maria

Sarjana komputer, penggemar sejarah dan budaya Indonesia. Menikmati hidup dengan freelance menulis tentang wisata dan blog pribadi. Belajar meniti usaha perjalanan wisata untuk kesekian kali, sampai siap dan berhasil.

No Comments Yet.