Berbahagialah Dulu, Sukses Kemudian


Wednesday, 31 Jan 2018


Definisi kebahagiaan zaman saya dulu, kebahagiaan dan kesuksesan selalu berorientasi pada perjuangan dalam sebuah proses, mudah bersyukur dan memperoleh solusi atas setiap kejadian yang tidak menyenangkan dan mengubahnya menjadi sebuah cara baru untuk mencapai sukses atau sebuah proses meningkatkan kemampuan dari yang biasa menjadi lebih cepat, tepat dan lebih menghemat waktu. Intinya kebahagiaan diperoleh saat kita menjadi lebih nyaman dalam sebuah proses pencapaian kesuksesan. Jadi kebahagiaan dan kesuksesan adalah HASIL dari sebuah proses yang dijalankan.

Mama sering menasehati kalau kerja harus rajin, tidak mudah menyerah, konsisten, disiplin, pintar me-manage orang dan situasi yang kesemuanya disatukan menjadi SKILL OF LIFE.

Kami diwajibkan bangun pagi meskipun terkadang sering malas, sampai mama bilang : “Jika kamu bangun siang, rejeki yang harusnya buat kamu, diambil orang lain yang terlebih dahulu mempersiapkan dirinya menyambut rejeki yang tidak bisa kita atur kapan datangnya.” Ketika kami menghadapi masalah dalam pekerjaan, kami selalu diingatkan untuk mencari solusi yang rata-rata selalu  datang dari orang lain yang sudah lebih pengalaman melewatinya.

Sekarang, kebahagiaan begitu mudah kita peroleh dengan terbukanya hal – hal baru yang mudah kita pelajari. Sekarang kita bisa bekerja dengan bahagia, mencintai pekerjaan itu, mencintai prosesnya dan menjalankannya dengan bahagia, jadilah kita bahagia. Dan  sukses akan datang seiring dengan kebahagiaan itu.

Perbedaan jaman membawa perubahan cara menjalankan kehidupan dan yang berubah adalah paradigma. Dulu suka tidak suka harus kami jalankan sebagai sebuah proses yang mendatangkan HASIL (sukses) yang bisa membuat bahagia. Jadi bahagia atau tidak, kami harus menjalankannya sebagai sebuah proses kewajiban untuk mendapatkan nilai tukar bagi kebahagiaan meskipun dalam pelaksanaannya,  karena menjadi terbiasa, maka pekerjaan itu tidak pernah menjadi beban.

Saat ini bahagia dan sukses itu tersedia dalam proses awal mula sampai akhirnya membuahkan hasil yang bisa melengkapi kebahagiaan itu karena adanya paradigma yang berubah. Paradigma yang berbeda bisa kita dapatkan dari media social, misalnya bagaimana bekerja dengan bahagia, dan sebagainya yang diaplikasikan dalam menjalankan rutinitas bekerja, sehingga orang menyemangati dirinya sendiri dalam bekerja.

Katanya , banyak orang yang sukses tapi tidak bahagia. Wah jika kita mengikuti ini, itu berarti kita orang yang mencari alasan karena kita malas berproses untuk sukses denggan kata lain, kita mau katakan :” ah, tidak mengapa saya belum sukses, yang penting saya sudah berbahagia .” Sebenarnya, ketidakbahagiaan orang sukses itu   disebabkan oleh karena ia menginginkan kebahagiaan diatas penderitaan orang lain sehingga batinnya tidak bahagia, Misalnya seperti cerita seorang rekan saya, yang menganggap bahwa harusnya dia bahagia atas kesuksesannya, tapi karena ia sukses, ia mencoba selingkuh(tidak komit) dan ketahuan pasangannya/ rekan kerjanya/ teamworknya , terjadilah ribut-ribut sehingga suksesnya menjadi semu, kelihatan sukses tapi batinnya tidak bahagia karena pertengkaran – pertengkaran atau hilangnya trust di dalam keluarga/ lingkungan pekerjaan/ lingkungan dimana dia ada ini terjadi lho.

Kebahagiaan dan kesuksesan sekarang sudah tidak lagi baku ukurannya. Terkadang menurut “seharusnya” orang menjadi tidak bahagia, eh sebenarnya dia malah bahagia.

Temanku juga cerita katanya “ seorang suami yang baik, ayah yang baik, jika pulang dari tempat usahanya, ia akan pulang ke rumahnya dan berkumpul dengan keluarga. Nah hal ini kita lihat dan kita pastikan mereka bahagia, karena MEMANG SEHARUSNYA begitulah seorang yang sukses berbahagia bersama anak istri dan keluarga. Ini sebuah ukuran umum. Tapi belasan tahun kemudian,  seorang pemandu lagu di sebuah karaoke, bisa mengubah hal tersebut. Secara tidak  sengaja, sang suami tadi, diajak temannya ke karaoke dan tidak biasanya dia ikut pergi. Malam itu, si pemandu tiba-tiba dilihat laki – laki itu sedang diperlakukan tidak adil oleh sekelompok laki-laki yang mabuk.

Karena ia jatuh kasihan, ia bantu si pemandu lagu itu dan mengantarnya pulang ke kostnya. Tanpa rencana, tanpa niat, si wanita pemandu yang sedang nangis, memeluk sang suami yang baik itu. Karena terbawa perasaan, terjadilah hal sebagaimana suami istri. Sejak saat itu, sang suami sering mengunjugi wanita pemandu lagu ini dan sudah seperti suami istri. Ia sewakan rumah dan sering berada di sana daripada di rumahnya. Tidak lama kemudian, hubungan ini diketahui sang istri dan pertengkaran menjadi warna kehidupan mereka sehari-hari.

Sampai sebuah titik, ia memilih wanita pemandu lagu ini dibandingkan istrinya tanpa mengurangi tanggung jawabnya pada anak, istri dan keluarganya. Mengapa ia memilih wanita pemandu lagu ini daripada istrinya yang baik ? jawabnya : ia merasa nyaman. Apakah ia tidak  merasa nyaman dengan istrinya ? tidak juga, tapi dengan wanita pemandu lagu ini ia bisa menjadi  dirinya sendiri, bisa bebas mencari umang -umang di laut dimana jika ia bersama istrinya, ia hanya duduk berjemur di pantai dengan kacamata hitamnya. “

Hal yang terbaharui bagi pasangan jaman sekarang agar bahagia dalam kesuksesan mereka   menjalankan rumah tangganya berdasarkan pengalaman Ibu saya dan saya sudah mempraktikkannya sendiri adalah dengan menciptakan kenyamanan satu dengan lainnya. Kenyamanan inilah yang menjadikan bahagia. Bagaimana caranya ? Kita yang menjalanilah yang menciptakannya dengan saling mengenal satu pribadi dengan pribadi lainnya, jangan menurut paradigma bahwa menjadi ibu,  ayah, anak harus begini, harus begitu karena setiap individu adalah unik. Kita semua yang wajib menemukan cara kita berbahagia. Jika semuanya saling nyaman dalam kebaikan, bahagia pasti terwujud, sukses pasti menyertai semuanya. Paradigma bahwa harus begini, begitu, terkadang membuat orang tidak nyaman.

Bagaimana dengan kisah diatas setelah suaminya berpaling ? Bisakah istrinya menciptakan kebahagiaan buat dirinya  sendiri ? tentu akhirnya bisa, istrinya kini mampu membuat dirinya bahagia, maka iapun  mampu memberikan kebahagiaan pada orang lain. Kebahagiaan pasti memberi dampak kebahagiaan pada orang lain.

Pasti timbul pertanyaan, bagaimana bisa berbahagia jika suami sudah berpaling ? Itu benar, tapi apa yang bisa kita lakukan jika kita tetap bertahan dengan situasi tidak berbahagia itu ?

Jadi, kebahagiaan kita tidak mungkin  bergantung pada orang lain tapi diri kita sendiri, tapi kebahagiaan kita pasti memberikan dampak pada orang lain. Kini istrinya lbih bahagia dari sebelumnya malah jauh lebih maju dan sukses dari pada saat ia dikecewakan suaminya.

Istrinya yang kebetulan teman saya juga pun mengatakan pada saya : “Sebagian dari kita banyak yang beranggapan bahwa seseorang yang memiliki cukup uang atau bagus di jabatannya berarti orang tersebut sudah bahagia hidupnya atau di beberapa kasus ada yang berpikir kalau sudah menikah berarti hidup akan bahagia dan masih banyak lagi asumsi kebahagiaan yang mungkin ukurannya kerap kita lihat dari orang lain. Padahal sejatinya kebahagiaan itu kita lah yang menciptakannya jika ukuran kebahagiaan kita dengan melihat orang lain maka kebahagiaan semu yang kita dapatkan. 

Jadi kebahagiaan dan kesuksesan tercipta sejatinya dimulai dari diri sendiri. Patokan kebahagiaan dan kesuksesan kita bukan dari orang lain, kitalah yang menciptakan dan menentukan apakah kita ingin bahagia dan sukses dalam hidup.

Kita harus menemukan cara kita berbahagia yang kemudian berbanding lurus dengan kesuksesan. Jika kita bahagia tapi belum sukses menurut ukuran kecukupan hidup,  itu mungkin lebih baik dibandingkan kita tidak cukup membiayai hidup dan tidak bahagia, atau jika kita hidup sukses tapi tidak bahagia. Itu yang Ibu saya sering ajarkan pada saya dan saya terapkan ini di rumah khusus untuk diri saya pribadi.

Kalau saya sendiri falsafah Kebahagiaan menurut definisi yang saya tahu berdasrkan pengalaman yang saya alami :

  1. Hati yang gembira karena hati yang gembira (bahagia) adalah obat (supplement) yang manjur tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (membuat tidak semangat dalam meningkatkan kreatifitas hidup). Orang mengukur kebahagiaan dengan melihat pada orang lain, misalnya melihat orang lain liburan, mereka beranggapan bahwa berlibur itu adalah cara membahagiakan diri. Ini bisa benar jika cara yang ditempuh benar, misalnya berlibur dengan cara yang tepat. Jadi saya berhenti berasumsi atas kebahagiaan orang lain. Liburan yang bahagia menurut saya berdasarkan pengalaman saya adalah saat berlibur, kita berlibur dengan uang tabungan yang telah disiapkan jauh hari sebelum liburan agar sewaktu liburan kita menikmati benar hasil tabungan itu dengan tanpa beban, atau berlibur dengan penghasilan yang besar.
  1. Saya selalu memahami batas hemat menurut defenisi orang yang sudah terbukti sukses ? Hemat setiap  orang berbeda ukurannya,  begitu kata mereka. misalnya : Seseorang berpenghasilan (netto) 10M per bulan, jika dia menikmati kehidupannya dalam 1M/ bulan, ia sudah hemat karena ia bisa menyimpan 9 M sebagai tabungannya (bukan uang yang diputar di bisnis lho). Nah jika orang berpenghasilan netto 3 juta per bulan dan membiayai kehidupannya dengan 2juta/bulan, ia tidak hemat. Apalagi  jika ia  ingin bergaya hidup 10juta / bulan, ia super boros. Semakin besar kesuksesan, maka kebebasan akan semakin besar menjadi milik kita, kebebasan/kepuasan (kenyamanan) itulah kebahagiaan.

Jadi, mau bagaimanapun perjuangan dan cara seseorang mendapatkan kesuksesan maupun kebahagiaan dalam hidupnya, itu semata-mata adalah murni dari dirinya sendiri. Kebahagiaan pasti akan membawa kesuksesan, karena orang bisa sukses jika ia menjalani proses hidup sehari – hari dengan bahagia terlebih dahulu. Bahagia, harus ia ciptakan sendiri dengan rasa yang ia rasakan sendiri. Bagaimana orang bisa bahagia  jika diri sendiri tidak mengizinkan atau tidak memiliki semangat/keinginan untuk sukses dan bahagia maka kesuksesan maupun kebahagiaan tidak akan mungkin terjadi, bukan?

Yuk, maknai hidup kita maka kita akan bahagia. Kebahagiaan kita jangan pernah tergantung dari sikap orang lain terhadap kita melainkan bagaimana kita membuat diri kita nyaman tanpa menyakiti orang lain (tanpa egois). Untuk meraih sukses kita sangat membutuhkan dukungan orang lain. Orang lain akan tidak bosan mendukung kita jika kita adalah pribadi yang berbahagia, cepat menjadikan masalah sebagai pembelajaran, cepat berinovasi, cepat bersyukur dan cepat keluar dari ketidakbahagiaan kita ini saya terapkan pada semua anak-anak saya di kantor.

 



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.