Belajar Berpikir Positif


Sunday, 10 Jun 2018


Selalu curiga dan menilai negatif? Itu adalah saya. Tapi saya berusaha untuk membuat itu adalah kebiasaan masa lalu. Apakah saya masih pada kebiasaan lama? Ya. Tapi tentu ada bedanya, jika dulu saya hanyut dalam penilaian itu sampai dengan membicarakan yang buruk kepada orang lain, sekarang saya punya solusi setiap kali mulai berpikiran negatif terhadap seseorang, kelompok orang, maupun suatu peristiwa.

Sebelum masuk kepada solusi, saya pribadi belajar menerima apa adanya karakter saya, apa yang pernah terjadi dengan diri saya, dan setelah itu menerima bahwa lingkungan saya memiliki kebiasaan sama dengan pandangan atau penilaian terhadap suatu peristiwa. Dengan penerimaan seperti itu saya bisa mengetahui kira-kira apa yang bisa dijadikan solusi.

Saya memiliki kepribadian melankolis, yang kata para ahli psikologis, orang dengan kepribadian melankolis memang cenderung murung, menaruh curiga karena ingin menjadikan segala sesuatunya sesuai dengan perspektif saya. Jika itu tidak sesuai dengan sudut perspektif saya, maka hal itu bisa dibilang gagal, jelek, kurang memuaskan, dan sebagainya. Bahkan jika membuat gemas cenderung akan mengeluarkan kalimat yang bermakna negatif, alih-alih membicarakan penilaian kita kepada orang lain bukan kepada yang bersangkutan.

Selanjutnya saya menyadari dengan karakter saya ini, saya pun kerap disakiti orang lain karena hilang kepercayaan. Maka dari itu, timbulah suatu rasa curiga atau sulit percaya kepada orang lain.

Persoalan lainnya, adapun pendapat yang berkesimpulan hampir semua orang memiliki kepribadian melankolis. Saya pun berpikir, bisa jadi banyak orang yang menuntut orang lain maupun lingkungannya untuk menjadi seperti apa yang ia mau. Saya pun menyadari bahwa penilaian orang tersebut menjadi sebuah tradisi atau nilai adat maupun kebiasaan yang tanpa orang sadari tertanam dan berakar.

Kebiasaan merefleksi beberapa hal tadi, dari penerimaan diri, penerimaan orang lain sebagai bentuk kewajaran apa yang dilakukannya dan bagaimana orang lain menilai sesuatu bisa menjadi solusi. Solusi yang saya dapatkan ketika menggali tentang bagaimana melatih pikiran negatif yang kerap muncul tiba-tiba di dalam diri saya adalah dengan mencari tahu terlebih dahulu, ubah sudut pandang bukan hanya melihat satu peristiwa dari sudut pandang saya saja.

Apakah ini berhasil? Kadang tidak, tapi saya berusaha untuk berpikir positif dahulu, dan itu melegakan hati. Lalu, apakah bisa langsung berproses demikian? Tidak juga. Seringnya malah yang negatif dulu muncul dan sering juga saya berbicara dengan orang lain mengeluarkan isi yang ada di hati dan kepala saya,  tapi semua itu mengalir ke arah pertanyaan yang menimbulkan pemikiran positif. Namun, tidak jarang ketika orang sudah terlanjur menilai negatif, saya sudah lebih dulu menemukan hal positif dari suatu peristiwa.

Saya mengakui bahwa bukan suatu yang instan dan perubahan sempurna yang terjadi. Belajar berpikir positif tentunya harus dimulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal-hal kecil. Hal kecil yang cukup berarti besar apa yang saya lakukan ? Saya pun saat itu hingga hari ini mengubah artikulasi kata-kata seperti mengganti kata dalam pemakaian kalimat yang tadinya bermakna negatif, menjadi yang positif. Seperti ketika orang bertanya pada saya dulu mengapa saya tak kunjung menikah, saya langsung berasumsi negatif awalnya “kenapa bisa dia bicara seperti itu sudah kaya paling benar aja” ini asumsi negatif saya yang belum saya keluarkan ke orang tersebut. Jadi Apa jawaban saya atas komentar orang itu dengan pertanyaan mengapa saya tak kunjung menikah ? saya pun memberi jawaban yang diplomasi namun tetap mengarahkan asumsi saya ke arah positif. “Doakan saja ya, semoga di lancarkan segala urusan saya sehingga saya bisa menikah. Tenang saja saya akan mengundang kamu kok pasti jika harinya tiba. Terimakasih sudah memperhatikan saya” itu jawaban saya. Seketika orang tersebut pun terdiam dan meminta maaf atas kelancangannya bertanya hal pribadi pada saya. Saya hanya menjawab, “Nggak masalah kok buat saya menghadapi pertanyaan dari orang-orang seperti kamu. Yang terpenting adalah Etika bertanya alangkah lebih baik di doakan daripada terus dipertanyakan bukan ?”. Saya pun sambil lalu meninggalkan orang tersebut. Lega ? pastinya dan pikiran sayapun positif bahwa mungkin memang ia tipe orang yang senang memperhatikan orang lain. Dan bagus sayapun dapat reminder untuk segera menikah. Apa indikatornya? Kelegaan hati dan pikiran yang berlatih terus menerus saja, seperti saat saya menulis judul artikel ini, saya memilih untuk membahas sebuah solusi bukan dengan menekankan masalah negatifnya. Tetapi solusi agar bisa mengolah asumsi yang mau muncul tadinya negatif menjadi positif.   

Puji Tuhan kini saya sudah menikah tepat beberapa bulan setelah pertanyaan itu. Bagi saya kejadian tersebut Doa juga yang terealisasi hiiihii...saya sebut doa karena ini bagian dari asumsi positif saya pada orang tersebut dan pada Tuhan.

Berdasarkan pengalaman saya tersebut, hal lain yang bisa dilakukan untuk terus melatih diri untuk tidak mudah berasumsi negatif terhadap sekeliling kita adalah dengan membangun lingkungan yang positif yang dimulai dari diri sendiri, pernah mendengar kalimat ini : “Bukan karena hari ini indah maka saya tersenyum, tapi karena saya tersenyum maka hari ini indah.”Jadi itu makanya hingga hari ini saya mulai membangun aura positif sejak dari bangun pagi. Tariklah diri kita dari suasana negatif, termasuk tidak terjebak dalam pola pikir akan asumsi negatif.  Penilaian itu wajar terjadi, namun tidak menjadi wajar jika saya terjebak di dalamnya. Lainnya, Menerima jika pandangan orang lain tentu berbeda dengan kita.

Selamat melatih diri untuk tetap berpikir positif.

 

 

 



Anna Maria

Sarjana komputer, penggemar sejarah dan budaya Indonesia. Menikmati hidup dengan freelance menulis tentang wisata dan blog pribadi. Belajar meniti usaha perjalanan wisata untuk kesekian kali, sampai siap dan berhasil.

No Comments Yet.