Bekerja Tanpa Merasa Terbebani Pekerjaan, Apa Bisa ?


Friday, 20 Jul 2018


Menjalani sebuah pekerjaan dari sebuah hobi menghantarkan saya pada karir yang hingga kini terus ditekuni. Namun, nyatanya bukan sekedar hobi, diera saat ini membaca menjadi sebuah kebutuhan yang tak terlepas dari kegiatan setiap harinya. Dalam memenuhi kebutuhan hobi membaca, saya memilih bekerja di media, mulai dari di media cetak, radio, hingga televisi. Perjalanan karir yang saya jalani step by step ini, bukan sekedar pekerjaan yang menghasilkan uang setiap bulannya, tapi seperti apa yang diungkapkan oleh tokoh terkemuka, *Bill Gates* "Lakukan apa yang kamu suka dan jadikan itu sebagai pekerjaanmu". Hal tersebut salah satu yang melatar belakangi saya untuk tetap memilih bekerja di media.

Sebuah pekerjaan yang dilakukan setiap harinya sama, namun ada berbagai hal baru yang menuntut saya untuk terus mengasah kreativitas, berinovasi dan siap dengan suatu perubahan. Kadang kala Urbanesse saya pun pernah mengalami ada rasa risih dan enggan bila ada pekerjaan tambahan yang datang yang menuntut saya untuk bekerja lebih ekstra, hal tersebut biasanya terjadi sebelum saya benar-benar mengerjakannya, seringkali ketika saya sudah menjalankannya pekerjaan tersebut berjalan biasa saja sebagaimana mestinya. Malah hal tersebutlah yang membuat skill saya bertambah tanpa saya sadari.

Seperti pada saat awal-awal saya pernah bekerja di media massa cetak yang saya tahu bagaimana mendapatkan berita dengan cara terjun langsung ke lapangan mewawancarai, mengejar orang-orang penting hujan panas saya tempuh bukan hanya demi uang semata saat itu, buat rekan-rekan pewarta lapangan pasti tahu bahwa gaji menjadi pewarta cetakapalagi masih pemula tidak sebesar  seperti apa yang saya bayangkan dulu. Tapi karena tekad saya saat itu saya inginmengasah skill dan pengalaman saya lebih dalam di bidang Jurnalistik. Siapa tahu pekerjaan ini menjadi titik awala yang bagus buat saya melebarkan sayap untuk terus bisa bekerja di media. Melihat juga beberapa rekan saya satu angkatan di kampus yang juga masih kesulitan mencari pekerjaan di media, saya bersyukur Tuhan mempermudah saya mendapatkan pekerjaan ini, sebagai titik mengawali karir di bidang media massa.

Bekerja di media tak mengenal waktu, tanggal merah tetap bekerja, hari libur bukan sabtu minggu, yaaah, itu menjadi konsekuensi pekerjaan bagi saya bukan dijadikan sebagai beban. Maka rasa syukur yang harus terus ditancapkan dalam diri, hingga menghasilkan suatu keikhlasan dalam setiap yang dikerjakan.

Bagaimana Agar Pekerjaan Tidak Menjadi Beban ?

Tak hanya itu, dikala bekerja tak jarang pasti pernah merasakan titik jenuh, menurut saya itu hal yang wajar. Namun, bukan untuk terus dinikmati berlarut-larut hingga membuat saya harus mengeluh sepanjang waktu ketika bekerja. Nope!  . Biasanya yang saya lakukan dikala jenuh melanda saya mengingat  kembali masa dimana  berbagai perjuangan yang pernah saya lakukan, hingga berada di titik karir saat ini, tentu bukan hal yang mudah, namun ini bisa terus kita latih. Sayang bukan, bila suatu karir lenyap hanya karena kejenuhan ?. Mengatasi hal tersebut terdapat berbagai cara,  disini saya memilih untuk menghempas rasa jenuh dengan berlibur ke berbagai tempat yang menarik, dengan mengambil cuti. Ini saya lakukan sesuai dengan apa kata salah seorang senior saya yang sudah malang melintang bekerja sebagai News Anchor di beberapa statsiun televisi swasta.

Dia mengatakan bahwa cuti adalah cara seseorang membuang racun-racun negatif  dalam pikiran, hati dan perilaku selama menjalankan tanggung jawab di pekerjaan. Jujur saja ini ‘betul’ dan ampuh karena setelah cuti  pikiran saya kembali fresh dan mudah memetakan pekerjaan yang akan saya kerjakan berikutnya. Brainstorming pun lebih jernih setelah cuti. Ada bebertapa rekan saya menyebut, bahwa kalau mereka cuti, mereka malah jadi berbalik malas bekerja ? saya katakan, iya memang tapi itu hanya di awal hari pertama saja ketika sekembalinya kita bekerja lagi setelah cuti, di hari berikutnya otak saya pun ON. Menulis script beritapun lebih lancar dan mengalir dengan enteng.

Kini saya sudah bekerja sebagai News Preparing & Production di salah satu televisi swasta di Jakarta. Ini pekerjaan impian saya dari dulu bisa bekerja di kerdaksi berita televisi, setelah jatuh bangun menjadi seorang pewarta (wartawan) berita di lapangan, saya pun sekarang sudah bekerja di dalam kantor yang nggak lagi kepanasan dan kehujanan heehee...di usia saya yang kata orang-orang sih masih cukup muda, saya sudah mendapat kepercayaan menulis naskah berita dan memproduceri-nya.

Bekerja dan berkarir buat saya itu memang berbeda. Bekerja belum tentu kita menyukai pekerjaan tersebut. Ketika kita masih ngedumel di belakang, mengeluh di sosial media, membandingkan dengan orang lain pekerjaan yang sedang dan akan kita jalani itu buat saya kita masih ada di posisi ‘bekerja saja’ mungkin jelas tujuannya tapi tidak baik untuk pengembangan karakter diri kita. TAPI ketika kita Berkarir,  itu sudah pasti kita berkerja dan membangun dengan usaha tanpa mengeluh, tanpa ngedumel segala jalan yang kita upayakan kita plong-in ikhlas saja tanpa berpikir negtif segala macam. Karena saya pikir buat apa ngeluh juga bekerja dan berkarir hasil akhirnya bukan hanya buat orang lain kok, tapi buat kita-kita juga. Kalau kata orang tua kerja benar, baik, fokus dan ikhlas biar hasilnya juga baik ke badan (diri ) dan keluarga kita.

Selain itu ketika bekerja, terbesit dalam diri hal yang tak kalah penting yaitu di setiap pekerjaan yang saya lakukan diiringi dengan hati, niatkan suatu pekerjaan yang dilakukan merupakan salah satu ibadah pada Tuhan. Maka segala yang terjadi dalam pekerjaan saya, tidak ada perasaan takut, cemas akan kehilangan, karena saya sudah menyerahkan segala lelah dan usaha saya dari apa yang saya kerjakan adalah semata-mata untuk Ibadah pada Tuhan. Jikapun harus kehilangan atau karir di profesi ini harus berakhir misalnya saya tidak merasa kecewa yang berlebihan.

Itu cerita berdasarkan pengalaman pribadi saya tentang bagaimana saya memahami arti bekerja dan berkarir seiring berjalannya waktu. Urbanesse pasti juga pernah mengalami seperti yang saya alami bukan ? “tetap cintai pekerjaanmu saat ini entah itu pekerjaan fulltime, partime, pekerjaan kasar yang kerap dianggap orang sebelah mata maupun pilihan profesi sebagai Ibu rumah tangga, karena di situlah cara Tuhan menyapa kita dengan beragam anugerah lewat rezekinya. Rezeki yang tidak harus melulu dalam bentuk uang tetapi juga teman/rekan/tim kerja dan Senior serta Pimpinan yang mengsupport dan menularkan ilmunya pada kita. Rezeki itu Maha Luas Urbanesse jadi jangan di sia-siakan. Yuuk...Tetap semangat membangun karir Ladies.

 



Gesa

No Comments Yet.