Bekerja Dengan Passion Cinta Keluarga


Thursday, 16 Mar 2017


Wanita muda ini terlahir menjadi anak sulung dengan 10 orang adik-adiknya. Mamanya seorang ibu rumah tangga dan papanya seorang tukang mas dan tukang jam pada jamannya.

 

Hidup di jamannya bukanlah hidup yang mudah, etika dan kehidupan moral begitu kuat mengikat kehidupannya. Di usia masih sangat belia, beliau sekolah sambil bekerja ; semua pekerjaan rumah tangga, menjaga adik-adiknya yang 10 orang, mencuci baju, bersih-bersih dan lain-lain. Tidak ada pembantu pada jamannya, adiknya tidak membantu karena semua pekerjaan seakan merupakan tanggung jawab anak sulung. Karena memiliki banyak adik akhirnya pernikahanpun terlambat untuk ukuran jamannya, beliau menikah di umur 25 tahun.

 

Aku lahir 1 tahun setelah pernikahan beliau. Papaku adalah seorang pengusaha perkebunan karet dengan pabrik pengolahannya (aku tidak bisa menyebut apa saja usaha papaku karena aku masih sangat kecil). Adik-adikku lahir setiap 13 bulan atau setahun mamaku telah memberikan adik padaku, dampailah kami berempat.

 

Kami hidup sangat lebih dari cukup di sebuah kota kabupaten sampai suatu saat papaku bangkrut. Aku tidak bisa menjelaskannya karena aku baru berumur 4 atau 5 tahun saat itu.

 

Mamaku menggantikan papaku berjuang menghidupi keluarga dengan 4 anak, aku dan saudara-saudara kandungku. Mamaku bukanlah seorang wanita yang berpendidikan tinggi karena mamaku harus mengurus adik-adiknya dari usia dininya seperti cerita diatas. 

 

Kami hidup sangat miskin saat papaku bangkrut. Aku tidak tau bagaimana miskinnya kami saat itu, yang aku ingat adalah kami hidup di daerah kampung miskin di tengah kota sebuah provinsi yang maju. Masa kecilku penuh bully karena kami hidup miskin di daerah yang berbeda RAS (saat itu masih dibedakan dan masih sering diejek karena beda RAS = ras suku agama). Disini aku belajar bagaimana memperjuangkan diri sebagai Ras minoritas yang berbeda, terkadang sering bertengkar karena diejek. Ya tengkar anak-anak.

 

Mamaku akhirnya buka toko, sebuah toko jam. Mamaku bisa perbaiki jam sedikit-sedikit karena terpaksa harus bisa, demi menghidupi kami anak-anaknya dan papaku yang depresi karena tidak menerima keadaan yang miskin. Papaku memang terlahir dari keluarga terpandang dan kaya. Akibat depresi, papaku meninggal mendadak saat usiaku 8 tahun (waktu itu belum kami belum mengenal stroke, darah tinggi dan penyakit jantung ; setelah dewasa baru kami mengerti papaku terserang stroke karena darah tinggi)

 

Papaku tidak meninggalkan apa-apa buat mama meski asset papa banyak di kota kabupaten tapi dikuasai keluarga papaku yang tidak merelakan harta itu dibagi kepada kami. Kami tidak tau mengapa, yang aku tau kami hidup dalam miskin. Mamaku sangat ulet, bekerja dari pagi jam 7:30 dah sampai toko yang saat itu buka jam 8 dan tutup jam 21:00. Begitulah umumnya. Hari - hari mamaku hanya bekerja dan bekerja penuh passion demi menghidupi kami. Mama bekerja hanya dengan 1 visi : menghidupi kami. 

 

Keuletan mamaku bekerja adalah hasil didikan dari kisah kecilnya yang harus membesarkan 10 adik-adiknya. Mamaku hanya tau kerja dan kerja tanpa stres, mamaku hanya berpikir bekerja untuk menghidupi anak-anaknya. Mamaku bekerja tanpa target, tanpa teori, tanpa matematika, tanpa hitungan dan sebagainya.

 

Tidak lama kemudian, saat aku mulai remaja, kami sudah punya ruko, punya mobil bekas, punya beberapa cabang toko. Aku dan adik-adikku pulang sekolah membantu mama jaga toko, meski kami bebas boleh ngeluyur bersama teman-teman. Saat itu, kami semua tidak kenal stres.

 

Setelah kami dewasa, usaha mamaku semakin berkembang karena kami kerja team. Aku buka usaha di luar kota dan maju. Adik-adikku buka usaha dari toko mas, mobil second sampai dealer mobil dan sepeda motor. Adik lainku punya usaha resto dan otomotif. Adik lainnya rental truk, dll.

 

Akhirnya kami semua bertumbuh kembang karena mentalitas mamaku menular pada kami. Usaha-usaha semua dijalani begitu saja dalam "rutinitas yang ber-improvement " sesuai kebutuhan customer, jaman dan keadaan. so simple.

 

Kami bersyukur bahwa kami berempat dan mama mandiri. Bahkan di usia tua mamaku saat ini, beliau tidak minta uang belanja dari kami bahkan uang beliau lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya sendiri.

 

Mamaku sampai sekarang di usia 76 tahun, jauh lebih sehat daripada aku yang masih muda. Beliau sekarang menjadi instruktur senam Taichi fna sangat bahagia menjalani aktifitas Taichi nya. Mamaku lebih bahagia hidup sendiri tanpa pembantu. Mamaku bisa ngepel rumah besarnya, cuci baju sendiri, strika sendiri, angkat air dll yang beliau jalani dengan sukacita karena ini merupakan kebiasaannya dari usia kecilnya.

 

Hiburan mamaku hanya nonton sinetron Taiwan yang tidak boleh terputus. Begitulah kisah mamaku yang pada intinya adalah BEKERJA DENGAN PASSION CINTA KELUARGA dengan MENTALITAS TERLATIH dari usia dini.

 

Begitu indah kisah mamaku yang belum tentu aku bisa memilikinya. Mamaku berhasil meng-sukseskan 4 orang anak-anaknya tanpa ada ketergantungan yang merepotkan satu dengan yang lain. Kami berempat hidup baik. Kami tidak pernah bertengkar karena harta, karena kebutuhan hidup dan sebagainya. Siapa bilang Merencanakan karir sedini mungkin itu hanya bisa dilakukan oleh pegawai kantoran, Mamaku telah membuktikan bahwa karir tertinggi seorang single mom adalah bisa membesarkan anak-anaknya dengan jerih payah dan keringatnya sendiri.

 

Hebat kan mamaku?

 

 



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.