Bekerja dan Berdampaklah Terhadap Hidup Orang Lain


Monday, 16 Jul 2018


Sebagai seorang wanita di masa sekarang ini bekerja adalah hal yang sangat wajar , bekerja bukan hanya di kantor dengan jam  kerja 8 jam, tetapi banyak wanita yang bekerja di rumah , keduanya adalah baik dimana keduanya memilih pilihan produktif sesuai dengan kondisi dan keadaan yang dialami oleh masing-masing orang.

Kalau urbanesse bekerja apa yang menjadi tujuan kita bekerja, apakah semata-mata mencari nafkah? Mungkin pada awalnya iya, saat kita lulus kuliah kita masih berangan dengan gaji yang kita peroleh dapat kita gunakan untuk membeli barang yang kita mau, atau liburan ke tempat impian, tetapi sampai berapa tahun keinginan untuk membeli atau liburan itu masih tetap ada? Ada saatnya pasti kita mulai bosan dengan suasana bekerja yang itu-itu saja yang membuat kita seperti zombie saat bekerja, datang-duduk-menyalakan computer-pulang, sampai kapan kita bekerja dengan cara seperti itu?

Saya memiliki sedikit pengalaman  mengenai bagaimana saya bukan hanya bekerja tetapi saya ingin hasil pekerjaan  saya tersebut juga memiliki dampak terhadap hidup orang lain; Dari awal bekerja saya memang sudah tahu kemana dan apa tujuan saya bekerja. Saya selalu membatin dari zaman masih kuliah ketika saya bekerja nanti, saya tidak ingin melihat besaran gajinya tetapi saya mencari pengalaman dan apa dampak yang saya dan sekitar saya peroleh dari pekerjaan saya. Ini sejalan dengan petuah orangtua yang mengajarkan saya jika kita di beri kesempatan mengisi jabatan  pada pekerjaan jangan dulu lihat gajinya tetapi lihat hal apa saja yang dapat kamu pelajari  secara skill maupun  kepribadian dirimu. Adakah nantinya dirimu menjadi lebih dewasa secara pola pikir dari pekerjaanmu tersebut ? adakah  dari ide dan kemampuanmu yang bermanfaat untuk orang lain ? kamu harus melihatnya dari sisi itu bukan hanya dari sisi uang semata itulah karir sesungguhnya yaitu membangun karakter dirimu sendiri” itulah pesan orangtua yang selalu saya ingat sampai hari ini.

Selama 5 tahun saya bekerja di bagian akuntansi , saya suka dengan pekerjaan saya, suka dengan bos (yang sampai sekarang masih menjadi teman baik saya) suka dengan lingkungan pekerjaan saya yang menyenangkan, saya merasa ada sesuatu yang harus saya lakukan, saya harus keluar dari zona yang sudah terlalu nyaman ini, singkat cerita saya mengambil sekolah lagi dan saya lakukan sambil saya bekerja di bagian akuntansi.

Suatu ketika teman saya menginformasikan bahwa ada lowongan di unit lain, dan teman saya menyarankan saya untuk pindah ke unit  tersebut tetapi harus meminta ijin dulu kepada bos. Pada saat itu meminta mutasi bukan hal yang mudah sehingga saya harus melakukan pendekatan dengan beberapa orang sehingga pada suatu rapat diambil keputusan saya bisa mutasi ke unit yang sedang lowong tersebut tetapi dengan catatan level dan gaji yang saya terima masih sama seperti ditempat lama, karena saya meminta mutasi atas permintaan sendiri.

Lingkungan yang baru dan benar-benar berbeda menjadi tantangan sendiri buat saya, karena unit yang baru sangat berbeda 180 derajat dengan akuntansi, dan pada saat itu saya masih harus menyelesaikan tesis juga, namanya pekerja muda saat itu pastinya rasa jenuh dan merasa kok capek ya terhadap pekerjaan  pernah juga saya alami, saya rasa ini manusiawi ya. Tetapi saya seperti tidak kehabisan tenaga untuk bekerja dan kuliah pada saat itu. Saya belajar di kantor dan saya belajar di kampus, hal tersebut saya lakukan selama 1 tahun terakhir.

Setelah saya lulus kuliah akhirnya saya juga mulai bisa menyesuaikan dengan ritme pekerjaan, karena seiring waktu pola pikir kita juga sudah maju dewasa ya, jadi bekerja tidak lagi saya rasakan  lelahnya yang ada saya merasa ini sebuah tanggung jawab diri dan harus dijalani dengan rasa ikhlas.  Dari pola pikir itulah saya  dengan senang hati membagikan apa-apa saja yang saya pelajari di kuliah untuk diterapkan dalam pekerjaaan sehari-hari di kantor. Singkat cerita (lagi) akhirnya saya diangkat menjadi kepala unit di tempat tersebut, tetapi tantangan nya ternyata tidak berhenti, bukan  hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan kemudian menyampaikan ke bos, tetapi bagaimana mengelola sumber daya (manusia) ternyata menjadi hal-hal sangat sulit saya alami di awal-awal menjadi kepala unit. Saya yang notabene anak baru di unit tersebut diangkat menjadi kepala unit dan harus mengelola pekerjaan dan staff.

Tetapi saya tidak mau  menyerah , saya melakukan pendekatan dengan masing-masing staff, saya dalami karakter masing-masing orang. Melihat kelebihan dan kelemahan masing-masing dan mengembangkan staff saya sesuai dengan kapasitas mereka. Ternyata secara tidak langsung mereka menjadi pribadi yang mandiri dan kreatif dan memiliki etos kerja yang baik, yang tidak menanggap bahwa bekerja itu sekedar datang – duduk- dan menunggu waktu pulang, tetapi bahwa bekerja itu harus memberi arti dan melakukan sesuatu yang berarti walaupun sangat kecil tetapi kalau dilakukan sedikit demi sedikit dan dilakuan setiap hari akan memberi dampak, mungkin di awal- awal hanya untuk diri sendiri, tetapi jika tekun dilakukan akan memberi dampak juga pada orang lain.

Sampai hingga saat ini saya memutuskan untuk berhenti bekerja sementara karena baru saja melewati persalinan. Berikutnya rencana saya kelak ketika anak saya sudah memasuki usia 3 tahun saya akan bekerja kembali, karena dengan bekerja ilmu saya tidak akan berkurang malah makin terasah. Lagi pula saya pikir diusia 3 tahun anak saya  sudah  bisa belajar mandiri dan siap ditinggal bekerja. Kabar baiknya 3 dari staff  saya sudah mendapat promosi menjadi kepala unit, dan saya sangat bangga dengan prestasi mereka. Saya anggap ini hadiah dari Tuhan  untuk saya dan untuk mereka juga pastinya, dampak dari usaha saya dan mereka nyata sekali.

Jadi apa arti bekerja buat saya urbanesse? Bekerja adalah memberi dampak kepada orang lain, bukan hanya sekedar hasil pekerjaan, tetapi juga etika yang baik dalam bekerja, hal yang sangat sederhana tetapi kadang sangat sulit diterapkan, misalnya tidak belanja online ketika meeting, atau menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa langsung kita kerjakan. Kalau hal tersebut bisa kita lakukan bekerja akan terasa ringan dan kita jadi lebih menikmati proses bekerja, bukankah segala sesuatu yang kita nikmati prosesnya akan lebih mudah dilaksankan bukan?

Tidak berhenti sampai disana saja loh urbanesse , Kita pun terus memberdayakan diri kita untuk lebih baik lagi setiap hari, kalau kita bisa memberikan 11 kenapa kita hanya memberikan 10? Berikan yang terbaik, walaupun kita ‘merasa’ tidak ada yang memperhatikan apa yang kita kerjakan, saya percaya walau tidak ada yang sepertinya melihat apa yang baik yang kita lakukan, tetapi Tuhan maha melihat bukan,  so jangan  ragu untuk memberikan yang terbaik yang kita miliki saat kita bekerja, pekerjaan apapun yang penting halal dan memberikan manfaat untuk keluarga dan orang-orang yang kita sayangi.

Saya jadi ga sabar untuk mulai kerja kantoran lagi nih urbanesse, saya paham sekali bahwa kondisinya tidak akan sama seperti saat saya tinggalkan dulu, saya tahu kendala dan tantangannya pasti akan lebih besar lagi, tapi saya yakin dan percaya, saya pasti akan bisa melaluinya.

Point belajar dari pengalaman  ini yang ingin saya bagikan adalah bahwa ketika bekerja sudah tidak lagi dijadikan beban dan ukurannya sudah tidak lagi dengan uang, maka posisi dalam pekerjaan tersebut akan terus ingin kita raih kembali dan akan kita kangenin meskipun di satu waktu kita sempat melepaskannya meski hanya sementara,  'Cintai dan nikmati tiap hari, detik, menit dan jam ketika bekerja, Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita ke depannya"  

Yuk setiap hari memberikan dampak baik bagi orang lain urbanesse, sehingga saat kita pulang ke rumah .. yahh kita cape tetapi puas karena tidak menyianyiakan satu hari yang berharga yang Tuhan beri untuk hidup kita. Selamat bekerja urbanesse!

 



Natalina hutapea

A Mother, Risk management analyst in Capital Market, Food and Coffee Lover

No Comments Yet.