Be A Good People..Plus Plus


Monday, 27 Feb 2017


Sempat mikir ketika aku akan menulis artikel tema Self Improvement untuk Urban Women, aku cari tahu dulu arti mendasar self improvement itu sendiri.  Self Improvement buat aku adalah proses perbaikan diri untuk menjadi pribadi yang kurang lebih “sedikit” lebih baik dari sebelumnya. Kenapa sedikit saja aku sudah hitung itu bagian dari Self Improvement?

Karena sejujurnya perbaikan kelemahan didalam diri kita itu, prosesnya seumur hidup, jadi selama kita hidup selama itu pula kita terus melakukan perbaikan diri meski sedikit tapi setidaknya kita sudah berusaha untuk memperbaikinya hingga menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Well, sebut saja namaku Vina (bukan nama sebenarnya). Dulu ketika aku belum menikah, aku mudah sekali terpancing emosi terhadap orang lain, bahkan untuk hal sepele seperti ketika dijalan spion motorku kesenggol dikit aja sama orang lain aku sudah bisa marah ke orang tersebut dan memakinya. Kemudian ketika pacarku (yang sekarang jadi suamiku) telat menjemputku di kantor, aku bisa jadikan itu omelan ke dia.  Belum lagi mudahnya aku underestimate ke orang lain, gampang banget aku punya pikiran buruk ke orang lain, pokoknya hidupku kala itu seakan nggak ada adem-ademnya, panas terus.  Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan mungkin karena dulu aku pernah kecewa orang tuaku bercerai dan mereka sama-sama sudah menikah lagi kala usiaku baru 4 tahun, dan aku diasuh oleh kakak dari ayahku. Belum lagi pernikahan pertamaku yang sempat gagal dan meninggalkan 1 anak perempuan usia 6 tahun mungkin inilah yang membuatku jadi punya sikap yang kurang penyayang kaya gini.


Masih teringat jelas dalam pikiranku, bagaimana dulu ketika beranjak remaja aku termasuk anak yang badung disekolah. Sering bolos, tante yang mengurusku sering dipanggil ke sekolah karena kebiasaanku yang sering kabur-kaburan ketika jam pelajaran dan puncaknya adalah ketika aku sempat coba-coba narkoba ketika kuliah. Memang belum sampai kecanduan yang berlebihan tetapi masa itu membuat hidupku tidak beraturan, kuliah terbengkalai karena seringnya aku tidak masuk kelas, ingin punya handphone terbaru pada masa itu aku pun mencari pekerjaan sampingan sebagai SPG event tanpa sepengetahuan tante, uangnya lumayan bisa aku pakai untuk membeli kebutuhanku. Tanteku cukup baik dan sabar dalam merawat dan berusaha mendidikku tapi dasar memang akunya yang waktu itu masih labil dan belum mengerti tentang sebuah kepercayaan dan tanggung jawab jadilah aku seperti anak yang kehilangan jati dirinya.

Namanya hidup pasti tidak selalu mulus jalannya, kadang harus ada liku-likunya mungkin agar bisa menjadi bahan refeleksi di masa depan.


Setelah kegagalan pernikahan dengan suami pertamaku dan aku menjabat status janda selama 4 tahun dengan menjadi single mom untuk anak perempuanku satu-satunya, disitulah aku mulai berpikir untuk memperbaiki diri. Mengingat pengalaman gagal pernikahan karena keegoisanku yang tidak pernah mau mengalah, mudah marah dan kurang sabaran dengan mantan suamiku, hingga kami memutuskan untuk bercerai. Padahal jika boleh jujur mantan suamiku termasuk pria yang baik namun memang dia belum bisa mengimbangi diriku yang mudah marah, keras hati dan egois ini. Sempat terpikir pada waktu itu ketika aku merenungi tentang diri dan kehidupanku sepertinya aku membutuhkan Pria yang bukan hanya baik saja padaku tetapi juga bisa menjadi penyeimbangku, dalam artian aku yang mudah marah dan egois ini harus mencari pria yang memiliki sisi lembut, super pengertian, sabar, penyayang dan family man. “Ah..mana ada yaa pria seperti itu apalagi mau mendampingi wanita sepertiku..” pikirku. Aku down saat itu, yang aku miliki hanya anak perempuanku satu-satunya yang ingin aku besarkan dengan usahaku sendiri.

Tanteku yang kala itu masih juga dengan sabar masih mau menampung dan mengurusku tinggal di rumahnya bersama anakku, padahal aku sudah sering membuatnya pusing karena tingkah lakuku. Saat itu yang aku punya hanya tante dan anakku, dari lika liku hidup yang aku alami, mulailah aku membenahi diriku. Kuliahku yang sempat terbengkalai, aku lanjutkan lumayan tinggal 2 semester lagi. Untuk membantu tante kuliah lagi sambil bekerja sebagai waitress di sebuah coffee shop.


Sampai pada suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang kini jadi suamiku sekarang, sebut saja namanya Dio (bukan nama sebenarnya). Dio yang saat itu adalah seorang Chef Senior di salah satu restaurant timur tengah, kami kenalan ketika aku menghadiri ulang tahun anak dari temanku kebetulan saat itu Dio juga datang sebagai tamu dari temanku Riri, memang temanku adalah sahabatnya Dio.  Usia Dio terpaut 5 tahun lebih tua dari aku, namun bagiku bukan masalah karena usia tidak menjamin kedewasaan berpikir seseorang.

Singkat cerita tidak butuh waktu lama untuk Dio mengakrabkan diri denganku dan anakku karena sosoknya yang kebapakaan. Setelah berhubungan selama 1 tahun akhirnya Dio memutuskan untuk menikahiku. Tepat pada 2011 kami pun menikah, aku memutuskan menikah dengan Dio awalnya karena sikap kebapakaan yang dia tunjukan ketika dia bisa cepat akrab dengan putri dan tanteku, ketika aku memilih Dio, akupun berkonsultasi dengan tanteku, tanteku bilang “He’is The One” kata tante, sosok Dio seperti Almarhum Suaminya pekerja keras, penyabar, Penyayang dan kelak akan menjadi suami yang pengertian.

Aku memang bukan juga tipe yang langsung cepat mengambil keputusan hanya karena pendapat dari tante, aku lihat perilaku sehari-hari Dio termasuk orang yang rajin beribadah dan ketika berjumpa dengan rekan-rekan kerjanya saat  Family Gathering, betapa terenyuhnya aku ketika ada beberapa karyawan Dio yang menyapaku mereka mengatakan kalau Dio termasuk Chef Senior yang low profile, nggak itung-itungan kalau memberi bantuan pada rekannya yang sedang mengalami kesulitan dalam hidup, Sabar kalau ngarahin atau ngajarin anak buahnya, diluar jam kerja senang memberi nasehat dan masukan-masukan yang bijak dan ibadahnya bagus.

Benar saja, Entah berkat apa yang Tuhan berikan pada saya hingga DIA mengirim Dio yang bukan hanya baik, penyayang, sabar,sayang keluarga dan pengertian tetapi dia juga membawa saya menjadi pribadi yang lebih religius, taat pada Tuhan yang sebelumnya tidak saya dapati pada suami saya sebelumnya dan yang paling utama adalah dia yang membawa saya dalam proses perbaikan diri saya seperti sekarang.

Tahun 2017 ini 6 tahun sudah pernikahan kami berjalan, sejujurnya banyak sekali yang berubah dalam diri saya. Tante saya dan orang-orang terdekat saya pun tidak ada yang percaya kalau saya sekarang jadi bisa sesabar ini. Ketika beberapa bulan yang lalu ada seorang rekan bisnis saya menipu uang saya, dengan sabarnya saya menghadapi orang tersebut. Nggak kebayang kalau dia bertemu saya beberapa tahun yang lalu ketika saya masih tidak bisa mengontrol kemarahan saya.


Dari perjalanan saya melakukan self improvement menjadi pribadi yang lebih sabar dan tidak gampang tersulut emosi serta memiliki hati dan pikiran yang posiitif intinya adalah dimulai dari Hati  (kembali kepada yang menciptakan hidup kita—Tuhan YME) Yaa...dengan berserah diri pada Tuhan, kalau segala sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi dalam hidup kita itu adalah cara Tuhan memeluk dan menguji kita, tahan nggak kita, emosi nggak kita. Karena segala hal terkecil yang terjadi itu atas seiizin Tuhan dan benar lho ketika pingin marah rasanya kemudian hati kita ingat “Tuhan bersama gw, dan nggak ada yang mampu mengalahkan kuasa Tuhan karena segalanya dia yang mengatur” saya pun jadi lebih redup dan urung untuk marah/emosi. Setelah hati saya benahi mulailah saya berproses menjadi be a good to people pertama yang saya lakukan menjadi Good People untuk mereka yang dekat dengan saya suami, anak-anak dan  tante.


Kemudian meningkat di hal lain misalnya, ketika anak sakit saya lebih sabar ngadepinny (karena dulu saya tidak bisa sabar dan telaten dalam mengurus anak yang sedang sakit bawaanya pengennya marah aja sama orang), Sabar dan mendengarkan ketika tante memberi nasehat-nasehat baiknya dan menanggapi nasehatnya yang tidak sesuai dengan pendapat saya tidak dengan marah tapi dengan saling sharing sebab akibatnya dan itu sangat berguna lho, aku dan tante sekarang nggak seperti keponakan dengan musuh tetapi sejak aku memutuskan untuk memperbaiki jalan berpikirku dan berdamai dengan diri sendiri, aku jadi lebih tenang dan tante juga malah jadi wise padaku dia jadi mendengarkan tiap pendapatku yang dulu boro-boro dia dukung, didengar saja nggak. Heeheee...


Di kantor pun saat itu saya berusaha bekerja semaksimal mungkin dengan yang tadinya saya sering sekali berpikiran negatif dan tidak sabarn terhadap atasan saya, karena menganggap mereka manusia yang kerjaanya selau marah hingga membuat pekerjaan saya tidak pernah selesai dengan maksimal. Saya ubah perspektif berpikir saya  kalau aku bekerja baik, sabar, bisa dipercaya dan jujur pasti atasan saya tidak akan marah ke saya dan yang paling utama adalah meningkatkan rasa syukur karena sampai detik ini masih dipercayakan selama 5 tahun bekerja sebagai Senior Accounting di sebuah lembaga donor Internasional. Benar saja perubahan diri yang aku lakukan menghasilkan sesuatu yang luar biasa, yang menurutku..wooow ini berkat sekali lagi dari Tuhan di tahun ke-6, atasanku mempromosikan aku untuk naik jabatan menjadi manager keuangan.


Well...sekarang aku mengerti Self Improvement itu bukan hanya ada kemauan kuat saja dari diri kita tetapi juga harus ada jalannya, jalannya darimana?yaa macam-macam bisa dari teman kantor, keluarga, sahabat, pasangan, orang asing bahkan yang kita anggap sebagai musuh kita, bisa kita jadikan jalan agar kita terdorong melakukan self improvement.

 

Nah teman-teman Ini pengalaman Self Improvement gaya saya...kalau Urbanesse gimana?



Libra

No Comments Yet.