BAPER-lah Dengan Cara Cerdas


Wednesday, 30 Aug 2017


Wanita memang mudah baper Karena kita dikodrati emosional yang lebih dominan dibandingkan pria. Meski demikian kita juga diberkati dengan kemampuan untuk mengelola emosi kita agar kita bahagia.

 

Menonjolkan emosi (sikap) kita tanpa mengaturnya, kita akan mendatangkan banyak masalah, misalnya kita akan dibicarakan di belakang kita karena mereka tidak  menerima sikap kita, kita akan dibantah,  kita akan digosipkan dengan lebih santer, dsbnya, yang jelas kita akan lebih banyak ditolak  dalam kehidupan sehari – hari.

 

Sebagai wanita era sekarang, tentu banyak diantara kita memilih menjadi wanita karir atau tidak sedikit juga melepaskan karir demi keluarga. Dari semua pilihan hidup ini, kebahagiaan kita tergantung dari cara kita memanage emosi kita.

 

Dalam menjalani kehidupan saya, dari kecil mama saya sudah men-set up saya menjadi wanita pedagang sehingga saya kurang piawai menjadi ibu rumah tangga. Karenanya saya belajar tiap saat bagaimana menjadi Ibu bagi anak-anak saya dengan mengikuti perkembangan jaman sekarang. Tentu semua harus melewati pengelolaan emosi, jika tidak, tentu sulit menjalani kehidupan ini dengan bahagia.

 

Dibawah ini akan saya sharing pengalaman yang pernah saya alami.

 

DI TEMPAT KERJA

 

Sebagai atasan dari anak-anak (aku sering menyebut teamku sebagai anak-anakku, bukan karena faktor umur, ini dikarenakan mereka biasa memanggilku “ibuk”, tapi karena sangat formal,  mereka akhirnya ada yang memanggil cie cie (kakak) dan mom (ibu tapi lebih pada sebagai ibu pimpinan yang akrab).

 

Dalam pekerjaan tentu saya menghadapi banyak sikap anak-anak yang berbeda dari hal tanggung jawab kerja, kedisiplinan, etos kerja, mentalitas, sikap, attitude dsbnya disertai terkadang complaint-an customer. Setiap hari pasti ada yang melanggar komitmen bersama, minimal terlambat datang ke kantor, jam kerja dipakai malas-malasan dan sebagainya.

 

Jika setiap hari saya tidak mampu mengontrol emosi, maka yang menjadi FOKUS saya adalah MASALAH, sehingga otak saya tidak bisa berpikir jernih bagaimana meningkatkan produktifitas kinerja untuk membesarkan penghasilan (tujuan utama membuka usaha dan tujuan utama para team bekerja).

 

Karena kesadaran akan tujuan utama, saya belajar bagaimana memimpin mereka untuk mencapai tujuan kami bersama dengan pertama-tama mengubah CARA saya memimpin mereka jika terjadi hal – hal yang tidak menyenangkan itu.

 

Pengelolaan emosi (sikap) sangat menentukan sikap orang lain pada kita yang tentu akan tampak dari sikap mereka sehari – hari dalam pekerjaan dan dalam menghadapi customer.

 

Kapan Sikap Baper Saya Gunakan ?

 

Inilah perlunya mengelola emosi. Baper sesekali boleh, tapi memakai bapernya yang membuat tim kerja tahu bahwa kesalahan sikap mereka menyebabkan saya tidak bahagia, menyebabkan customer yang dilayani (sumber rejeki tidak bahagia, sehingga tidak ada repeat order, repeat services), menyebabkan teman teamnya tidak bahagia dan pada akhirnya  semua tujuan bersama tidak tercapai.

 

Jadi, menurut saya  Baper sebagai seorang pemimpin itu perlu tapi harus bijak, kalau tidak pernah sekalipun baper, perusahaan juga tidak bisa maju karena anak – anak buah saya tidak akan pernah memahami kesalahan mereka, Yang akhirnya menyebabkan mereka malah tidak improve untuk melayani sang sumber rejeki. Pernah dulu saya mengesampingkan perasaan saya, yang saya gunakan hanya logika saya dalam memimpin mereka. Anak buah salah saya sudah bisa sangat marah, marahpun jadi tidak terfokus pada masalahnya dan mereka tidak tahu kesalahan mereka. Akibatnya anak buah saya malah bekerja tidak maksimal dan mereka tidak tahu dan tidak belajar dari kesalahan mereka.

 

Nah...dari situ saya berpikir lagi, sepertinya saya harus sedikit saja menggunakan perasaan, agar mengerti juga posisi mereka? Akhirnya mindset saya ubah, ketika menghadapi kasus anak buah yang mengecewakan bisnis yang sedang saya jalani saya, mencoba lebih bijaksana menghadapinya, tidak dengan marah-marah yang tidak jelas yang hanya membuat kepala saya pusing. Saya ajak mereka duduk dan membicarakannya 4 mata dengan saya. Saya dengarkan dulu penjelasan mereka (ini harus dengan kepala dingin) saya pun pada saat melakukannya memang perlu kesabaran, tetapi lagi-lagi ini proses. Kemudian setelah itu baru saya mengarahkan mereka hal-hal yang sekiranya keliru dan mereka tidak tahu. Karena apa yang saya pikirkan belum tentu sampai ke pikiran mereka, maka dari itu saya arahkan tidak dengan emosional tetapi seperti kakak ke adiknya, di mana kakak bisa melihat apa yang belum bisa seorang adiknya lihat. Buat saya mereka seperti adik-adik saya jadi harus ada sedikit feeling (simpati) didalamnya.

 

mengarahkan dan membuka mata mereka menurut saya adalah cara terbaik memimpin anak buah agar mereka bekerja maksimal. Pelajaran apa yang bisa mereka petik dari kecerobohannya dan membuat perjanjian untuk tidak mengulanginya dengan memperbaiki kesalahannya dan tahu konsekuensi jika terjadi lagi.

 

Logika tetap dipakai tapi  harus juga menggunakan hati dalam memahami setiap permasalahan di kantor yang saya pimpin, itu sih yang saya lakukan. Saya hanya tidak ingin kejadian yang dulu-dulu ketika saya terlalu banyak menggunakan logika, anak buah saya jadi pada ketakutan. Karena takut dan terlalu khawatir akan pekerjaanya lalu membuat mereka bekerja tidak maksimal karena dihantui ketakutan-ketakutan dan asumsi-asumsinya sendiri. Saya melakukan ini bukan membuat nyaman karyawan tetapi membuat mereka belajar dari kesalahan yang pernah mereka buat ini juga merupakan cara saya mengelola emosi dan karakter baik didalam diri mereka.  Puji Tuhan..saat ini karyawan yang kini bekerja dengan saya langgeng dan mereka jadi tahu aturan main bekerja disini. Customer pun puas dengan kecepatan, ketelitian dan kecekatan anak buah saya dalam memberikan pelayanan. Buat saya itu hasil yang cukup baik sejalan dengan bertumbuh juganya karakter mereka.

 

Ladies, point pembelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini adalah “Bahwa sebagai pemimpin saya harus cerdas dan bijak dalam mengelola emosi. Kapan harus berpikir logis dan kapan saya harus menggunakan feeling (simpati), tapi jangan sampai kita hanyut terbawa perasaan. Cukup menggunakan feeling yang dikondisikan dan kita sisipin diantara logika. Maka berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami, akan tercapailah kondisi yang lebih baik dari sebelumnya”.

 

Jadi, pertanyaannya Apakah seorang wanita itu wajar kalau memakai perasaan ?

Jawabannya adalah Wajar, tapi jangan sampai terbawa perasaan (baper) tetap dikondisikan dan kontrol, Ladies.

 

 sumber gambar:Created by Javi_indy - Freepik.com



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.