Ayahku, Idolaku


Tuesday, 28 Aug 2018


Ketika seorang bayi terlahir didunia, orangtua mana yang tidak bahagia. Tangis, tawa, senyum, dekapan, dan tatapan penuh kasih menyelimuti kelahiran makhluk mungil titipan Tuhan tersebut. Doa kepada Sang Maha Agung dan Pemilik Semesta pun terpancar dengan syahdu. Seluruh hal baik terpancar dari mata bahagia Ibu dan Ayah.

Tidak ada satu orangtua pun yang tidak menyayangi darah dagingnya sendiri. Jikapun ada orangtua yang demikian, itu bisa disebabkan karena lingkungan, situasi dan keadaan yang memaksa mereka menjadi pribadi yang di rasa kurang mencintai darah dagingnya sendiri. Marah, kesal dan moment pertengkaran antara orangtua dan anak adalah bagian dari dinamika kehidupan. Sama halnya seperti sebuah hubungan, pasti akan selalu ada perbedaan pandangan dan keinginan.

Saya bersyukur memiliki orangtua (Ayah dan Ibu saya) yang mengasuh saya denga pola asuh yang tidak otoriter dan egosentris. Bagi saya, Ayah adalah idola abadi. Beliau adalah sosok yang tidak pernah saya lupakan sampai saat ini. Saya masih ingat bagaimana beliau akan bangun dinihari, berdoa, lanjut dengan berolahraga keliling lingkungan rumah dan kemudian bersiap siap untuk bekerja.

Ayah memegang teguh prinsip hidupnya, taat beribadah, dan sangat bertanggung jawab untuk membesarkan putri putrinya yang menurut beliau harus memiliki pendidikan setinggi mungkin dan memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Tidak ada satupun memori buruk beliau yang saya ingat, hanya mungkin pada saat beliau mengajari saya berlatih sepeda. Ayah ingin putrinya menjadi sosok yang mandiri dan tidak sombong. Jadilah orang baik, pesannya selalu kepadaku.

Ayah juga mengajarkan sisi lain dari perbedaan agama. Karena memang saya terlahir dalam dua agama yang berbeda. Ayah tidak pernah memaksa saya untuk mengikuti agama yang dianut oleh beliau. Beliau mengizinkan saya untuk memilih agama yang saya anut setelah beliau mengajarkan seluk beluk agamanya. Masih terngiang dengan jelas kata katanya dikala sore, bahwa semua agama adalah baik. Yang menjadikan tidak baik adalah polah tingkah manusia yang menganutnya.

Jalur karir yang saya tempuh saat ini adalah bagian dari permintaannya. Awalnya saya diminta untuk mengambil studi Arsitektur, sayapun sudah berlatih menggambar dan lain-lain. Sampai ketika di hari terakhir pengisian jurusan untuk ujian masuk universitas negeri,  Ayah meminta saya untuk menekuni jurusan Akuntansi. Simple ujarnya, kamu perempuan, menguasai Akuntansi akan menjadikan kamu sangat mahir dibidang keuangan dan Ayah ingin melihat kamu berhasil. Saat itu saya berpikir ok baik Ayah, tidak ada rasa terbebani karena saat itu saya hanya berpikir saya lakukan dulu apa yang membuat saya nyaman, dan memang akuntansi buat saya nggak sulit-sulit banget. Sampai pada akhirnya saya membuktikan sendiri bahwa pilihan Ayah memang sesuai dengan minat saya. Ayah memang sudah melihat bakat saya yang senang pekerjaan detail dan rapi dalam hitung menghitung keuangan. Saya pun saat itu berpikir jadi ini ternyata maksud Ayah meminta saya untuk menjadi seorang Akuntan, yang memang ternyata saya tahu ini passion saya hingga kini.

Setiap orang punya caranya masing masing dalam menyampaikan rasa sayang bagi putra putrinya. Ayah termasuk tipe yang tidak ekspresif, cenderung kaku. Bahkan teman teman sayapun enggan bertemu dengan Ayah. Takut sama Ayah kamu, ujar mereka. Tidak apa apa dalam hati saya, setidaknya Ayah menjaga pergaulan putri putrinya dari hal yang tidak baik.

Saya bersyukur karena memiliki orangtua dengan pola asuh yang baik dan setia untuk mengajarkan nilai budi pekerti yang baik kepada putri putrinya. Ibu sebagai perempuan mengajarkan untuk menjadi sosok yang mandiri, tidak manja dan tidak mengandalkan orang lain. Ibu juga tidak membiasakan saya dari kecil untuk hidup bermewah-mewahan. Secukupnya saja ujar beliau sambil tersenyum.

Pola asuh dan nilai yang ditanamkan kepada anak anak sejak balita berpengaruh pada perilaku anak. Karena itu, penting untuk membicarakan dengan pasangan, mengenai pola asuh anak dan bagaimana kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus bersikap. Karena anak terlebih lagi diusia sangat dini, sudah bisa menyerap hal hal yang dilihat dan didengarnya.

Salah satu hal yang diajarkan oleh salah satu teman saya yang berprofesi sebagai psikolog. Adalah bahwa sejak dilahirkan, bayi memiliki kemampuan untuk mengingat dengan baik. Jika sang Ibu atau Ayah sering marah, maka bayi akan menyimpan memori atas hal tersebut dan akan berakibat pada hubungan psikologis antara orang tua dan anak.

Saya mungkin saja termasuk anak yang beruntung memiliki orangtua Ayah dan Mama seperti mereka. Saya juga bisa mengerti bahwa tidak semua anak mempunyai ayah dengan karakter seperti Ayah saya, tidak mementingkan egonya hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tahu dan mengerti kemana mengarahkan anak-anak mereka tanpa membuat diri saya merasa tertekan dan terbebani.

Kalau dalam kasus saya syukurnya saya tahu juga apa yang terbaik buat diri saya jadi kita menjalaninya saya tidak merasa terbebani dengan pilihan Ayah tersebut. Kita lah sebagai anak yang memiliki otoritas terbesar untuk memilih dan mengambil hal-hal baik yang di suapin dari orangtua ke diri kita, tidak main “caplok” atau makan saja, sebagai anak kita bisa bijak melihat hal baik dan buruk ketika pilihan tersebut ingin diambil. Selain itu jangan ragu untuk selalu berkomunikasi dengan orangtua, saya pun dulu selalu bicara dari hati ke hati dengan Ayah dan mama saya, apa yang kami ingin, tidak ingin dan kami butuhkan. Jadi saya dan orangtua sama-sama tahu keinginan masing-masing.

Sayangilah orangtua kita selagi kita diberikan kemampuan dan kesehatan, meski kita kerap berbeda pandangan, keinginan dan apa kata orangtua tidak selalu benar namun bukan berarti kita mengurangi kasih sayang pada mereka. Ayah saya kini telah berada di Surga bersama Tuhan semoga Ayah tenang disana, ada rasa rindu terselip dalam doaketika menulis tema ini. Berbahagialah  jika Urbanesse masih memiliki keduanya. Sayangi, karena rindu sejati tak kan datang dua kali.



Risa

No Comments Yet.