Asumsi Negatif Tidak Akan Membuat Hidup Lebih Baik


Wednesday, 06 Jun 2018


Kita sepertinya ada di zaman dimana ada beberapa dari kita yang belum apa-apa sudah berasumsi sendiri. Iya asumsinya bagus jika positif namun akan sangat merugikan orang lain jika kita berasumsi negatif sebelum kita mendapat konfirmasi cerita sebenarnya tentang segala hal yang hanya baru kita lihat. Karena tidak semua kejadian yang kita lihat sama seperti yang kita asumsikan.

Dulu saya termasuk orang yang mudah berasumsi negatif  dari apa yang hanya baru saya lihat dan rasakan. Hal tersebut terjadi bukan karena  tanpa alasan,mungkin karena saya terlalu sering di kecewakan dengan teman dan pacar-pacar saya jadilah saya seperti itu. Seperti saat seorang teman sebut saja namanya Uti (bukan nama sebenarnya) yang meminjam uang pada saya, saya memang memberikan pinjamannya karena saya pikir teman saya tersebut memang sedang butuh-butuhnya. Tapi asumsi negatif pun datang seketika “Jangan-jangan dia hanya pura-pura nanti ujung-ujungnya nggak dibayar” dan itu saya wujudkan dengan membuat djudgement negatif ke teman saya itu dengan saya menuliskan status di facebook kurang lebih statusnya tentang bagaimana seseorang yang kerap meminjam uang namun ujung-ujungnya tidak dibayar.

Seketika itu juga rekan saya tersebut mengirim pesan di Blackberry Messenger (BBM). “Tenang saja tidak perlu kamu tulis pakai status di facebook, saya pasti akan melunasi hutang saya sebelum tanggal 1. Kalau tidak karena butuh sekali saya juga enggan meminjam uang pada kamu” begitulah kurang lebih isi BBM-nya.  Membaca pesan dari BBM-nya, saya merasa bersalah sudah berasumsi negatif padanya. 3 hari kemudian tidak menunggu lagi tanggal 1 rekan saya itupun membayar pinjaman uangnya pada saya. Di moment itu lah yang belum pernah saya lakukan pun saya lakukan. Saya meminta maaf padanya atas ucapan saya di status facebook beberapa hari yang lalu. Sayakatakan padanya bahwa saya seperti ini, karena saya kerap kali di kecewakan dengan teman-teman dan beberapa kali oleh pacar saya, Selalu ada saja yang memanfaatkan saya. Datang hanya ketika butuh, kemudian ketika sudah tidak butuh dan sudah dapat apa yang mereka inginkan, mereka pun pergi.

Lalu reaksi Uti sungguh diluar perkiraan saya, lagi-lagi saya sudah berasumsi negatif kalau Uti akan marah pada saya. Ternyata Uti tahu betul apa yang saya rasakan, karena diapun dulu pernah mengalami seperti apa yang saya alami. Uti cerita kalau dirinya dulupun juga sama, belum apa-apa sudah berprasangka negatif pada orang lain. Namun, Ibunya mengingatkan Uti bahwa dengan berasumsi /berprasangka negatif itu sama saja kita menunjukkan karakter buruk kita di hadapan oramg lain dan juga dengan kita berasumsi negatif sendiri tanpa mengkonfirmasi kebenarannya maka hidup kita akan selalu merasa tidak pernah nyaman, bawaanya bersangka buruk aja sama orang, padahal apa yang kita sangka-kan belum tentu sama seperti yang kita pikirkan dan rasakan.

“Lalu bagaimana jika kita berpikiran positif aja tanpa curiga ke orang nanti kita dimanfaatin lagi kaya saya ?” tanya saya pada Uti. Menurut Uti lebih baik kita berpikir dulu positif, kurangi ber- su’udzon (berprasngka negatif/buruk) terhadap orang lain. Karena jika niat positif maka percayalah kita akan menuai hal positif juga dari apa yang kita pikirkan/rasakan. “Sejak ibuku mengingatkan itulah aku mulai bertumbuh untuk menanamkan dalam pikiran untuk melihat segala hal dari sisi positif saja meski yang aku lihat nampaknya negatif, tapi aku selalu berusaha mencari celah untuk melihat dari sisi positif orang lain. Berhenti berekspektasi berlebihan kalau orang lain lebih baik atau lebih buruk dari kita, kalaupun pada akhirnya di kecewakan (misalnya) setidaknya ada hal yang bisa aku petik hikmah atau pelajaran dari apa yang aku alami. Sejujurnya dulu pun aku pernah kena tipu, meminjamkan uang pada rekan kerjaku lalu orangnya kabur ke kampung nggak balik-balik. Lalu apakah aku harus marah (marah pun uangku nggak akan balik juga) lalu apakah aku harus mengeneralkan dengan asumsi negatif /prasangka buruk kalau semua temanku akan sama sifatnya juga seperti temanku yang kabur itu ? Tentu tidak. Aku petik pelajarannya dan mengambil sisi positif dari kejadian yang pernah aku alami tersebut, sebagai bahan merefleksi diri bahwa mungkin ini cara Tuhan menegur aku, saat itu aku kerap lupa menyisihkan rezeki untuk beramal kepada yang membutuhkan. Jadi ketika hal tersebut terjadi batin pun tidak kecewa yang berlebihan, meski uang yang di bawa kabur cukup besar. Namun, dengan membangun asumsi positif dan melihat segala yang terjadi dengan prasangka baik maka hasilnya pun beneran baik. 2 bulan setelah kejadian di tipu temanku itu, Tuhanpun memberikan penghiburan. Saya mendapat promosi dari kantor dengan gaji yang cukup baik buat saya.  

Dari situ aku semakin yakin, jika segala hal di awali dengan asumsi positif tanpa harus terburu-buru berprasangka buruk, maka akan selalu ada hikmah/pelajaran yang bisa dijadikan bahan refleksi diri sagar aku bisa menjadi pribadi yang terus bertumbuh menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lalu apakah berrati aku sudah bersih, sudah tidak lagi punya pikiran negatif/prasangka buruk ke orang lain ?tentunya tidak, aku juga sama seperti kamu manusia biasa, tidak sempurna kadang juga salah. Namun, aku terus belajar hingga detik ini untuk selau memiliki hati dan pikiran positif. Bukan untuk orang lain, tapi ini murni untuk pribadiku sendiri. Karena jika kita selalu memiliki asumsi negatif dan berpikiran buruk tehadap sekitar kita hidup pun nggak akan enak bawaanya curiga aja, jengkel aja dan bertanya-tanya sendiri dengan asumsi negatif yang belum tentu benar. Jika asumsi negatif melanda batin dan pikiranku, aku lebih memilih mengkonfirmasinya terlebih dahulu kepada orang yang bersangkutan lalu tidak dengan mudah menghakimi orang itu begini begitu. Dengan aku memposisikan diri seandainya posisinya di balik, aku ada di posisi orang tersebut pastinya akupun nggak akan mau di sangkakan buruk dan dihakimi negatif padahal aku tidak seperti yang diasumsikan. Nah, begitupun orang lain.

Kemudian cobalah untuk selalu menerima bahwa tiap orang itu berbeda, aku tidak bisa mengetok rata kalau si A bakal begini sama aku seperi si B karen antara A dan B itu orang yang berbeda. Urusan orang tersebut akan mencurangi kita, akan memanfaatkan kita yang selalu berpikiran positif, menurut aku itu adalah urusan dia dengan dirinya dan Tuhan. Dia seperti itu kalau bisa aku tidak seprti itu. Yaa...itulah yang aku lakukan 2 tahun belakangan ini hingga sekarang hasilnya pikiranku lebih bersih, batinku lebih tenang nggak merasa cemas lagi akan ditipu orang lain.  Dan itu mengapa aku nggak marah sama kamu karena aku bisa merasakan seperti yang kamu rasakan, karena pernah berada di posisi tersebut” Terang Uti.

Hmmm...panjang lebar Uti bercerita saat itu membuka mata hati dan pikiran saya kalau apa yang dikatakannya itu benar, asumsi negatif hanya menunjukkan karakter buruk kita di mata orang lain, sama halnya saya merefleksikan diri saya seperti apa yang saya asumsikan. Dengan saya menulis status menyindiri Uti itu sama halnya saya menunjukkan gambaran keburukan hati saya pada orang lain, karena nggak semua teman saya di FB kenal sama Uti dan tahu permasalahn yang sedang saya alami dengan Uti.  Dari cerita Uti, sayapun betumbuh juga hingga detik ini untuk mengurangi dan mengelola asumsi negatif dan lebih banyak membangun asumsi positif terhadap segala hal di sekitar saya. Benar kata Uti dengan kita berasumsi positif semata-mata itu bukan untuk orang lain, melainkan kembali dampaknya untuk ke diri sendiri. Hati dan pikiran saya kini jadi lebih tenang, tidak ada perasaan was-was takut dikecewakan. HASILNYA saya kini jadi lebih berhati-hati untuk tidak mudah menghakimi orang lain, toh memang saya nggak pernah merasakan hal yang lebih enak setelah men-judge orang lain. Di sosial media pun saya kini tidak lagi mudah mencibir, menyindir dan menghakimi sebagai bentuk asumsi negatif yang saya munculkan sendiri.  Daripada melakukan itu lebih baik Diam.

Kini saya lebih memilih melihat segala sesuatu seperti Uti dengan memposisikan diri menjadi orang lain sebelum melontarkannya, berpikir dua kali untuk membuat asumsi, lebih baik mengkonfirmasi hal yang kita ragukan ketimbang langsung kita hakimi. Kemudian mencari tahu dulu cerita sebenarnya dan menerima bahwa tiap orang berbeda. Hingga kini saya melakukannya, bahkan beberapa teman pernah bertanya pada saya “Mengapa saya selalu berasumsi positif sekarang?” jawabannya adalah karena saya belajar dari pengalaman orang lain bahwa kalau di list, dengan saya berasumsi negatif itu lebih banyak merugikan diri sendiri daripada ketika saya berasumsi positif. Dengan saya berasumsi positif  hal baik malah datang ke dalam diri saya, salah satunya Ehmm...Jodoh setelah lebaran saya akan menikah dengan pasangan saya, yang notabene adalah sepupu dari Uti sahabat saya yang sudah membuka mata hati dan pikiran saya hingga saya bisa membenahi diri untuk mengurangi asumsi negatif dan mengelolanya ke arah yang lebih baik. “A Negative Mind Will Never Give You A Positive Life” I think its Right, bagaimana menurut Urbanesse ?

 



Clara Marisa

No Comments Yet.