Apakah Hidup (Tidak) Sesederhana Menunggu Love & Comment ?


Monday, 14 May 2018


Kehadiran Media sosial telah memberi ruang bagi seseorang untuk menunjukkan diri dan mungkin karena ada “yang nontonnya juga” jadilah hits. Saya pernah membaca sebuah literatur kalau orang yang suka pamer hanya memusatkan ego-nya saja, Urbanesse setuju atau tidak dengan pernyataan tersebut ? Realitanya Like, love, comment adalah tujuan utama kita bukan ?. Dulu ketika baru punya sosmed, waktu itu lagi ramai orang main Facebook saya sempat mengalami yang namanya insomnia (susah tidur) saking pengen update terus postingan yang saya upload, hanya sekedar check orang-orang yang like saja. Kadang batin sampai merasa galau ketika postingan saya tidak ada yang mengomentari.

Mungkin beberapa dari Urbanesse pernah mengalami hal demikian juga ketika awal-awal main facebook? Jujur nggak apa-apa karena saya yakin kita semua yang sampai detik ini main facebook pasti pernah ada di posisi seperti saya, pernah alay, pernah galau dan lebay melambai di tiap postingan facebooknya  (beruntung kalau ada yang tidak berlebihan ketika awal mereka mengenal facebook) tapi saya bersyukur pernah jadi orang yang katanya “alay” dikit-dikit posting, apa aja yang nggak penting pun saya posting di Facebook. Kesal sama rekan kerja saya curhat di facebook, galau sama gebetan/ pacar mengeluhnya di facebook, berdoa pada Tuhan ngomongnya di Facebook, berada di suatu tempat yang istimewa sedikit saja (bahkan update kalau ada di dalam kamar rumah sendiri) saya post juga di Facebook.  Seakan Facebook dulu itu sudah menjadi bagian dari diri saya.

Pernah seorang teman mengatakan pada saya begini “Kalau orang seperti kamu nggak bakal bisa hilang kemana-mana, bisa keburu di temukan karena apapun kamu posting di sosmed orang pun jadi pada tahu deh. Tiap jam bahkan menit selalu ganti status, posting lokasi diri dan memposting foto selfie atau foto makanan yang akan kamu makan. Sampai gw yang lihat merasa ini anak kerjaanya apa ya, kok yang nongol status dan postingan dia lagi dan dia lagi” katanya.  Booooom...Berasa di tampar,  Agak malu rasanya dapat reaksi seperti itu dari teman sendiri. Sejujurnya ketika mendengar kalimat tersebut saat itu yang ada di pikiran saya “Yaa..ampun iya juga kok sampai berlebihan gitu ya, maksud hati ingin menjadi diri sendiri di akun sosmed pribadi malah seakan menunjukkan siapa diri saya sebenarnya di dunia maya yang jelas-jelas ada yang saya kenal dan ada yang nggak benar-benar saya kenal juga”. Naah..yang nggak kenal itu yang biasanya suka menghakimi tanpa tahu saya yang sebenarnya. Saya seperti menjual privacy ke umum dan kehidupan pribadi saya di tonton orang lain. Pastinya reaksinya ada yang positif dan negatif memandang diri kita. Yaa lebay lah, yaa suka pamer lah, yaa..nggak ada kerjaan lah dan sebagainya.

Sempat mikir juga saat itu, facebook facebook saya, postingan juga punya saya kenapa jadi orang lain yang ribet ? setelah saya refresh kembali mindset saya ternyata cara pandang tersebut sebenarnya keliru. Iyaa benar...itu memang facebook saya tapi bukan berarti segala hal yang ada diri saya, yang saya alami dan yang saya rasakan harus saya posting, harus saya pamerkan supaya semua orang lihat. Where’s My privacy room ? orang lain juga nggak butuh-butuh banget postingan saya kalaupun butuh kemungkinan nantinya hanya untuk di jadikan bahan gosip di belakang saya. Pernah juga saya sempat diberitahukan oleh seorang teman dekat bahwa beberapa teman di belakang saya sempat membicarakan tentang foto-foto selfie saya yang ada di facebook, kata mereka saya “banci camera yang butuh pengakuan orang lain”.  Kalau dulu saya marah di sebut seperti itu, karena saya masih tidak sadar tentang perilaku senang pamer di sosial media. Kalau itu terjadinya sekarang, saya nggak akan marah karena yaa..itu memang kenyataanya, perilaku kita di sosmed mau positif atau negatif tetap akan beresiko menjadi perbicangan orang lain karena kita sendiri yang dengan sadar memamerkannya, apalagi kalau postingannya sampai seperti membuat spam di timeline orang lain mengganggu bukan ?.

Saat itu, dimanapun saya berada bisa menjadi tempat untuk update foto, bahkan di wastafel toilet kampus saya sempat-sempatnya mengambil gambar diri sendiri dan upload di sosmed. Saat itu saya merasakan seperti sangat kecanduan yang namanya like dari friends list saya di facebook dan sangat berbunga-bunga ketika gebetan saya di kampus memberi like secara maraton (berturut-turut) setiap foto sefie yang saya share. Saya senang bawaanya ketika dalam satu hari itu sudah update status atau sekedar posting foto tentang kegiatan yang saya lakukan,dengan mereka banyak memberi like atau komentar, saya merasa keberadaan saya diakui dengan segala aktivitas yang saya lakukan. Itu yang di rasakan ketika awalPawal merasa demam “pamer” di facebook yang sempat melanda diri saya beberapa tahun yang lalu.

Menjadi Diri Sendiri di Kehidupan Semu dan Real

Belajar dari pengalaman di tegur teman seperti cerita saya diatas,  juga sejalan dengan pendewasaan pola pikir dan banyaknya informasi content digital yang membahas campaigne ajakan untuk “stop pamer di sosmed” yang akan meningkatkan kecemburuan sosial, maka akhirnya sayapun mulai belajar untuk berhenti show off di sosmed. Berhenti showoff bukan berarti berhenti main sosmed, tetapi menghentikan kebiasaan ngupload postingan apapun yyang akan membuat polusi mata dan hati teman-teman di sosmed. Bayangkan ketika saya pamerin diri saya di facebook berapa ribu mata yang melihat dan memiliki hati yang benar-benar baik terhadap diri saya ? Aduuuh...kalau diingat kembali rasanya malu, orang yang membaca postingan saya pastinya berpikir A sampai Z tentang saya, padahal saya ini orang biasa-biasa saja yang lagi senang aja main facebook saat itu.  

Pada 2016 saat itulah saya mulai bersih-bersih facebook dan akun sosial media lain yang saya miliki seperti path dan instagram untuk tidak lagi memposting hal yang tidak bermanfaat, kalau kata netizen jaman now bilang “postinglah hal-hal yang memiliki faedah”  karena memang saat ini postingan yang bermanfaat, menghibur dan tidak berlebihanlah yang berguna untuk kita juga orang lain, sesekali saja saya posting foto selfie, posting foto makanan Hmm...malah jarang ya heehee karena kalau sudah di meja makan biasanya saya lupa sama hp kamera dan fokus buat makan-makan aja. Tidak lupa posting moment bareng teman-teman saya yang lama nggak jumpa tapi biasanya itu saya lakukan di akhir meet up, bahkan pernah saking saya mulai membiasakan diri untuk tidak posting pamer beragam postingan di sosmed moment berharga pun pernah sampai terlewatkan, ketika saya bertemu dengan sahabat lama yang setahun sekali datang ke Indonesia. Disitu saya sampai lupa untuk foto bareng sekedar buat menyimpan moment bersamanya.

Kini saya posting apapun hanya untuk menyimpan momentnya bukan untuk menunjukkan pada orang lain tentang diri saya. Di facebook pun kini saya lebih senang membagikan postingan orang lain seperti menu masakan, handy craft, artikel Urban Women heehee dan hal-hal inspiratif lainnya yang dapat menjadi catatan ke diri saya sendiri. Sayapun sudah tidak seperti dulu yang selalu update jumlah teman-teman yang memberi jempol atau berkomentar di Facebook, karena selain kini sudah tidak ada waktu lagi untuk ngurusin facebook sendiri karena pekerjaan saya juga sudah banyak. Yaa kerja, yaaa ngurus anak dan suami juga ngurus kebutuhan keluarga. Bahkan kadang kalau sudah di rumah saya bahkan sangat jarang untuk update sosmed. Naah..kalau anak tidur baru buka facebookatau Instagram, paling banter saya bagikan postingan orang lain di facebook atau sekedar ikutan iseng-iseng isi kuis-kuis yang ada di facebook karena sangat menghibur hitung-hitung ini bagian dari metime saya di rumah. Buka Instagram paling senang baca-baca komentar netizen di account selebritis. Saya anggap ini juga sebagai hiburan dan pembelajaran untuk diri sendiri kalau saya jangan sampai seperti mereka yang berkomentar sinis di account orang lain padahal kita tidak kenal selebritis yang sedang kita komentari tersebut, karena berasa dulu pernah mengalami jadi saya lebih memilih memainkan instagram hanya untuk menyimpan foto moment, menyimpan quotes yang memotivasi dan menyemangati diri saya, syukur-syukur quotesnya bisa berguna juga untuk orang lain dan untuk hiburan saya agar tidak terlalu serius dalam menjalani hidup karena dengan baca komentar netizen yang kreatif (bukan nyinyir/sinis) biasanya bisa membuat saya tertawa. Kata teman saya 1 hari itu kita harus ada sessi 5 sampai 10 menit saja untuk tertawa lwpas agar awet muda katanya dan mendetox pikiran agar lebih tenang.

Hmm...saya rasa ini berjalan untuk saya, sayapun jadi lebih menikmati ritme hidup di dunia maya untuk hiburan maupun di dunia nyata sebagai tempat praktek hidup sebenar-benarnya. Orang bisa berkata apapun yang terpenting adalah saya nyaman ketika jadi diri sendiri yanga pa adanya baik di sosmed maupun di dunia nyata (tidak peduli berapa banyak yang Like dan komentar) yang penting apa yang saya lakukan dan posting tersebut berguna untuk saya, itu saja dan saya selalu ingatkan ke diri saya untuk tidak bersikap berlebihan mengenai apapun, karena yang berlebihan tidak akan menghasilkan kebaikan untuk diri saya. Itu sih kalau saya, bagaimana dengan Urbanesse, setuju nggak ?

 

 



Clara Marisa

No Comments Yet.