Antara Ikut Tradisi atau Keyakinan


Tuesday, 13 Jun 2017


Budaya bangsa Indonesia memang cukup dekat dengan hal-hal berbau mistis dan kepercayaan yang dibawa secara turun temurun yang seringkali hanya berbentuk sebuah mitos. Mitos seputar kehamilan telah lama beredar di masyarakat kita dan telah dipercaya sebagai sesuatu yang sangat lumrah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebagian besar ibu hamil yang terlanjur menerapkannya tanpa mencari informasi tentang kebenaran mitos-mitos tersebut. Bahkan hal ini pun terjadi pada saya pribadi saat kehamilan anak pertama kami di tahun 2010.

 

Saat hamil anak pertama saya lebih banyak tinggal bersama ibu saya daripada di rumah sendiri, mungkin karena lebih nyaman menjalani kehamilan dekat dengan ibu yang telah sangat berpengalaman melahirkan dan mengurus 4 orang anak. Ibu saya adalah tipe ibu rumah tangga konservatif yang sangat percaya dengan segala macam mitos-mitos yang tidak hanya seputar kehamilan, tapi juga segala macam mitos tentang kehidupan sehari-hari.

 

Sejak awal kehamilan sudah banyak sekali pantangan yang harus saya ikuti, yang menurut saya sendiri ini bertentangan ajaran agama saya tapi karena kata Ibu saya tradisi ini sudah berkembang di masyarakat dan sering diterapkan untuk Ibu yang sedang mengandung, jadilah saya harus menjalankan itu semua.

 

Dari mulai pantangan makanan, kegiatan yang dilakukan, barang-barang yang dipakai sampai berbagai ritual yang harus dijalani yang anehnya ini tidak ada diajarkan di dalam agama saya, its Ok buat saya menjalankan mitos seperti pantangan makanan dan kegiatan yang dilakukan namun sudah masuk kategori aneh dan ga masuk akal ketika ibu saya menyuruh selalu membawa gunting kecil dengan cara ditempel dengan peniti di baju untuk menjauhkan saya dan calon bayi dari gangguan mahluk halus. Tentu saja saya langsung menolak, karena selain sangat merepotkan hal tersebut bisa jadi menggangu bahkan beresiko melukai tubuh saya dan kalau saya pikir menggunakan logika ini bukannya sama saja menduakan Tuhan, tidak percaya dengan Tuhan. DIA yang memberi anugerah seorang calon anak pada saya dan DIA pasti juga akan menjaganya dari makhluk halus maupun berwujud manusia, bukan malah meminta perlindungan pada gunting dan lainnya itu. Yaa ..walau demikian demi menyenangkan mereka saya jalani, meski nggak make sense buat saya.

 

Saat kandungan memasuki 7 bulan, tentu saja saya harus menjalani ritual “nujuh bulanan” yang cukup ribet dan pastinya menghabiskan budget yang cukup besar, yang saya pikir seharusnya bisa digunakan untuk keperluan si bayi saat lahir nanti. Padahal kalau saya telusuri lagi ritual nujuh bulanan itu bentukan tradisi yang dikembangkan masyarakat, namun untuk anjurannya tidak pernah termaktub di dalam kitab suci manapun. Menurut saya Tuhan tidak akan membebani umatnya dengan beragam ritual yang sekiranya akan memberatkan seorang Ibu hamil dan keluarganya yang harus berepot-repot ria demi menjalankan ritual tradisi agar dipandang masyarakat..  Lagi pula ritual nujuh bulanan itu kita keluarkan uang yang tidak sedikit pastinya dan berlebih. Diajaran agama saya Tuhan tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Jika memang niatnya ingin syukuran kecil saja dengan doa-doa itu menurut saya masih relevan, tapi kalau sudah samapai harus melakukan ini itu, mengeluarkan dana ini itu untuk ritual nujuh bulanan buat saya rasanya beban ya.

 

Puncak dari semua tradisi yang berkembang di masyarakat dengan segala mitos-mitos hasil bentukan mereka yang saya jalani dan membuat saya benar-benar berpikir untuk tidak lagi mengikuti segala kerepotan yang dihasilkannya adalah saat saya akan melahirkan. Saat saya mulai mengalami kontraksi dan bersiap berangkat ke rumah sakit ibu saya langsung sigap menyuruh saya meminum beberapa sendok minyak kelapa yang sudah disiapkan, katanya untuk melicinkan jalan lahir sehingga bayi akan mudah keluar nantinya. Saya ikuti saja sarannya toh itu minyak kelapa buatan sendiri yang tentunya tidak mengandung bahan yang membahayakan. Tapi sesampainya di rumah sakit saya malah sakit perut dan beberapa kali ke toilet karena diare, ternyata seperti nya perut saya tidak dapat mentoleransi minyak kelapa yang saya minum tersebut sehingga membuat pencernaan saya terganggu. Untungnya setelah beberapa kali ke toilet pencernaan saya kembali normal, memang hal tersebut tidak berbahaya tapi bayangkan rasanya harus bolak balik toilet dengan perut besar yang sedang kontraksi. Berkat segala doa kami sekeluarga, pada akhirnya proses persalinan saya berjalan sangat lancar dan melahirkan bayi perempuan yang sehat.

 

Setelah melahirkan tentu saja ibu saya sudah siap dengan segala tradisi yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat dengan segala macam ritual-ritualnya untuk setelah melahirkan. Tentu saja saya menolak dengan lembut dan memberi pengertian bahwa sepertinya saya akan menjalani hari-hari menjadi ibu sesuai dengan yang saya mau tanpa segala macam pantangan dan ritual yang cukup melelahkan dan tetap yang sesuai dengan ajaran Tuhan. Saya tahu ibu saya selalu ingin yang terbaik untuk saya melalui segala yang dia percaya, karena segala macam mitos dan tradisi yang berkembang di masyarakat tersebut memang sudah turun-temurun tidak hanya di keluarga kami tapi di sebagian besar masyarakat Indonesia dengan keyakinan apapun.

 

Maka saat kehamilan anak kedua saya hanya menjalankan sesuai dengan ajaran keyakinan saya, yang tentu saja sangat sederhana yaitu lebih banyak beribadah, berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan serta menjaga kesehatan dengan makan dan beristirahat secukupnya. Menurut saya hal tersebut lebih mudah dijalani dan lebih masuk akal, karena dengan banyak beribadah membuat saya merasa lebih tenang dan santai menjalani kehamilan. Sedangkan semua tradisi yang berkembang di masyarakat yang dulu saya lakukan membuat saya jadi repot sendiri. Maka saya menjalani kehamilan kedua dengan tenang dan nyaman sesuai dengan yang saya inginkan. Pelajaran yang saya ambil dari menjalani proses kehamilan anak pertama tersebut adalah yang terpenting adalah berdoa dan berpikir positif.



Rara

Mom of two adorable daughters. Love books, yoga and photography. Living life gratefully.

No Comments Yet.