Aku Wanita Mandiri Yang Tetap Membutuhkan Pria


Friday, 23 Feb 2018


Jika dilemparkan pertanyaan Seberapa besar perempuan bergantung pada laki-laki ? jawabannya pasti akan berbeda-beda di tiap perempuan. Ada beberapa rekan saya yang mengatakan mereka bergantung pada pasangannya 50 :50 di satu sisi mereka menggantungkan diri pada laki-laki untuk memenuhi kebutuhan psikis, yang mungkin pasangannya miliki dan diri mereka tidak miliki jadi disitulah mereka saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain untuk mengisi wadah yang kosong di diri mereka masing-masing. 50 persennya lagi mereka tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada laki-laki dalam hal finansial, tapi tetap disini wanita menghormati pria yang baik pada mereka sesuai kodratnya. Namun, proporsi kebergantungannya dibuat tidak berlebihan (seimbang) yang alasannya adalah agar mereka di kemudian hari yang kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam relatoinship tersebut, tidak terlalu merasa kehilangan yang mendalam ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Lalu ada rekan saya lainnya sebut saja namanya Dira (bukan nama sebenarnya) Dira mengatakan bahwa saat ini ia memang bergantung pada pasangannya, karena selain kini ia yang memilih untuk tidak lagi bekerja dan kini menjadi ibu rumah tangga fulltime yang mengasuh 2 orang anak, jadi segala kebutuhan hidup diri maupun anak-anaknya sepenuhnya di gantungkan pada suaminya. Namun, Dira tidak mau dikatakan bahwa dia ketergantungan dengan suaminya. “Gini lho, ketika kita sudah memutuskan menikah ada tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh si pria yang menjadi pasangan kita, yaitu tanggung jawabnya menafkahi  secara lahir (finansial dan lain-lainnya juga batin (psikis dan jaminan kebahagiaan batin lainnya) karena memang ada janji suci dihadapan Tuhan ketika menikah seperti itu adanya.

Pun kalau seandainya amit-amit ini ya, pasangan kita tidak bisa memenuhi salah satu dari kebutuhan tersebut ya saya sebagai istrinya tidak diam, selain bisa membantunya ikut mencari nafkah, kita juga sebagai istri bisa membantu pasangan kita dalam hal lain seperti mendukung dia dalam mencari pekerjaan, menyemangati dia agar tidak malas, memberi pandangan masukan agar dia tidak down karena kami sudah komitment menjalani rumah tangga ini berdua, bukan sendiri-sendiri lagi” tukasnya. Dira juga mengatakan jika hal buruk yang tidak kita inginkan terjadi saya dan suami harus siap. Siap ditinggalkan dan meninggalkan karena di dunia ini tidak ada yang abadi bukan ?

“Dulu saya memiliki pandangan begini, saya takut sekali kehilangan pasangan saya, takut apa kata orang nanti tentang status saya, status anak-anak saya. Memang sih saya pasti mampu bekerja untuk membesarkan mereka seorang diri. Namun, bagaimana pandangan orang lain nanti kepada saya, pada anak-anak jika harus hidup tanpa adanya sosok pria di rumah?. Karena pada dasarnya ketakutan terbesar seorang Ibu rumah tangga terhadap pasangannya bukan karena ia teralalu bergantung secara finansial pada suaminya, jadi takut kehilangan sumber mata pencahariannya, bukan itu. Karena Ibu Rumah Tangga, juga sama seperti wanita-wanita mandiri lainnya yang sebenarnya mereka kuat menjalani hari dengan atau tanpa pasangan. Hanya saja mereka  kadang sudah takut dan khawatir di awal dengan ketakutan label/stigma/status di mata masyarakat.  Tahu sendiri kan masyarakat saat itu bahkan hingga saat ini masih mudah sekali melabeli atau menghakimi seseorang bahkan mereka sendiri tidak mengenal secara akrab siapa yang sedang mereka hakimi. Pada saat itu cukup lama saya memiliki pandangan seperti itu hingga saya sangat bergantung dengan pasangan saya” terang Dira.

Tapi kini padangan saya tentang ketakutan atau kecemasan jika kehilangan pasangan itu sudah berubah. Kini Saya tidak lagi takut gimana kalau suami saya begini begitu lalu saya nanti bakal di cap ini itu atau anak saya nanti kehilangan sosok pria di rumah sehingga mereka menjadi minder dan sebagainya. Saya ubah pola pikir saya dengan mengatakan pada diri saya “ kehilangan itu setiap orang pasti akan mengalaminya mau pasangan yang sudah menikah ataupun belum pasti akan ada masanya kita harus melepasnya pergi dan kalaupun itu terjadi saya katakan ke diri saya bahwa saya tidak takut dan siap menjalaninya. Jangan takut dengan label/stigma yang diberikan orang pada kita Karena hidup kita, kita yang menjalani bukan orang lain.Anak-anakpun yang paling besar sudah saya beri pemahaman bahwa hidup yang kita jalani adalah punya kita, jika orang lain melabeli kita ini itu tidak perlu di perhatikan malah harus dijadikan cambuk untuk menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa meski dengan atau tanpa adanya sosok pria didalam keluarga kita. Jangan pernah menghakimi orang lain ketika kita belum mengetahui ada cerita apa di balik dari satu sisi yang kita lihat ”.

Support pasangan di tiap harinya juga sangat berperan agar saya tidak minder dan berpikiran negatif pada suami saya. Supportnya bisa berupa dengan saling mengkomunikasikan apa yang kita suka dan tidak suka terhadap pasangan,  saling terbuka terhadapa apapun itu meski kejujuran yang kita terima pahit kita dengar namun itu bagian dari cara kita menghargai kejujuran pasangan kita dan yang paling penting sellau pegang komitment bahwa pernikahan ini didasari sumpah atau janji kepda Tuhan jadi yang berperan menjalaninya tidak hanya satu pihak tapi keduanya memiliki peran masing-masing untuk membentuk diri agar saling bertumbuh menjadi pribadi yang selalu lebih baik di tiap harinya.

Syukurnya saat ini saya memiliki pasangan yang sangat memahami saya dan sebaliknya. Suami saya tahu saya bergantung padanya untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Saya juga tahu suami saya sangat bergantung pada saya karena jujur ia bukan tipe pria yang mudah dalam mengambil keputusan apapun dalam hidupnya, ia selalu melibatkan saya untuk membantunya memberikan pandangan-pandangan yang ia sendiri masih ragu dan semua pandangan atau masukan dari saya dia terapkan, awal tahun 2018 Suami saya diangkat menjadi kepala kontraktor salah satu project pembangunan flyover di Jakarta.

Saya tidak mengatakan bahwa saya berperan dalam kesuksesan pasangan saya ini, karena kesuksesan seorang suami ataupun seorang istri ada peran masing-masing ditiap proses perjalanannya yang dijalankan berdua. Karena pernikahan itu menyatukan 2 kepala yang berbeda dan keduanya sama-sama berperan dalam meningkatkan dan memajukan kualitas diri, jadi saya dan pasangan saya berkomitment untuk selalu saling support.  Usia pernikahan saya memang baru memasuki tahun ke 8 masih terlau dini untuk saya mengatakan bahwa kami telah sukses dalam membina rumah tangga ini, namun saya percaya bahwa kedepannya pernikahan ini akan banyak sekali tantangannya, tantangan yang mungkin akan lebih berat dari sebelumnya dan saya harus siap apapun itu yang akan terjadi. Pastinya pemahaman ini juga saya kerap komunikasikan ke pasangan saya.

Satu point besar pembelajaran yang saya dapat dari cerita saya ini bahwa “Wanita mandiri bukan berarti wanita yang tidak membutuhkan pria di dalam hidupnya karena ia merasa sudah bisa melakukan segalanya sendiri, wanita mandiri adalah mereka yang dapat menyeimbangkan porsi kebergantungan hidupnya pada pasangannya sehingga mereka tetap menghargai pasangannya sampai keduanya bisa merasakan bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain”.



Libra

No Comments Yet.