AKU (TIDAK) BISA TANPA KAMU


Monday, 19 Feb 2018


Seberapa besar kita sebagai wanita bergantung kepada pria? Saya sempat mencari makna kata bergantung ini di Kamus Besar Bahasa Indonesia (www.kbbi.web.id) dan mungkin arti yang paling mendekati dengan tulisan ini adalah “bersandar pada orang lain” dalam konteks tulisan ini adalah pria.

Saya mulai tulisan ini dengan menceritakan pengamatan saya kepada dua orang teman saya yang mempumyai dua latar belakang cerita yang berbeda.

Saya mempunyai seorang teman perempuan yang suaminya adalah pacar dia semasa SMP. Mereka tidak pernah putus sepanjang pacaran hampir 10 tahun sampai akhirnya menikah dan memiliki putra putri yang sehat dan cerdas. Tidak pernah sekalipun saya lihat teman saya ini pergi tanpa pacar/ suaminya itu, kemanapun selalu bersama, si (suami) selalu setia mengantarkan dan menemani teman saya kemanapun. Tetapi memang saya tidak pernah menanyakan kepada dia , apakah dia yang meminta si suami atau memang suaminya yang menawarkan. Senang sekali melihat teman berbahagia bersama pasangannya, ga enaknya dia susah mendapat ijin untuk pergi bersama teman- teman J.

Saya juga punya temen perempuan yang sangat mandiri dalam hidupnya, dia tinggal berdua  bersama Asisten Rumah Tangga saja, menyetir kemana-mana  sendiri, bahkan melakukan traveling seorang diri juga bukan hal yang baru bagi dia, ini teman yang bisa diajak ketemuan kapan pun ha..ha..

Apakah temen saya yang pertama bisa dikatakan tergantung sekali dengan pria sementara yang kedua tidak? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Ya karena kelihatannya dia bersandar sekali kepada suaminya, bisa tidak karena kita tidak tahu dan saya tidak mau menanyakan apakah itu keinginan suami untuk selalu berada di dekat istrinya.

Dua hal yang sangat bersebrangan itu kemudian menjadi menarik sebesar apakah kita bergantung pada pria? Dan ketergantungan seperti apa ?.

Mungkin kalau di konteks secara umum, saya rasa tidak ada perempuan yang bisa dikatakan bergantung pada pria. Semua pekerjaan yang pria lakukan , perempuan pun dapat melakukan hal yang sama, dari menggali dasar bumi sampai urusan terbang keluar angkasa, sudah tidak ada lagi perbedaan kemampuan antara pria dan perempuan.

Lalu ketergantungan seperti apa ?

Di tulisan sebelumnya saya sudah pernah bercerita kalau saya menikah di usia yang tidak lagi mudaJ, sama sekali bukan keinginan saya tetapi mungkin memang begitulah garis tangan saya. Saya sangat menikmati masa-masa saya sendiri, dimana saya bisa melakukan apa yang saya mau kapan pun saya mau. Di bidang pekerjaan saya cukup beruntung karena diberi kepercayaan yang sangat besar oleh atasan saya dimana saya banyak berinteraksi dengan rekan kerja yang kebanyakan pria dan saya rasa saya dapat menyelesaikan hal tersebut dengan baik. Di kehidupan sosial rasanya saya tidak kekurangan sahabat yang bisa saya ajak berbagi dalam suka maupun duka. Tetapi setiap kali  saya kembali kerumah setelah bekerja atau beraktivitas , saya merasakan ada ruang kosong yang saya tidak tahu apa. Saya seperti merasa kesepian. Padahal saya bekerja sudah cukup lelah dan beraktivitas .Apa yang kurang yah?  Ohh jawabannya ternyata kerena saya itu tidak punya pasangan, kalo kata temen saya kalo saya sedang tidak punya pacar seperti laying-layang putus… ngiung…ngiung… terbang ga jelas arahnya kemanaJ

Lalu saya bertemu dengan seorang lelaki (yang sekarang menjadi suami saya) perlahan kekosongan di hati saya mulai terisi kembali. Singkat cerita saya yang dulu bekerja harus mengikuti suami saya di Luar Negeri dan untuk sementara saya tidak bekerja karena harus mengikuti suami tugas dan mengurus putri kami.

Secara finansial sekarang saya bergantung pada suami saya, tugas saya hanya mengurus anak dan urusan rumah tangga , tetapi hal tersebut tidak membuat saya merasa kecil hati karena saat ini saya tidak punya penghasilan lagi, saya memulai bisnis online kecil-kecilan bersama adik saya , walaupun hasilnya tidak seberapa tetapi tetap bisa membuat otak saya berpikir , dan saya cukup sedikit bangga menceritakan hasil yang saya dapat ke suami saya. Saya memilih bisnis yang memang sesuai dengan dunia yang saya dalami sekarang yaitu penyewaan mainan dan perlengkapan bayi dan anak. Selain itu saya juga sering mencoba resep masakan baru dan coba memvariasikan berbagai menu dan saya rasa cukup terjawab rasanya ketika saat makan suami saya makannya nambahJ.

Secara non finansial saya juga bergantung pada suami saya, karena dia sangat membantu saya terutama awal-kepindahan saya ke tempat yang baru karena sebelumnya dia sudah tinggal di kota ini selama setahun ataupun mengurus putri kami saat pulang bekerja atau di saat weekend. Terus saya tergantung banget dong yah? Saya rasa sih ga he..he.. urusan bersih-bersih dan perbaikan rumah sana sini masih saya jagoannya ha..ha (iya saya tau kontribusi hal ini sangat sedikit sih ha..ha…).

Kadang saya ada saatnya suami yang bergantung pada saya misalnya saat dia sedang sakit atau ada hal yang dia tidak sempat kerjakan kemudian dititipkan pada saya untuk dikerjakan, walaupun lebih banyak saya yang minta tolong ke dia dan bergantung ke dia.

Apakah ketergantungan seperti ini baik buat saya? Atau buat teman saya yang saya ceritakan di awal tulisan ini? Atau kita sebaiknya menjadi wanita yang mandiri yang tidak perlu bergantung pada  pria dalam kehidupan kita?

Saya rasa ini seperti hubungan yang saling melengkapi diantara pasnagan, ada saatnya kita sangat bergantung pada suami atau pasangan kita secara finansial maupun non finansial, tetapi sebaiknya hal tersebut jangan sampai membuat kita kehilangan jati diri kita yang sebenarnya, kehilangan siapa sebenarnya identitas kita dan segala hal yang bisa meningkatkan rasa percaya diri kita. Misalnya saya, saat ini saya sedang tidak bekerja sehingga saya sangat bergantung pada suami saya dari semua aspek tetapi saya tetap mencari kesibukan lain yang juga menghasilkan walaupun tidak sebesar penghasilan saya sebelumnya. Jadi kita bisa tetap memiliki percaya diri dan yakin bawa diri kita juga mampu untuk mengerjakan sesuatu walaupun nilainya secara materil tidak terlalu besar, tapi kita harus bangga akan hal tersebut.

Lalu bagaimana dengan teman saya yang mandiri di cerita yang kedua? Apakah dia tetap menikmati hidupnya dengan kesendiriannya? Tentu saja, karena dia tetap jadi dirinya sendiri tetap memberikan kontribusi yang positif buat diri dan lingkungannya dan sambil tetap berpikiran positif suatu saat akan mempunyai teman berbagiJ.

Jadi saya bisa tergantung kepada suami tetapi dengan tidak kehilangan jati diri saya sebenarnya dengan melakukan kegiatan atau hal positif yang mungkin pengaruhnya kecil tetapi tetap ada;  tetapi saya juga bisa tidak tergantung pada suami disaat – saat suami sedang dinas keluar kota atau dia sedang sakit atau kondisi tertentu yang saya tidak bisa prediks, saya sebagai perempuan akan tetap sopan dan menghargai suami saya sebagai kepala keluarga tetapi juga saya harus siap setiap saat jika peran saya dibutuhkan sewaktu waktu. Kita sebagai perempuan adalah makluk yang tegar dan kuat menghadapi segala kondisi , dan saya percaya hal tersebut tidak akan membuat kita menjadi tidak menghargai pasangan kita tetapi seharusnya hal tersebut bisa membuat kita semakin kuat jika seandainya suatu saat harus berganti peran dengan suami.

Jadi, bergantung pada pasangan tidak ada salahnya kan? Asalkan kita tidak kehilangan jati diri kita dengan tetap melakukan kegiatan positif yang bermanfaat buat kita, yang semoga suatu saat juga bisa memberi manfaat bagi keluarga;  sehingga jika suatu saat kita yang memang harus mengambil peran dalam keluarga kita tidak akan kewalahan tetapi cukup tegar dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan dalam berkeluarga.

Kalau saat ini kita tidak bergantung pada suami (terutama dalam hal finansial) kita harus tetap sopan dan hormat pada suami , menghargai mereka sebagai pemimpin keluarga dan mendukung keputusan yang diambil orang suami yang membawa kebaikan untuk keluarga kita.

Kuncinya sederhana kanJ? Saya bisa tanpa pasangan saya, tetapi saya tidak bisa tanpa diaJJ.

 



Natalina hutapea

A Mother, Risk management analyst in Capital Market, Food and Coffee Lover

No Comments Yet.