Aku Tetap Tangguh dan Bersinar Meski Pernah Patah Hati


Friday, 15 Sep 2017


Menjadi perempuan tangguh bukanlah hal mudah. Kadang ego kita mengalahkan segalanya dan perempuan cenderung menggunakan perasaan ketimbang logikanya. Let me tell you a story.

 

Saat jatuh cinta, kita harus selalu siap dengan resikonya. Entah perasaan kecewa ataupun patah hati. Tujuh tahun lalu, saya mengalami cinta pertamanya. Layaknya pasangan dimabuk asmara, kekasih hatinya adalah alasan dari senyum yang terukir sepanjang hari. Sebut saja namanya Kirana, dia seorang remaja yang sedang menempuh pendidikan sarjana di kota rantau jauh dari tanah kelahirannya. Kirana mengenal cinta pertamanya sebagai senior satu jurusan di kampusnya. Pulang pergi kuliah bersama meskipun jadwal mereka berbeda. Yah, katanya sih namanya sedang di mabuk asmara. Pulang sorepun bakal  tetep ditungguin ya kan? Asalkan bisa bersama. Berbagai kegiatan menyenangkan dilakoni  seperti kulineran dan mendatangi festival saat bulan-bulan tertentu mengingat mereka kuliah di kota wisata dan budaya. Yang paling membekas diingatan Kirana adalah perjalanan-perjalanan tidak terduga dan terencana yang sering mereka lakukan. Menyesap semangkuk bubur kacang hijau hangat di tengah rasa lapar yang mendera saat melakukan perjalanan ke pantai demi menyaksikan sunrise adalah kenangan favorit Kirana. Dia merasa menjadi gadis paling dicintai saat itu juga.

 

Jika cinta bisa datang dengan tiba-tiba, maka ia juga bisa pergi dengan tiba-tiba. Tanpa pemberitahuan ataupun persiapan. Cinta tidak pernah bilang ‘Besok aku pergi, bersiaplah. Siapkan hatimu untuk tidak terluka. Sayangnya, Kirana tidak pernah tahu bahwa ditinggalkan cinta pertamanya karena tak lagi dicintai alasannya adalah hal yang mampu membuatnya hilang arah dan tujuan. Tidak dicintai karena adanya seseorang yang lebih kekasihnya cintai ketimbang dirinya adalah kenyataan pahit yang musti diterimanya saat itu. Dia berpikir “Setelah semua ia berikan pada kekasihnya, waktu, pikiran dan energi untuk kekasihnya, kini ia harus merasakan pahitnya ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. Saat itu dia merasa dunianya runtuh dalam sekejap. Maklum mungkin karena cinta pertama, di mana ia baru pertama memberikan segala yang ia miliki untuk kekasihnya tersebut, jadi dia merasakan kekecewaan yang mendalam.

Namanya Cinta Pertama pasti sakit. Meski patah hati bukanlah hal yang mampu diredakan dengan amarah dan air mata, nyatanya hanya dua hal itu yang mampu Kirana lakukan saat itu. Dia pernah sampai berpikir kalau baginya, dunia bukan lagi miliknya. Namun, satu hal yang mampu Kirana sadari dengan cepat adalah segera bangkit dan menjadi perempuan yang memilih jalan keluar terbaik demi dirinya terutama mimpi dan masa depannya.

 

Kirana mulai belajar menumpahkan segala kegalauan hatinya melalui tulisan. Ia tuliskan rasa cinta dan kecewa yang pernah dialaminya dalam bentuk puisi dan kumpulan cerita. Ia mulai memposting tulisan-tulisannya di media sosial dan mengenal beberapa komunitas menulis untuk mengalihkan pikirannya. Bagai gayung bersambut, Kirana mulai aktif menulis di situs komunitas menulis fiksi. Berawal dari sajak-sajak pendek, hingga dengan berani Kirana mengikuti sebuah kompetisi menulis sajak maupun cerita pendek dalam sebuah proyek, di mana jika beruntung tulisannya akan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul ‘Aku dan Hujan’ bersama karya-karya 49 penulis lainnya.

 

Kini Kirana lupa bagaimana rasanya patah hati, menurut rekan-rekannya yang tahu bagaimana jatuh bangunnya dia untuk melupakan masa lalunya, Kirana disebut sebagai remaja tangguh. Kini Kirana nampak tangguh dari sebelumnya. Bukan lagi remaja cengeng yang kehilangan dunianya karena patah hati. Meskipun tulisan-tulisan Kirana seluruhnya adalah tentang Dia dan cinta pertamanya. Kirana mampu membuktikan bahwa terluka bukanlah akhir dari segalanya. Dan menjadi perempuan tangguh adalah pilihan. Pilihan yang harus kita perjuangkan seperti halnya menjadi bahagia.

 

Kini 7 tahun telah berlalu, Kirana mampu mengingat cinta pertamanya dengan derai tawa panjang dan bahagia. Apalagi jika mengingat Ia sempat lolos di kompetisi menulis saat itu. Ia merasa bangga tulisannya mejeng  di gerai buku ternama dan website. Rupanya, patah hatilah yang membuatnya menjadi dewasa dan mampu berkarya. Kini Kirana sudah bekerja, ia mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai Chief Editor dan Penulis di salah satu penerbit di kota Jogja. Pekerjaan yang diraihnya kini adalah pekerjaan impiannya sejak masih remaja.

 

Kini Kirana mengerti, menjadi perempuan tangguh adalah bagaimana menyayangi dan menghargai diri kita sendiri terlebih dahulu, baru pintu yang lain akan terbuka Pintu Rezeki, Karir dan Jodoh. Bulan depan Kirana akan melangsungkan pernikahannya yang pasti bukan dengan cinta pertamanya yang sudah dia tutup bukunya, melainkan dengan pria yang dikenalnya ketika menghadiri Seminar tentang Pernikahan, doanya adalah pria tersebut adalah cinta terakhir untuk Kirana, kelak sampai akhir hayat.

 

Well Ladies, dari pengalamannya tersebut dia belajar :

  1. Bahwa menjadi perempuan tangguh itu adalah pilihan, dengan memilih untuk tidak mengambil jalan negatif meski kita di dera masalah yang pahit sekalipun. Maka Tuhan pasti akan memberikan jalan, memang tidak instan dan terasa rumit melewatinya tetapi itu “Pasti” janji-NYA maka tetap bersabar dan bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Wait and See the results!

 

  1. Tangguh bukan berarti keras, tangguh berarti tetap tenang dan mampu menerima keadaan dalam bagaimana pun pahitnya situasi, tidak berlama-lama merasakan keterpurukan. 

 

  1. Terakhir menjadi perempuan tangguh adalah ia yang bisa mengambil energi dari keterpurukannya hingga bisa menghasilkan karya dan mewujudkan mimpinya.

 

 

 

sumber gambar: "Designed by Freepik"



Nesiana Yuko Argina

No Comments Yet.