Aku Pernah Galau, Meninggalkan Buah Hati Untuk Bekerja


Friday, 21 Jul 2017


Rasa bersalah meninggalkan anak-anak untuk bekerja sepertinya menjadi beban mental yang sangat berat yang terpaksa harus saya bawa setiap hari ke kantor. Mungkin bukan cuma saya, tapi setiap ibu bekerja pasti pernah atau bahkan sedang merasakan nya saat ini.

 

Sejak menikah saya selalu berpikir bahwa saya akan tetap bekerja saat nanti punya anak. Tapi setelah anak pertama lahir saya jadi berubah pikiran, saya tidak tega meninggalkan si bayi yang masih ASI eksklusif untuk pergi bekerja. Walaupun suami dan keluarga mendukung saya jika ingin kembali bekerja. Saya sangat menikmati peran menjadi ibu baru, tapi keinginan saya untuk kembali bekerja masih selalu ada. Apalagi di saat saya bertemu teman-teman yang masih bekerja, semakin lama saya jadi merasa tidak bersemangat dan jadi merasa tidak berharga sehingga membuat saya sering marah-marah pada anak dan suami saya. 

 

Maka saat anak berumur hampir satu tahun dan sudah melewati tahap ASI eksklusif, saya memutuskan untuk kembali bekerja. Saya mulai meyusun rencana dan menyiapkan segala sesuatu nya. Beruntung saya memiliki asisten rumah tangga yang bisa dipercaya karena sudah bekerja lebih dari 10 tahun untuk menjaga anak saya, ditambah ada ibu mertua saya yang akan membantu mengawasi nya. Toh kantor tempat saya akan bekerja pun berjarak cukup dekat dari rumah sehingga saya tidak perlu menghabiskan waktu dan energi di perjalanan. 

 

Hari-hari pertama bekerja berjalan lancar, anak saya tidak rewel saat ditinggal bekerja. Saya pun masih bisa mengurus dan bermain dengan anak sebelum berangkat dan setelah pulang kerja. Tapi tetap saja setiap berangkat bekerja saya selalu merasa bersalah karena harus meninggalkan anak, saya selalu merasa ketakutan akan terjadi apa-apa dengan anak saat saya tidak dirumah. Saya takut anak jatuh, salah makan, sampai sering ketakutan anak diculik. Perasaan seperti itu lama-lama membuat saya tertekan dan membuat saya kurang produktif di kantor. 

 

Puncaknya adalah saat anak saya jatuh sakit, padahal hanya sakit demam yg biasa dialami anak balita pada umum nya. Saya langsung merasa keputusan saya untuk kembali bekerja adalah salah, saya benar-benar menyalahkan diri saya karena mengorbankan anak hanya demi keinginan saya untuk bekerja. Setelah anak sembuh pun saya sempat berpikir untuk mengundurkan diri dari kantor dan kembali menjadi full time mom. Tapi berkat dukungan keluarga dan atasan saya yang tidak mempermasalahkan jika saya izin saat anak sakit, saya pun kembali bekerja seperti biasa nya. Tapi rasa bersalah tersebut tidak pernah berkurang, saya menjadi overprotektif terhadap anak dan memiliki kecenderungan memberikan barang dan mainan yang tidak dibutuhkan anak demi membayar rasa bersalah tersebut. Saya jadi terlalu memikirkan keadaan rumah saat di kantor sehingga banyak pekerjaan tidak selesai dan menjadi pikiran saat di rumah bersama anak. Semakin lama perasaan saya semakin tidak menentu, mood saya menjadi tidak terkontrol sehingga malah sulit menikmati waktu bersama keluarga. 

 

Saya berpikir sepertinya saya tidak bisa begini terus, saya harus mencari solusi dari semua beban ini. Akhirnya saya banyak membaca berbagai macam buku maupun artikel parenting dan berbagi cerita dengan ibu bekerja lain nya. Dari semua buku yang saya baca dan berbagai obrolan di forum ibu bekerja sepertinya kesimpulan yang saya dapat adalah bukan masalah ibu bekerja atau tidak bekerja karena "anak hanya butuh ibu yang bahagia". Maka seorang ibu jika ingin anak yang bahagia harus berusaha bahagia terlebih dahulu. Saya jadi sadar bahwa sumber masalah yang selama ini membuat saya menjadi tertekan dan tidak bahagia adalah rasa bersalah saya karena bekerja bisa membuat saya lebih bahagia.

 

Saya sadar bahwa saya tidak bisa melawan rasa bersalah tersebut, akhirnya saya menerima dengan ikhlas. Saya jadi berpikir saya bekerja atau tidak toh akan tetap ada waktunya anak-anak akan sakit, sekuat apapun saya berusaha menjaga akan ada saatnya anak-anak akan terjatuh atau merasa sedih. Ternyata selama ini saya terlalu keras dengan menyalahkan diri sendiri, maka hal pertama yang saya lakukan adalah memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri. 

 

Sekarang saya sudah memiliki 2 orang anak dan saya tetap bekerja, saya selalu berusaha menjalani hari-hari dengan ikhlas. Saya berusaha hidup dan menikmati setiap momen nya tanpa selalu berpikir "seandainya" atau "seharusnya". Saat di kantor saya menikmati momen bekerja dan saat dirumah saya benar-benar menikmati momen bersama anak-anak.

 

Walaupun kuantitas waktu bersama anak menjadi terbatas karena saya bekerja, tapi kualitas waktu saat bersama anak-anak menjadi lebih baik. Dengan memiliki ibu yang bekerja saya berharap anak-anak perempuan saya bisa belajar bahwa dengan kerja keras mereka bisa menjadi apapun yang mereka cita-citakan. Saya juga selalu mengingatkan anak-anak bahwa saya bekerja untuk kepentingan kami sekeluarga, dengan saya bekerja mereka bisa sekolah di sekolah yang lebih baik dan bisa menikmati liburan keluarga. Saya melihat anak-anak tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dan belajar menghargai waktu dan uang sejak kecil. Saya menjadi lebih bahagia menikmati setiap waktu dalam hari saya, dan tentunya anak-anak pun sepertinya menjadi lebih bahagia bersama ibu yang tidak overprotektif dan selalu marah-marah. 

 

Banyak hal yang bisa membuat kita menyalahkan diri sendiri dan membuat kita merasa menyesal. Tapi  tidak ada guna nya menyesal dan meratapi keadaan yang malah seringnya menimbulkan masalah lain dalam hidup. Saya percaya dengan niat baik dan keikhlasan kita selalu bisa belajar untuk memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri. Memaafkan diri sendiri membuat kita lebih dekat dan memahami diri kita sendiri, sehingga kita bisa memperbaiki diri dan membuat keadaan menjadi lebih baik.  



Rara

Mom of two adorable daughters. Love books, yoga and photography. Living life gratefully.


13 Aug 2017 10:02

Ah.. aku sukaaaa... kegalauan & rasa bersalah ke anak pas lagi kerja, pas stress karena kerjaan tanpa sadar berdampak ke anak. Jadi ga mood ngapa-ngapain. Seperti biasa, tulisan mommy berikut caption-caption di ig sukses bikin saya baper. Keep writing beb ????????