Aku Memilih Kebahagiaanku, Melepaskan Dia Yang Mengecewakanku


Friday, 19 Jan 2018


Saat kuliah saya mulai berpacaran serius dengan seorang lelaki teman kerja saya sebut saja namanya A, dan kami berpacaran kurang lebih selama hampir 3 tahun. A selalu membicarakan keseriusan hubungan kami dan setelah satu tahun dia mengajak saya untuk ke arah yang lebih serius lagi yaitu menikah. Saat itu tentu saja saya ragu karena saya tidak pernah memikirkan hubungan sampai se serius itu walaupun saya sudah merasa cocok dan cukup menyayangi dia. Akhirnya kami mencari jalan tengah yaitu memutuskan untuk tinggal bersama, karena saya pikir tidak ada salah nya jika memang suatu hari akan menikah toh kami tentu akan lebih mengenal dengan baik. Memang hal  ini sangat bertentangan dengan norma masyarakat di Indonesia, tapi mungkin saya memang tipe orang yang tidak terlalu memusingkan omongan orang diatas kepentingan diri saya sendiri.

Orang bilang sedekat atau sesering apapun kita dengan seseorang, kita baru akan bisa melihat sifat asli nya saat tinggal serumah. Ternyata hal ini bukan hanya sekedar “kata orang”, terbukti setelah hampir setahun kami tinggal bersama saya semakin melihat begitu banyak nya ketidakcocokan antara kami berdua karena sifat asli kami berdua mulai muncul seiring berjalan nya waktu. A menjadi sangat posesif dan selalu penuh curiga. Dia akan cemburu dengan setiap teman lelaki saya sehingga melarang saya berteman dengan lawan jenis. Dia selalu mengantar jemput saya saat kuliah atau kerja, bahkan rela mengorbankan pekerjaan nya demi menjemput atau menemani saya. Saya juga  harus selalu menemani saat dia pergi bersama teman-teman nya dan begitu juga sebaliknya, padahal kadang kita perempuan juga ingin berkumpul dengan teman sesama perempuan tanpa harus membawa gandengan kan. Handphone pun setiap hari selalu diperiksa, padahal saya tidak pernah melakukan hal itu terhadap dia. Setiap hari ada saja hal yang akan memicu keributan diantara kami, dan selalu masalahnya adalah dia selalu curiga dan cemburu terhadap saya atau karena dia merasa saya terlalu cuek dan tidak perhatian seperti yang dia berikan kepada saya. Loh saya kan memang bukan tipe perempuan posesif yang selalu curiga.

Lama-lama saya merasa hubungan ini menjadi sangat melelahkan, seperti nya kami tidak akan pernah menemukan solusi dari perbedaan prinsip dan karakter dalam hubungan ini. Sifat saya yang santai dan tidak suka di kekang dan sifat posesif pacar saya ini tentu akan selamanya menciptakan ketidakcocokan dalam hubungan kami. Saya semakin merasa tidak bahagia berada dalam hubungan ini, saya merasa selalu tertekan dan ketakutan. Takut salah ngomong, takut salah bertindak karena salah sedikit saja bisa menimbulkan pertengkaran yang sepertinya tidak ada habisnya. Untuk saya yang sangat tidak suka dengan ribut-ribut dan drama, bertengkar menjadi hal yang sangat menyiksa. Saat saya merasa semakin tidak mungkin meneruskan hubungan, A justru tambah menuntut untuk membawa hubungan kami ke jenjang pernikahan. Saya yang memang merupakan pribadi yang tidak suka dikekang semakin merasa tidak mungkin bisa hidup selamanya dengan tipe lelaki seperti itu.

Akhirnya setelah hampir 2 tahun tinggal bersama saya memutuskan untuk berpisah secara baik-baik dengan A . Tapi tentu saja A tidak setuju untuk berpisah. Segala cara dia lakukan untuk mempertahankan hubungan kami, dia selalu berjanji untuk merubah sifat posesif nya tapi tentu saja gagal karena memang itu adalah sifat dan karakter dia yang tidak bisa dirubah. Saya pun tidak pernah menuntut dia untuk merubah sifat nya, karena menurut saya jika memang sudah tidak cocok ya sebaiknya berpisah. Dari mulai memohon sampai mengancam untuk melukai dirinya sendiri, bahkan sampai berusaha untuk bunuh diri dilakukan oleh A untuk membuat saya merubah keputusan berpisah. Tapi hal itu malah membuat saya semakin mantap dengan keputusan saya untuk berpisah dari nya, saya tidak mau mempertahan kan hubungan hanya karena rasa kasihan. Justru saya harus lebih kasihan pada diri saya jika terus bertahan dalam hubungan yang tidak akan membuat saya bahagia.

Akhirnya saya berhasil keluar dari hubungan yang tidak sehat tersebut, hubungan yang benar-benar menguras saya secara mental maupun emosional. Tapi saya tidak pernah menyesali segala hal buruk yang sudah terjadi, karena pengalaman tersebut membuat saya belajar bahwa kebahagiaan diri sendiri hal yang sangat penting. Banyak perempuan yang mengorbankan kebahagiaan nya hanya karena rasa kasihan atau rasa takut hidup sendiri, dan terkungkung dalam hubungan yang sangat tidak sehat secara fisik maupun mental. Dari pengalaman buruk itu juga saya jadi lebih mengerti diri saya sendiri, mengerti apa yang saya butuhkan dari seorang pasangan. Sehingga setahun kemudian saat saya dekat dengan seorang laki-laki, saya tahu bahwa kami berdua sepertinya bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Hal ini terbukti, saat ini kami sedang merayakan hari jadi pernikahan ke-9, bersyukur atas 9 tahun pernikahan yang tidak kurang dari kata bahagia ini.

Jadi jika ada pertanyaan apa arti bahagia dan kesuksesan dalam suatu hubungan. Jawabannya adalah jika saya kaitkan berdasarkan pengalaman saya bahwa “Kesuksesan dalam setiap hubungan itu dengan bisa menjadi diri sendiri, apa adanya sehingga bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing tanpa berusaha mengubah jati diri pasangan. Pengorbanan itu perlu, tapi bukan berarti harus mengorbankan kebahagiaan diri sendiri. Karena kalau diri sendiri tidak bahagia mustahil bisa membangun hubungan yang bahagia. Intinya adalah memulai kebahagiaan dari dalam diri sendiri, kitalah dalangnya yang menciptakan kebahagiaan dan kesuksesan untuk diri kita sendiri. Bukan pasangan, bukan sahabat, bukan keluarga, bukan materi kekayaan atau uang, bukan jabatan maupun status sosial yang menciptakan kebahagiaan di hati kita dan kesuksesan dalam suatu hubungan, tapi muaranya berasal dari diri kita.



Rara

Mom of two adorable daughters. Love books, yoga and photography. Living life gratefully.

No Comments Yet.