Aku dan Orang Tuaku Juga Manusia (Bisa Salah)


Wednesday, 15 Aug 2018


“Jika seorang anak menjadi pembohong itu karena orangtuanya menghukum terlalu berat

Jika seorang anak menjadi pengecut, pemalu dan pemalas itu karena orangtua selalu membela dan memanjakannya”

Jika seorang anak menjadi pencuri itu karena orangtua tidak mengajarinya memberi

Jika seorang anak tidak percaya diri itu karena orangtuatidak pernah memberi dia semangat

Jika anak tidak menghargai orang lain itu karena orangtua berbicara terlalu keras padanya

Jika seorang anak menjadi pemarah itu karena orangtua kurang memuji dan mengapresiasinya

“How Can you expect your child to learn to control his own emotions, if you dont control yours”

Kutipan tersebut menegaskan bahwa peran orangtua sangat besar untuk membentuk pribadi anak-anak mereka,  Karena anak adalah cerminan bagaimana orangtua mendidik dalam perjalanan membesarkannya.

Saya ingin cerita tentang bagaimana Ibu saya membesarkan anak-anaknya (saya dan ketiga orang adik saya). Saya anak pertama dari 4 bersaudara, ketika usia saya 3 tahun saya sudah punya adik bayi. Mungkin dari sinilah karakter mandiri saya terbentuk. Disaat usia segitu harusnya masing ditimang-timang, saya sudah tidak lagi bisa digendong-gendong Ibu karena sudah punya adik.  Berangkat sekolah sendiri kadang diantar jemput nenek, dan hiingga usia saya menginjak 13 tahun saya memang dekat sama nenek daripada sama Ibu, yang saya ingat dan nenek juga cerita kalau saya dari kecil selalu iku kemanapun nenek pergi. Yaa...bisa dibilang sudah seperti anak kandungnya padahal cucunya. Karena ketika adik saya yang masih kecil pun sudah punya adik lagi dan lagi heehee...jadilah Ibu mungkin semakin sibuk dengan adik-adik saya. Bukan berarti lupa sama saya, hanya saja saya jadi tidak begitu dapat perhatian Ibu saat masih kecil.

Saya pun tua sebelum waktunya, saya membantu Ibu untuk mengasuh adik-adik saya yang masih kecil. Meski tidak terlalu diperhatikan Ibu, namun beliau sangat memanjakan semua anak-anaknya termasuk saya. Saya minta ini di beliin minta itu dibeliin, pingin makan ini itu tinggal merengek nangis aja langsung dibeliin.

Ketika kami sudah pada remaja, pekerjaan rumah pun Ibu tidak terlalu memaksakan anak-anaknya untuk mencuci pakaiannya sendiri atau beres-beres rumah, menurut Ibu tugas ini adalah tanggung jawab Ibu jadi anak-anak sekolah dan kuliah saja tidak perlu memikirkan pekerjaan rumah tangga. Tetapi karena saya anak perempuan Ibu satu-satunya saya pun inisiatif untuk membantu Ibu menjaga adik-adik saya, mencuci piring, menyetrika pakaian, mencuci pakaian saya sendiri, dan mengepel lantai tanpa Ibu minta saya kerjakan. Karena saya nggak enak lihat rumah berantakan. Yang  jarangsaya lakuakan adalah membantu Ibu memasak, karena saat itu malas ke dapur panas heeheee.

Meski saya yang berinisiatif bantu pekerjaan ibu dirumah, saat itu Saya sempat kepikiran kok adik saya yang laki-laki nggak ada yang mau sih (pada malas banget mau bantu ibu, paling bisa bagi- bagi tugas jadi nggak di bebani ke Ibu atau ke saya semua. Saya pernah katakan itu ke Ibu, dan jawaban ibu cukup membuat saya heran. Kata Ibu “masa anak laki-laki di suruh cuci piring, pakaian, mengepel lantai dan menyetrika baju?. Akupun menjawab saat itu dengan nada sedikit kesal, kok dibedakan sih, bukannya anak laki-laki dan perempuan itu sama bu ? kan mereka juga punya tangan, mereka juga makan nasi pakai piring, sendok dan gelas mereka juga memakai baju mereka sendiri, masa iya mereka juga nggak mau bantu membersihkannya bu ? itu kan bekas mereka juga yang pakai? Lah gimana mereka nanti suatu saat hidup sendirian atau saat mereka menikah nanti bisa kualahan bu karena mereka nggak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga sehari-hari” jawabku.

Saat itu Ibu malah memarahiku, kata Ibu kalau memang kamu nggak ikhlas bantu Ibu ya sudah nggak usah dibantu biar Ibu mengerjakan sendiri. Saat itu saya dibilang tidak mau membantu tapi malah menyalahkan adik-adik saya. Well, saya pikir ya sudahlah, Sikap ibu yang memanjakan kami terus berlanjut hingga kami tumbuh dewasa. Ibu tetaplah Ibu, ia kerap membela anak-anaknyanya di depan orang lain meski kami tahu posisi kami salah, tapi Ibu tetap terus membela kami ibu sering bilang “namanya anak kandung orangtua akan rela kaki jadi kepala, kepala jadi kaki demi kalian anak-anak Ibu dan bapak” cetar ya kalimatnya. Siapa sangka dari kalimat ini juga membawa saya dan ketiga orang adik saya menjadi pribadi yang bisa dibilang mendapat pengajaran perilaku parenting yang keliru dari orangtua kami.

Terasa sekali ketika masing-masing dari kami sudah ada yang berkuliah dan bekerja, adikku yang pertama, aku lihat ia sangat pendiam dan pemalu sekali. Bahkan ia tidak mau bertemu orang luar apalagi harus sampai terlibat percakapan dengan orang lain. Ketika disapa orang lain dijalan atau lewat di depan tetangga ia jarang menjawab. Dengan Ibu dan bapakpun ia jarang bicara, ngobrol apalagi dengan saya kakaknya. Bicarapun seperlunya, bahkan bapak sempat pernah berdu argumen dengannya guna menanyakan mengapa sifat dia seperti itu, Ia tidak mau bergaul dan sulit bersosialisasi. 

Kini mereka jadi anak-anak yang rendah diri dan bahkan cenderung kurang bisa bersosialisasi dengan orang lain. Salah satu contoh yang sering aku lihat adalah ketika ada tamu/orang lain/asing datang kerumah ia lebih memilih memanggilku untuk menemui tamu tersebut atau malah melenggang pergi masuk kamar ketimbang menghampiri tamu tersebut atau sekedar menyahut salam dari orang lain yang datang kerumah. Saya sendiri  pernah menegurnya berkaitan dengan ini. Menurut saya iya kurang bisa menjaga sikapnya ketika berhadapan dengan orang lain, banyak lagi sikap-sikap adikku lainnya yang aku pikir adalah buah dari hasil didikan Mama yang kerap memanjakan, melarang-larang sambil menakut-nakuti anaknya. Dan ketika hal tersebut saya beritahukan ke Mama, Mama hanya mengatakan nggak apa-apa adik kamu memang sifatnya pemalu.

Begitupun dengan sikap adikku yang nomor dua dan tiga, mereka tidak bisa mandiri meskipun sudah pada remaja.  Buatku Ibu memang terlalu baik, bahkan di usia anak-anaknya yang sudah beranjak remaja beliau tetap mencucikan pakaian ketiga adikku. Mungkin kalau saya bukan anak pertama dan jiwa saya tidak mandiri sikap saya juga akan sama seperti ketiga orang adik-adik saya. Hanyut dalam buaian Ibu saya.

Kini anak-anak Ibu termasuk saya sudah pada menikah, dan sangat jelas terasa sekarang sama saya sendiri gimana sulitnya menjadi pribadi mandiri. Saya saja yang dari dulu sudah membiasakan diri untuk tidak mau terlalu bergantung sama orang tua harus terseok-seok membiasakan diri menjadi seorang istri dengan mengurus rumah tangga seorang diri tanpa asisten rumah tangga. Meski suami juga terlibat membantu tapi terasa sekali kalau tugas menjadi seorang Ibu mengurus pekerjaan rumah tangga sangat berat dan banyak. Aku sempat berpikir saat sudah menikah, kasihan Ibu untung dulu itu aku sempat membantunya juga mengurus pekerjaan rumah setidaknya aku belajar dan juga membantu Ibu meringankan tugasnya. 

Bagaimana dengan 3 orang adik-adik saya ? mereka laki-laki memang jadi mungkin para istrinya tidak terlalu membebankan mereka tugas rumah tangga (walaupun menurutku seharusnya mereka membantu para istrinya meringankan tugas mereka juga setidaknya mencuci piring atau menyetrika pakaian). Betapa tercengangnya saya saat ibu sempat bercerita padaku bahwa ketiga orang istri dari adik-adikku sempat berkeluh kesah pada Ibu, tentang bagaimana sikap adik-adikku ketika dirumah bersama istrinya. Adikku yang pertama istrinya mengeluh mengatakan bahwa suaminya kalau mau dimintakan tolong membeli sesuatu di warung selalu nggak pernah mau bahkan untuk angkat air ke galon saja ia tidak mau melakukannya. Adikku yang nomor tiga dan keempat juga sama keluhan istri mereka pada Ibuku, dimana saat istrinya baru saja melahirkan anak mereka, adik-adikku sebagai suaminya tidak bisa membantu sama sekali untuk meringankan tugas istrinya yang habis melahirkan salah satu contoh kecilnya saja seperti membuat kopi. Padahal saat itu istrinya baru saja melahirkan secara Cesar section yang masih sulit bergerak. Adikku bisa dengan entengnya meminta istrinya membuatkan kopi. Itu salah satu contoh dari beberapa keluhan lainnya yang dilontarkan istri-istri mereka pada Ibuku.

Lalu mulai saat itu, ibuku memanggil aku dan ketiga orang adikku beliau meminta maaf pada kami bahwa selama ini beliau sudah keliru dalam mengekspresikan kasih sayangnya. Ibuku bilang ia tidak tahu kalau hal-hal kecil yang memanjakan anak dapat memberi pengaruh besar ketika anak sudah tumbuh dewasa. “Ibu pikir dengan ibu memberi perhatian dan melayani lebih, membela habis-habisan ketika kalian di perlakukan tidak baik oleh orang lain dan menuruti semua mau kalian akan membuat kalian menjadi anak-anak yang bahagia memiliki Ibu seperti Ibu, ibu pikir inilah wijud sayang ibu ke kalian. Tapi ternyata cara Ibu ini salah, ini malah membuat kalian semakin terbuai dalam kemalasan dan ketidakmandirian. Kalian terbiasa dilayani Ibu jadi ketika dewasa dan sudah berumah tangga kalian tidak bisa mengerjakan apa-apa, tidak tahu cara membantu orag lain dan tidak terbiasa melayani karena sudah seringnya dilayani sama Ibu”. Akumewakili adik-adikku sebagai seorang anak juga meminta maaf pada Ibu, karena selama ini kami juga tidak tahu etika bagaimana cara memperlakukan orangtua. Seharusnya aku sebagai kakak dari adik-adikku bisa lebih keras mengarahkan mereka untuk lebih mandiri, bukan malah seperti mengamini mereka seolah memanfaatkan kebaikan Ibu yang senang melayani. Kami juga seharusnya berpikir untuk tidak terlalu bergantung dengan orangtua karena bagaimanapun kami setelah dewasa pastinya akan hidup dengan pasangan masing-masing, yang notabene kami harus mandiri.

Ibuku bilang, semua belum terlambat. Adik-adikku masih bisa belajar dari para istri mereka serta tidak melakukan hal yang sama ke anak-anak kami di kemudian hari. “Pastinya bu!” Aku katakan itu pada Ibu. Mulai saat itu, Adik-adikku mulai berubah, berubah bukan karena Ibu tapi karena mereka telah menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk saling bekerjasama dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, bukan membebankan sepenuhnya pekerjaan rumah pada para istri mereka. Kini mereka mulai belajar tumbuh bersama para istrinya untuk lebih care dan saling membantu  meringankan tugas dirumah tangganya.

Pembelajaran apa yang aku dan orangtuaku dapat : 

  1. Orangtuaku terutama Ibu mengajarkan aku bagaimana menjadi orangtua yang bijak beliau tidak sungkan meminta maaf pada anak-anaknya ketika ia tahu cara pengasuhan yang diterapkannya keliru. Ia tidak sungkan untuk mengakuinya secara terbuka pada aku dan adik-adikku. Akupun suatu hari nanti ketika anakku sudah beranjak dewasa juga harus bisa bijak seperti kedua orangtuaku, tidak akan malu meminta maaf dan mengucapkan terimakasih pada anak karena orangtua bisa salah, aku juga sebagai anak bisa salah karena kami hanya manusia biasa, jadi hubungan kami ada untuk saling mengingatkan dan terbuka terhadap masukan.
  1. Aku belajar dari orangtuaku bahwa tidak perlu menganggap diri kita sebagai orangtua maupun kita sebagai anak merasa lebih pintar daripada orangtua maupun anak hanya karena kita lebih tua atau hanya karena kita lebih tahu. Saat aku dan orangtua berbeda pandangan bukan berarti dengan melawan mereka adalah penyelesaiannya, berkomunikasilah dengan kata-kata yang baik dan tidak menyakiti  Aku dan orangtuaku menghindari baper dan hanya berasumsi negatif. Daripada aku hanya menduga-duga lebih baik aku komunikasikan dengan mereka seperti pengalamanku itu, aku tidak mau ada unek-unek buruk yang aku labelkan ke orangtua meskipun aku tahu mereka yang salah. Tidak mengedepankan asumsi, emosi dan ego masing-masing jika memang berbeda pandangan.
  1. Aku belajar juga bahwa alangkah baiknya mendidik anak dari masih kecil untuk terbiasa mandiri (membiasakan mereka cuci baju sendiri, membantu orangtua dan hal – hal kecil dirumah yang sering aku dan ibu abaikan) karena dengan mengajak mereka belajar itu semua lebih dini membiasakan mereka mandiri, jadi suatu saat mereka harus hidup tanpa orangtuapun atau ketika mereka sudah menikah baik laki-laki atau pun perempuan mereka tidak hidup dari dilayani saja tetapi juga bisa melayani dan bisa mengerjakan apapun sendiri. Itu aku belajar banget dari pengalaman tersebut.

 Well Urbanesse, jadi sebenarnya bukan hanya orangtua saja yang bisa salah, akupun sebagai anak juga bisa salah, karena kami hanya manusia biasa. Alangkah lebih baik bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan ucapkan dengan kata-kata yang baik pada mereka, seperti itu bukan ?:)

 



Rika

No Comments Yet.