Aku Bukan Perusak Hubungan Orang


Wednesday, 14 Mar 2018


Siapa sih wanita yang hatinya tidak sakit, marah dan kecewa ketika mengetahui bahwa kekasih yang akan menikahinya ternyata menduakannya. Secara manusiawi kecewa, marah, sedih dan sakit hati itu pasti namun dalam cerita ini saya ingin menceritakan bagaimana cara saya menanggapi hubungan yang saya jalani dalam kondisi buruk meski saya sangat kecewa saat itu.

Saat itu Mei 2008 saya menjalin hubungan dengan seorang pria sebut saja namanya Diego (bukan nama sebenarnya). Selama bersama Diego hubungan saya selalu di warnai dengan putus nyambung, karena saat itu hubungan kami kerap di warnai dengan pengkhianatan, Diego 2 kali katahuan menduakan saya. Puncaknya adalah ketika ia ternyata menjalin hubungan dengan teman SMP-nya. Sayapun saat itu memilih langsung mengakhiri hubungan karena saya pikir yaa..untuk apa mempertahankan seseorang yang sudah tidak memiliki keseriusan dan niatan baik dalam hubungan ini, saya kecewa tapi saya memilih untuk tidak mau bereaksi marah yang berlebihan, yang saya lakukan saat itu adalah tetap berpikir jernih kalau pria bukan hanya Diego saja yang mau sama saya. Kalau ditanya memang tidak cinta ? saya mencintai Diego tetapi saya memilih pria yang menghargai saya bukan malah membuat saya kecewa setiap waktu.

Bahkan teman saya sempat mengatakan pada saya begini “Kalau saya jadi kamu sudah saya samperin ke kampus itu perempuan yang sudah merusak hubungan kamu dengan Diego, saya pasti  ajak dia ribut dan bikin malu dia supaya teman-teman kampusnya tahu juga kalau dia itu perebut pacar orang lain” Terang Desi teman saya yang saat itu cukup emosional ketika tahu bahwa Diego kembali menduakan saya. Saya katakan pada Desi, bahwa ketika kita sedang sangat marah dan kecewa pada relationship yang buruk lalu kita lampiaskan kemarahan kita itu pada wanita yang “di duga” perusak relationship kita, itu berarti kita bukan mencari solusi tetapi mencari masalah baru.

Kalau saya marah pada selingkuhannya Diego, berarti saya tidak ada bedanya dengan wanita tersebut sama-sama tidak memiliki attitude yang baik. Lagipula saya pikir bisa jadi si wanita tersebut juga korban dari Diego yang “mungkin” ia tidak tahu bahwa Diego telah memiliki pacar atau mungkin dia tahu tapi Diego memaksanya untuk menjadi kekasihnya dan kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak bisa saya duga-duga saja alasan wanita itu bisa dekat dengan Diego, yang pasti adalah Diego sudah mengkhianati kepercayaan yang saya berikan padanya.

 Jadi, dengan bersikap emosional hingga harus melabrak perempuan tersebut buat saya itu bukan solusi. Urusan saya adalah dengan pasangan bukan dengan wanita itu, maka dari itu saya lebih memilih menyelesaikannya langsung dengan Diego, syukurnya adalah Diego mengakui bahwa ia memang menjalin hubungan dengan teman SMP-nya itu (point ini ia berani jujur)  namun apapun alasan Diego kali ini, saya dengan tegas lebih baik memilih mengakiri hubungan ini agar tidak terjadi kecewa berkelanjutan dan Diego bisa dengan tenang menjalani hubungan dengan wanita tersebut, nggak perlu ngumpet-ngumpet lagi. Walau saat itu Diego menolak untuk berpisah dengan saya, tetapi saya pastikan padanya bahwa kita berdua tetap berhubungan baik saja sebagai teman. Sedih, kecewa dan sakit hati itu manusiawi, iya itu saya alami namun saya tidak mau berlarut dalam kekecewaan karena hidup terus berlanjut dan saya masih cukup muda untuk menemukan banyak cerita lagi dengan seseorang yang baru. Satu kata Move On!.

Singkat cerita 1 tahun berlalu sejak putus dari Diego, saya sempat menjalin hubungan kembali dengan seorang pria sebut saja namanya Rendi (bukan nama sebenarnya) saya mengenal Rendi baru 7 bulan Rendi pria yang baik dan sangat mengerti saya, dia nampak melindungi saya, tutur bahasanya sangat lembut dan jujur itu membuat saya terpesona saat itu. Namun, dibalik itu ternyata ada kebohongan besar yang ia tutupi ke saya dan baru terbongkar setelah hubungan kami memasuki tahun pertama.

1 tahun menjalani hubungan dengan Rendi, dia pun datang kerumah meminta izin pada orang tua untuk meminang saya. Orangtua saya pun menyerahkan segala keputusan di saya. Namun, memang saya itu tipe orang yang sangat penuh pertimbangan untuk menerima keseriusan dari orang lain, saya minta waktu pada Rendi 1 bulan untuk mempertimbangkannya. Rendi sempat bertanya pada saya, mengapa harus dipertimbangkan seolah-olah saya belum yakin padanya. Bukan tidak yakin, Saya melakukan ini karena saya ingin niatan baik saya dan dia di ridhoi oleh Tuhan dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan..

Mungkin memang sudah jalan Tuhan ingin menunjukkan siapa Rendi yang sebenarnya, jeda 1 bulan untuk saya bisa mempertimbangkan pinangan Rendi tiba-tiba ada seorang perempuan mengirim inbox di facebook saya, dia sumpah serapah memaki saya dengan sebutan perebut suami orang dan macam-macam bahasa kasar lainnya. Sontak saya kaget dan terperangah wanita tersebut mengaku bahwa ia istri dari Rendi yang sudah menikah dengan Rendi selama 2 tahun. “ apa yang sebenarnya terjadi?”. Saya pun tetap tenang dan nggak mau gegabah berpikira macam-macam meski saat itu saya sedih ada seorang perempuan yang tidak saya kenal ujug-ujug langsung memaki saya seperti itu.

Saya hanya menjawab singkat “Selamat siang. Maaf mbak siapa, apakah kita saling kenal ? khawatir takutnya salah orang mungkin ada baiknya kita ketemuan mbak bareng sama suami mbak juga, dengan berbicara dari hati ke hati supaya tidak terjadi salah paham” dan si wanita tersebut kembali memaki saya, dia kembali tidak menjawab dengan baik respon message saya. Oleh karenanya saya memilih untuk tidak merespon lagi inbox dari wanita tersebut. Karena ini kaitannya dengan Rendi langsung saya menghubungi rendi dan memintanya datang ke rumah untuk membahas permasalahan ini. Dihadapan saya dan kedua orang tua akhirnya Rendi mengakui bahwa ia memang sudah menikah dan memiliki seorang istri namun belum memiliki anak. Rendi beharap ia tetap bisa menikah dengan saya dengan menjadikan saya istri kedua. Entah apa yang ada di pikiran Rendi sampai dia bisa mengucapkan kata-kata seperti itu.

Mendengar pengakuan Rendi kembali saya harus di hadapkan pada kondisi dan situasi dimana saya harus tetap tenang dalam menghadapi kenyataan ini namun juga harus tegas untuk mengambil keputusan. Ayah saya sangat marah pada Rendi namun saya coba menenangkan ayah agar tidak terbawa emosi. Saya katakan pada Rendi bahwa seumur hidup saya, tidak ada dalam kamusnya di masa depan saya harus menjadi istri kedua atau mau di madu, Saya pun tidak pernah punya niatan untuk merebut seorang pria yang telah memiliki pasangan karena saya sendiri pun tidak mau di perlakukan demikian. Dulu aja Diego saya putusin karena dia menduakan saya,  apalagi ini saya harus menjadi orang ketiga di tengah pernikahan mereka walaupun saya sangat menyayangi orang tersebut, dimana nurani saya jika kebahagiaan saya diatas kesedihan wanita lain, mau apapun alasan Rendi tetap saya tidak mau hidup diantara mereka berdua dan dianggap sebagai perusak rumah tangga orang “NOPE!”.

Akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri hubungan saya dengan Rendi, saya meminta dia kembali ke istrinya bagaimanapun keadaan istrinya ia harus menerimanya apa adanya bukan malah mengkhianatinya. Sayapun minta di pertemukan dengan istri Rendi agar semuanya jelas dan dia tidak salah paham. Kamipun bertemu saya bersama Ibusaya juga Rendi dan istrinya. Istri Rendi pun meminta maaf pada saya atas semua sumpah serapah yang ia lontarkan di Facebook waktu itu. Dari situ semua clear dan selesai, saya meminta Rendi untuk tidak meninggalkan istrinya dan mengecewakannya karena dikecewakan itu sangat tidak menyenangkan. Sesampainya di rumah Ibu saya menangis, dia sedih dengan nasib saya yang kerap di kecewakan oleh pria, Ibu mengatakan bahwa ia juga bangga pada saya karena saya mampu mengedalikan diri saya dengan tidak tersulut emosi ketika tahu bahwa Rendi yang sangat saya cintai ternyata sudah beristri. Saya katakan ke Ibu saya bahwa lebih baik kecewa sekarang daripada saya salah pilih nantinya ketika saya sudah memutuskan menikah, ibu tambah nggak mau dong saya sampai gagal dalam rumah tangga. Kecewa pasti, sedih banget iya namun kenapa saya bisa kuat? Itu pertanyaan teman-teman saya.

Karena saya selalu menempatkan diri saya menjadi orang lain (gimana kalau seandainya saya ada di posisi istrinya Rendi, bagaimana saya jika ada di posisi sebagai selingkuhannya Rendi) dan saya juga melihat suatu masalah dari berbagai perspektif tidak hanya dari satu perspektif saja.  Agar kita tahu bahwa segala sesuatu itu selalu ada alasannya mengapa seseorang bisa dan mau melakukannya. Dengan memposisikan diri seolah menjadi orang tersebutlah saya bisa kuat menghadapi kerumitan dalam tiap hubungan yang saya jalani ini. Dari cerita saya banyak pelajaran yang saya dapatkan, tentang bagaimana mengelola emosi ketika menghadapi hubungan yang rumit.

  1. Tenangkan dan dinginkan dulu diri kita agar keputusan yang kita ambil adalah benar, baik untuk diri kita dan semua, matang, logis dan keputusan tersebut tidak keluar ketika kita sedang emosional atau dalam keadan marah. Pergilah dulu menyendiri, agar kita bisa berpikir dalam keadaan sudah tidak lagi emosi.
  2. Jangan bereaksi/terpancing emosi, panas pasti apalagi kita mengetahui orang yang kita sayang adalah milik orang lain atau di hak miliki wanita lain, NAMUN kendalikan diri. Saya bisa seperti cerita saya diatas karena saya menanamkan dalam pikiran saya bahwa hidup ini tidak akan berhenti jika orang yang saya sayang meninggalkan saya. Karena yang namanya kehidupan pastinya tidak akan ada yang abadi. Ada saatnya kita akan ditinggalkan atau meninggalkan. Jadi selama saya hidup saya masih akan menemui banyak sekali pria jadi saya pikir buat apa saya meratapi nasib. Life must go on.
  3. Selalu menempatkan posisi kita menjadi diri orang lain, agar kita mengerti dari sisi lain dalam melihat masalah.

Itu cerita saya zaman old Urbanesse, sekarang saya sudah menikah dan memiliki 2 orang anak dan sedang  mengandung anak ketiga. Saya menikah dengan seorang pria yang bernama Diego. Kenapa nikahnya sama Diego ?People change, semua orang bisa berubah termasuk Diego yang dulunya genit dan sering mainin perasaan perempuan kini ternyata Tuhan menggariskan dia adalah jodoh saya. Kami bertemu lagi pada tahun 2012, ada masanya seseorang itu akan lelah ketika ia berpetualang cinta dan akhirnya memilih berkomitmen setelah lelah ia rasakan. Itu kata Diego kepada saya, sepeninggal Ibunya Diego kini jadi lebih baik dalam bersikap. Benar kata orang “Seseorang baru akan tahu rasanya memiliki dan membutuhkan setelah kehilangan terlebih dahulu”.

Pada Februari 2013 kamipun sepakat menikah, dia meyakinkan saya bahwa “He’s the one for Me, Hari itu untuk selamanya, semoga!”. Suatu anugerah bisa dipertemukan lagi dengan Diego yang kini mampu mengubah hidup saya. Dia membawa saya menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan religius dari sebelumnya. Kami masih sama-sama belajar bertumbuh bersama   menjadi pasangan dan orangtua yang lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak mengatakan bahwa saya telah berhasil menjalani rumah tangga, namun saya pastikan saya berhasil memanage emosi saya ketika dulu pernah kecewa. Saya bisa kamupun bisa Ladies, Yuuk..sama-sama kelola reaksi diri lebih positif ketika emosi!.



Rika

No Comments Yet.