Aku Bisa 'Move On'


Wednesday, 19 Jul 2017


 Memaafkan adalah hal terberat, terlebih memaafkan diri sendiri yang berujung pada penerimaan kita terhadap adanya diri kita adalah hal yang bisa dibilang memakan waktu dalam prosesnya, namun akhirnya saya bisa tuh Move On heehee.

 

Jadi ingat beberapa tahun lalu, saat itu 2011 saya pernah mengalami masa-masa sulit untuk bisa move on dan memaafkan diri sendiri karena sering kali salah memilih pasangan dan salah mengira. Pada masa  itu berkali-kali saya kecewa dari mulai diselingkuhi secara terang-terangan sampai yang menghilang tanpa kabar berita. Namun di tulisan ini saya akan ceritakan 1 di antaranya yang paling membekas dan pernah membuat saya menyalahkan diri sendiri.

 

Dengan pria pertama sebut saja namanya Alex, dia teman SMA saya dan kami dipertemukan lagi ketika reuni. Singkatnya 5 bulan kemudian Saya ajak Alex kerumah untuk bertemu dengan kedua orang tua saya pada saat itu tidak ada gelagat sama sekali yang Alex tunjukan bahwa dia tidak serius pada saya, Ayah saya langsung menanyakan tentang tindak lanjut hubungan kami ini dan meminta Alex untuk segera menikah dengan saya, Alex dengan wajah cerianya mengamini dan mengatakan akan segera membawa orangtuanya untuk mengantar dirinya melamar saya.

 

Pada saat itu saya cukup bahagia karena keseriusan Alex atas hubungan ini. Dua minggu berlalu dari pertemuan Alex dengan orangtua saya, tanpa ada kabar berita, ponselnya pun sulit saya hubungi Alex tiba-tiba menghilang. Bahkan saya ke rumahnya dia tidak pernah ada di rumah kata adiknya, saya berhasil bertemu Ibunya dan betapa terkejutnya saya ketika Ibunya bercerita kalau Alex sebenarnya telah menikah, istrinya berada di kampung halamannya di Sulawesi dengan kedua orang anaknya, dan di Jakarta itu Alex bekerja sebagai kontraktor yang tugasnya berpindah-pindah, makanya istrinya belum bisa dibawa-bawa karena anaknya masih kecil-kecil.

 

Kaget, geram, kesal, bingung dan sedih pada saat itu bercampur jadi satu. Sepulangnya dari rumah Alex saya hanya bingung satu hal yaitu menyampaikan berita buruk ini pada Ayah Ibu saya. Saya sedih dan kecewa sekali pada Alex saat itu. Dia tidak gentleman mengakui jati dirinya. Padahal seandainya dia jujur pun saya pasti menerima keadaan tersebut dan mengakhiri hubungan ini. Daripada semua harus sampai diketahui oleh kedua orangtua saya, jujur pada saat itu saya galau, sedih dan bingung sekali.

 

Tapi saya beruntung mengetahuinya di awal, sebelum semua terlambat. Bersyukur karena dibukakan oleh Tuhan atas kenyataan ini. Waktu sudah berlalu 2 bulan,  Alex pergi dan berlalu dari kehidupan saya dan tidak butuh waktu lama untuk saya bisa move on darinya. Tidak lama muncullah Toni (bukan nama sebenarnya) Toni adalah rekan kerja di kantor saya yang lama saya sering melihatnya tapi tidak terlalu memperhatikan karena mungkin saya terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak pernah memperhatikan sekeliling saya. Enam bulan berlalu, saya mengenal dan dekat dengan Toni meski tidak berstatus hubungan spesial namun kami merasa saling nyaman.

    

Tepat dibulan ke 7 saya meminta Toni dan orang tuanya datang ke rumah untuk melamar saya, karena lagi-lagi saya tidak mau membuang-buang waktu, karena kerap berpikir usia saya yang semakin bertambah jadi suatu hubungan akan lebih baik jika di akhiri dengan pernikahan (pikir saya pada saat itu). Singkatnya saya pun akhirnya dilamar Toni dan tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Saya sangat senang pada saat itu meski sibuk saya menyempatkan fitting baju pengantin bersama Toni, mencetak undangan pernikahan dan membeli pernak pernik souvenir. Kebetulan saya tidak menyewa gedung, pernikahan rencananya diadakan di rumah orangtua saya.

 

Empat minggu jelang pernikahan, undangan pun sudah beres cetak tinggal disebar,  saat itulah masalah pun datang tanpa mengenal waktu dan di luar kuasa saya. Saya ingat betul pada hari itu Minggu siang ada seorang perempuan muda usia sekitar 20 tahunan dengan seorang bapak-bapak datang ke rumah orangtua saya dan dia mengaku telah menikah dengan Toni 2 bulan lalu dan dia mengatakan tengah mengandung anak dari Toni, bapak dari wanita tersebut juga menunjukkan foto-foto pernikahan mereka di kampungnya. Entahlah pada hari itu saya hanya terdiam, sedih, marah, kecewa dan sulit saya ungkapkan perasaan saya pada hari itu. Hanya kelabu yang saya rasakan, begitu pun dengan orangtua saya. Walau kami terus terang tidak mau percaya begitu saja Ayah saya langsung menghubungi Toni dan memintanya untuk datang kerumah untuk mendengar pengakuannya.

 

Benar saja setibanya di rumah, Toni langsung kaget melihat wanita tersebut, saya yang tertunduk lesu tidak berucap apapun pada Toni. Lalu Toni menjelaskan pada Ayah dan Ibu saya tentang semuanya. Lebih kagetnya adalah ketika Toni mengatakan bahwa ia sangat menyayangi saya dan tetap ingin melanjutkan rencana pernikahan kami meski kenyataannya ada wanita tersebut. Sontak saya yang kala itu sedang menahan kesedihan dan kecewa mengatakan ‘tidak’. Pada saat itu saya dengan tegas mengatakan tidak mau ada pernikahan antara saya dan dia meskipun Toni mengatakan bahwa dia lebih memilih saya daripada wanita itu, namun saya tidak bisa dalam pernikahan diawali dengan hal yang tidak baik seperti ini, sebelum terlanjur jauh melangkah saya mengakhiri hubungan dengan Toni di hari itu.

 

Pada saat itu saya sempat merasa menjadi wanita yang bodoh, saya kecewa dan sangat menyesali dengan apa yang terjadi dalam hidup saya, bukan hanya kecewa terhadap Toni tapi dengan diri saya sendiri mengapa  harus dua kali merasakan kepahitan seperti ini.

 

Waktu berlalu saya menutup diri takut memulai lagi dengan pria lain karena masih kecewa dan menyalahkan diri sendiri mengapa selalu buruk nasib percintaan saya, tidak seperti teman-teman saya. Keluh saya saat itu.

 

Ibu saya memberi tahu untuk tidak berlarut dalam rasa bersalah dan kecewa. Karena kata Ibu, ketika kita ikhlas dan bisa memaafkan diri kita atas apa yang terjadi dalam hidup ini, ketika itulah Tuhan akan membukakan jalannya. Karena katanya bagaimana orang lain dapat masuk ke pintu kebahagiaan kita, ketika kita masih mengunci pintu tersebut dengan beragam alasan kecewa dan rasa bersalah. “Seharusnya kamu bersyukur Tuhan memutus langkahmu dengan menunjukkan siapa Toni sebenarnya. Lebih baik gagal di awal daripada ketika kamu sudah memutuskan menikah. Pahit memang tapi telanlah karena disitu kamu belajar ikhlas dan memaafkan diri sendiri. Maafkan Ibu dan Bapak juga yang selalu meminta kamu segera menikah tanpa memikirkan perasaan kamu”, terang Ibu saya.

 

Mendengar pernyataan dari Ibu, saya seperti terkena cambuk semangat untuk membuka lembaran baru hati dan pikiran saya. Saya pikir lagi tidak ada alasan untuk kecewa berlarut-larut dan menyalahkan diri saya sendiri. Jalan saya masih panjang dan masih besar kemungkinan untuk bisa bertemu lagi dengan seseorang yang lebih baik, kesalahan yang lalu itu untuk saya belajar, agar tidak terulang dua kali di masa depan kalau pun sampai terjadi lagi, catat mana hal-hal yang sekiranya adalah sumber yang membuat hal tersebut terjadi lagi, lalu perbaiki untuk kedepannya. Memaafkan diri sendiri memang prosesnya tidak instant ladies. Namun, setahap demi setahap kita harus melewati prosesnya, Caranya ? ini cara saya.

 

  1. Nikmati saja dengan beragam aktivitas yang kita miliki (kalau saya ya dengan bekerja yang baik dan menyenangkan orang-orang yang menyayangi saya Orangtua, Sahabat dan Adik-adik saya, karena ini saatnya)
  2. Bertemanlah sebanyak-banyaknya dari kalangan di atas kita maupun di bawah kita, karena disitulah kita menemukan bahagia, pengalaman dan pembelajaran hidup orang lain. Saya pun belajar dari mereka-mereka Ladies, karena ternyata banyak cerita yang lebih pahit dari kita loh.
  3. Memaafkan diri sendiri dengan menerima segala kekurangan yang saya miliki, “Saya hanya manusia yang masih terus belajar dan dibimbing” jadi nggak boleh minder.
  4. Memaafkan orang-orang di masa lalu, ini memang sulit tapi nggak akan sulit ketika kita sudah menyerahkan segala yang terjadi dalam hidup ini adalah campur tangan Tuhan. Tahu nggak Ladies, ketika Toni menggelar resepsi pernikahannya, saya diundang dan hadir bersama Ibu saya saat itu. Dari situlah hati saya menjadi lebih plong dari sebelumnya.

 

Kata Ibu, Tuhan pasti memberikan pada kita sesuatu itu disaat dan waktu yang tepat, tapi kitanya musti usaha juga dengan terus memperbaiki diri untuk mencapainya. It’s true! Well, Ketika saya menulis ini, saya ditemani kedua buah hati dan suami saya yang sudah tertidur pulas hiiihiii, saya share cerita ini karena menurut saya, ini cara saya yang akhirnya Move On dan memaafkan diri sendiri atas kekecewaan di masa lalu. Tahun 2013 saya menikah, tanpa drama prosesnya, bertemu dengannya di pesta pernikahan sahabat saya, 7 bulan kenal dia langsung melamar saya. Kata orang sih ini namanya jodoh karena prosesnya nggak pakai ribet, tidak seperti sebelumnya. Tapi yang jelas saat ini entah dia jodoh saya atau bukan nantinya, saya berharap dialah yang terakhir untuk saya dan saya untuk dia. Semoga, yaa..!

 

Mengutip kalimat Les Brown sebagai penutup tulisan ini "Maafkan kesalahan dirimu sendiri dan melangkahlah ke depan" Let’s Do it

 

 

 

 

sumber gambar: Created by Jcomp - Freepik.com



Rika

No Comments Yet.