Aku Belajar Berkehidupan Positif & Beriman, Bukan Sekedar Pencitraan


Monday, 20 May 2019


Intinya dulu aku selalu melakukan segala sesuatu karena di suruh orangtua atau ikut –ikutan teman supaya kekinian, tanpa aku pahami manfaatnya buat diriku sendiri. Bahkan bukan hanya ikut-ikutan dalam hal yang positif, tetapi juga hal negatif aku lakukan hanya agar terlihat keren, gaul dan berpikir teman-teman melakukan hal yang sama mengapa aku tidak.

Dulu zamannya dugem (clubbing) dan minum-minum aku pun ikutan seperti teman-teman, sampai aku pernah mendapat marah dari orangtuaku karena tidak pulang kerumah, mereka sangat mengkhawatirkanku, bahkan karena aku takut mereka semakin marah aku tidak bilang kalau aku dugem melainkan aku menginap di rumah teman. Orangtuaku termasuk orangtua yang demokratis sebenarnya, memberi kepercayaan dan kebebasan asal anaknya tahu diri dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Tahun berganti, lingkungan pertemananpun berubah saat itu adalah pengalaman pertamaku bekerja. Aku memiliki teman-teman yang memang senang gaul setelah pulang ngantor belanja-belanja, ngopi dan makan-makan di restoran mahal akupun ikut terbawa kehidupan mereka. Hingga Gaji bulananku tersisa sangat pas-pasan, karena sisanya aku sudah berikan pada orangtuaku. Ya, nggak apa-apa lah yang penting aku masih bisa gaul dan terlihat keren untuk posting-posting di facebook kala itu.

Apapun yang sedang teman-temanku lakukan aku ikuti dari mulai mengumpulkan uang untuk jalan-jalan ke luar negeri hingga ikutan charity yayasan yatim piatu dan menjadi bagian relawan di salah satu rumah ibadah. Setiap kegiatan yang aku lakukan seperti biasa karena saat itu zamannya facebook, segala aktivitas charity dan kegiatan kerohanian yang aku lakukan kerap aku posting. Kali ini bukan juga karena ikut-ikutan teman, tetapi karena aku sedang naksir dengan seorang pria sebut saja namanya Andi, ia teman kuliahku yang di pertemukan kembali di Facebook.

Orangnya aku kenal dari dulu memang baik perilakunya, aku sering memperhatikan Andi dia bukan seperti cowok kebanyakan. Jedah kelas dia lebih ke tempat ibadah untuk melaksanakan ritual ibadah, waktu masih kuliah aku sudah menyukainya tetapi karena jaga image pada teman-temanku yang saat itu adalah anak-anak gaul Jakarta yang senang ke club jadi aku memilih untuk tidak mendekatinya. Bagaimana hebohnya teman-teman gang-ku jika tahu aku naksir cowok alim seperti Andi.

Setelah 7 tahun lamanya kami bertemu lagi di facebook, dia belum menikah dan sudah bekerja. Kami pun saling bertukar nomor telepon, setiap pagi ia selalu mengingatkanku untuk melaksanakan ibadah pagi hari. Sejujurnya aku bukan orang yang senang melaksanakan ritual peribadatan karena Andi-lah saya mulai menjalankannya meski masih belum rutin namun kala itu saya melakukannya demi Andi agar dia tertarik.

Saya jadi senang jika ada kegiatan charity atau mengikuti kajian keagamaan dengan teman-teman saya, lagi-lagi tujuan saya mengikutinya bukan tulus dari keinginan diri saya, melainkan karena saya memiliki kepuasan tersendiri untuk membagikan segala hal yang berkaitan dengan kebaikan namun dibalik itu saya memiliki tujuan yaitu agar di lihat Andi. Andi sering memberikan tanda like di setiap postingan foto aktivitas charity yang saya upload disitu saya sangat bahagia. Saat itu terpikir bahwa saya berhasil menarik perhatian Andi dia pun selalu mengirim saya pesan yang cukup membuat saya senang ia mengatakan bahwa ia kagum pada saya karena kebaikan hati saya ditengah kesibukan saya bekerja saya masih memiliki aktivitas yang positif.

Singkat cerita saya bertemu dengan Andi lagi, kami janjian bertemu di pernikahan salah satu teman kuliah, teman-teman lama di gang-ku yang hadir saat itu sempat kaget saat aku datang ke pernikahan tersebut bersama Andi. Bahkan salah seorang temanku langsung terus terang mengatakan ‘ada angin apa Saya bisa jadi dekat dengan Andi” ia mengatakan “seketika mendadak alim ya karena cowok’ seraya mereka tertawa. Andi pun tertawa.

Namun, aku hanya senyum kecut pikirku mengapa temanku kata-katanya bisa sekeras itu. Aku merasa tersindir dan aku tidak nyaman dengan kalimat yang di lontarkannya. Aku hanya menjawab ‘salahkah jika ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya?’. Seorang temanku menyahut ‘iya nggak apa-apa bagus kamu jadi lebih baik yang penting dari hati bukan karena ada maunya’ tandasnya. Mereka hanya tertawa sembari terus mengejekku. Aku memang saat itu belum jadian dengan Andi, karena aku tahu Andi bukan mencari pacar tetapi ia mencari calon istri. Aku berusaha menanggapi ucapan-ucapan mereka dengan santai seraya mengajak Andi untuk makan.

Andi melontarkan pernyataan yang akhirnya membuatku berpikir dan sadar akan banyak hal ‘Semua orang bisa berubah, entah ingin menjadi lebih baik atau buruk adalah pilihan. Ucapan teman-teman kamu mungkin membuatmu tidak nyaman ya? Nggak apa-apa anggap saja itu cambuk, agar kamu bisa menjadi lebih baik. Dulu sudah baik dan nggak ada salahnya menjadi lebih baik lagi bukan ? yang terpenting perubahan dari diri kamu ini berasal dari dalam dirimu bukan karena orang lain. Yaa...kalaupun misalnya kamu menjadi dirimu sekarang karena terinspirasi dari orang lain nggak apa-apa juga , karena yang namanya kebaikan itu bisa di dapat dari penjuru mana saja” Terang Andi.

Ucapan yang keluar dari mulut Andi cukup menenangkan batinku yang saat itu memang jadi merasa kesal dan malu. Andi seperti paham sekali dengan apa yang sedang aku pikirkan saat itu. Sepulangnya dari acara resepsi. Dirumah, aku jadi memikirkan ucapan teman-temanku. Aku tanya kembali ke diriku, mengapa aku merasa tersindir dan tidak nyaman dengan ucapan teman-temanku? Karena perkataan mereka tersebut itu benar hanya saja saat itu terjadi aku memilih menyangkalnya dan tidak menerima dulu perkataan mereka, bahwa aku kini berubah menjadi seseorang yang lebih beriman dan berteman dengan orang-orang seperti Andi adalah bukan dari hatiku melainkan karena aku ingin mendapat perhatian dari Andi, aku menyukainya dan ketika aku berubah jadi lebih baik Andi mau memilihku untuk menjadi Istrinya.

Aku tersadar bahwa selama ini aku kerap ikut-ikutan orang sekitarku. Segala hal yang aku lakukan bukan karena tulus memang aku butuhkan melainkan karena ada maksud. Ikut-ikutan karena ingin populer, ingin terlihat keren, ingin segala hal yang aku lakukan di pandang baik dan ingin agar dengan cara itu orang yang aku sukai bisa aku dapatkan. Aku melihat diriku di cermin, dan kutanyakan apa yang sebenarnya aku butuhkan ? apa tujuan  mengapa di usiaku yang sudah masuk jelang kepala 3 ini aku masih belum memiliki pendirian sendiri, mengapa aku tidak bisa menjadi diri sendiri toh jika memang orang yang aku sukai baik, ia pasti bisa menerima diriku yang sebenarnya bukan diriku yang selalu tampil di sosial media dengan melakukan kebaikan yang senang ketika mendapat banyak like.

Aku jadi mengingat kembali ucapan Ayah padaku “Kebaikan itu di rasakan oleh orang lain dan diri sendiri bukan merasa ingin di lihat penampilan di luar saja, harus tulus lahir batin dan tahu tujuanmu memilih kebaikan tersebut, ibaratnya Ketika kamu memilih ingin menjadi seorang dokter, maka kejar dan berusahalah mencapainya bukan karena seseorang/orangtua, atau bukan karena sedang ngetrend  profesi tersebut di zamannya, atau karena ikut-ikutan temanmu yang memiliki cita-cita serupa, melainkan karena pilihan itu adalah keinginan dari dalam dirimu sendiri dan kamu membutuhkannya”.

Aku Belajar Di Titik Tersebut

Aku baru paham maksud perkataan Ayah, ketika aku  memilih ingin berubah menjadi seseorang yang kini jadi lebih beriman adalah atas kemauanku sendiri bukan karena ingin di pandang  atau bukan juga karena ingin menarik hati seseorang yang aku suka. Karena ketika aku melakukan perubahan tersebut karena orang lain, maka ketika mengalami kekecewaan itu akan membuatku sangat down. Tetapi ketika aku melakukannya karena memang kebutuhan dan hal tersebut merupakan perintah Tuhan yang memang sudah aku yakini, maka ketenangan batin yang sesungguhnyalah  aku rasakan jikapun mengalami kekecewaan aku tidak merasa down yang teramat dalam, karena berkeyakinan bila segala yang terjadi pada hidup manusia adalah atas izin Tuhan.

Kini aku percaya bahwa Tuhan mendatangkan&mempertemukan seseorang pada kita pasti ada alasannya entah untuk memberi orang tersebut pelajaran&hal berharga atau memberi diri kita pelajaran berharga  untuk di petik pembelajarannya.  Tuhan mendatangkan Andi dalam hidupku mungkin DIA ingin aku bisa menjajadi pribadi yang punya pendirian, yang mau membimbingku menjadi diriku sendiri serta jadi pribadi yang tidak mudah terpengaruh/ikut-ikutan orang lain.

Singkat cerita, setelah perenungan tersebut dan kejadian yang aku alami dari ucapan-ucapan teman padaku, akhirnya mampu membuatku tersadar bahwa ketika kita terinspirasi dari orang lain, ikutilah hal yang membawa kebaikan buat diri sendiri (bukan ikut-ikutan dalam keburukan) dan pastikan ketika memilih hal yang saya anggap baik untuk diri saya adalah memang panggilan hati dan kebutuhan saya sendiri.

Saya sadar saya berubah menjadi saya yang sekarang sebagai wujud rasa syukur atas banyak keberkahan dan kebaikan dalam hidup yang saya dapatkan dari  Tuhan& atas masalah-masalah yang pernah saya alami. Selain itu juga karena saya kini paham bahwa dengan berperilaku yang tidak lagi ikut-ikutan, punya pendirian sendiri dan menjalani hidup dengan berbuat yang lurus-lurus saja malah membawa saya menjadi lebih utuh& tidak memunafikkan diri.

Menjadi beriman itu dilihat dari perilaku BUKAN Dari Penampilan Luar

Urusan Beriman atau tidaknya diri saya adalah urusan saya dengan Tuhan. Jadi sejak saat itu saya lebih memilih untuk tidak show off di sosial media berkaitan dengan segala aktivitas kerohanian atau kegiatan amal yang saya lakukan seperti sebelumnya. Bagi saya kini hal baik tidak perlu harus ditunjukan bahkan walau tujuannya untuk menginspirasi orang lain, karena saya belajar juga untuk menjaga hati saya sendiri dan hati orang lain agar tidak memiliki prasangka buruk pada hidup saya. Toh, setiap butir kebaikan apapun itu akan terlihat bukan dari penampilan luarnya, melainkan asal muasalnya dari hati saya sendiri dan akan terasa sampai ke hati orang lain. Jujur saja ketika saya mulai menjalaninya dengan tulus bukan karena orang lain atau sesuatu melainkan karena Tuhan maka hati saya pun terasa lebih sejuk dan ringan. Tidak merasa terbebani untuk menunjukkan diri ke orang lain, saya pun jadi lebih tenang. Seperti Andi,secara tampilan luarnya dia bukan seperti orang berada, dia juga tidak terlihat beriman tetapi ucapanya yang sesuai dengan perilakunya lah yang membuat  saya jatuh hati sehingga membuat saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik daripada diri saya sebelumnya.

Bukan Andi yang mengubah saya tetapi diri saya sendirilah yang memilih mau lebih tenang, berpendirian dan bisa jujur terhadap diri sendiri bahwa perubahan ke diri saya yangs sekarang inilah yang memang inilah yang membuat saya nyaman. Saya masih tetap berteman dengan teman-teman gank saya, saya masih menjadi diri saya yang dulu yang sennag hangout di mall, bedanya kini saya sudah memiliki pendirian sendiri dengan apa yang saya lakukan. Jika saya memilih untuk betribadah daripada menghabiskan malam di club malam, karena saya memang tahu bahwa diri saya membutuhkan santapan rohani agar hidup saya menjadi lebih baik.

Tugas Andi membawa manfaat untuk diri saya untuk menjadi sedikit lebih baik sudah selesai dan mampu membuat saya tetap di jalan-NYA hingga hari ini. Kini saya sudah menikah dengan Andi. Ia mengatakan bahwa ia menikahi saya bukan karena saya yang kini sudah berubah jadi lebih baik , ibadah saya sudah tidak lagi karena mood melainkan karena memang perintah Tuhan dan saya membutuhkannya agar hidup saya lebih tenang. Suami saya Andi melihatnya sebagai proses yang cukup baik saya tempuh, karena berdasarkan ajaran keyakinan yang saya maknai bahwa Tuhan tidak melihat banyaknya amalan seseorang tetapi yang IA  lihat adalah amalan yang lebih baik yang dilakukannya.

Semoga dengan artikel ini setidaknya diri saya memiliki manfaat juga untuk pembaca Urban Women  bahwa ‘Kita lah yang memilih ingin menjadi beriman secara jasmani (tampilan luar) dan rohani (jiwa) saja atau memilih memiliki keduanya, itu pilihan. Yang terpenting adalah bukan dari rupa/tampilan luar melainkan kita pahami terlebih dahulu tujuan /makna mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk berpenampilan beriman ? Yang aku pahami adalah agar saya sebagai umat-NYA terjaga hati dan perilakunya dari hal-hal yang tidak membawa kebaikan untuk diri sendiri.

Yang saya rasakan kini dengan menjadi sedikit berpenampilan lebih baik membuat saya terbawa untuk berperilaku serta bertutur dalam hal-hal yang positif dan membawa kebaikan saja, saya jadi mengurangi ikut-ikutan gosip, tidak lagi terlibat membicarakan aib orang lain yang sebelumnya saya mudah sekali terpancing untuk ikut-ikutan ngomongin teman saya di grup whatsapp, sindir menyindir dan lainnya. Hasilnya sekarang malah menjadi positif ke orang-orang yang berada di sekitar saya juga, saya juga melihat segala sesuatunya lebih positif. Sebaliknya jika apa yang di tuturkan tidak sesuai dengan perilaku maka orang lainpun dapat merasakanya. Kini saya sadar “Menjadi baik karena memang baik, BUKAN karena ingin terlihat baik’.



Clara Marisa

No Comments Yet.