Aku Baper ?


Tuesday, 22 Aug 2017


Urbanesse pernah nggak kamu mengalami seperti yang pernah saya alami. Beberapa tahun yang lalu sebelum saya menikah, saya dijuluki Miss Baper oleh beberapa rekan saya. Dijuluki demikian karena tiap ada yang menyentuh hati saya dikit misalnya orang mengkritik baju yang saya pakai, atau teman saya yang tiba-tiba tidak menegur saya tanpa saya tahu apa penyebabnya, atau beberapa nasehat dari keluarga maupun teman saya yang saya tidak sependapat dengan mereka bahkan sampai hal sepele lainnya yang baru asumsi atau dugaan saya, saya kerap bawa perasaan (baper) didalamnya dan kemudian criiiing.... status facebook yang berisi keluhan, sindiran, pokoknya isi hati saya yang ingin saya omongin tapi enggan saya utarakan ke orang yang bersangkutan saya luapkan di status facebook maupun media sosial saya lainnya.

 

Sampai pernah ada yang komentar di status facebook saya itu agar tidak membuka aib sendiri maupun aib orang lain di publik. Pada saat itu saya tidak mengindahkan komentar dan teguran dari mereka, saya pikir ini hak saya, ini facebook saya. Saya bebas mau ngomong apa saja tanpa saya pikirkan lagi resikonya. Sampai suatu hari ada seorang teman di facebook juga yang berprilaku sama dengan yang saya lakukan “Baper” kemudian menulis isi hatinya di media sosial, pada saat itu teman saya tersebut berkeluh kesah di medsos dan tidak bisa menahan emosinya karena pacar yang dicintainya selingkuh. Dia upload foto wanita yang diduga selingkuhan kekasihnya tersebut terus saya ikuti komentarnya sampai malam. Beragam komentar di lontarkan oleh orang-orang yang berteman dengannya. Sampai pagi pun  status Facebooknya terus dibanjiri komentar sampai saya pun agak kesal, kok sampai segitunya sih menganggu banget ya ternyata. Ketika mereka berkeluh kesah di Facebook dan timeline Facebook saya pun penuh dengan status makian, keluhan dan amarah teman saya tersebut.

 

Sampai akhirnya saya berpikir, memang pantas teman-teman menjuluki saya Miss Baper pada saat itu, lah gimana nggak bahkan status FB teman saya yang sedang berkeluh kesah di medsos dengan kebaperan dia saja saya pusingin, padahal itu bukan sesuatu yang penting banget untuk saya pikirin. Saya pun berkaca lagi ke diri saya “Well..jadi ini rasanya kalau kita meluapkan semua keluh kesah, amarah, sindiran, umpatan kita di media sosial, semua orang membaca. Semuanya tanpa terkecuali. Bahkan mereka yang tidak mengenal kitapun jadi tahu siapa diri kita, apa yang kita cuitkan, apa status yang kita lontarkan dan postingan apapun yang berisi sindiran, umpatan itu ternyata menggambarkan siapa diri kita secara tidak langsung.

 

Yaa..walaupun tidak semuanya tapi setidaknya orang jadi tahu seberapa emosionalnya kita, seberapa dewasanya kita dalam menghadapi satu masalah. Setelah saya pikir lagi sepertinya memang tingkat baper saya musti saya kelola lagi, ini kalau dibiarin pasti sudah tidak sehat dan akan merugikan saya sendiri. Meskipun itu hak saya karena saya pikir ini account media sosial saya, saya merasa lega setelah nyindir orang atau mengumpat dibalik status facebook apalagi orang yang kita sindir itu sampe baper juga dan merasa, lalu kita puas. Tapi sebenarnya kita sedang membuka sifat asli kita di muka umum.  Sejujurnya untuk saya pribadi cukup malu ya, baru menyadari hal tersebut setelah melihat postingan rekan saya yang banjir komentar miring di status facebooknya. Tapi setidaknya dari kejadian tersebut saya belajar kalau berkeluh kesah, mengumpat atau ingin menyindir orang lebih baik tahu batasannya. Tidak sepantasnya saya harus luapkan itu di media sosial.

 

Pada saat itu sayapun berproses untuk mengurangi aktivitas saya menggunakan media sosial untuk ngeluh, curhat ataupun menyindir orang lain. Yaa..walaupun tangan agak gatal pengennya curhat, pengennya berkeluh kesah di FB namun saya pikirkan lagi, toh kalau saya nulis-nulis status atau memposting kalimat-kalimat yang isinya negatif apakah mereka yang baca mau bantu saya? Peduli dengan saya? paling simpatik yang kemudian cukup tahu aja,  lalu masa bodo dan saya pun di cap jadi orang yang suka ngeluh, belum dewasa dan tidak bisa mengelola emosi dengan baik. Dampaknya tiap kali saya marah atau kesal dan sedih saya posting di itu mempengaruhi aktivitas saya sehari-hari. Pekerjaan saya saat itu banyak yang terbengkalai, teman-teman saya jadi banyak yang underestimate dengan saya tanpa tahu cerita sebanarnya dan saya pun sering berpikiran negatif ke orang lain, jujur itu sangat menggangu dan membuat saya lelah hati.

 

Dari situ saya berpikir untuk berubah, berikut hal-hal ini yang tiap hari saya lakukan ketika media sosial sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup saya untuk berkeluh kesah, curhat, menyindir dan mengadu – adu yang sudah tidak bisa saya kontrol lagi saat itu.

Ini cara yang saya ambil :

  1. Kata orang, kita jadi punya waktu untuk baper di medsos karena kita kurang kesibukan, Naah...Ketika ada masalah yang ingin banget saya share di medsos, saya langsung memutar otak mencari kesibukan lain yang bisa mengalihkan dan menjauhkan diri saya dari medsos seperti dengan membaca (baca komik favorit saya atau dengan baca majalah), mendengar musik di youtube atau dengan menonton tayangan televisi atau film.
  2. Mengobrol, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan teman, sahabat atau keluarga ini bisa jadi pilihan yang sangat pas ketika saya sedang kesal atau sedang memiliki emosi yang tidak stabil.
  3. Bergabung dengan grup komunitas. Pada waktu itu saya bergabung dengan komunitas “Perempuan Rajut” disitu saya belajar bagaimana merajut, membuat tas rajut, topi, syal dan tanpa disadari bakat saya pun terasah ternyata saya bisa juga merajut dan bonusnya dapat teman-teman baru.
  4. Ketika ada masalah dengan seseorang saya belajar untuk tidak mengumpat atau menyindirnya di media sosial, saya pikir sangat baik hasilnya ketika ada seseorang yang bermasalah dengan kemudian saya tanya langsung ke yang bersangkutan tentang permasalahannya.
  5. Bicara dari hati ke hati. Hal ini sudah saya coba ketika ada teman saya yang salah paham, saat saya ajak duduk bersama bicara 4 mata permasalahanpun terpecahkan tanpa harus mengumbar aib dan memposting kalimat negatif padanya. Sayapun jadi lebih bisa mengontrol emosi saya ketika berhadapan langsung dengan yang bersangkutan ketimbang saya menulis status negatif tentangnya di media sosial secara psikis mungkin saya lega dan puas tapi secara hati saya masih menyimpan kekesalan. Dan menurut saya itu tidak baik jika ada didalam diri saya.
  6. Isi waktu dengan jalan-jalan agar kita mendapat inspirasi lain, kalau waktu itu karena saya hobby makan, saya senang wisata kulineran ke tempat-tempat seru yang ada di Jakarta.

 

Well...5 tahun berlalu sudah, saya yang dulu disebut Miss Baper yang kesal, marah, sedih dikit aja  main upload, main tulis, main share tanpa memikirkan efeknya ke diri saya. Kini teman-teman yang sudah lama mengenal saya malah pada heran, kenapa saya bisa menjadi sosok yang lebih wise dalam menghadapi masalah daan tidak lagi ribet dan ribut di facebook ataupun media sosial. Facebook saya kini sudah bersih dari yang namanya keluh kesah, curhat, marah-marah, nyinyir, nyindir dan sebagainya. Facebook masih saya mainkan begitupun dengan media sosial yang lainnya, tetapi arahnya kini sudah berubah heehee.

 

Facebook saya gunakan untuk berjualan online sedang media sosial yang lain saya gunakan untuk mengupload foto selfie dan wefie saya bareng teman-teman dan keluarga kecil saya ditempat-tempat seru. Efeknya ternyata positif banget di kehidupan sehari-hari saya segala sesuatu jadi berjalan dengan baik-baik saja. Kalau dulu tiap marah saya posting di facebook dan dampaknya negatif dikehidupan sehari-hari. Pekerjaan saya saat itu banyak yang terbengkalai, teman-teman saya jadi banyak yang underestimate dengan saya dan saya pun sering berpikiran negatif ke orang lain. Mungkin ini yang disebut “Emosi negatif akan berdampak negatif pada kehidupan kita sehari-hari, begitupun sebaliknya”. Jadi dari cerita ini, Urbanesse mau pilih jadi perempuan Baper atau Logis ?

 

 

 

 

sumber gambar: created by asierrelampagoestudio - freepik.com



Rika

No Comments Yet.