A Lifetime Learning, Accepting & Forgiving


Friday, 28 Jul 2017


Saya yakin, setiap anak memiliki cita-cita untuk membahagiakan kedua orangtuanya, no matter how hard it is. Sama halnya dengan orangtua yang juga selalu ingin membahagiakan anak-anaknya, sekeras apapun jalan yang harus mereka hadapi. "Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala" menjadi kiasan betapa besar pengorbanan yang akan dilakukan untuk melihat kebahagiaan di wajah anak-anak mereka. Ketika beranjak besar dan menjadi mandiri, maka anak-anak akan melakukan hal serupa untuk kedua orangtuanya, membuat mereka bahagia. Pada akhirnya ini bukan soal balas budi anak kepada orang tua, atau soal kewajiban orang tua kepada anak, namun merupakan insting makhluk hidup yang saling mengasihi satu sama lain, sesuatu yang dilakukan tanpa perlu diminta.

 

Dulu semasa masih sekolah, saya berusaha untuk lulus tepat waktu dengan  nilai yang baik. Bukan untuk mendapatkan hadiah dari Ayah & Ibu, atau mendapatkan pujian orang lain, melainkan untuk mempercepat kelulusan & agar saya bisa segera mandiri. Semakin lama saya sekolah, semakin lama juga waktu untuk mengeluarkan biaya yang harus dilakukan oleh Ayah, dimana pada saat bersamaan juga harus membiayai sekolah adik & kebutuhan rumah tangga lainnya yang juga tidak murah. Kami berasal dari keluarga sederhana, Ayah saya seorang Pegawai Negeri yang sangat jujur. Kenapa saya katakan demikian? Karena sampai saya lulus kuliah, kami masih tinggal di rumah kontrakan yang sederhana. Meski demikian, beliau tetap berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

 

Pengalaman-pengalaman pahit yang kami sekeluarga alami semasa kecil dulu, menjadi penyemangat saya untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik untuk mengangkat derajat Ayah dan Ibu, membahagiakan mereka seperti mereka membahagiakan saya dan adik saya di waktu kecil dulu. Sebuah doa yang konsisten tiap selesai ibadah. Saya ingin membawa mereka pergi ke tempat-tempat yang sebelumnya hanya dilihat di televisi, mengajak mereka makan ditempat-tempat yang baik, membawa Ayah & Ibu saya berwisata religi, memberikan kehidupan yang lebih baik di usia senja nanti.

 

Satu per satu doa tersebut dikabulkan Tuhan, Awal tahun 2014, menjadi titik balik dimana saya sadar bahwa kebahagiaan orangtua bukanlah sekedar kecukupan materi yang bisa didapat oleh anak-anaknya. Bukan cuma tentang dimana anaknya bekerja, karya atau prestasi apa yang dibuat, kecukupan materi yang dimiliki, atau hal-hal lainnya yang berhubungan dengan materi. Di tahun itu, saya yang sebelumnya sangat cuek ini, tersadarkan bahwa kebahagiaan orang tua adalah saat mereka bisa melepaskan anak yang telah dibesarkan dan dididik dengan baik kepada orang lain untuk saling menggenapkan, untuk saling mengisi dalam ikatan pernikahan, melanjutkan keturunan, mempunyai anak, memberikan mereka semangat hidup baru lewat cucu-cucunya. Bisa mengantarkan anak-anaknya ke jenjang pernikahan menjadi puncak dari segala hal yang selama ini orangtua lakukan bagi anak-anaknya semenjak dalam kandungan. Pertanyaan kapan menikah menjadi hal yang tidak bisa dielakan lagi di rumah, membuat saya kadang harus bersikap kurang bersahabat kepada Ibu saya sendiri.

 

Ada satu momen di tahun 2014 yang membuat hati saya teriritasi cukup parah, yaitu ketika Ibu saya bertanya kepada rekannya soal saya yang belum menikah. Sepulang bertanya kepada rekan beliau membawakan saya beberapa doa & ritual untuk mempercepat datangnya jodoh. Pada waktu itu saya belum cukup dewasa untuk bisa berempati dengan apa yang Ibu saya lakukan dan ujung-ujungnya saya marah. Entah pada waktu itu saya marah kepada siapa, apakah kepada Ibu yang pergi ke rekan Ibu saya, ataukah  marah kepada diri sendiri yang belum juga menikah dan membahagiakan kedua orang tua secara tuntas?

 

Kemarahan saya keluar begitu saja & rasa kecewa yang ada disalurkan lewat menangis, dan berdiam diri, berusaha untuk mencerna & menerima. Setelah perasaan lebih tenang pada akhirnya Saya meminta maaf  kepada Ibu. Ayah saya, orang yang tidak pernah mempermasalahkan secara blak-blakan soal saya yang belum juga menikah, menguatkan kami. Masih saya ingat apa yang beliau katakan waktu itu bahwa semua ada waktunya dan apa yang dilakukan Ibu saya hanyalah bagian dari ikhtiar yang tidak perlu membuat saya kecewa apalagi sakit hati.

 

Semenjak kejadian itu, tidak ada lagi percakapan secara frontal tentang menikah di rumah. Namun, perasaan bersalah ini tetap menghinggapi hati saya saat itu. Seperti ada batu besar yang menghimpit hati saya ketika mengingat saya pernah marah kepada Ibu & terlebih lagi kenyataan bahwa saya belum bisa memberikan kebahagiaan paripurna kepada Ibu saya lewat momen pernikahan, bahkan ketika Ayah saya telah tiada.

 

Tahun demi tahun terlewati, dengan harapan dan doa yang sama dari Ibu saya, agar saya segera menikah. If i knew the fast line to reach marriage, I will do. Namun, pada akhirnya urusan menikah tetaplah menjadi rahasia Tuhan. Ketika Ibu saya bercerita tentang anak tetangga atau temannya yang baru menikah, yang akan menikah, yang baru punya cucu, yang akan mempunyai cucu, I feel sorry to her. Saya sudah tidak lagi marah kepadanya karena Ia pernah bertanya kepada rekannya soal saya yang belum menikah atau tentang Ibu yang selalu mengingatkan soal kapan menikah, namun perasaan bersalah yang kerap hadir dalam hati karena saya belum juga menikah & membahagiakan beliau secara tuntas. If I could say something to calm her, I will,  but in the end I can't say anything.

 

At the moment saya merasa sedih dan merasa bersalah atas apa yang terjadi saat itu, tentang belum tercapainya kebahagiaan paripurna orangtua saya karena saya belum menikah, tentang tergoresnya hati Ibu saya lewat pertanyaan-pertanyaan orang tentang saya yang belum menikah diusia yang sudah matang ini yang ditujukan kepadanya, maka saya akan pergi menyendiri. Di ruang sendiri itu, saya merenung & merefleksi diri, tentang apa yang sudah saya lakukan sejauh ini untuk memperbaiki diri, memantaskan diri untuk siap menjadi seorang istri & Ibu, tentang usaha-usaha yang dilakukan untuk bertemu banyak orang yang mungkin salah satunya adalah jodoh saya sendiri :). Di ruang sendiri itu, saya berusaha menerima diri saya sendiri tanpa terus-terusan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Penerimaan saya akan diri sendiri ini menjadi titik balik untuk menemukan lagi semangat untuk berusaha menemukan teman hidup bagi saya kelak.

 

Waktupun berlalu, tahun 2017 ini , bisa dibilang saya dan Ibu sudah semakin terbuka satu sama lain dalam menyampaikan apa yang kami rasa soal urusan nikah-menikah. Saya juga menyadari bahwa semakin hari kami semakin saling menguatkan. Ibu saya menguatkan saya untuk terus berdoa dan berusaha tanpa harus peduli dengan apa yang dikatakan orang dan sebaliknya saya menguatkan Ibu lewat rutinitas harian mencium tangannya seraya berkata, "Doakan teteh supaya segera ketemu jodohnya" sambil terus melakukan aktivitas saya dengan bekerja dan membahagiakan mereka dari hasil jeri payah saya sendiri. Sampai saat ini saya pun terus memperbaiki diri dengan beragam kegiatan diluar rumah yang saya ikuti seperti ikut terlibat di komunitas keagamaan, komunitas penulis di Urban Women, Komunitas traveling dan grup positif lainnya yang saya ikuti sebagai sarana saya berbagi dan perbaikan diri sebagai bagian dari implementasi saya Self Forgiveness. Semakin saya tahu kekuatan saya, semakin saya mencintai diri saya dan memaafkan apa yang pernah terjadi dulu dengan orangtua saya.

 

Kini Penerimaan diri dari Ibu maupun diri saya atas takdir Tuhan membuat kita berdua menemukan jalan sendiri untuk saling memaafkan satu sama lain, dan juga memaafkan diri sendiri. Sebuah titik balik untuk melanjutkan usaha menemukan pendamping hidup.

 

Memang sampai saat ini saya masih sendiri, tetapi saya menikmatinya yang terpenting adalah hubungan saya dengan Ibu yang dulu sempat merenggang kini sudah sangat baik dari sebelumnya. Apakah saya sudah bisa memaafkan diri sendiri atas apa yang saya lakukan pada Ibu saya?  Saya rasa jawabannya Iya, karena kini sudah tidak ada lagi beban diantara kami berdua tiap harinya kami terus belajar menerima & memaafkan. And serenity is not coming from escaping, but from accepting

 

 

 

 

 

 

sumber gambar: Created by Pressfoto - Freepik.com



Dini Anggiani

No Comments Yet.