Workplace is a War Zone? Grow Up!


Monday, 30 Nov -0001


Bagi sebagian besar orang, kantor atau tempat kerja merupakan tempat dimana mereka menghabiskan sebagian besar waktunya sehari-hari.   Bahkan kebanyakan mereka tidak menghabiskan waktu di rumah sebanyak di tempat kerja. Hal ini menjadikan tempat kerja sebagai tempat hidup kita yang memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan kita baik fisik maupun mental. Percaya atau tidak, tingkat kebahagiaan seseorang di jaman yang serba canggih ini bisa diukur dari betah atau tidaknya orang tersebut di kantor tempat dia bekerja, suka atau tidaknya dia dengan pekerjaannya. Apalagi di Jakarta yang sangat akrab dengan kata “macet” membuat kita lebih suka berlama-lama di kantor setelah jam pulang kerja daripada terjebak di kemacetan.  Coba saja hitung berapa jam dalam seminggu kita menghabiskan waktu di kantor, bergaul dengan kolega dan atasan yang mau tidak mau ketemu setiap hari. Rasanya tidak berlebihan kalau kita akhirnya menganggap mereka seperti keluarga sendiri dan sebaliknya, terdengar sangat positif bukan? Ya, memiliki hubungan kekeluargaan yang baik dan damai dengan teman sekerja dan atasan adalah impian semua orang. Sama seperti perdamaian dunia…semua orang tahu betapa indahnya hal tersebut tetapi pada kenyataannya tidak semudah itu untuk mencapainya (sigh!).

Tempat kerja adalah second home. Disanalah kita melalui hari-hari dengan bekerja. Kalau suasananya kondusif alangkah indah dan bahagianya kita bekerja di sana. Tetapi kalau suasananya seperti perang? Perang dingin, perang politik kantor, perang persaingan, dan perang-perang lainnya yang sudah sangat umum terjadi di setiap tempat kerja. Ada saja biang kerok atau bully yang bekerja disana. Bekerja saja sudah sedemikian menguras tenaga dan pikiran, masa kita harus deal dengan segala intrik yang tidak mengenakkan juga sih? Well, I wish we are living in the perfect world…but we are not! Selama masih ada manusia lain yang hidup di sekitar kita pasti akan banyak terjadi perbedaan pendapat, penilaian-penilaian, dan kompromi-kompromi yang harus kita lakukan. Yang membuat perbedaan adalah tingkat kedewasaan seseorang dalam menyikapinya. Di sebuah kantor yang terdapat banyak karyawan dengan tingkat intelektualitas dan EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional yang baik biasanya lebih bisa menjaga profesionalisme dan kondusifitas di tempat kerja. Tetapi di tempat kerja yang karyawannya tidak terlalu berkualitas lebih berpotensi untuk terjadi praktek-praktek politik kantor dan persaingan yang tidak sehat. Yang begini biasanya dimulai dari atasan. Apapun alasannya seorang atasan seharusnya bisa menciptakan budaya kerja yang baik dan menjaga kondusifitas. Kalau atasan saja sudah tidak capable begitu bagaimana dengan nasib karyawannya? Kalau saya yang berada di posisi karyawan tentunya tidak ingin menjadi korban keadaan. Seperti apapun keadaannya kalau masih bergantung kepada tempat kerja tersebut untuk membiayai hidup saya maka saya harus bertahan bagaimanapun caranya.

Semua tempat kerja pasti memiliki tantangannya masing-masing. Apapun yang terjadi kita selalu punya pilihan, akan membiarkan diri menjadi korban yang akhirnya hanya bisa bergosip, mengeluh dan menelan semua kepahitan, bersaing dengan tidak sehat atau mengambil alih kendali dalam menjadikan tempat kerja untuk menjadi tempat yang lebih baik? Saya tidak akan berbicara banyak mengenai pilihan yang pertama. Kalau Anda menyerah pada nasib, ya itu pilihan Anda. Silahkan dijalani dengan segala konsekuensinya. Sebaliknya, saya akan berbicara banyak tentang pilihan kedua, yaitu mengambil alih kendali. Dalam hal ini tentunya dimulai dari mengambil alih kendali diri sendiri. Bagaimana menyikapi setiap konflik dengan baik. Ada saatnya kita harus tegas dan memperjuangkan prinsip-prinsip kita tetapi seringkali kita juga dituntut untuk bisa fleksibel dan lunak. Saya pribadi memiliki beberapa pengalaman mengenai hal ini. Saya pernah merasa sangat beruntung mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang cukup baik dalam usia muda, dengan skala internasional pula. Tentu saja standar gaji saya juga bagus, dan walaupun saya menjadi karyawan baru di tempat tersebut tetapi sudah memiliki tim staff yang harus saya pimpin dan harus selalu siap untuk membantu saya.  Anda pikir enak banget ya jadi saya… hmm… memang enak… begitu menerima gaji tiap bulan. Tetapi gajian hanya satu hari dalam sebulan dan saya harus berjuang dengan segala macam tantangan selama 26 hari. Lucunya, tantangan terberat datang dari para staff saya bukannya dari klien atau customer. Tidak semuanya senang dan menerima begitu saja kehadiran saya yang langsung menempati posisi di atas dan dengan segala cara mereka mengetes saya. Ada yang terang-terangan memperlihatkan sikap bermusuhan, ada yang pura-pura menjilat padahal menusuk dari belakang, ada yang dengan sengaja melakukan sabotase terhadap suatu proyek yang sedang kami kerjakan bersama sehingga nama saya yang buruk di depan atasan. Percaya atau tidak, 1-2 bulan pertama gaji bagus tidak terasa worth it sama sekali. Tetapi saya segera belajar karena mau tidak mau saya harus bertahan karena terikat kontrak selama 2 tahun kedepan…maaanstill long long time to go. Sucks!

Ok, enough complaining and start to be grateful! Seriously….hal pertama yang saya sadari dan lakukan adalah bersyukur. Setelah langkah pertama itu saya lakukan dan jadikan kebiasaan untuk bersyukur secara sadar setiap hari tidak peduli bagaimanapun buruknya hari itu saya mulai merasakan kedamaian sedikit. Ya….baru sedikit...sama sekali belum merasa happy karena masih banyak gangguan. Aha! Suatu hari saya sadari juga kalau “gangguan” itu adalah faktor eksternal, reaksi saya terhadap “gangguan” itulah yang membuat saya tidak bahagia dan selalu stress. Kalau saya bereaksi secara berbeda tentunya “gangguan” dari luar tersebut tidak akan mengganggu lagi bukan? Saya cukup senang dengan pemikiran tersebut dan mencari cara bagaimana merubah reaksi saya. Perubahan yang dimulai dari dalam diri saya ternyata membawa perubahan yang signifikan juga di luar sana. Saya mulai banyak mendengarkan dan mengurangi berbicara. Ternyata dengan mendengarkan saya bisa mengenal staf-staf saya secara pribadi dan mengerti latar belakang mereka dalam melakukan sesuatu. Kebanyakan dari mereka lebih tua dari saya. Dari sisi ego tentunya wajar kalau mereka merasa tidak suka dengan saya karena mereka sudah bekerja lebih lama dan lebih berpengalaman dari saya dan berharap untuk dipromosikan menduduki posisi saya saat itu.  Selama ini saya mengandalkan skill tehnikal dan IQ  seperti pada saat interview untuk posisi tersebut, faktor-faktor itulah yang membuat saya diterima. Saya hanya berpikir yang terbaik untuk perusahaan tanpa memperhatikan kalau prestasi saya hanya ada artinya kalau didukung oleh tim saya. Tanpa saya sadari di mata para staff saya terkesan sok pintar, sok tahu, mencari muka terhadap atasan, tidak menghargai jasa bawahan, dll. Saya merasakan perang dingin selama beberapa waktu karena tentu saja tidak seorangpun berani atau cukup peduli untuk mengkritik atau hanya sekedar membicarakan hal ini baik-baik dengan saya. Menilai, menarik kesimpulan dan menjatuhkan “vonis” selalu lebih mudah daripada mengkonfrontasi untuk kebenaran. Seperti juga berbicara selalu lebih mudah daripada mendengarkan. Singkatnya, setelah saya mendengarkan mereka dengan sungguh-sungguh berangsur-angsur mereka mulai percaya dan terbuka pada saya. Walaupun itu tim saya tetapi kalau ada staff yang berjasa atau menonjol dalam melakukan pekerjaannya pasti saya sebut namanya di depan atasan saya. Saya tidak lagi hanya mengandalkan IQ (Intelligent Quotient) untuk bisa sukses di dalam pekerjaan saya tetapi kadang-kadang ketajaman EQ bisa jadi lebih dibutuhkan. Saya mengutamakan kondusifitas untuk dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Kompromi dan berdamai seringkali berguna apabila terjadi perbedaan budaya maupun pendapat. Toh tujuan utamanya kan bukan untuk membuktikan kalau kita yang paling benar tetapi pekerjaan harus selesai, itu yang penting.

Selain IQ dan EQ tadi yang tidak kalau pentingnya juga adalah untuk menempatkan diri sebagai pemberi solusi. Masalah di tempat kerja pasti banyak sekali, setiap orang punya masalah dan bisa membuat kesalahan. Pengalaman pribadi saya mengajarkan kalau kita tidak ingin mendapat masalah dari orang lain bantulah dulu orang tersebut menemukan solusi untuk permasalahan yang dihadapinya. Contohnya, salah satu staf saya suka menghilang selama berjam-jam setelah makan siang. Setelah saya selidiki ternyata dia masih mengambil kuliah malam dan seringkali kurang tidur. Setelah makan siang dia biasanya menyempatkan diri pulang dan tidur selama paling tidak 2 jam. Di kantor posisi dia sebagai petugas administrasi yang job desc nya juga tidak banyak. Sangat tidak efisien. Saya memutuskan untuk berbicara dan mencari tahu lebih banyak mengenai staf tersebut. Ternyata dia sangat berminat untuk bergabung dengan tim marketing. Saya tidak melihat alasan untuk tidak memberinya kesempatan membuktikan diri di divisi marketing. Maka saya tawarkan solusi, silahkan atur sendiri jam kerjanya tetapi harus mencapai target yang dia janjikan setiap bulannya. Hasilnya, dia datang ke kantor hanya 3 hari dalam seminggu tetapi prestasi dia di bidang marketing sangat luar biasa. Bahkan dia bersedia untuk menindaklanjuti kebutuhan klien di luar jam kerja dan selalu mendapat pujian dari para klien yang puas.

Pada akhirnya tidak peduli apapun posisi kita, kita sendirilah yang bisa memutuskan untuk berdamai dengan keadaan. Kadang-kadang memang ada saja kasus-kasus ekstrim yang tidak bisa diabaikan begitu saja dan harus ditindak dengan keras seperti pelecehan seksual, korupsi dan kasus-kasus kriminal lainnya. Tetapi selama masih di dalam batas wajar, persaingan dan peperangan di tempat kerja merupakan hal yang biasa. Untuk saya pribadi, arti kesuksesan di tempat kerja adalah apabila kita berhasil menciptakan win-win solution. Artinya sama-sama menang, tidak ada yang merasa dirugikan. Kita bekerja untuk membuat perusahaan kita win, dan kita menjadi win saat menerima kompensasi yang memuaskan. Terhadap teman sekerja juga alangkah baiknya kalau kita membantu mereka menjadi win dan membuat mereka sadar kalau kita pantas dihormati dan didukung. Masih mau jegal-menjegal juga? Aduuuh, gini hari…….nggak jamannya lagi deeeeeeh ;)

@Loumaris

 

Sumber gambar: volkbell.com[/caption]



Unknown

No Comments Yet.