We are Not Making a Difference if We Live Just for Ourself


Monday, 30 Nov -0001


Saat saya bertanya tentang kondisi keuangan, seringkali jawabannya adalah gaji yang diterima kurang, ga cukup, susah mau nabung.
 

Masih ingat ga gaji yang pertama kali kita terima berapa? Waktu itu cukup ya segitu? dan sekarang gaji kita berapa? Abis juga ya? kebanyakan orang pengeluarannya akan meningkat saat gaji meningkat. Jarang sekali orang yang pengeluarannya tetap saat gaji naik. Sehingga akhirnya tetap tidak ada sisa untuk ditabung. 
 

Keinginan tidak akan ada habisnya, ingin gadget keluaran terbaru, sudah punya gadget satu ga cukup, belum punya motor ingin punya motor, sudah punya motor ingin punya mobil, sudah punya mobil ingin dimodif, sudah dimodif ingin beli mobil baru.
 

Tidak ada yang salah dengan keinginan, tapi ada saatnya dimana kita harus bisa berkata cukup. Jika tidak kita akan terus mengejar hal-hal yang fokusnya selalu untuk memuaskan keinginan diri kita sendiri. Tanpa sadar kita akan dikontrol oleh keinginan kita dan menjadi egois/self-centered. 


 

Be wise to know when it's time to say enough.

Jika kita selalu merasa tidak pernah cukup maka sulit bagi kita untuk memberi, karena kita masih merasa kurang. Padahal jika kita berhenti sejenak, kita bisa melihat masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dan sedikit pertolongan dari kita akan sangat bermakna bagi mereka.

 

Dua tahun lalu saya mendapatkan undangan dari Wahana Visi Indonesia untuk hadir dalam acara Loyal Sponsor Appreciation Day “Sponsoring Indonesian Children for 10 years and more” saya diinformasikan telah 12 tahun menjadi sponsor anak asuh, saya sendiri tidak menyadarinya, karena donasi ini sudah merupakan bagian dari pengeluaran tetap dan rutin saya. Saya ingat dulu saya memutuskan memulai donasi pada saat masih kuliah karena saya berpikir dengan uang Rp. 60,000 saya bisa membantu pendidikan seorang anak di daerah Singkawang, itu merupakan hal yang luar biasa bagi saya, karena saya pikir pendidikan merupakan hak setiap anak. Saya bersyukur pada Tuhan karena saya memiliki orang tua yang bisa menyekolahkan saya dan rasa syukur itu juga yang membuat saya ingin berbagi. Tahun lalu anak asuh saya yang pertama kali telah lulus SMA, saat awal donasi ia masih kelas 2 SD. Saat ini dengan donasi Rp. 150,000/anak/bulan saya memiliki 2 anak asuh dan masih ingin terus membantu lebih banyak anak lagi. Jika kita jujur nilai ini mungkin hanya setara dengan biaya jalan-jalan di mall, makan, nonton, shopping. Bayangkan berapa anak yang bisa terbantu kehidupan dan masa depannya jika setiap kita mau sedikit saja mengurangi biaya untuk 'keinginan' kita yang tidak akan pernah ada habisnya?

 
 

Don't take for granted what you have now, because it can means a lot for others.

Memberi adalah obat untuk melawan selfishness. Seberapapun yang kita miliki saat ini tetaplah memberi, jangan dengan terpaksa, tapi dengan sukacita. God loves a cheerful giver.
 

Hidup sejatinya menjadi lebih bermakna saat kita memberikan diri kita untuk orang lain (waktu, uang, tenaga, pikiran, pengetahuan, dukungan), saat kita memikirkan dan bertindak untuk kepentingan dan kebutuhan orang lain akan ada kepuasan batin dan rasa syukur.

 

 

We are not making a difference if we live just for ourself.



Yosephine P. Tyas

Wanita yang sudah menerbitkan dua buah buku perencanaan keuangan berjudul “Your Finance is You” di online publisher nulisbuku.com dan “Save Your Money” ini memang sangat senang berinteraksi dengan banyak orang dan mendengarkan keluh kesah mengenai masalah keuangan yang dihadapi dan memberikan solusi untuk membantu mereka. Yosephine atau yang biasa dipanggil phien ini menemukan passion di dunia perencanaan keuangan berawal dari rasa penasaran yang tinggi mengapa banyak orang terlibat dengan hutang. Phien pun kemudian mencari tahu bagaimana caranya agar keuangan dapat diatur dengan benar.

No Comments Yet.