Urban Women 1st Seminar : Love Doesn't Hurt


Monday, 30 Nov -0001


Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), khususnya dalam pernikahan dan keluarga, bukan lagi hal yang jarang terjadi, terlebih di kota besar seperti Jakarta. Oleh karenanya, Urban Women, sesuai dengan visinya untuk menjadi fondasi yang membantu para perempuan keluar dari ikatan pribadinya dan bertumbuh kuat, produktif dan berbuah melalui kasih Tuhan, menyelenggarakan seminar perdana bertajuk Love Doesn’t Hurt. Seminar berbentuk talkshow ini diadakan di Hongkong Café Thamrin, pada hari Rabu, 28 Januari 2015 dengan menghadirkan 4 narasumber yang berpengalaman di bidangnya, yaitu :

  1. Ibu Budi Wahyuni dari Komnas Perempuan
  2. AKBP Eni Suseniwati dari Polda Metro Jaya
  3. Dr. Margaretha Hanita, SH, M.Si dari Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A)
  4. Aenea Marella, M.Psi, Psi dari Yayasan Pulih

Seminar yang diawali dengan acara makan malam bersama ini dipandu oleh moderator sekaligus salah satu volunteer Urban Women : Sophie Aradhu. Selain itu, hadir pula Kwik Wan Tien, selaku founder Urban Women yang memberikan pengenalan singkat tentang Urban Women kepada peserta.

Apa sebenarnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti “kekerasan” adalah :

  1. Perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

     2. Paksaan

Menurut UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bab I Pasal 1, bahwa yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, yang dipaparkan oleh Ibu Budi Wahyuni, kasus kekerasan terhadap perempuan semakin tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2011, berjumlah 119.107 kasus, tahun 2012 berjumlah 216.156 kasus dan tahun 2013 berjumlah 279.760 kasus. Jumlah ini hanya menunjukkan puncak gunung es dari persoalan kekerasan terhadap perempuan, karena masih banyak perempuan sebagai korban yang enggan melapor.

AKBP Eni Suseniwati dari Polda Metro Jaya memberikan info bahwa KDRT termasuk ke dalam tindak pidana. Namun kasus KDRT yang sudah masuk ke peradilan masih bisa dicabut, dengan syarat – syarat khusus. Contohnya, KDRT tersebut tidak menimbulkan luka berat sampai menghalangi korban untuk beraktifitas.

Bagi korban KDRT dapat melapor kepada polisi, di mana pihak kepolisian akan merujuk kepada UPPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak). Tata cara pelaporan korban KDRT diatur di Peraturan Kepala Polisi Negara Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2008.

UPPA ini terdapat di polda – polda dan polres – polres seluruh Indonesia. Jumlahnya kurang lebih 260 UPPA.

Tugas dari UPPA antara lain :

-  Menangani perkara yang ada hubungannya dengan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak

-  Menerima laporan masyarakat khususnya perkara kekerasan perempuan dan anak sampai dengan proses

Mengapa perempuan sering menjadi korban KDRT?

Pertanyaan sekaligus refleksi diri yang diajukan oleh Mbak Nea dari Yayasan Pulih dijawab dengan beberapa opini; karena perempuan cerewet, lemah, dan penuntut. Berbeda halnya dengan lelaki yang kebanyakan menjadi pelaku karena laki – laki merasa lebih memimpin, kuat dan adanya superioritas.

Kondisi di atas erat kaitannya dengan cara masyarakat memperlakukan (anak) laki – laki dan perempuan. Laki – laki dididik untuk berani, tidak cengeng, tidak mengekspresikan perasaannya (terutama perasaan negatif) dan agresif. Perempuan dididik untuk bersikap lemah lembut, manis, penyayang, mengekspresikan perasaannya. Kedua kondisi yang kontras ini menimbulkan ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki – laki dan perempuan.

Lantas kenapa korban bisa terjebak di dalam KDRT?

Ternyata banyak korban yang beranggapan/berharap pelaku akan berubah suatu saat nanti. Selain itu, korban selalu memberi excuse sehingga kondisi ini terus terjadi. Ada pula kasus di mana korban tidak menyadari sedang menjadi korban KDRT, yaitu verbal abuse. Contoh – contoh verbal abuse antara lain :

-  Menyebut dengan bahasa yang buruk

-  Berteriak – teriak

-  Ancaman

-  Pembatasan pergaulan

-  Pembatasan aktualisasi diri

Karakteristik KDRT yang bersifat langgeng antara lain ;

  1. Keinginan untuk menyelamatkan si pelaku
  2. Kurang menghargai diri
  3. Membohongi diri sendiri (wishful thinking)
  4. Ketergantungan secara emosi kepada pelaku
  5. Keyakinan dan generalisasi batasan yang hitam dan putih
  6. Tidak punya keterampilan untuk menyelesaikan masalah dengan komunikasi dan kesepakatan, asertif, menyamakan posisi tawar dengan pasangan

KDRT dapat mengakibatkan korbannya mengalami trauma. Di sinilah peran psikolog, yaitu untuk mendampingi korban dan membantu korban untuk mengatasi traumanya. Penyembuhan trauma bisa dengan cara terapi.

Dr. Margaretha Hanita mengungkapkan satu fakta yang ironis, bahwa pelaku KDRT paling banyak adalah SUAMI !!! Para pelaku KDRT ini pun memiliki latar belakang pendidikan yang cukup. Berdasarkan data dari P2TP2A, pelaku KDRT yang menempuh pendidikan hingga SLTA sebanyak 53% dan Perguruan Tinggi sebanyak 26%. Jadi, tingkat pendidikan ternyata tidak meminimalisir kemungkinan seseorang untuk tidak melakukan KDRT.

Kasus KDRT tertinggi di Indonesia berada di kota Jakarta. Jenis kekerasan yang paling banyak terjadi adalah kekerasan fisik (66%), kekerasan psikis (22%) dan kekerasan seksual (11%), penelantaran rumah tangga (1%).

Lantas apa saja syarat sebuah kasus yang bisa termasuk ke dalam KDRT?

  1. Adanya hubungan perkawinan yang sah dan diakui Negara (nikah siri tidak termasuk)
  2. Kalau KDRT terhadap PRT, hanya jika PRT menetap di rumah tersebut
  3. Kasus pada TKW bisa termasuk ke dalam kekerasan ekonomi, apabila suami yang menyuruh istri untuk bekerja, sedangkan pelaku di negara tempat TKW bekerja juga dilaporkan sebagai tindak kekerasan di negara tersebut

Nah, ternyata banyak ya yang harus kita tahu tentang KDRT. Bagi para korban KDRT ataupun Urbanesse yang ingin tahu lebih detail mengenai KDRT dapat menghubungi para nara sumber tersebut.


Urbanesse, love doesn’t hurt you. A person that doesn’t know how to love hurts you. Don’t get it twisted. We are worth it! Spread your love and make sure loving the right people :)


Bagi yang sedang dalam proses KDRT harus sadar KDRT bukan privasi karena sudah masuk ke dalam ranah hukum. Kumpulkan keberanian untuk melapor karena pasti akan ada orang yang membantu. Gunakan bantuan teman untuk melapor kepada pihak yang professional, bukan sekedar curhat dengan teman. Hati – hati karena apabila salah memilih untuk curhat, bukan menyelesaikan masalah tapi malah memperkeruh suasana.  

(Mbak Nea – Yayasan Pulih)


KDRT bisa dicegah. Jangan pernah percaya bahwa pelaku melakukan kekerasan karena sayang 

(Ibu Margaretha – P2TP2A).


Apabila mendapat KDRT jangan terbawa emosi tapi instropeksi kemudian konseling dengan pihak professional. Sebelum mengambil langkah untuk mengambil keputusan, pikirkan langkah jangka panjang terlebih dahulu.

(Mbak Lia, salah satu korban KDRT).


Usahakan sehat psikis, fisik dan sosial sehingga kita akan lebih sehat terhadap kekerasan. Jangan tolerir kekerasan terhadap perempuan karena kekerasan terhadap perempuan adalah bagian dari pelanggaran Hak Asasi Manusia.  

(Ibu Budi – Komnas Perempuan).

 

 

KOMNAS PEREMPUAN

HOTLINE NUMBER: 021 390 3963

EMAIL: redaksi@komnasperempuan.or.id

Twitter: @komnasperempuan

 

POLDA METRO JAYA

HOTLINE NUMBER DKI JAKARTA: 119 | POLDA METRO JAYA (Emergency) 112
Pelayanan Masyarakat 523-4313
Pelayanan Masyarakat 523-4046
Pelayanan Masyarakat 523-4555
Pelayanan Masyarakat 570-7992

 

PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN & ANAK (P2TP2A)

HOTLINE NUMBER: 021 788 2898

SMS HOTLINE: 0813 176 176 22

 

YAYASAN PULIH

Alamat Pulih Jakarta
Jl. Teluk Peleng 63 A
Komplek AL-Rawa Bambu
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520

Telp : +62 21 788 42 580
Fax : +62 21 782 3021
Hotline : +62 21 982 86 398
+62 888 181 6860
Email : info@pulih.or.id
E-counseling : counseling@pulih.or.id




Vincentia Archi Persita Wulan Ari

I am passionate traveler. Travel formed me as much as my formal education. (David Rockefeller)

No Comments Yet.