Untuk Keluargaku


Monday, 30 Nov -0001


Semuanya berawal ketika aku masuk SMP, waktu itu bapakku begitu antusias mendukungku untuk masuk sebuah sekolah menengah pertama favorit di kota Malang.

Pada awal pendaftaran aku diantarnya untuk membeli formulir pendaftaran. Seharga Rp.50.000 mungkin uang itu saat ini tak begitu bernilai. Tapi pada waktu itu uang segitu terasa begitu berat untuk sekedar membeli satu lembar kertas formulir pendaftaran. Maklum aku berasal dari keluarga yang kurang mampu dalam hal perekonomian. Dari situ semangat bapak mulai menurun untuk menyekolahkan aku di SMP yang terbilang 3 besar favorit di kota Malang itu. Belum lagi cemoohan tetanggaku yang mengatakan kalau kami tak akan mampu membayar biaya sekolah di sana. Itu semakin menyurutkan semangat bapak. Bapakku hanya kuli kasar di pasar, pekerjaannya hanyalah kuli panggul yang pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi kami keluarga besar, aku sebelas bersaudara, aku anak pertama pula, saudaraku masih 5 orang.

Menurut desas-desus orang-orang yang medaftarkan putra-putrinya di sekolah tersebut, biaya SPPnya begitu mahal bahkan untuk sumbangan uang gedungnya bisa sampai jutaan. Hal itu semakin membuat bapakku takut menyekolahkanku di sana. Bahkan aku sempat diminta untuk mondok saja di sebuah pesantren dengan alasan biayanya lebih terjangkau. Tapi aku tak patah semangat, aku tetap mendaftarkan diri di SMP itu.  Dengan bermodal tekad dan kemauan yang keras berharap nantinya kau bisa mendapat beasiswa di SMP itu. Bapakku berkali kali menyuruhku mengundurkan diri, karena beliau tak akan mungkin mampu membiayaiku. Tapi aku tetap pada pendirianku. Aku harus sekolah di sana, bukan berarti menentang orang tua. Tapi dalam benakku waktu itu untuk apa aku berjuang mendapatkan NUN tinggi sementara aku harus sekolah di sekolah yang tak begitu memperhitungkan NUN? Dan aku  berpikir kalau masuk sekolah bagus bukan tak mungkin aku akan mendapatkan pekerjaan yang bagus pula.

Walau bapak selalu menentang aku sekolah di sana tapi aku toh akhirnya sekolah di sana juga. Waktu itu aku mendaftarkan diri sendiri dan mengurus semua keperluan pendaftaran. Tanpa didampingi orangtuaku, sementara ibu tak bisa menemaniku walau beliau sangat ingin melihatku masuk sekolah impianku. Beliau harus mengurus adik-adikku yang masih kecil. Bahkan ketika test interview yang harus didampingi orangtua sekalipun bapak tak mau datang, dengan alasan tak ada uang dan takut dimintai uang sumbangan kala itu. Bukan karena bapak tak mau menyumbang tapi karena memang beliau tak ada biaya. Belum lagi banyak orang bilang kalau tidak membayar sumbangan tidak mungkin diterima. Menurut bapak, “Kalau tau begitu kenapa harus mendaftar? Toh sudah pasti tidak diterima, orang kita tidak ada biaya?” Aku terus meyakinkan beliau kalau aku pasti diterima ada tidak ada biaya asal beliau sekali saja mendampingiku untuk interview. Ternyata ketakutan bapakku tidak terjadi, aku masuk sekolah impianku. Aku bertekad untuk bisa mendapat nilai terbaik, setidaknya mendapat beasiswa untuk meringankan bapak. Memang aku tak sepandai yang lain tapi aku juga berhasil mendapat beasiswa untuk anak yang berprestasi. Tiga tahun aku lalui dengan penuh perjuangan, aku tak pernah meminta uang untuk sekedar membeli buku pada orang tuaku. Ongkos yang mereka berikan untuk aku pulang pergi sekolah menurutku sudah lebih dari menguras tenaga bapak selama sehari penuh tanpa mengenal panas dan keringat yang menetes dari badannya. Aku sisihkan sebagian uang jajanku untuk membeli buku-buku pelajaran dan beberapa keperluan sekolah.

Tiga tahun aku lalui di SMP dan akupun lulus dengan nilai memuaskan. Hmmmm kali ini orangtuaku lebih bersemangat lagi untuk melihatku bisa duduk dibangku SMK negeri di kota Malang. Seperti sebelumnya, kejadian SMP terulang kembali dan kali ini lebih lagi yang harus aku jalani. Sempat pagi hari ketika aku hendak berangkat sekolah dan itu hari pertama aku masuk SMK bapak memarahiku karena aku masih saja ngotot ingin sekolah. Bahkan aku hampir dipukul dengan sapu. Tapi itu tak menyurutkannku untuk sekolah, sambil menangis aku menuju jalan raya menuju sekolah. Mataku terlihat sembab karena tak mampu menahan rasa kesal. Aku tidak menyalahkan bapak yang selalu melarangku, karena aku tahu sebenarnya hati kecilnya juga ingin melihatku duduk di bangku sekolah seperti yang lainnya. (Buktinya bapak rela menjual sebidang tanah yang dibelinya dari hasil menabung selama bertahun-tahun dengan harapan bisa membangun sebuah rumah untuk tempat kami tinggal. Tinggal di rumah kontrakan yang bukan milik sendiri memang tak nyaman, belum lagi saat kontrakkan habis dan harus pindah kalau kontrakan rumah yang ditempati saat itu tidak diperpanjang oleh pemiliknya). Hanya keadaan keluarga kamilah yang membuat bapak seperti itu. Sementara ibu tak mampu berbuat apa-apa karena beliau hanya ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan apa-apa. Aku terus berusaha menjadi yang terbaik dengan harapan bisa mendapat beasiswa lagi seperti waktu SMP dan semuanya tidak sia-sia. Aku bisa sekolah sampai lulus SMK. Entah karena iri atau bagaimana, tetanggaku selalu mengatakan kalau aku mungkin hanya akan jadi pekerja kasar walau lulusan SMK yang terbilang cukup terkenal di kota Malang itu. Hati kecilku bertekad untuk membuktikan ucapan mereka tidak benar. Segala sesuatu yang dilakukan dengan penuh perjuangan dan kesabaran pasti akan mendapat hasil yang baik. Dan itu jelas terbukti, aku diterima di sebuah perusahaan swasta di Jakarta sebagai designer. Bapak yang menentangku sekolah dengan senyum bangga di bibirnya berkata, “Kamu memang keras kepala, tapi perjuanganmu tidak sia-sia, mungkin kalau kamu tak bersikeras dan mengikuti kata-kata bapak kamu hanya akan jadi pekerja kasar”.  Akupun merantau di Jakarta menjadi designer (yah walau tak sehebat designer-designer lain). Aku cukup senang bisa membanggakan kedua orang tuaku. Dan satu keinginanku yang belum terwujud dan aku yakin pasti akan terwujud, KULIAH, yah KULIAH, aku ingin kuliah. Sabar, berdoa, belajar dan bekerja keras itu kuncinya untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dan itu semua aku lakukan untuk keluargaku. Untuk membanggakan orang tuaku. I love you mother and father. You are always in my heart.



Unknown

No Comments Yet.